365 days' Project

Ada Apa dengan November (part 2)

LOGO BARU TOKO
LOGO TOKO ONLINE “Keranjang Betakun” (designed by Aboe Tempoer)

 

Hello again! So glad to write and post something again here. Apa kabar teman-teman Blogger? Masih terus menyimak lini masa di medsos, ya? Salut buat teman-teman yang konsisten menjalani profesi keren dan menjanjikan.

Setiap orang pasti memiliki passion dan momen yang berharga dalam hidup. Saya ingin sharing sedikit seputar kejadian di bulan November lalu hingga masuk Desember ini. Mulai dari linimasa di media sosial Facebook. Ada beberapa rentetan memori yang bikin baper “berulang” di tahun ini. Entah itu sengaja atau tidak, yang jelas takdir Yang Maha Kuasa berbicara.

Ada momen di mana saya pernah menulis buku 6 tahun lalu dan saat momen itu muncul di FB, saya merasa kehilangan semangat yang saya pernah miliki dulu. Namun semangat pada hal lain mulai tumbuh. Itu pun awalnya hanya iseng-iseng. Iseng yang diseriusin lebih tepatnya.

Berawal dari kejenuhan beraktivitas, hobi menggambar yang dulu sempat saya lakukan di zaman sekolah menjadi hiburan yang menyegarkan otak.

Tiba-tiba muncul ide untuk mengaplikasikannya pada sehelai hijab atau t-shirt. Singkat cerita, gara-gara saya meminta tolong pada sepupu saya untuk mengedit foto jadul, akhirnya malah berjodoh untuk bekerjasama memulai ide kreatif yang bertebaran di otak.

Dalam perjalanannya sangat tidak mudah. Banyak pengalaman spiritual yang sangat ajaib yang saya alami. Terutama soal jalan rejeki. Jalan yang begitu saja mengalir hingga produk sandal kulit merek BETA juga hadir meramaikan dagangan.

Sampai pada satu titik di mana saya bertanya, kenapa saya menggambar, dan kenapa saya membuka toko online. Saya ingin lebih “berguna” di sisa hidup saya. Saya tidak hanya ingin hidup “normal” tapi sisa energi yang saya punya terbuang percuma begitu saja. Allah yang memberi jalan disertai ikhtiar dan doa pagi juga sepertiga malam, hingga saya langkah saya sampai di bulan Desember ini. Harapan baru di tahun baru pun mulai memenuhi benak.

Pertanyaan saya untuk teman-teman yang membaca ini, “momen apa yang membuat dirimu benar-benar “hijrah” dalam makna perubahan jalan hidup hingga seperti sekarang?”

ini bukan soal dari ‘tidak memakai hijab, lalu sekarang pakai’ tetapi “hijrah” dalam makna yang luas.

JAWAB DI KOLOM KOMENTAR.

JANGAN LUPA seperti biasa, LIKE PAGE  FB : Keranjang BetakunFOLLOW dulu aku dagangan saya di Instagram @keranjang_betakun lalu REPOST salah satu produk yang ada di sana , Twitter: @BetakunBins , akun pribadi IG: @betakuninvite WhatsApp :083820203195 BETA atau Line : @BetakunBins1 (08888300268) / @BetakunBins2 (083820203195)

SHARE tulisan ini dengan HASHTAG ‘#keranjangbetakun #jualhijabfullprint #HijabVoal #SandalBETA 

PERIODE GIVEAWAY —- 26 Desember 2017 s/d 26 Januari 2018

Berikut ini HADIAH yang bakal dibagikan di tahun baru pada 3 orang PEMENANG :

  1. CELANA COWOK UKURAN ‘L’ merek VANS, warna abu-abu.
  2. HIJAB VOAL ukuran 110×110 cm, motif sesuai stok yang tersedia. Foto : Contoh Bunga Pukul Empat.
  3. HIJAB MAXMARA ukuran 100×100 cm, boleh pilih motif yang diiklankan di Instagram (printed by order.)
Brand Motif Widias
Brand motif Hijab “WIDIAS”

 

logo-sandal.jpg
LOGO produk sandal/sepatu sandal kulit buatan lokal
Februari, my journal

Diary Yoga #3

Semakin hari, tubuh semakin terbiasa dengan ritme yang saya terapkan. Intensitas olahraga tiga atau empat kali seminggu menjadi sebuah kebiasaan. Kedisiplinan tentu beranjak dari masalah yang pernah saya alami. Lalu imbasnya, selalu berusaha menyeimbangkan makanan yang masuk dengan aktivitas yang dilakukan. Pekerjaan rumah tangga memang cukup melelahkan, namun olah tubuh harus juga dilakukan di luar rumah. Selain refreshing, hanya berjalan kaki saja seputar kompleks perumahan atau jalan setapak yang biasa kita lewati, itu sudah membuat badan lebih bugar. Durasi waktu juga harus diperhatikan. Misalnya, hari ini hanya 30 menit saja, dua hari kemudian perlahan ditingkatkan menjadi 45 menit atau 1 jam.

foto : dokumen pribadi
foto : dokumen pribadi

Jika berjalan kaki sudah rutin dilakukan, coba tantang diri sendiri untuk berlatih lebih. Saya secara bertahap sudah melakukannya dengan bantuan aplikasi khusus untuk mencatat dan merekam kemajuan latihan fisik. Aplikasi Endomondo di AppStore bisa menjadi pilihan karena pilhan olahraga apapun bisa digunakan.

Sebelum memulai latihan, sesuaikanlah dengan kondisi tubuh. Jika sedang fit, bisa mencoba berlari. Tak masalah berapa kilometer kita berlari karena yang terpenting adalah durasi latihan. Tetapkan target secara bertahap agar tubuh tidak stress.

Saya pun di awal tantangan hanya mampu 30 menit saja berlari, sisanya hanya berjalan kaki. Awali setiap latihan dengan pemanasan sederhana. Sebaiknya, lakukan latihan di lokasi yang lebih banyak tersedia oksigen agar kesehatan paru-paru semakin baik. Pilih sepatu yang nyaman untuk berjalan kaki dan berlari agar kaki tidak mengalami cedera. Pastikan cuaca di luar rumah baik dan layak untuk melakukan latihan.

Contoh catatan waktu dan jarak tempuh saat berjalan kaki
Contoh catatan waktu dan jarak tempuh saat berjalan kaki

Saya mencoba memvariasikan latihan fisik dengan melakukan Yoga, jalan kaki, dan lari. Ketiga pilihan latihan tadi sangat mendukung ketahanan dan kebugaran tubuh. Pola makan yang sehat jika didukung oleh olahraga rutin maka akan mempengaruhi berat badan. Otomatis berat badan akan turun dengan sendirinya karena lemak-lemak yang tidak perlu akan terbakar dan massa otot naik.

Saya menerapkan hal-hal yang harus saya HINDARI dari menu makanan sehari-hari, selain mengatur asupan karbohidrat, antara lain :

  • Minyak goreng (sebisa mungkin sedikit sekali memakainya, lebih baik jika minyak sawit diganti dengan minyak jagung (canola oil) atau minyak zaitun).
  • Masakan bersantan
  • Makanan atau bumbu yang menggunakan proses fermentasi.
  • Sea food
  • Minuman bersoda, dan minuman instan lainnya kecuali yogurt.
  • Daging (sapi dan ayam) dan produk olahannya.
  • Kacang-kacangan (karena ada riwayat terkena asam urat).
  • Sayuran berdaun hijau pekat (karena ada riwayat terkena asam urat).
  • Camilan yang mengandung garam tinggi dan ber-MSG.

Saya berusaha keras menanamkan mindset “Pilih camilan yang SEHAT. Ambil buah-buahan jika terpikir ingin NGEMIL. Kenyangkan dengan SALAD jika perut masih terasa LAPAR.”

Dengan demikian, kebutuhan serat tubuh bisa terpenuhi dan pencernaan lancar. Sejak menjalani hidup sebagai Vegetarian, kulit wajah menjadi lebih halus dan segar (*komentar suami seperti itu saat melihat perubahan saya) dan cukup menghemat anggaran karena tidak sering jajan di kaki lima atau ke resto siap saji.

Saya sangat berbahagia atas usaha dan kedisplinan saya saat mengetahui lingkar pinggang saya berkurang 5cm (90cm – 85cm) dan berat badan turun lagi (58kg – 55kg). Total hasil diet dan olahraga selama 4 bulan (akhir November 2016 – Februari 2017), berat badan saya susut 12kg. Angka 55kg saya pikir cukup ideal untuk tinggi 163cm. Saya tidak mau terlalu kurus yang terpenting adalah tubuh yang sehat.

Foto : dokumen pribadi
Foto : dokumen pribadi

Selanjutnya adalah bagaimana tetap konsisten menjaga kedisiplinan diri. Salah satunya konsisten melakukan Yoga.

sumber gambar : dari laman Facebook grup LUNA Yoga.
sumber gambar : dari laman Facebook grup LUNA Yoga.

Kata pepatah memang benar, ‘No Pain No Gain’. 

365 days' Project, Februari

“Diary Yoga #2”

Kita telah mengetahui bahwa Yoga adalah sebuah olahraga yang menyelaraskan tubuh dengan jiwa, dan menitikberatkan pada keseimbangan juga rasa syukur pada sang Pencipta. Olahraga yang berasal dari negeri Hindustan ini sudah cukup banyak dilakukan oleh masyarakat pencinta olahraga karena manfaatnya sangat banyak. Beberapa pose keren yang banyak tampil di dunia maya juga cukup membuat saya pribadi tergiur. Saya percaya itu semua bisa dilakukan dengan latihan intensif.

Saya sendiri sejak tahun lalu ingin sekali mencoba olahraga ini. Beberapa informasi tentang Yoga saya cari di internet dan bertanya teman-teman yang pernah melakukannya. Awal tahun 2017, saya serius memulainya. Hal yang paling pertama saya pegang adalah karena ingin lebih sehat dan bugar. Jika pada akhirnya saya menjadi lebih langsing, itu bonus yang menyenangkan. Selain itu, saya juga mempersiapkan beberapa perlengkapan Yoga, tentu saja secara bertahap karena bagi kalangan menengah ke atas, olahraga ini memerlukan biaya ekstra.

Perlengkapan yang dibutuhkan antara lain :

  1. Baju olahraga khusus Yoga (atau baju yang cukup nyaman dan menyerap keringat).
  2. Matras (pilih yang permukaannya kesat, misal : merek KETTLER).
  3. Kaus kaki + Sarung tangan Yoga (tidak harus karena bergantung pada tingkat kelicinan matras saat ber-Yoga).
  4. Handuk kecil tebal.
  5. Botol minum.
  6. Perlengkapan lainnya, seperti : tali, balok, dll (biasanya disediakan di sanggar Yoga).
  7. Biaya bulanan (jika ikut kelas Yoga di sanggar atau kelas private).
Perlengkapan Yoga Lokasi : Sanggar Cantika 'Luna Yoga', Jalan Perluasan Ruko III Arcamanik, Bandung. (foto : dokumen pribadi)
Perlengkapan Yoga
Lokasi : Sanggar Cantika ‘Luna Yoga’, Jalan Perluasan Ruko III Arcamanik, Bandung.
Contact info : Ibu Ida 087825966866  (foto : dokumen pribadi)

 

Olahraga Yoga bagi pemula, harus dalam pengawasan guru Yoga. Hal ini penting untuk memperbaiki posisi tubuh dalam setiap gerakan Yoga dan jika terjadi cedera pada bagian tubuh tertentu, guru Yoga akan membantu mengatasi hal tersebut. Saya pribadi merasakan bagaimana penyesuaian sikap tubuh dari awal latihan hingga latihan berikutnya. Guru Yoga akan menjelaskan apa manfaat dari setiap gerakan yang dilakukan. Tanpa bimbingan seorang guru saya pikir mustahil kita mampu mendapatkan hasil yang maksimal.

Video  tutorial Yoga memang cukup banyak dan mudah kita dapatkan di internet, khususnya di situs YouTube. Tetapi alangkah baiknya jika kita belajar pada gurunya secara langsung. Selain itu, kita juga bisa menambah pertemanan baru di kelas Yoga. Ini sangat efektif untuk mengusir kejenuhan apalagi bagi para ibu rumahtangga. Satu hal lagi yang perlu diingat, kondisi tubuh setiap orang berbeda-beda jadi Yoga memberikan pemahaman bahwa kita harus mengerti apa yang dibutuhkan tubuh kita sendiri. Semakin rutin berlatih Yoga maka kelenturan otot-otot tubuh akan semakin terasah. Saya yakin segala permasalahan persendian dan bagian tubuh lainnya perlahan akan hilang bergantung pada titik tubuh mana yang harus lebih mendapatkan perhatian.

Jangan pernah berpikir ‘saya harus kurus’ tetapi tanamkanlah kalimat ‘saya ingin tetap sehat’.

Tanpa kedisiplinan dan kesadaran diri, maka tubuh akan tetap memberi sinyal-sinyal sebagai alarm bahwa ada masalah dengan kesehatan. Tanpa pola makan yang sehat, mustahil tubuh akan menjadi bugar.

365 days' Project, Februari

“Musik dan Dita”

—cerita sebelumnya

Teks lagu Michael Learns to Rock "That's Why You Go Away". (foto : dokumen pribadi)
Teks lagu Michael Learns to Rock “That’s Why You Go Away”. (foto : dokumen pribadi)

 

Dita tidak bisa menelepon Dani karena telepon rumahnya dikunci. Dia tak cukup berani untuk mencongkel tombol angkanya seperti yang biasa dilakukan bang Raka. Setiap kali Raka menelepon pacarnya, selalu curi-curi kesempatan. Terkadang Dita tak sengaja mendengar obrolannya dari kamar yang berada dekat dengan meja telepon.

Dita teringat Dani, bagaimana nasibnya setelah hari itu kesiangan masuk sekolah.

“Mudah-mudahan Dani nelpon ke sini,” gumamnya. Lalu DIta beranjak dari kamarnya. DIa melihat abangnya masih saja berbincang mesra. Dita memberi kode untuk segera menutup teleponnya.

“Apaan sih, dek? Ganggu orang pacaran aja.” Ujarnya sambil senyum jahil.

“Tutup dong, teleponnya. Takutnya nanti ada teman nelpon kesini.”

“Teman apa temaaan?” Abangnya mengerling jahil.

“Bang, tutup!” Dita melotot.

“Iya,iya, iyaaa…Ampun deh, miss jutek.” Setelah mengakhiri pembicaraan, Raka segera menutup gagang telepon. Tak lama Raka naik ke kamarnya di lantai atas, telepon berdering.

Dita segera menyambar gagang telepon dan mengucap salam.

“Assalammualaikum.”

“Waalaikumsalam. Dita ya?” suara Dani menghangatkan hati Dita.

“Hei, Dan. Sori gue gak bisa nelpon. Dikunci sama mama teleponnya.”

“Iya, nggak apa-apa. Gimana tadi di sekolah? Dihukum?”

“Biasa lah, gak boleh ikut satu jam pelajaran. Berdiri di lapangan. Elu juga?”

“Lari keliling lapangan lima keliling. Lumayan segar!”

Mereka tergelak bersama.

“Eh, Dit, udah dulu ya. Nggak bisa lama. Nanti diomelin ibu.”

“Oke. See you.”

Bye.

Dita melangkah ke kamarnya setelah menutup telepon. Lalu mengambil gitarnya dan membuka binder berisi catatan lirik lagu favoritnya. Beberapa lagu dia tulis dari acara radio yang khusus mendiktekan lagu-lagu barat beserta grif-nya, ‘Words by Tune’.

 

Baby won’t you tell me why there is sadness in your eyes
I don’t wanna say goodbye to you
Love is one big illusion I should try to forget
But there is something left in my head…

 

——-bersambung

365 days' Project, Februari

“Angkot Pink”

"Angkot Pink" (jurusan Gede Bage - Sadang Serang) Bandung. [dokumen pribadi]
“Angkot Pink” (jurusan Gede Bage – Sadang Serang) Bandung. [dokumen pribadi]
Dita melirik arloji bertali karet jingga.  Pukul 06.05 namun angkot yang membawanya ke arah Dago, Bandung, belum juga muncul.

“Haduh, bakal kesiangan nih, gue.”  Gerutu Dita.

“Kok belum ada juga ya, angkotnya.” Ujar Dani sambil melirik kea rah belokan jalan.

“Gimana dong, Dan. Elu naik angkot ijo aja deh, duluan. Ntar kesiangan gara-gara bareng gue.”

“Udah nggak apa-apa, sebentar lagi juga datang.” Dani menenangkan Dita tapi mimic wajahnya sendiri seolah tak tenang.

Dani berbeda sekolah dengan Dita, namun terkadang mereka janjian bareng supaya bisa bertemu. Di akhir minggu, Dani sudah memiliki jadwal latihan sepak bola. Hari lainnya sibuk di OSIS dan ekskul Angklung.

Lima menit kemudian, angkot pink muncul. Dita dan Dani beruntung mendapatkan tempat duduk. Mereka duduk bersebelahan. Setelah tiga ratus meter angkot melaju, ada calon penumpang melambaikan  tangan di pinggir jalan. Angkot berhenti, lalu ibu dan seorang anak laki-laki 5 tahun naik. Tempat duduk yang terisisa hanya tinggal di dekat pintu. Ibu itu terlihat kerepotan dengan barang bawaannya.

Dani spontan membantu memindahkan barang itu mengajak anak kecil tadi duduk di pangkuannya.

“Oh, Dani ternyata kamu penyayang anak kecil,” gumam Dita sambil memperhatikan Dani memeluk anak itu dengan hangat.

Anak itu tak berkomentar apapun selain tatapan lugu pada ibunya lalu tersungging senyum yang memamerkan gigi ompongnya.

Tiba di terminal Cicaheum.

“Dit, gue turun di sini, ya? Ganti angkot yang itu. Nanti nelpon aja ya, kalua mau bareng lagi. Oke?”

“Oh, oke. Carefull.”

            Dani berlari melesat menuju kea rah angkot jurusan Cicaheum-Kebon Kelapa.

 

Posisi duduk Dita  mulai bergeser sedikit demi sedikit ke pojok dekat jendela angkot dan kedua matanya mulai redup. Dug! Sesekali kepalanya terantuk kaca saat angkot mengerem.

Tiba di sekolah, gerbang sudah ditutup.

Pak Satpam mempersilakan para murid berseragam putih abu yang telat untuk segera masuk ke ruang guru piket.

“Ah, sial! Beneran diskors, nih. Apa kabar Dani?”

_________________ (bersambung ke ‘Musik dan Dita’)

 

365 days' Project, Februari, my journal

“Diary Yoga #1”

Resolusi utama saya di tahun 2017 ini adalah ingin lebih sehat.

Berawal dari terdeteksinya gejala kolesterol tinggi dan kadar asam urat tinggi di akhir tahun 2016. Dokter menyarankan agar STOP mengonsumsi daging, segala yang digoreng, kacang-kacangan, dan mengurangi makanan yang gurih. Saya hanya boleh memakan ikan (bukan sea food), sayuran, dan buah-buahan disertai dengan olahraga rutin.

Awalnya saya merasa tersiksa karena selama ini sudah terbiasa dengan pola makan ‘terserah apa mau saya’. Mengemil keripik dan teman-temannya juga masih dilakukan apalagi minuman kopi instan dan minuman manis lainnya. Namun saya mencoba ‘berunding’ dengan tubuh saya. Sampai saya pada keputusan ingin menjadi Vegetarian saja agar aman.

Setelah browsing mencari tahu tentang bagaimana menjadi Vegetarian, hati saya bertambah mantap. Selain karena harus memperhatikan pola makan rendah lemak, saya ingin mendisiplinkan diri sendiri untuk mengubah kebiasaan makan yang buruk menjadi pola makan yang lebih sehat. Akhirnya saya membeli buku tentang Vegetarian agar lebih paham tentang kebutuhan tubuh saya. Setelah membaca dengan saksama, saya termasuk tipe Vegetarian Ovo (tidak mengonsumsi daging dan produk olahan hewani termasuk susu, keju, tetapi masih mengonsumsi putih telur sesekali).

Buku "I am A Happy Vegetarian" karya Karina Padmasuri, penerbit Octopus Publishing House.
Buku “I am A Happy Vegetarian” karya Karina Padmasuri, penerbit Octopus Publishing House. (foto : dokumen pribadi)

Dua minggu pertama, saya sangat memperhatikan asupan makanan. Meminimalsir minyak yang terkandung dalam masakan, menghentikan penggunaan bumbu penyedap (MSG), lebih mengontrol keinginan ngemil makanan ringan yang kurang sehat dan memilih lebih banyak menyediakan buah-buahan untuk stok camilan. Sebulan saya konsisten dengan pola makan ala vegetarian tanpa mengonsumsi telur dan susu. Gejala-gejala asam urat seperti kepala pusing, pegal di area tubuh sebelah kiri terutama pundak, pergelangan tangan dan telapak kaki mulai berkurang. Terkadang kambuh jika saya salah makan. Saya juga berusaha mendetoks tubuh dengan berpuasa seminggu dua kali. Praktis setelah dua bulan berdiet, berat badan susut hingga 6 kg (dari 67kg – 61kg).

Tubuh pun mulai terasa ringan, keringat tidak terlalu membanjir kecuali saat berolahraga saja. Pola diet ini saya bantu juga dengan latihan fisik (berjalan kaki, lari, dan Yoga). Jadi dalam seminggu bisa 3 atau 4 kali berolahraga dengan intensitas bervariasi tergantung kesanggupan tubuh. Setelah rutin mengikuti jadwal Yoga seminggu sekali, saya merasa tubuh semakin fit dan otot-otot tubuh lebih fleksibel. Bonusnya kemudian berat badan turun lagi hingga di angka 58kg.

 

Saya juga mulai memvariasikan menu makan sehari-hari. Saat kangen dengan makanan yang digoreng, saya lebih memilih minyak zaitun atau minyak canola untuk menumis atau menggoreng. Tentu harganya lebih mahal dibanding minyak sawit biasa. Tetapi saya tidak mau mengambil risiko penyakit saya kambuh gara-gara urusan minyak. Demi kesehatan saya pilih yang lebih aman.

Perlahan tubuh menyesuaikan dirinya sendiri dengan ritme yang saya lakukan. Saat memakan sesuatu yang mengandung pemanis berlebih, lidah rasanya menjadi kurang ramah, atau saat tidak olahraga rasanya lemas beraktivitas di rumah. Sejak saya mengikuti kelas Yoga, manfaatnya mulai terasa setelah empat kali pertemuan. Setiap orang tentu akan mengalami reaksi yang berbeda setelah ber-Yoga. Konsultasi pada guru Yoga sangat diperlukan sebelum, selama melakukan, dan setelah latihan karena gerakan Yoga pada dasarnya sangat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan seseorang.

Saya berencana tiga bulan pertama ini (Januari-Maret) akan konsisten dengan 4 kali pertemuan per bulan. Mungkin nanti intensitasnya akan ditingkatkan menjadi 6-8 kali pertemuan sebulan. Tujuan awal ber-Yoga hanya untuk menjaga kebugaran tubuh tetapi semakin hari semakin termotivasi untuk jauh lebih baik dari sekadar bugar. Yoga memberi saya ruang untuk lebih sayang pada tubuh, membantu untuk lebih fokus, relaksasi, mengusir kejenuhan dan belajar bersabar juga menyeimbangkan jiwa raga dalam hubungan dengan rasa syukur pada Allah SWT.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai Yoga akan saya bagikan di tulisan selanjutnya, “Diary Yoga #2”.

 

365 days' Project, Media Cetak

Cerpen Kedua “Opor Minang Mama” (dimuat di Majalah Femina no.26/XLVI – 25 Juni-1 Juli 2016)

 

Cover Majalah Femina No.26 & ilustrasi Cerpen
Cover Majalah Femina No.26 & ilustrasi Cerpen (dokumen pribadi)

 

Alarm ponsel membangunkanku. Aku meraba-raba ke atas nakas di sisi tempat tidurku. Beberapa kali ku mengerjapkan mata agar jelas melihat layar ponsel. Pukul 04.30. Ikon dismiss kusentuh.

Aku bangkit dan melemaskan otot punggungku. Kepalaku terasa berat. Semalam tidur terlalu larut. Bu Wina, atasanku, memintaku membuat format power point untuk presentasi produk asuransi di sebuah lembaga pendidikan besok. Pengerjaannya membuatku lama berada di depan laptop.

Segera ku menyegarkan diri ke kamar mandi. Aroma dadar telur plus mentega menguar hingga ke kamarku di lantai atas. Mama sangat memanjakanku. Selain menyiapkan sarapan, wanita tangguh itu selalu membekaliku makan siang untuk di kantor. Sampai-sampai teman-teman staf di kantor meledekku karena aku seperti anak TK yang selalu membawa bekal. Namun sesekali aku turut makan siang bersama mereka ke luar kantor.

Kafie, rekan kerja di divisi pemasaran yang sedang dekat denganku, penasaran ingin mencicipi masakan opor ayam bumbu Minang yang kubawa hari ini. Setelah satu suapan besar ke mulutnya, dia tak berkata apapun selain acungan jempol.

Keesokan harinya, Kafie membocorkan pengalamannya pada Bu Wina. Beliau tiba-tiba memesan opor padaku.

“San, Kafie bilang, opor yang kamu bawa enak banget.”

“Biasa saja, Bu.” Aku tersenyum tipis.

“Gimana kalau itu jadi salah satu menu untuk berbuka puasa minggu depan?”

Kantorku biasanya mengadakan buka puasa bersama di minggu pertama bulan Ramadhan. Awalnya aku ragu apakah Mama sanggup memasak sebanyak itu. Ada tigapuluh orang personil di kantorku termasuk para agen marketing. Kalau aku yang memasak, belum tentu seenak buatan Mama.

Mama selalu menerima pesanan masakan apapun dari para tetangga selain berjualan lontong opor Minang di warung setiap hari. Beberapa masakan khas Minang juga tersedia. Sejak memutuskan pensiun dini, Mama menikmati kegiatannya menggeluti bisnis kecil ini. Ruangan bekas garasi mobil, kami sulap menjadi warung makan yang nyaman. Penghasilannya lumayan bisa membantu biaya kuliahku hingga selesai.

***

“Ma, kantorku mau pesan opor ayam untuk buka puasa bersama sabtu nanti.”

“Opor pedas bumbu Minang?” tanya Mama sambil membenahi daster batiknya.

“Iya. Porsinya kira-kira untuk tiga puluh orang.”

“Boleh. Tapi gimana caranya mengantar dua panci besar opor itu nanti ke kantor kamu? Harus diangkut pakai mobil, kan?”

“Mm…minta tolong Bang Azwar aja.” Aku tersenyum mobil van kakakku.

“Ya, mudah-mudahan Abangmu nggak ke mana-mana pas hari ‘H’.”

“Nanti aku telepon Bang Azwar, Ma.”

***

Sebelum beranjak tidur, kuambil ponselku dan langsung menyentuh nama Bang Azwar di phone contact.

“Bang, aku mau minta tolong bawa pesanan opor untuk kantorku, sabtu besok.”

“Abang enggak janji, San. Kadang bos Abang suka mendadak menelepon suruh jemput barang. Nanti Abang kabari lagi.”

Aku menutup koneksi ponsel dan memutar otak. Apa ada alternatif angkutan jika Bang Azwar tak bisa mengantarku. Segala sesuatu harus siap agar di hari ‘H’ tidak kelimpungan.

Aku teringat Kafie. Ah, pasti dia keberatan membawa panci sebesar itu. Kalau kuahnya tumpah, dia bakal bete sama aku. Jazz hitamnya itu sangat terawat. Noda setitik pun jadi masalah.

***

Aura bulan pengampunan telah terasa. Beberapa tetangga kompleks perumahan menggelar meja yang menjual penganan khas Ramadan. Mama pun menambah berbagai macam takjil di warung. Mulai dari puding buah, jelly, dan aneka kolak. Pembeli yang rata-rata remaja biasanya mulai menyemut sambil menanti azan magrib.

Mama lumayan sibuk melayani pembeli di hari pertama puasa. Aku membantunya jika kebetulan pulang cepat dari kantor dan di akhir minggu. Aku mengingatkan Mama bahwa tiga hari lagi opor pesanan kantor harus dibuat. Bu Wina sudah memberikan dananya padaku dua hari lalu.

“Santi, kamu harus bisa memasak. Dulu, Mama diajarkan memasak oleh Nenekmu. Mulai dari membuat kue jajan pasar, sayur bening, sampai masakan bersantan.” Ujar Mama sambil mewadahi kolak candil ke plastik.

“Aku enggak ada waktu, Ma. Pulang kerja udah capek. Hari libur, ya pengin leyeh-leyeh.”

“Kamu itu perempuan. Sesibuk apapun kamu, memasak untuk keluarga itu kewajiban. Suami akan lengket sama kamu kalau kamu pintar masak.”

Kalimat Mama ini menyudutkanku. Aku wanita dua puluh tujuh tahun, belum berkeluarga dan malas memasak. Apa kata dunia jika calon suamiku tahu? Apakah Kafie mau menikahiku kalau ternyata aku nggak bisa memasak? Salah satu kriteria wanita idaman Kafie adalah pintar memasak.

Ingatanku melayang ke beberapa tahun lalu saat Papa masih hidup. Mama selalu menyempatkan memasak masakan lezat untuknya. Sesibuk apapun Mama, selalu wajah ceria yang beliau perlihatkan pada Papa. Apa aku bisa seperti Mama? Ketulusan hati Mama merasuk ke masakannya hingga membuat Papa semakin mencintainya.

***

Mama tiba-tiba mengeluh sesak napas dan pusing sepulang berbelanja dari pasar. Aku membereskan bungkusan yang dibawa Mama. Di dalamnya adalah bahan-bahan untuk membuat opor. Aku menuntun Mama ke kamarnya dan menyuruhnya berbaring.

“Ma, aku nggak jadi pergi kerja. Aku mau temani Mama.” Hatiku mendadak nyeri melihat Mama seperti ini. Aku takut Mama seperti bulan lalu. Tekanan darahnya naik, asmanya kambuh, dan kedua kakinya dingin. Waktu itu, aku mengira Mama akan dipanggil Tuhan.

“Kamu pergi saja, Mama nggak apa-apa. Mungkin terlalu capek, nanti juga baikan. Mama perlu minum obat saja.”

“Aku saja yang masak opor, ya, Ma.” Entah kekuatan apa yang mendorongku untuk melakukannya. Aku bisa saja membatalkan pesanan pada Bu Wina. Tapi aku tidak mau mengecewakan Bu Wina dan Mama.

“Kamu yakin?” kata Mama sambil berusaha mengatasi rasa sakitnya.

Aku mengangguk lalu membenahi bantal Mama. Beliau menunjukkan resep opor bumbu Minang di laci mejanya. Aku membacanya dengan teliti. Praktiknya pernah kulihat setiap hari.

Setelah memberi obat dan memastikan Mama tertidur, aku melangkah ke dapur. Aku menelepon Bu Wina terlebih dulu dan meminta ijin tidak ke kantor karena harus memasak. Aku berjanji padanya sore nanti membawa opor itu segera.

Dapur mungil ini, tempat aku bercerita pada Mama tentang pacar pertamaku, kegelisahanku sebagai wanita dewasa. Juga tentang Kafie yang terlalu perhatian padaku.

Peralatan memasak yang komplit milik Mama seakan menjadi saksi bisu perjuangan Mama untuk anak gadisnya. Aku masih ingat saat SMA, terpaksa memasak sup ayam karena Mama tak sempat lalu pergi ke kantor. Mama telah menyediakan bahan-bahannya di kulkas dan memberiku instruksi langkah-langkah memasak sup sebelum pergi.

Papa memujiku karena memasak sup dengan kuah yang banyak. Papa tidak berkomentar apapun, mungkin takut merusak suasana hatiku. Saat Mama pulang, beliau mencicipi sup itu. “Kurang garam dan gula sedikit. Kuahnya terlalu banyak,” katanya. Mama tetap memujiku sambil membelai rambutku,“Gadis Mama sudah bisa memasak.” Walau supnya kurang enak, aku cukup bangga karena ini hasil masakan perdanaku.

Aku tak mampu membayangkan bagaimana jika Mama yang lebih dulu dipanggil Tuhan. Berat rasanya. Ditinggal Papa pun rasanya perih. Pasti aku akan selalu merindukan setiap olahan masakan dari tangan hangat Mama yang lembut. Kali ini, aku akan mencoba memasak opor ayam bumbu Minang untuk Mama dan orang-orang di kantor.

Ya, memasak memang membutuhkan latihan berulang-ulang dan ketulusan hati. Mama bilang, jika kita sedang tidak mood, masakan yang kita buat tak enak rasanya. Beda tangan akan berbeda rasanya. Jika dulu dalam keadaan terdesak aku bisa, mengapa sekarang tidak.

Aku melirik ke arah bawang putih dan bawang merah lalu mengupasnya beberapa siung sesuai resep. Jintan, ketumbar, jahe, daun salam, serai, dan santan, kukeluarkan dari bungkusan. Ayam kampung yang sudah dipotong-potong, kucuci bersih. Aku mencoba mengingat langkah pertama yang pernah Mama lakukan. Ayamnya harus digoreng sebentar. Jangan terlalu matang. Mama bilang, cara ini agar daging ayam tidak benyek saat direbus dengan santan nanti. Terlebih jika menggunakan ayam negeri.

Minyak goreng kupanaskan di wajan besar secukupnya. Kumasukkan satu persatu potongan ayam tadi. Semua bumbu dasarnya kuulek di atas cobek agar lebih baik hasilnya daripada dihancurkan dengan blender. Itu anjuran Mama. Cita rasa masakan akan berbeda.

Bumbu ini seolah memberiku makna bahwa proses memasak mirip dengan proses jatuh bangunnya Mama membesarkanku dan Bang Azwar saat Papa tiada. Setiap bahan dasar yang kusatukan di cobek harus berbaur dengan baik hingga menjadi bumbu opor yang sempurna. Bahan dasar dari ketulusan Mama menjalani tahap kehidupan adalah kesabaran dan kesungguhan yang menyatu hingga menghasilkan pribadi yang tahan banting.

Aku mengangkat ayam lalu menggoreng beberapa potong lainnya hingga semuanya selesai. Minyak bekas ayam tadi kupindahkan dan kusisakannya sedikit untuk menumis bumbu. Aku melangkah mendekati kulkas dan membuka pintunya. Yes! Daun jeruk. Ini rahasia wanginya opor ayam Minang Mama. Walau daun salam juga berfungsi sebagai pewangi masakan, namun Mama selalu menambahkan daun jeruk di setiap masakan bersantan. Hasilnya aroma daun jeruk menggoda hidung.

Kutumis bumbu halus tadi plus daun jeruk. Mama biasanya menambahkan cabai keriting merah giling. Aku membuka tas plastik dan mencari-cari bungkusan cabai merah giling. Ah, ini dia.

Aroma wangi bumbu mulai memenuhi ruangan dapur. Mama pernah bilang, jika sudah terlihat agak pekat tumisan bumbunya, segera masukkan potongan ayam yang sudah digoreng tadi. Jangan sampai bumbunya gosong. Aduk rata supaya bumbu meresap ke dalam daging ayam.

Kutuangkan santan sambil mengaduknya. Peluhku mulai membayang di pelipis karena uang panas dan rasa gugupku. “Ternyata memasak itu butuh kekuatan fisik,” gumamku. Tak heran jika profesi chef lebih didominasi pria.

Aku melirik jam dinding. Pukul 9.15. Syukurlah masih banyak waktu. Keringat kian membanjir. Kubiarkan kuah santan mendidih. Sesekali aku mengaduknya seperti yang biasa Mama lakukan. Sedetik kemudian, aku ingat kapulaga. Aku mengambilnya di toples dan memasukkannya ke dalam panci setelah kumemarkan. Oporku akan bercitarasa lebih tajam dan memikat penciuman orang-orang hingga berselera mencicipinya.

Aku teringat keadaan Mama. Kutengok celah pintu kamarnya. Mama masih terpejam. Aku kembali ke dapur. Tiba-tiba lagu Maroon 5 “Animal” dari ponselku terdengar. Kuraih ponselku di meja dapur. Di layar tertera nama Kafie.

“Mama enggak enak badan, Fie. Jadi aku yang masak opor untuk pesanan kantor.”

“Serius? Wah, aku nggak sabar pengin segera mencicipi. Mau aku jemput enggak?”

Seperti gadis kecil yang mendapatkan kado kejutan, aku sangat senang dengan tawaran Kafie. Aku memintanya menjemputku pukul tiga.

Aku kembali fokus ke wajan opor dan bertanya-tanya berapa lama merebusnya. Biasanya Mama mencuil daging ayam untuk mengecek keempukannya. Kuaduk lagi pelan kuahnya. Aroma bumbu yang berpadu dengan kapulaga meluruhkan air liurku di dinding mulut.

Resah masih berteman denganku. Setengah jam kemudian, kucuil daging ayam dengan ujung susuk. Belum empuk. Kuputar mp3 player ponsel agar sejenak keresahan sirna. Tepat di saat suara Ellie Goulding menyanyikan lirik ‘How long will I love you… as long as star above you and longer if I may’. Opor ayam sebentar lagi matang sempurna.

Taburan bawang goreng di sentuhan akhir akan membuat opor ini sangat cantik, pikirku. Aku mengambil toples bawang goreng di lemari. Seandainya Papa melihat ini, beliaulah yang pertama mencicipi ini.

Tanpa kusadari, Mama sudah berdiri di mulut pintu dapur.

“Karena Mama hari ini tidak berpuasa, silakan mencicipi,”  ujarku sambil memegang lengannya lalu melangkah ke depan wajan.

Dadaku bergemuruh saat bibir Mama menyentuh ujung sendok. Beliau mengecap rasanya.

“Opor ayam bumbu Minang ala Santi, lamak bana[1].”

Genangan kecil menghangat di kelopak mataku.

*****

[1] Lamak bana (Bahasa Minang) : sangat lezat

 

Cerpen ini terinspirasi dari masakan almarhum mama. Ada beberapa hal yang saya kaji dari filosofi hidup melalui masakan opor khas Minang. Kisah tokoh dalam cerpen ini tidak sepenuhnya pengalaman pribadi namun saya mencoba meraciknya seperti kisah yang mungkin pernah terjadi dalam kehidupan seorang wanita.

Sebetulnya kabar cerpen ini akan dimuat sudah saya terima via emali sejak akhir tahun 2015. Email tersebut mengabarkan bahwa cerpen akan dimuat di antrean majalah edisi bulan Februari – Maret 2016. Namun ternyata jawaban email dari saya terselip dan editor mengabari saya lagi bahwa cerpen ini terbit di akhir bulan Juni 2016. Jadi, total masa tunggunya 1 tahun.

Naskah memang akan menemukan jodohnya sendiri. Tepat aura ramadan sangat pas dengan nuansa cerpennya. Semoga saya bisa mengolah ide lain untuk cerpen berikutnya dan tentu saja berjodoh lagi dengan media cetak yang keren, majalah Femina. Terimakasih sudah membaca cerpen saya. Give me your comment, please. 😉

Artikel Parenting

4 Things That Make Your Children Smarter

Every children are special. Depends on how parents treat and taking care of them. My experience told me that the more we gain our children’s ability, the more they get smarter. These are 4 main things that make your children smarter.

Music

Musik Angklung
Photo : my courtesy

Trough music, children’s IQ will be increasing. When a baby listens to music, his brain will accept some signal that will give good effect to its nerves. It will help the brain growth. Listening and playing music also works to children to get smarter especially when they able to play one of the music instrument. Sing a song will be one of the simple thing to make children’s memory better. Just do those things happily with their parents. In my experience, I always sing some children song when my daughter was 1-3 years old. I got surprised when she gets more talkative and speak clearly. Now, she is 10 and love to play Angklung at school once a week. She also eager to learn playing guitar. I think, I will buy her a classic guitar first for her training.

Language

Photo from www.thewellarmedwoman.com
Photo from http://www.thewellarmedwoman.com

This is the first thing that children know. They heard mom’s voice when they were in mom’s uterus. As they born, more vocabularies will be heard. Although a baby couldn’t talk yet, but making conversation in his mother tongue will make his brain growth and increasing speaking ability.

When the children grow being a teenager, teach them some good mother tongue, polite sentences, and other foreign language. So, they could learn a lot more than they know at school. Trough a simple thing that they see in daily activities, we could say some vocabularies. They will remain it and ask more about it. By the time they get more vocabularies, they will be able to make sentences and making conversation in foreign language.

Reading

reading with children
Photo from http://www.michellegriffithsbooks.com

Children usually love pictures and short dialogue on books. As parents we have to choose the appropriate books for them. But the most important thing is we have to read with them not reading for them. So the bonding between parents and children will happen. When the children asking some question about the story, we could give them some advice about the character in the story. The children will get a lot of information and knowledge trough reading. Do this habit regularly so the children will love reading books. Just make it fun for a smarter children’s brain.

Nutrition

Photo : my courtesy
Photo : my courtesy

This is also the main thing on making children smarter. When we give healthy food, children’s body will be healthy too. Give them balance nutrition everyday so it will affect their way of thinking and their brain health. Protein sources will be the nice substance in their meal for breakfast for example. We have to combine some other sources such as carbohydrates, fruits, and vegetables. So, all of that substances will be reacted in their body to support their activities well.

Healthy food will create healthy brain.

So, be a smart parents for smarter children.

Media Cetak

Tips Menulis Artikel ala Gado-gado Femina (“Ohayou Gozaimasu” dimuat di majalah Femina edisi 39/XLIII- 3-9 Oktober 2015)

"Artikel Gado-gado Femina perdanaku" (foto: dokumen pribadi)
“Artikel Gado-gado Femina perdanaku”
(foto: dokumen pribadi)

Saya ingin membagi pengalaman menulis artikel ‘Gado-gado’ majalah Femina, nih. Kalau Anda sudah sering membaca majalah tersebut, pasti tahu seperti apa jenis artikelnya. Artikel ala ‘Gado-gado’ Femina ini mengandung nilai-nilai human interest (kemanusiaan), inspiratif, sekaligus lucu.

Pengalaman yang dituangkan dalam naskah jenis ini bisa pengalaman pribadi atau orang lain dan diberi sentuhan Fiksi yang kreatif. Anda bisa mengambil ide dari keseharian, seperti tetangga sebelah misalnya atau penjual gorengan yang selalu lewat atau mangkal dekat rumah. Ambil satu hal yang membuat Anda terasa menyentuh hati sekaligus lucu jika dicerminkan pada diri Anda sendiri.

Jangan lupa, buatlah judul yang eye catchy dan unik supaya menarik perhatian mbak editor. Dijamin naskah Anda akan segera dibaca sampai selesai.

EYD dan ungkapan spontan seperti ‘Ah!’ ,’Wah’, ‘Aih’, Huh!’, dan sejenisnya harus menjadi poin penambah nilai naskah Anda. Lakukan self editing hingga Anda eneg supaya hasil tulisan terbaik bisa segera dikirimkan. Tulisan yang ramah editing akan membuat nilai plus naskah layak muat atau tidak. Naskah yang saya kirimkan pun mengalami beberapa kalimat yang disempurnakan oleh editor.

Persyaratan pengirimannya secara umum, yaitu :

  • Jenis font Arial, 12, spasi 2
  • 3.500 – 3.700 karakter (maksimal 3 halaman folio)
  • Nama tokoh dan tempat boleh fiktif.
  • Sertakan biodata di bawah naskah beserta nomor HP dan rekening tabungan
  • Kirim via email : kontak@femina.co.id dengan subject : Gado-gado
  • Masa tunggu 6 bulan
  • Jika naskah dimuat akan dikonfirmasi via telepon atau SMS dari sekretaris redaksi Femina.
  • Honor 500 ribu potong pajak.

Selamat berkarya!

Ini dia naskah saya yang sudah dimuat di majalah wanita keren ini :

"Kulit Sampul Femina 39, model : Rianti Cartwright" (sumber gambar : www.femina.co.id)
“Kulit Sampul Femina 39, model : Rianti Cartwright”
(sumber gambar : http://www.femina.co.id)

“Ohayou Gozaimasu”

Aku memerhatikan seorang wanita berdaster motif bunga, berambut putih keabuan, kedua matanya sipit, sedang menyiram halamannya yang luas di rumah besar itu. Luasnya hampir dua kali rumahku. Menurut teman suamiku, rumah itu milik orang berkebangsaan Jepang. Wah, pasti orang itu kaya. Ada dua mobil terparkir di carportnya. Tipe mobil yang sedang kuidamkan.

Aku belum mengenal wanita itu bahkan penghuni rumah di sebelah kiri kananku. Ah, pasti orang-orang di komplek bagus begini nggak seramah orang-orang kampung. Aku kurang suka berbasa-basi lebih dulu, berbeda dengan suamiku.

Suatu pagi, kulihat seorang wanita berkulit mulus, wajahnya oriental, berambut hitam lurus ala model iklan sampo di rumah besar itu. Bahasa tubuhnya pongah. Terutama saat berada di balik kemudi mobilnya plus kacamata hitam. Ih, cantik-cantik kok sombong.

Eeeeh, tiba-tiba terdengar suara cempreng berbahasa Sunda dari mulut si cantik. Ia memerintah bak putri raja pada asisten rumahtangganya. “Ai! Ambil sweater Ibu di dalam!”

Ow, ternyata dia bisa bahasa Sunda, toh.  Seharusnya mereka berbahasa Jepang, kan? Apakah wanita berdaster itu atau ayahnya? Pikiran tidak penting berkecamuk di otakku. Namanya juga pengin tahu tetangga baru. Ha… ha… ha…!

Saat aku membersihkan kaca jendela, wanita cantik itu terlihat menemani anaknya bermain sepeda. Tentu saja ditemani salah satu asistennya sambil menyuapi sarapan anaknya. Aku melirik dengan ujung mataku. Wanita itu berjalan mendekati carport tetangga sebelah rumahku yang kosong, lalu balik arah ke carport rumahnya. Aih, lenggang lenggoknya mirip model di catwalk.

Langkah kakinya sangat elegan dan kesan sombong di wajahnya semakin jelas. Arah pandangan matanya sempat tertuju padaku. Namun saat pandangan kami bertemu, dia tak menegurku. Ah, malas banget menegur orang sombong kayak gitu. Huh!

Sepulang suamiku, aku menceritakan tentang wanita cantik itu. Suami hanya bilang, “Kalau wanita cantik kayak gitu, terus orangtuanya kaya, ya wajar. Kalau ekonominya pas-pas-an tapi sombong, ya nggak cocok,” katanya seolah tak peduli. Ha… ha… ha… betul juga. Jadi ngapain aku judes… ya, kan?

Esok paginya, aku, suami, dan putriku menyengaja bangun lebih pagi untuk jogging keluar kompleks. Baru beberapa langkah keluar dari halaman rumah, kami berpapasan dengan wanita berdaster yang sama persis seperti yang tempo hari kulihat. Eh, ini kan si pemilik rumah besar yang orang Jepang itu.

Wanita itu tersenyum pada kami bertiga. Dia memperkenalkan diri lebih dulu dengan ramah sambil mengulurkan kedua tangannya menyalami kami.

“Perkenalkan, saya Heti Tanaka. Saya tinggal di sini bareng anak saya,” katanya dalam bahasa Sunda.

Lho, kok bahasa Sunda? Padahal tadi aku sudah berniat mengucapkan ‘selamat pagi’ dalam bahasa Jepang.

“Olahraga, ya?” tanyanya sangat ramah.

Kami membalas keramahannya dengan berbasa-basi sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Sekilas kulihat anaknya yang cantik itu sedang berdiri di mulut pintu samping rumah memperhatikan kami.

Aku dan suamiku saling berpandangan dan terkekeh. “Pa, tadinya Mama mau bilang ‘ohayou gozaimasu’. Ternyata dia bisa bahasa Sunda.”

“Nanti kalau kita ketemu sama suaminya tinggal bilang aja ‘wilujeng enjing’.” Kami bertiga tergelak. Well, ternyata hidup bertetangga itu memang warna-warni. Kadang-kadang kita termakan pikiran sendiri. *****

— Beta Widias, Ujungberung, Bandung.—

 

Kompetisi Blog

Grand New Veloz Will be Our New Fellow

Saya dan keluarga sedang memimpikan sebuah mobil jenis MPV terbaik di Indonesia dengan harga terjangkau. Alasan kami ingin memilikinya karena mobilitas kami semakin meningkat. Selama ini aktivitas kami hanya difasilitasi oleh sepeda motor keluaran tahun 2005. Kami sudah merasa cukup lelah apalagi saat melakukan perjalanan jauh. Ingin rasanya memiliki kenyamanan dalam bepergian, khususnya saat mengunjungi ibu mertua dan sanak saudara di Cirebon. Momen yang selalu kami nantikan adalah di hari Raya Idul Fitri karena kami rutin pergi ke sana. Terkadang saya pun ingin berkeliling menjelajah kota Cirebon tanpa takut dengan udara panas. Tahun lalu, kami menggunakan transportasi kereta api untuk sampai ke sana karena mudik dengan sepeda motor sudah tidak memungkinkan lagi.

Beberapa kali saya terlibat obrolan bersama suami tentang rencana pembelian sebuah mobil terutama setiap kali melihat tayangan iklan di televisi.

Namun kondisi finansial kami saat ini belum memungkinkan untuk mewujudkan rencana tersebut. Kami sekarang tengah memasuki tahun kedua cicilan KPR rumah kami. Secara nominal uang, sebenarnya kami sudah mampu untuk mengambil kredit kendaraan sebelum memutuskan membeli rumah kedua kami. Jalan alternatif untuk menabung uang muka pembelian mobil sementara ditaksir dari hasil penjualan rumah pertama kami. Jika rumah tersebut terjual di harga yang kami inginkan, otomatis kami bisa segera memiliki uang muka itu. Kini, suami pun sedang dalam tahap menyisihkan sedikit demi sedikit uang tabungan untuk itu sambil menunggu rumah lama kami terjual.

Kami menyukai mobil dengan exterior dan interior stylish serta trendy lifestyle. Sebelum saya membelinya, informasi spesifikasinya terlebih dulu saya lihat di YouTube. Setelah melihat video ini, kami sangat tertarik.

Kebetulan saya dan suami menyukai warna merah. Ternyata Toyota Grand New Veloz menyediakan warna Dark Red Metallic. Penampilan mobil ini sangat menawan. Saya menyukai bagian depannya dan velg yang sporty. Bila dibandingkan dengan merek pesaingnya, Toyota Grand New Veloz ini tak kalah keren. Pilihan warna lainnya yaitu Black Metallic, White, Silver Mica Metallic.

Tampilan depan Grand New Veloz
Tampilan depan Grand New Veloz

Beberapa fitur yang ada di dalam kabinnya membuat saya semakin ingin memilikinya. Selain desain interiornya bernuansa hitam elegan, saya menyukai sistem audio mobil ini karena telah dilengkapi dengan port USB dengan layar touch screen. Ini yang menjadi pembeda dari tipe Veloz 1300 cc.

Interior Dashboard dan Audio System (screenshot dari lama www.toyota.astra.co.id)
Interior Dashboard dan Audio System (screenshot dari lama http://www.toyota.astra.co.id)

 

Barisan kursi di dalam kabin Grand New Veloz (screenshot dari laman www.toyota.astra.co.id)
Barisan kursi di dalam kabin Grand New Veloz
(screenshot dari laman http://www.toyota.astra.co.id)

Saya pun tidak perlu khawatir dengan ketersediaan tempat duduk di dalam kabinnya. Jika saya mengajak beberapa sanak saudara untuk ikut serta menuju Cirebon, ruang tempat duduk masih cukup luas dan nyaman di barisan kedua juga barisan belakang. Saat putri saya tertidur selama perjalanan pun tentu akan tetap merasa nyaman karena kursi bisa diatur dengan posisi terlentang.

Sistem kursi yang mudah dilipat (one touch tumble) Screen Shot dari laman www.toyota.astra.co.id
Sistem kursi yang mudah dilipat (one touch tumble)
Screen Shot dari laman http://www.toyota.astra.co.id

Sepulang dari sana, biasanya saya akan kerepotan membawa buah tangan dari ibu. Sepertinya ruang bagasi mobil ini cukup luas untuk menampung berbagai macam barang bawaan. Terlebih, kursi belakang yang dapat dilipat  secara terpisah (50-50 folding) hingga lebih leluasa lagi.

Selain itu di semua tipe Grand New Avanza juga dilengkapi fitur keamanan dengan sistem immobilizer key serta keselamatan bagi pengemudi dan penumpang untuk mencegah cidera fatal, antara lain : side impact beam, sabuk pengaman, dan SRS bag.

Jika Anda ingin memilih transmisi otomatis atau manual, Toyota menyediakan keduanya, baik itu jenis Grand New Avanza atau Grand New Veloz. Anda tak perlu khawatir tentang bahan bakar karena transmisi mesin baru Dual VVT-i yang hemat energi dan tangguh. Sebagai bahan perbandingan kedua produk tersebut , berikut ini tabel perbandingan jenis mesinnya :

Tabel perbandingan Avanza & New Veloz (screenshot dari laman www.toyota.co.id)
Tabel perbandingan Avanza & New Veloz
(screenshot dari laman http://www.toyota.astra.id)

Menurut informasi dari salah satu Sales Executive, pak Harri Gunawan (dealer Toyota di jalan A.Yani 336-338, Bandung), harga 1 unit Toyota Grand New Veloz untuk tipe 1500cc M/T berada di angka Rp218.550.000,00.

Berikut ini tabel harga terkini untuk tipe Grand New Avanza dan New Veloz :

Foto : Informasi harga Toyota New Avanza & New Veloz dari pak Harri Gunawan (sales marketing Vijaya Motor, Bandung)
Foto : Informasi harga Toyota New Avanza & New Veloz dari pak Harri Gunawan (sales executive Wijaya Motor Lestari, Bandung)

Saya berencana akan mengambil kredit untuk tipe 1.5 Veloz M/T di tahun depan dengan asumsi uang muka sebesar 100 juta rupiah. Pak Harri telah membuatkan simulasi kreditnya untuk saya, sebagai gambaran seperti keterangan di bawah ini :

Simulasi Angsuran Kredit (foto : informasi dari Pak Harri melalui WhatsApp)
Simulasi Angsuran Kredit
(foto : informasi dari Pak Harri melalui WhatsApp)

Saya pun menanyakan pada Pak Harri, “Bagaimana jika pembayarannya dilakukan dengan metoda cash keras?”

Pak Harri menjawab, “Bisa bu, dengan masa pembayaran 6 bulan saja.”

Kartu Nama (Harri Gunawan)
Kartu Nama (Harri Gunawan)

Ingat kendaraan, saya jadi teringat asuransinya. Biasanya, kredit kendaraan sudah pasti memiliki jaminan asuransi. Saat saya tanyakan tentang hal ini, ternyata semuanya telah dijamin oleh asuransi ABDA.

Tak sabar rasanya, saya ingin segera mengikuti kursus mengemudi dan mendaftarkan diri sebagai pembeli mobil stylish dan sporty ini. Saya membayangkan, Idul Fitri tahun depan sepertinya akan lebih terasa bahagia dengan kehadiran teman baru yang tangguh dan sporty di keluarga kami.

Toyota Grand New Veloz will be our new fellow!

 

Avanza Veloz Blog Competition 2015