my journal

Scolio Diary (1)

x-ray-spine-kaka.jpg
Hasil X-Ray pertama

 

Juni 2019

Suatu hari, kudapati punggung anak gadisku sedikit menonjol di sebelah kanan dekat tulang belikat. Kecurigaanku ternyata terbukti oleh diagnosa dokter umum puskesmas. Dokter merujuk ke dokter spesialis Orthopedi RSUD yang ditunjuk ASKES/BPJS. Setelah menemui dokter Orthopedi, anakku dirujuk lagi ke RS Hasan Sadikin Bandung karena alat rontgen (X-Ray) khusus tulang belakang tersedia di sana (di RS Santosa Bandung juga tersedia).

Prosedur pendaftaran peserta ASKES/BPJS aku ikuti dengan penuh kesabaran. Setelah antrean panjang loket pendaftaran, kami mengantre lagi di poli Orthopedi Spine (spesialis tulang belakang). Seorang dokter muda melakukan pemeriksaan secara fisik dan kami dijelaskan bahwa yang terjadi adalah kelainan tulang belakang (Skoliosis). Singkat cerita di pertemuan berikutnya setelah melihat hasil X-ray, derajat kelengkungan tulang anakku 34, lengkung berbentuk C ke kanan.

Waktu itu, dokter menyarankan operasi. Aku tidak serta merta menyetujui karena aku sudah mencari berbagai informasi tentang Skoliosis. Pertimbangan anak gadisku masih masa pertumbuhan, maka operasi bukan jalan yang terbaik. JIka masih bisa dikoreksi dengan terapi maka akan dibuatkan Brace (alat penyangga mirip korset terbuat dari bahan plastik khusus). Teringat dokter Orthopedi yang pertama kami temui di RSUD memberi pengarahan agar melakukan terapi dengan pemakaian Brace ditambah rajin olahraga seperti berenang dan senam ringan untuk Skoliosis. Gerakannya mirip gerakan Yoga. Dokter memberikan lembaran petunjuk gerakan apa saja yang harus dilakukan setiap hari.

Dokter spesialis tulang belakang memberi rekomendasi pembuatan Brace. Perlu waktu kurang lebih sebulan untuk pembuatannya. Ukurannya dibuat sesuai bentuk tubuh pasien dengan cara dicetak. Bengkel pembuatannya ada di RSHS dekat ruangan dokter Rehabilitasi Medik tempat kami konsultasi mengenai latihan untuk penderita Skoliosis.

Sebelum pembuatan Brace, kami diberikan informasi bahwa scoliosis adalah kelainan BUKAN PENYAKIT. Adolcent Idiopathic Scoliosis (tidak diketahui penyebabnya) sering terjadi pada remaja usia 10-17 tahun, khususnya masa pertumbuhan. Hal itu bisa terjadi karena faktor keturunan (sejak lahir), kekurangan gizi dan vitamin yang mendukung kesehatan tulang belakang, atau tanpa sebab (terbiasa dengan posisi duduk yang salah). Aku mencoba menganalisa mungkin anakku kurang olahraga karena secara gizi, anakku penyuka susu dan makanan yang kaya protein plus kalsium. Bisa jadi karena pertumbuhan tinggi badan memang pesat. Terlebih secara genetik dari keluarga papanya memang dominan jangkung. Kasus anakku termasuk kategori ringan, karena tak ada gejala sesak napas atau nyeri. Derajat kelengkungannya termasuk Skoliosis sedang (kurva 31-40 derajat). Jika kurva lebih dari 41 derajat termasuk kategori Skoliosis berat. Kurva kurang dari 30 derajat termasuk Skoliosis ringan.

Sebulan kemudian kami mengambil hasil jadi Brace (alat terapi) tipe boston. Tipe ini termasuk tipe termurah, seharga 5 juta rupiah.

Biaya pembuatan Barce ditanggung pribadi karena TIDAK DICOVER ASKES/BPJS.

Jika ingin membuat Brace yang materialnya lebih fleksibel, bisa konsultasi ke klinik khusus tulang belakang dengan biaya yang lebih dari itu. Setiap pasien membutuhkan jenis Brace yang berbeda-beda sesuai dengan kasusnya.

Brace tipe Boston (alat terapi Skoliosis)

Minggu pertama pemakaian, anakku masih kagok karena belum terbiasa. Brace ini harus dipakai 23 jam dalam sehari kecuali mandi. Bahkan saat tidur pun harus dipakai. Setelah dua minggu mulai terbiasa namun ada beberapa gerakan yang tidak bias dilakukan seperti saat tidak memakai Brace, misalkan jongkok saat akan buang air kecil. Effort-nya mau tidak mau harus buka pasang. Saat tidur pun memang kurang nyaman, merasa gerah terkadang menjadi keluhan utamanya. Saat hari-hari sekolah pun dia enggan memakainya karena nggak pede. Untuk itu penting bagi orangtua yang anaknya menderita Skoliosis berkomunikasi pada walikelas dan guru olahraga di sekolahnya. Antisipasi jika terjadi sesuatu atau hal-hal yang tidak kita inginkan menjadi lebih parah.

Setelah sebulan pemakaian, anakku mulai terbiasa dan selalu aku ingatkan bahwa disiplin memakai Brace dan latihan senam ringan di rumah itu PENTING. Hal apapun jika dilakukan dengan disiplin maka akan terllihat hasilnya. Semangat anak memang naik turun. Ada masa dia malas latihan, dan ada masa di mana ibunya cerewet demi kebaikan dan perubahan.

Awalnya aku memang sedih, kenapa anakku bisa seperti ini. Tak ada indikasi gejala sakit apapun, tahu-tahu tulang punggungnya melengkung. Tapi aku bersyukur mengetahui ini lebih awal. Banyak kasus para orangtua tidak aware, kondisi anak sudah parah hingga seolah sulit memperbaiki derajat kelengkungannya. Aku tidak pernah tega melihat seorang pasien harus melakukan operasi tulang belakang dan pen titanium tertanam di sana lalu melihat dampak setelah operasi. Mungkin setiap kasus pasca operasi setiap pasien berbeda-beda. Ada yang berhasil, ada yang bertambah parah.

Desember 2019 – Januari 2020

Anakku & kak Nabila (RR Sport Bandung)

Aku merasa latihan di rumah belum cukup untuk memperbaiki kelengkungan tulang anakku, aku segera mendaftarkan anakku les berenang di RR Sport Bandung. Menurut saran dokter Rehab medic, pilihan gaya bebas baik untuk scoliosis. Alhamdulillah, anakku mendapat guru private yang oke, kak Nabila, mahasiswa semester 6 yang nyambi menjadi pelatih renang.

perbandingan hasil rontgen pertama dan kedua (setelah 6 bulan)

Pemakaian Brace selama 4 bulan dengan senam ringan plus berenang seminggu dua kali hingga bulan ke-6, alhamdulillah membuahkan hasil yang baik. Setelah melihat hasil X-ray yang kedua, dari 34 derajat menjadi 30 derajat.

Semangatku pun naik turun dalam memotivasi anak. Kunci utama adalah doa dan sugesti positif dalam diriku juga pada anak. Latihan fisik adalah bentuk ikhtiar untuk mendukung doa kita.

Bersambung….

2 thoughts on “Scolio Diary (1)”

  1. Semoga anaknya mbak, tetap semangat ya.
    Kalau kasus saya, awalnya karena saya jatuh terpeleset dan nyeri tulang ekor. Setelah dirontgen ternyata patah tulang ekor. Sempat 3 kali periksa di dokter orthopedi di Tuban, hasilnya begitu-begitu saja, masih nyeri.

    Akhirnya ketika saya ikut suami ke Gresik sekalian periksa di RS, ke dokter syaraf, foto rontgen lagi dan ketahuan tulang belakang dekat pinggang bengkok hingga 45°. Kemudian dirujuk ke dokter rehabilitasi medik dan terapi seminggu 3 kali dengan 2 alat. Sebulan di Gresik saya pulang dan lanjut terapi di kampung. Seminggu 2 kali dengan 3 alat. (Semuanya bayar sendiri) Setiap hari harus senam khusus sehari 2 kali. Olah raga yang disarankan adalah renang. Tapi saya tidak ikut.

    Setelah beberapa bulan terapi, saya bisa jalan kaki keliling kompleks tanpa rasa sakit. Padahal sewaktu sakit, jalan 200 m saja nahan nyeri sekali. Oh ya, saya juga memakai korset. Tapi sekarang sudah jarang. Cuma kalau lagi traveling, duduk lama atau aktivitas yang melelahkan dan memicu nyeri tulang.

    Semoga sharing saya bermanfaat ya mba.

    1. Ow…ngebayanginnya aja saya ngilu, mbak. Tetap ikhtiar dan sabar ya mbak. Semoga terus membaik. Terimakasih sudah berkunjung ke sini. Saya nambah tahu lagi tentang Skoliosis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s