365 days' Project, Maret

Si Laptop pergi ke pasar

Pernah melihat seorang ibu bawa laptop ke pasar? Itu saya.
Ini bukan ajang untuk bergaya atau pamer, namun karena mobilitas saya ke arah pasar kemudian baru mengajar, jadi saya bawa serta si Laptop.

Saat masuk gerbang pasar, tiba-tiba terpikir bahwa antara pasar dan laptop memiliki nilai yang sama. Saya melihat dari satu sisi saja yaitu komunikasi. Di pasar, orang-orang berinteraksi jual-beli dengan berbahasa, ada tawar menawar, relasi bertambah, juga banyak canda yang transparan antar sesama penjual. Para pembeli pun terkadang saling menyapa tanpa mengenal sebelumnya karena hal yang mereka perbincangkan, terutama harga-harga barang.

Demikian juga hal kita temukan dari si Laptop. Kini, Laptop sudah menjadi satu wadah komunikasi penting, selain hanya untuk mempermudah pekerjaan kantor. Jejaring sosial dan penjelajahan dunia mampu didapat dari media elektronik ini. Darinya kita bisa berkenalan dengan banyak orang, bertemu teman lama, tawar menawar harga jika teman kita berjualan di sana, atau sekedar menjadi teman baru tak pernah menyapa.

Laptop adalah barang yang paling berharga bagi saya. Di dalamnya, banyak konsep dan bahan hasil dari olahan pikiran dan perasaan kita. Jika file-file itu hilang atau rusak terkena virus, sementara back-up file tidak kita miliki, sungguh menyedihkan. Saya merasa sedikit hancur dalam penyesalan.

Barang dagangan di pasar juga merupakan barang berharga bagi si empunya. Jika terjadi kebakaran atau kecurian, si pedagang akan merugi dan memulai segalanya dari awal. Semua yang musnah menjadi suatu pembelajaran bahwa terkadang barang berharga itu membuat kita bangga, survive, bahkan sebaliknya.

Antara laptop dan pasar, tetap akan menjadi dua hal berharga bagi saya, karena ide-ide tulisan pernah muncul ketika saya berdesakan di dalam pasar. Terimakasih atas kesempatan menginjakkan kaki di pasar walau kebanyakan orang berpikir hal itu menjijikan.

 

365 days' Project, Maret

belum ada judul #2

Aku terbangun dengan sisa hasrat yang masih membelenggu jiwa. Senyum dan kecupannya seakan masih membekas tanpa terhapus oleh apapun… siapapun. Tatapan matanya yang dalam membuatku berlama-lama dalam ketidaksadaran. Apakah aku telah bangun atau berada di dunia lain, mengawang bagai surga yang abadi dan mendekam dalam peristiwa eksotis romantis.

Seandainya aku boleh berlama-lama bersamanya, tak melakukan hal lain. Seandainya waktu melambat, aku tak mau beringsut sedikitpun dari sisinya. Dirinya pun selalu ingin menghabiskan waktu bersamaku. Aku begitu dipujanya, dia begitu memesona. Aku tak mampu melepaskan pelukan hangatnya hingga pagi menjelang.

Dia seperti segelas kopi yang harum, membuatku ingin selalu mereguk dan menghirup aromanya dalam-dalam. Aku hanya akan diam akan setiap keindahan yang ku rasa bersamanya. Rasa cinta ini akan menjelaga dalam dada. Rintik hujan selalu ku nantikan.

365 days' Project, Maret

“belum ada judul” #1

Aku termangu dalam satu ragu.
Akankah dia kembali dan memelukku erat? Bilakah aku melihatnya lagi di persimpangan jalan itu? Harum parfumnya… yang tiba-tiba menyeruak di kabin angkutan umum dan lirikan sepasang mata di kaca spion, diakah? Kenapa dadaku seketika bergemuruh? Diakah?
Tubuhku mendadak panas dingin melihat sesosok pria yang sangat ku kenal.

Hatiku berusaha menentang, “Bukan! Itu mungkin bukan dia. Hanya mirip dia.”

Aku terselamatkan oleh jarak yang aku tempuh. Bergegas turun meninggalkan sosok itu. Demam pun masih bergelayut dalam hati dan jiwaku hingga pandanganku sampai ke depan layar monitor komputer. Sejenak aku bertanya-tanya, mengapa aku harus merasa seperti ini? Tak karuan bagai pohon yang tiba-tiba terhempas angin kencang, tertatih untuk tetap berdiri tegak namun tetap dihempasnya lagi dan lagi. Setelah sekian lama…

Aku tak mau seperti ini. Aku sudah memiliki sosok yang lebih gagah darinya. Mengapa perasaan ini sedikit terkoyak hanya karena bayangan yang belum tentu benar-benar dia. Setiap kali aku memimpikannya, mungkin dia pun mungkin mengingatku. Saat aku merasa dia mengejarku dalam mimpi itu, mungkin dia masih membutuhkanku. Tetapi aku merasa lelah. Lelah dengan sikapnya. Kenapa dia kadang hadir dalam mimpiku? Kenapa dia mengusik ketenangan jiwaku? Kenapa aku tak pernah lagi dipertemukan dengannya? Kenapa dia hanya menjadi bayang-bayang kasih sayang tak berwujud.

 

365 days' Project, Maret

Red VESPA

ImageThis is what i’m dreaming of…

Sebuah motor Vespa matic terkini dengan desain classic warna merah membuatku jatuh cinta dan ingin memilikinya.
Aku memimpikannya seperti memimpikan seseorang yang akan hadir untuk membuatku lebih bersemangat menjalankan sesuatu. Aku harus punya pemacu untuk keberlangsungan semangat menulisku. Aku ingin mewujudkan beberapa konsep novel yang hadir dalam pikiran. Semoga satu persatu bisa terwujud hingga aku bisa memiliki The Red Vespa nan menggoda.
Mungkin ini mimpi konyol bagi seorang ibu seperti aku. Tetapi setiap orang berhak punya banyak mimpi, sekonyol apapun, selama kita berusaha untuk mencapainya kenapa tidak. Aku tiba-tiba teringat tentang terapi menulis huruf “T”. Menurut salah seorang teman yang memahami ‘grafologi’, jika kita membuat garis melintang huruf  T kecil agak tinggi, maka itulah impian kita. Aku belum melakukan terapi menulis huruf T itu. Setidaknya, niat dan harapan di awal Maret ini sudah menyeruak dari hati, jantung hingga ke seluruh aliran darah.

Semoga segala hal yang menjadi halangan mampu aku atasi demi menyambut datangnya The Red Vespa di rumah. Entah kapan dia datang? Entah kapan aku bisa mengendarainya?
Semoga segera…
Amin…

Red is the color of passion, the passion with many hopes and dreams to reach, the love within…

Asking for a great thing isn’t a big deal for Allah to be approved