Januari 2016

Saya Tidak Takut ke Dokter Gigi (2)

Proses pembersihan karang gigi biasanya akan memerlukan waktu beberapa kali pertemuan tergantung pada tingkat keparahan karang gigi pasien. Saya sendiri sudah melakukan dua kali pertemuan untuk hal tersebut. Rasa ngilu pasti ada saat proses pembersihan dilakukan. Namun lebih baik merasa sakit sekarang daripada sakit berkepanjangan.

Setelah melihat hasilnya, gigi saya lebih bersih namun gusi yang tadinya tertutup karang gigi akan terlihat kemerahan karena radang. Deretan gigi jadi terlihat lebih renggang karena terdorong oleh karang gigi yang menumpuk sekian lama. Saya sudah menduga hal tersebut. Dokter pun menyarankan pemasangan behel. Memang ini akan memerlukan biaya besar karena sama sekali tidak dijamin oleh BPJS. Pemasangan behel termasuk dalam kategori perawatan kecantikan / estetis harus memakai biaya pribadi. Setelah saya tanyakan biayanya sekitar 4-5 juta rupiah. Menurut informasi seorang teman, biaya sebesar itu terbilang murah dibandingkan jika kita melakukannya di tempat praktek dokter gigi pribadi.

Tentu saja proses pemasangannya tidak secepat yang saya duga. Saya memiliki masalah dengan gusi gigi geraham bawah ketiga dari belakang. Dari hasil rontgen pertama, terlihat jelas bahwa ada gusi gigi geraham saya yang agak turun / rusak lagi-lagi penyebabnya adalah karang gigi dan cara menggosok gigi yang salah.

Berikut ini cara menggosok gigi yang benar :

Petunjuk Cara Menggosok Gigi yang Benar (foto : dokumen pribadi)
             Petunjuk Cara Menggosok Gigi yang Benar (foto : dokumen pribadi)
  1. Sikatlah semua gigi rahang atas dari arah gusi ke gigi dengan gerakan memutar (roll technique).
  2. Untuk gigi bawah sikatlah juga dari gusi ke gigi.
  3. Jangan lupa menyikat permukaan gigi dekat langit-langit dan lidah dengan gerakan dari dalam ke arah luar.
  4. Sikatlah permukaan kunyah gigi ke arah depan dan belakang.
  5. Perhatikan permukaan gigi yang menghadap pipi, sikatlah perlahan dengan gerakan memutar.
  6. Akhiri berkumur dengan segelas air bersih. Jika perlu, pakailah obat kumur.

 

Dokter Sp.Orthodontie memeriksa gigi geraham saya dan menyarankan untuk mempertahankan gigi itu karena giginya masih melekat kuat.  Nanti akan dianalisa kemudian di pertemuan berikutnya, apakah di bagian gusi tersebut masih ada jaringan atau tidak, dan bisa dilakukan pembersihan khusus dengan cara ‘dikorek’. Mendengar kata itu, saya kembali merasa ngilu. Proses pembersihan karang gigi saja sudah membuat gusi saya cenat-cenut, eh.. malah harus ada tahapan ini juga. Namun saya harus sabar mengikuti prosedurnya.

Tiba di minggu berikutnya, dokter mengecek kembali kondisi gigi geraham saya. Dokter tidak berkomentar apapun. Saya me-rewind perkataan dokter, “Dokter, saya mau cetak rahang.”

Perawat menyiapkan keperluan cetakan. Bahan berupa pasta berwarna ungu dengan aroma mint diwadahi ke sebuah cetakan rahang gigi lalu dokter memasukkannya ke dalam mulut saya. Cetakan ditekan ke rahang atas terlebih dulu dan menunggu kira-kira 5 menit hingga adonan pasta ungu itu sedikit mengeras, lalu dokter mengeluarkannya. Dokter melakukan hal yang sama untuk rahang bagian bawah. Cetakan tersebut nanti akan menjadi bahan pembelajaran dokter dalam pemasangan behel.

Dokter kembali mengecek apakah karang gigi saya sudah benar-benar bersih. Pembersihan akan dilakukan lagi sebelum dokter memasang benda mirip karet gelang kecil yang disebut separator. Benda itu diletakkan di sela-sela di graham atas dan bawah. Hal ini dilakukan untuk tempat di mana kawat behel akan dililitkan nanti.

Pemasangan separator (warna biru) di sela-sela gigi geraham (foto : dokumen pribadi)
Pemasangan separator (warna biru) di sela-sela gigi geraham (foto : dokumen pribadi)

 

Dokter mengatakan, “Jika terasa sakit, minum obat Ponstan. Setelah seminggu, ibu ke sini lagi.”

“Dokter, kalau ngunyah makanan gimana? Takut copot.” Gigi gerahama saya mulai terasa kurang nyaman.

“Paksakan saja mengunyah, ya?” ujar dokter.

Benar saja apa yang saya khawatirkan itu terjadi.

 

Bersambung ke bagian 3

Januari 2016

Saya Tidak Takut ke Dokter Gigi (1)

foto : dokumen pribadi
foto : dokumen pribadi

Awalnya, kedatangan saya ke dokter gigi di sebuah rumah sakit umum adalah hanya untuk membersihkan karang gigi yang sudah terlihat parah. Saya sempat mengingat momen kapan terakhir kali ke dokter gigi. Mungkin 2 atau 3 tahun lalu. Itupun hanya karena sakit gigi geraham belakang. Sakitnya hingga menyebabkan sakit kepala sebelah. Begitulah kebanyakan orang pergi ke dokter gigi karena sakit gigi.

Mungkin Anda juga begitu. Setelah rasa nyeri dan sakit kepala itu hilang, lupa deh, untuk kembali ke dokter gigi. Waktu itu dokter menyarankan, “Gigi geraham harus dioperasi, karena tempat tumbuhnya tidak memadai jadi harus dibuang atau nanti akan sakit lagi.”

Membayangkan ruang operasi saja saya sudah ngeri! Saya takut banget kalau harus operasi. Hal ini tidak saya lakukan. Ternyata memang tidak lagi timbul gejala nyeri di gigi geraham itu hingga hari ini. Jadi saya pikir tidak perlu menjalankan operasi.

Beberapa hal yang saya rasakan sebelum karang gigi dibersihkan, antara lain : gusi berdarah setiap kali menggosok gigi, gusi terasa panas, dan terkadang ngilu jika sedang mengunyah makanan.

Beruntung saya memakai BPJS sehingga proses pembersihan karang gigi bisa dijamin. Perlu diingat sebelum dokter menangani hal ini, berkas pasien pengguna BPJS dari bagian pendaftaraan di poli Gigi harus di-acc terlebih dulu di BPJS Center. BPJS hanya memberikan manfaat ini setahun sekali saja. Jika dokter menyarankan untuk pembersihan tahap kedua maka harus menggunakan biaya sendiri sebesar Rp.67,000,00. Jika terdapat masalah gigi dan dokter meminta Anda untuk melakukan rontgen Panoramix. Rontgen jenis ini dijamin oleh BPJS. Hasil rontgen biasanya bisa diambil di hari berikutnya (maksimal pengambilan hanya tiga hari).

Setelah dokter umum membaca hasil rontgen Panoramix, saya disarankan untuk menemui dokter spesialis Orthodontie. Pertemuan dengan dokter spesialis ini tidak dijamin oleh BPJS. Pendaftaran di antrean dokter sp. ortho dikenakan biaya sebesar Rp.20,000,00 (dua puluh ribu rupiah). Dokter spesialis akan meminta Anda untuk melakukan rontgen Cepalometrix sebelum melakukan analisa untuk pemasangan behel pada pasien. Ini di luar jaminan BPJS sehingga dikenakan biaya sebesar Rp.54,000,00 (lima puluh empat ribu rupiah). Hasil rontgen dapat ditunggu.

Alat Rontgen Panoramix & Cepalometrix (foto : dokumen pribadi)
             Alat Rontgen Panoramix & Cepalometrix (foto : dokumen pribadi)

 

Beberapa hal perlu diperhatikan saat pendaftaran di RSUD untuk pengguna BPJS :

  1. Surat rujukan ASLI dari Puskesmas atau Rumah Sakit lain. Perhatikan periode surat rujukannya (biasanya 1 bulan) karena terdapat kemungkinan Anda untuk kembali lagi ke rumah sakit sesuai petunjuk dokter.
  2. KTP (asli) serta fotokopinya (fotokopi KTP 2 lembar akan diminta saat pengambilan hasil rontgen Panoramix / fotokopi Kartu Keluarga (untuk pengguna Jamkesmas).
  3. Kartu BPJS ASLI serta fotokopinya (2 lembar)
  4. Fotokopi surat rujukan (2 lembar)
  5. Kartu pasien rumah sakit. Jika belum memiliki kartu ini, Anda bisa mendaftarkan diri langsung di bagian pendaftaran poli yang Anda tuju. Kartu akan langsung dibuat. Bawa selalu kartu ini setiap Anda hendak berobat ke rumah sakit tersebut.
  6. Jika ada hal yang belum Anda ketahui tentang manfaat apa saja yang bisa dijamin oleh BPJS, Anda bisa langsung ke BPJS Center yang ada di RSUD tersebut.
  7. Perhatikan jam pengambilan nomor antrean.
    Kini sistem nomor antrean telah menggunakan komputer layar sentuh. Jika belum mengetahui prosedur pemakaiannya, Anda bisa menanyakan pada pusat informasi atau Satpam yang sedang bertugas. Rumah sakit tempat saya berobat (RSUD kota Bandung – Ujungberung) telah menyediakan layanan permintaan nomor antrean via SMS. Ada format SMS tertentu yang harus diketik, bergantung pada poli apa yang akan Anda tuju. Anda akan mendapatkan jawaban SMS yang berisi nomor urut antrean serta jam kehadiran. Pengguna layanan SMS ini harus sudah memiliki kartu pasien RS setempat.

 

*Bawalah selalu persyaratan di atas setiap kali Anda berobat ke RSUD. Jika sewaktu-waktu ditanyakan oleh petugas administrasi, berkas Anda telah siap.

 

Bersambung ke bagian 2

365 days' Project, Januari 2016

#20 Sosialize

Be social or you’ll never know others!

Statement ini saya tujukan untuk diri saya sendiri. Saya sedang belajar memahami orang lain bahkan mengasah rasa dengan berempati pada orang lain. Saya pikir tanpa ada orang yang menyuruh pun saya akan bersosialisasi dan mengeksplorasi perasaan-perasaan yang timbul saat berinteraksi dengan sesama manusia. Bukan hanya eksis di jejaring sosial tetapi kegiatan off line juga harus menjadi penyeimbang hidup saya. Saya merasa semakin tidak ingin diperbudak oleh dunia maya, namun kebutuhan itu tetap akan ada mengingat akan pentingnya beberapa informasi yang hadir dari sana.

Entah apakah kegiatan bersosial yang saya lakukan itu memang turunan/titisan dari almarhum bapa saya atau memang pada hakikatnya manusia itu memang makhluk sosial. Saya merasa setelah menjadi ibu, saya semakin banyak melakukan kontak person to person. Tidak seperti saat lajang, bahkan terkadang saya dulu tiba-tiba merasa seperti antisosial, dan itu memang kemauan saya atas beberapa alasan pribadi. Saya merasa beruntung, perubahan ini, dari anti-sosial menjadi seseorang yang sedang bersosial, adalah anugrah. Semua orang bermetamorfosis seiring waktu yang ia tempuh dan ia mengerti.

Saya menjadi ingin seperti beliau (alm.bapa). Pribadi yang sempat berkecimpung di sebuah lembaga sosial, di lingkungan tempat tinggal pun beliau bersosialisasi dengan banyak tokoh masyarakat, juga di lingkungan kerjanya.
Rasa sosial yang tinggi akan membentuk sebuah kepribadian yang luwes, bukan untuk mengharapkan pujian orang lain. Keluwesan hati ini hanya untuk diri kita sendiri bukan orang lain. Kesadaran berempati adalah “tabungan” untuk diri kita pribadi. Kegiatan berbagi adalah sebuah kesempatan yang tak kan membuatmu merugi.

365 days' Project, Januari 2016

#19 Susu kalsium

Semua orang butuh asupan kalsium, tak terkecuali perempuan yang sedang patah hati atau sedang jatuh cinta. Wajah merah merona atau wajah kusut cemberut tidak boleh ditambah dengan tulang kropos dong…

Saya sarankan Anda minum susu untuk mendukung kepercayaan dirimu dalam melangkah. Memang semua iklan susu di televisi menggunggulkan kandungan gizi dan vitamin. Namun, susu murni rebus juga mengandung kalsium, produk olahan susu seperti yogurt, keju, dkk pun terdapat kalsium.

Jadi, makanlah mereka saat sedang bahagia ataupun duka. Setidaknya Anda akan tetap sehat dan berdiri tegak menghadapi hal-hal selanjutnya. Adalah hal yang tidak lucu jika saat meratap dalam kesedihan, kita meminum soda yang notabene akan menguras usus, lambung bahkan melukainya, juga mengeroposkan tulang secara perlahan. Anda akan semakin terlihat tidak prima karenanya.
Akan menjadi hal yang asyik dan fantastik jika kita meminum susu, sekalipun hanya susu kedelai hasil olahan dapur pribadi. Itu menyehatkan dan mencerahkan wajah juga pikiran. Setidaknya saat kita sedang terpuruk tetapi penampilan tak kan terlalu terlihat buruk.

Mau coba saran saya?

Selamat menikmati segelas susu, teman! 😉

365 days' Project, Januari 2016

#18 Sebungkus perih untuk Gagan

Suatu malam di peraduan…

“Cantik…” Gagan bernada mesra pada Cacan.
“Ada apa sih?” Cacan merah merona.
“Aku ingin mencium bibirmu yang pink itu” Gagan menggebu.
“Hmm… tapi tolong pijat pinggangku dulu, pegal-pegal nih…please” rajuk Cacan dengan kedua bibir maju beberapa centi.
Gagan mengusap tak tulus. Cacan tak memberikan bibirnya untuk dikecup Gagan. Cacan memunggunginya dan tak berkata apapun.
“Kenapa dia begitu egois? Tak mengertikah dia kalau aku sedang tak enak badan?” gerutu Cacan dalam hati menahan tangis kecil. Tak terasa, tetes air dari ujung matanya menetes.
Gagan membalikkan badan Cacan, “Sini dong…”
Cacan terpaksa mengarahkan badannya pada lelakinya dan berpura-pura mengantuk, memejamkan mata yang telah basah.
Gagan tak berkata apapun, hanya mengusap rambut Cacan lalu mendekap erat tubuhnya.

Detak jantung mereka tengah berbalas bicara. Kehangatan tubuh mereka berusaha memahami sebungkus suasana hati nan perih.

365 days' Project, Januari 2016

#17 Black Coffee

Hitamnya pekat, terlalu asam dan tajam untuk lidah saya. Mungkin karena kopi instan. Ya…hal yang dibuat singkat itu memang terkadang terkesan tak enak dirasakan. Namun bergantung pada unsur-unsur yang mengikutinya.
Kopi hitam memang pahit, sebungkus gula putih belum mampu membuatnya lebih manis. Jika tak punya lagi gula tambahan, ya sudahlah…nikmati saja setiap regukan tak nyaman di pangkal lidah dan tenggorokan ini. Asam yang hadir sesaat setelah bereaksi dengan air liurku akan hilang dengan sendirinya ketika aku lupa.
Bagai mereguk pengalaman pahit, menyisakan rasa dalam jiwa yang sedang sakit.

Saya tak biasa meminum kopi hitam, hanya gara-gara gratisan, saya ingin mencoba. Pikiran dan perasaan saya melayang ke masa kecil. Teringat segelas besar kopi panas nan wangi milik Bapa saya. Kopi hitam yang manis dan nikmat. Berbeda dengan kopi instan gratisan itu.
Seperti proses yang harus kita jalani untuk sebuah tujuan. Kita tidak bisa begitu saja mencapai tujuan itu dengan cepat. Kalaupun ada jalan singkat, hasilnya tak kan nikmat. Harus ada proses mengolah, mengaduk, menyiapkan air mendidih, lalu kemudian ada takaran yang harus seimbang supaya mendapatkan segelas kopi hitam yang sempurna. Walau kopi itu perlahan akan dingin dan belum juga habis hingga sore, tetapi dia tetap memiliki karakter rasa manis di regukan terakhir.

Ya… jika arah tujuan kita perlahan mendingin dan seolah waktu melambat, semangat mengendur, segeralah tersadar bahwa akan ada hal manis di garis akhir pencapaian tujuan.

Setengah mug kopi hitam setiap dua hari sekali mungkin akan membantu kita untuk meraih sebuah keyakinan di hari kemudian.

365 days' Project, Januari 2016

#16 Tempat sampah ajaib

Akhir-akhir ini, saya seringkali merasa menjadi tempat sampah. Orang-orang yang baru saya kenal, menjadi begitu dekat karena mereka menumpahkan sesuatu dari dalam dirinya kepada saya. Tak ada penolakan dari diri saya, karena saya sangat menikmati aktivitas ini. Ngobrol, sekedar curhat, adalah hal yang membuat saya mampu mengexplore pribadi mereka bahkan tentang hubungan antar sesama manusia.

Psychologic things are always interresting.

Tiba-tiba terpikir dalam benak saya, “Saya ingin jadi tempat sampah ajaib!”
Mungkinkah itu?
Si sampah bisa langsung diolah menjadi hal berguna untuk orang banyak, dengan sistem kendali yang canggih yang belum pernah ditemukan di muka bumi ini.
Bisakah?
Saya akan menjadi tempat sampah ajaib dengan sistem unik dalam tubuh saya hingga mampu mencerna segala yang masuk secara otomatis tanpa menumpahkannya lagi pada alat lain.
Rasanya hal ini mustahil. Tapi saya yakin, sejalan dengan perubahan waktu, saya bisa.
Semoga…

365 days' Project, Januari 2016

#15 Kesungguhan wangi hujan

Banyak orang mungkin membenci hadirnya hujan. Logikanya, hujan menghambat aktivitas ke luar rumah, jalanan becek hingga orang menjadi enggan untuk ke luar rumah. Saya justru penyuka hujan. Wanginya yang membuat saya suka padanya. Terutama setelah hari yang panas, hujan tiba-tiba membuat sejuk segalanya dan wanginya semerbak membuat banyak sajak di dalam benak.

Entah mengapa, saat saya bersungguh dengan satu hal yang ingin saya capai dan lakukan, hujan selalu membingkai perjalanan saya menuju hal itu. Baik itu hanya hal sepele ataupun hal-hal yang penting, begitupula saat yang menggairahkan. Tidak melulu soal bercinta tetapi kala hati ini ingin berselimut hujan, rintiknya menerpa wajah dan wanginya tak dapat dikatakan, dia selalu mampu membawa saya pada satu kesungguhan. Saya mau ke sana berteman hujan. Biarkan saya basah dan masuk angin asalkan saya sampai di sana.

Sang hujan yang seringkali hadir di awal tahun ini membuat saya sadar akan sebuah makna kesungguhan. Seberapa derasnya hujan dari langitNya, mau tak mau kita merasakan dampak yang terjadi setelahnya. Kota ini, bumi ini menjadi sejuk juga dingin menusuk. Sepedih apapun langkah kita saat menembus hujan, akan ada satu masa dimana kita menemukan kedamaian setelah badai dan angin kencang.

Saya akan selalu menikmati wangimu, hujan…

Saya akan selalu mensyukuri hujanMu, wahai Sang Penguasa Alam…

Karena hujanMu telah membuatku menjadi seseorang yang sangat perempuan…

365 days' Project, Januari 2016

#14 Ayah yang pengertian

Salah satu problem dalam keluarga adalah hubungan Ayah dengan anaknya, khususnya anak perempuan dengan Ayahnya. Kebanyakan orang berpendapat bahwa segala urusan anak adalah tugas Ibu, termasuk berbincang atau ngobrol bersama anak.

Komunikasi yang kita jalin sebagai orangtua dengan sang anak adalah hal yang sangat penting. Ini bukan hanya urusan Ibu, tetapi peran Ayah juga sangat besar. Karakter anak akan terbentuk karena komunikasi dengan Ayah. Seringkali Ayah  terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan hingga tak menyadari bahwa anaknya butuh disapa dengan hati bukan sekedar basa-basi. Akan lebih baik lagi jika Ayah meluangkan waktu untuk mendengar anaknya bercerita tentang bagaimana hari ini di sekolah, tentang teman-temannya, dan banyak hal dari kesehariannya.

Saya seringkali melihat seorang Ayah begitu kaku dan angkuh di depan anak hingga mendapat image yang menyeramkan di mata anak. Selalu muncul ancaman seperti ini, “Ayo cepat cuci motornya! nanti Ayah marah loh” atau “Kalau kamu nggak mau nurut, Ayah ngamuk sama Ibu loh”. Ancaman seperti ini membuat anak menjadi takut dan image tentang Ayahnya menjadi negatif walaupun ancaman tersebut bertujuan supaya anak patuh.

Saya sebagai anak perempuan yang pernah ngobrol dengan beberapa Ayah, mengingat Ayah saya sudah lama meninggal dunia, merasa nyaman dan sangat menikmati obrolan bersama Ayah (Paman dan Uwa). Mereka sangat perasa menurut saya. Entah lah apakah dugaan saya ini benar. Tetapi rasa nyaman ini terasa begitu dalam karena saya merindukan moment seperti ini walau hal-hal yang kami perbincangkan hanya sekedar hal biasa. Apalagi kalau sudah bicara tentang masa depan saya, mau saya apa dan bagaimana saya harus bersikap dan merubah diri saya menjadi lebih baik. Itu sangat membuat saya senang dan menghangatkan jiwa. Saya sempat berderai airmata ketika Paman saya mengajak bicara dari hati ke hati. Karakter dan kepribadian, juga latar belakang saya kenapa bisa menjadi seperti ini, beliau bahas tuntas. Obrolan itu sangat membekas dalam hati dan pikiran saya sampai hari ini.

Saya sangat bersyukur, anak perempuan saya sangat dekat dengan Ayahnya. “Kaka senang main sama Papa, cerita sama Papa, becanda sama Papa”, begitu katanya dengan senyum yang sangat manis dan mata berbinar. Anak saya selalu kritis jika hari sabtu atau minggu dia harus bertugas, karena dia merindukan Papanya di sampingnya seharian. Kegiatan pendekatan dengan ngobrol ini sangat penting karena sebagai Ayah, akan mengerti bagaimana anak kita, apa yang dia mau, apa yang dia tahu. Ayah akan merespon setiap apa yang terlontar dari mulut anak. Kata-kata dan petuah yang lembut dan bijak akan membuat anak kagum dan dekat dengan Ayah. Anak akan selalu rindu berada di dekatnya. Bukan seperti hantu jadi-jadian atau monster yang siap memakan anak bulat-bulat dengan omongan yang menyeramkan.

Saya sangat bahagia melihat pemandangan kala mereka sedang bercengkrama, terkadang saya menjadi terusir secara halus. Hanya anak saya yang boleh bersama dengan Papanya.

Semoga pemandangan seperti ini akan saya temui di luar sana.

365 days' Project, Januari 2016

#13 Virus lovefluenza

Ini tentang virus baru. Analisa saya, walau bukan seorang dokter, virus ini menjangkiti hampir semua orang dewasa. Dia mirip virus flu yang menimbulkan gejala tak enak badan. Pusing, demam, hidung meler, lemas bahkan malas makan. Tetapi bagi beberapa orang mungkin selera makan akan meningkat gara-gara virus ini.

Si virus lovefluenza bisa menyerang siapa saja yang memiliki hati dan perasaan. Tak hanya fisik yang dibuatnya tak nyaman, hatinya pun akan demam. Serangannya tak kenal waktu. Perubahan cuaca selalu dikambinghitamkan. Saya pikir tidak demikian, karena virus ini berjangkit di segala musim. Apalagi saat musim cinta. Dia akan benar-benar merajalela di setiap sendi dan aliran darah. Dia menjadi akut jika terlalu dirasa. Tak dokter atau obat yang diresepkannya mampu menyembuhkan sakit dari virus ini. Obatnya hanyalah segala hal yang berkaitan dengan sebab-sebab. Obatnya adalah seseorang yang mampu meredakan segala nyeri di setiap sendi, meredakan pusing, menghentikan meler, melegakan hidung tersumbat dan air yang menggenang di kelopak mata.
Saya tak membenci virus ini. Biarkan saja dia merasuk ke dalam tubuh saya. Saya akan mampu bertahan dengan imunitas tubuh ini. Sang imun akan semakin kuat seiring dengan intensitas datangnya virus dalam tubuh. Saya akan lebih memerhatikan pola minum saya. Rutinitas minum air putih dan vitamin C harus diberlakukan.

Ya…vitamin CINTA dan kesejukan kasih sayang nan bening.