celebrating poetry, puisiku

Suatu Pagi di Jendela

image

Pagi ini terasa sunyi
Walau hadir tangis bayi yang baru lahir
Pagi ini ku memanggil Ibu
Walau nalar ini tersadar Ibu tak ada di kamar

Tatapku menerawang bingkai jendela
Setitik air mata mengundang kerinduanku padamu
Apakah kau melihatku di sini, Bu?
Apakah kau tahu aku sedang mengingat hangat jemarimu?
Apakah kau melihat cucu mungilmu di rumahmu?

Mungkin dia mampu melihatmu dalam tangis
Mungkin dia tahu kau sedang tersenyum di tempat ku berdiri

Suatu pagi di jendela kamar ini
Selalu ku mengingatmu, Ibu

(14 April 2016, 09.20 wib)

*untuk alm. Mama Ieke Widhyati Arifien*

celebrating poetry

“Cinta Sepatu”

“Sepatunya”
(foto : dokumen pribadi – kamera ponsel Andromax Es 5 MP)

Aku tahu si pemilik sepatu ini

Dia meninggalkan jejak-jejak cinta di hati

Aku malu pada sepatunya

Jarang menyemirnya

Aku tabu meminta cintanya

Dia selalu memberi tanpa tanya

Bukankah cinta itu sepasang?

Seperti langkah kiri dan kanan

Kala hilang sebelah

Dia hanya bicara cinta tanpa jiwa

celebrating poetry

S C A R L E T

The falling rain drops beautifully

Ground smells so splendid

Feeling calm, warm, humming inside

Its touch became so smooth,

Gentle… irresistibly lovely

Kisses flew me above the clouds

They lead us to the way of our dreams

Like the moonlight lighten up this night

Scars forgotten …

Let ours bring love eternally

(March,27,2010, 10 : 47 pm)

celebrating poetry

i n s o m n i a

In the middle of the night…

I’ve fallen into pieces of rose

Nothing I can do… no words were saying

So humble… irresistible…

Owsome … over the starlight

Made the whole world’s ours

Nature sounds romantically

In your heartbeat… in mine…

All we need… as we want… for a lifetime love…

[11:50 pm, March 26,2010]