my beauty case, my journal

Make-up remover

Sebenar-benarnya kecantikan seorang perempuan adalah ketika dia tak bermake-up. Namun makin hari makin ingin saya mengeksplore bagaimana cara berdandan yang enak dilihat tetapi tidak berlebihan. Saat saya memutuskan untuk bekerja kantoran, saat itu pulalah saya menjadi lebih feminin daripada sebelumnya. Mulai dari Lip Gloss dan bedak yang simple, hingga Eye Shadow dicoba. Saya baru menyadari bahwa dengan riasan wajah, banyak hal yang ada di wajah kita bisa ditonjolkan atau disamarkan. Setelah riasan sempurna kita merasa lebih percaya diri untuk ke luar rumah dan beraktifitas.

Saat lain, kadang kita malas untuk berias lengkap, kadang tak perlu polesan Blush On karena ada perasaan-perasaan yang tiba-tiba muncul di hari itu hingga semburat merah muda terlihat di tulang pipi. Ya,kita tak butuh Blush On saat rasa cinta sedang membahana.

Kita lelah jika harus selalu menyamarkan dan menonjolkan apa yang ada di wajah kita. Setiap pergi tidur,kita akan selalu membersihkannya dengan pembersih Make-up dan ada rasa plong setelahnya. Tak ada lagi kepalsuan dan kepura-puraan. Sesaat sebelum memejamkan mata untuk tidur, sadarilah satu hal, kita akan lebih cantik saat bangun di pagi hari.

Kita yang apa adanya. Selalu berusaha meremove segala topeng yang selalu menghantui diri kita sendiri. Bagaimana jika Make-up remover tak pernah diciptakan?

my beauty case

hey,blush-on…my spirit on!

Dia sangat  terkesima dengan satu wadah berwarna emas di tangannya. Perlahan dia membukanya, dan…

“Wow! Kamu mulai tertarik kan dengan butiran warna-warniku ini?”

“Ayo,coba! Jangan ragu-ragu!”

“Kuas…ya,kuasnya mana?ayolah…sapukan kuasnya memutar, nanti kamu akan mendapat warna yang sempurna saat kuasnya disapukan di pipi putihmu itu”

“Bukan! Bukan begitu! Kamu kok malah mengambil satu butir saja?!”

Dia mengoleskan satu butir blush-on pink di area tulang pipinya.

“Warnanya nggak akan muncul dong…kalau begitu caranya,” si blush-on mulai cerewet.

“Hei! Jangan ditutup dong…yah…gelap,” ditutupnya wadah blush-on itu oleh si perempuan manis.

Dia sengaja menyimpannya terlebih dahulu di laci tempat kosmetiknya untuk nanti.

“Ya…ya…aku memang harus berpasangan dulu dengan kuas,” ujar si blush-on dari dalam laci.

Dua minggu…tiga minggu…1 bulan…2 bulan…

“Waduh,kok aku nggak dibuka-buka lagi sama kamu?,” si blush-on mulai pegal di dalam laci.

“Kuas itu penting untukmu,wahai perempuan manis…aku dan kuas akan membuatmu lebih merona”

“Butiran warna-warniku ini pasti akan membuat dirimu merasa jadi pribadi yang baru tapi bukan meniru-niru. Kamu ya kamu…dengan gairah dan semangatmu yang terkadang mengarah pada hal yang liar,” si blush-on terus saja berbicara pada ruang gelapnya.

Perempuan itu kembali menyentuh wadah blush-on, kemudian membukanya.

“Yes! Aku mau dipakai sama kamu kan?!,” blush-on kegirangan.

“Kuasnya?kok kamu belum punya kuas juga sih…” blush-on sedikit kecewa.

“Aku adalah bagian dari semangat barumu. Ayo! Pakai saja aku dengan caramu, tanpa kuas tak apa,” si blush-on pasrah juga gerah.

Perempuan manis itu mulai bereksperimen dengan blush-onnya tanpa kuas, hanya dengan kedua jari tangannya dia menyapukan itu ke bagian pipinya. Perlahan, penuh perasaan, dan hasilnya seperti sebuah kejutan kala dia melihat wajahnya di cermin.

“Aku ingin kamu tahu kalau aku sangat membutuhkanmu…” gumamnya dengan tatapan mata yang agak menerawang jauh tetapi diiringi senyum manisnya yang tulus.

“Ya…kamu memang butuh aku, supaya wajah kamu bisa lebih ceria saat wawancara di radio itu,” si blush-on menjawab.

“Jadilah seperti diriku, butiran warna-warni yang memberi arti dalam hati, membuang duka dalam luka, mengisi gairah dalam darah…”

my beauty case

Goodbye cologne, welcome perfume

“kamu sangat setia padaku walau kamu pernah bersama cologne kesukaanmu dulu”

“kamu tiba-tiba jatuh cinta pada wangi lembutku…atau mungkin pada botol yang transparan menawan ini?!”

“aku suka kala kamu membubuhkanku di bagian punggungmu yang mulus, di lehermu yang putih menggoda, dadamu yang hangat dan di denyut nadimu yang selalu bergairah membuat dia gerah”

“kamu terkadang lembut dan tenang seperti wangiku, tapi lain waktu kamu begitu agresif dan malah memakai wangi yang beraroma citrus”

“mungkin itu memang dirimu… yang tetap dia cinta walau kamu tak memakaiku sekalipun”

“aku pernah tahu, dia lebih suka wangi tubuhmu tanpa kehadiranku”

“wangi tubuhmu membuatnya lebih pusing tujuh keliling, katanya…”

“ah…kamu memang ingin selalu terlihat segar dan wangi di hadapannya”

“bawalah aku kemanapun kamu pergi, wangi yang lain juga harus kamu bawa karena kamu suka tiba-tiba berubah”

“kamu wangi sewangi pribadimu… kamu memikatnya seperti ikatan kuat saat wangi tubuhmu melekat dalam pikirannya”

“bawa serta aku ke kota panas ataupun dingin hingga dirimu menjadi pribadi dinamis bersenyum manis…”

my beauty case

Body cream

“Hei, kamu pasti merindukanku. Aku sudah kosong di wadah bulat besar tutup biru muda ini,” sisa-sisa body cream berbisik pada perempuan itu saat ia membuka laci make-upnya.

“Ayo! isi lagi dengan wangi yang sama yang kamu suka,” lagi-lagi sisa body cream berusaha mengingatkan perempuan manis itu.

“Sebentar lagi, kamu akan pergi traveling dan beautycase-mu harus lengkap supaya kamu tak gagap kala bercakap-cakap dengan orang-orang yang cakap yang kamu temui di sana,” si body cream yang beraroma lembut it terus mendesak perempuan itu.

“Kamu tahu kan sensasi rasanya setelah aku menyerap ke dalam kulit putihmu itu? Kamu akan merasa seperti seorang perempuan yang paling menawan yang selalu siap disentuh pria gantengmu itu,” si body cream semakin semakin cerewet di dalam laci.

“Kamu selalu suka kan aromanya yang lembut?! karena kamu seseorang yang penuh kelembutan. Aku yakin, besok atau bulan depan saat aku habis lagi, kamu akan memilih aroma wangi yang sama. Itu adalah setia,” si bodycream mulai berfilosofi.

“Aku yakin dia juga sangat mengagumi kemulusan kulitmu itu dan itu semua gara-gara aku. Tapi jangan lupa, kamu harus membawa serta diriku nanti saat traveling tiba. Aku akan selalu menjagamu karena pria ganteng itu tak kan ikut bersamamu. Setidaknya kulit lembutmu tak rusak karena cuaca”

Perempuan itu membuka wadah bulat tutup perak, tak lama kemudian dia menutup kembali dan menyimpannya lagi.

“Kamu pasti sebentar lagi akan membeli aku ‘si tutup biru muda’ dan aku akan ikut masuk dalam beautycase-mu saat traveling…,” si bodycream bahagia.

 

 

my beauty case

Foundation made your emotion

“Hey, kamu mulai mencoba aku,” si foundation berwarna light gembira.

Tapi aku tahu, sejak dulu kamu sudah punya dasar dalam dirimu sendiri. Pondasi dalam dirimu mulai menguat walau kamu belum menyentuhku. Kamu mengoleskanku minggu lalu di kulit wajahmu yang putih mulus itu, dan kamu menikmati setiap usapannya di kening, pipi, hidung, dagu,leher. Akupun sangat menikmati semua itu. Tiba-tiba kamu terkagum dengan apa yang kamu lihat di cermin setelah aku bersama bedakmu berbaur.

“Wala! Kenapa aku jadi berbeda dari biasanya?!” katamu.

“Cantik, kamu tampak berbeda dan sangat cantik hari ini,” kata pria ganteng itu.

Ya, aku akan membuatmu bertambah cerah dan berbinar di setiap harimu. Kamu mulai menyenangi reaksi diriku di wajahmu yang cantik itu. Aku mendinginkan dan menyejukkan wajahmu, lalu memancarkan kilau-kilau di setiap lekuk wajahmu. Foundation hatimu pun ikut menjadi lebih kuat dan percaya pada diri semakin melambung tetapi tanpa arogansi.

Kamu memang pribadi yang disukai banyak orang walau tanpa aku di wajahmu. Namun ijinkanlah aku, dimulai minggu lalu kamu memakaiku, untuk selalu berada di hamparan kulit cantik wajahmu. Aku akan mulai mengerti landasan hatimu dan pikiranmu hingga hari-harimu selalu penuh dengan lagu yang tak membuatmu meragu.

my beauty case

Face wash

Terkadang kamu lupa memakaiku. Tadi malam kamu begitu karena kamu terlalu mengantuk untuk menghampiriku.

“Hei,aku di kamar mandi dekat cermin,tidak di tas kosmetikmu!”

Kamu mungkin lupa. Tapi kamu juga rajin selama usia remajamu memakaiku. Tak heran  banyak teman dan laki-laki yang menaruh hati padamu begitu kagum pada kulit mukamu yang putih bersih dan segar. Dini hari tadipun kamu bergegas meraihku dan kamu terlihat merasa bersalah menatap raut wajahmu yang mengkilat karena minyak berlebih dengan foundation yang masih melekat di wajah, dan eyeliner yang samar membingkai matamu. Mungkin sedikit sisa mascara coklat kesukaanmu juga masih betah di bulu matamu.

“Jangan tinggalkan aku di kamar mandi jika kamu ‘kan pergi jauh. Kamu akan butuh aku di perjalanan, membuatmu lebih segar dan menjaga kulitmu terhindar dari si jerawat”

Pria itu bilang, “cantik,aku selalu ingin mencium pipimu yang mulus ini”

Aku yang membantu membuatmu seperti itu. Aku ikut senang melihat pemandangan saat pria yang sangat mencintaimu itu mengelus pipimu dan mengecup dengan lembut dalam tidurmu yang lelap tadi malam.

“ingatlah padaku setiap kali kamu merasa penat dengan sisa keringat dan sisa bedak yang pekat…”

my beauty case

Lipstick

Kamu temukanku pertama kalinya di tas kosmetik mamamu. Aku tiba-tiba menempel di bibir mungilmu. Lalu tak lama kamu oleskanku di cermin, entah tulisan apa yang kamu coretkan di sana.

Setiap kali kamu melihat-lihat isi tas kosmetik mamamu, pasti yang pertama kamu pegang adalah aku.

“Ayo, pakai saja aku di bibirmu,” teriakku.

Kamu acuh saja tak mendengarku.

Sesekali kamu melihat warnaku di bibir mamamu. Sepertinya kamu ingin cepat-cepat meniru mamamu. Warna merah yang menghiasi bibir bagai sebuah semangat untuk meraih sesuatu. Lama sekali kamu tak peduli lagi padaku.

Sampai pada suatu waktu, sahabatmu menyarankanmu memakai salah satu warnaku seperti yang pernah dipakai mamamu. Merah merekah bibirmu di hari indah itu. Bibir yang akan mulai dikecup dan dikagumi oleh pria yang menikahimu.  Aku ikut merasa gerah saat bibir pria itu mendekati bibirmu. Aku merasa berada di antara dua suhu tubuh yang sangat membara. Aku akan selalu menjadi temanmu dalam setiap gairah langkah yang kamu jamah. Warna apapun yang kamu pilih saat sedang perih, atau kering, aku akan berkolaborasi dengan lip-gloss agar bibirmu tetap menawan bagai perawan yang sedang menanti tuan tampan bersanding bersamanya dalam satu nafas cinta.

my beauty case

Lip-gloss

Aku masih ingat hari itu. Kamu masih remaja saat mulai tertarik mencobaku. Strawberry pilihanmu. Bibirmu terlihat lebih menawan bersamaku. Aku selalu kau bawa kemanapun kamu pergi. Tetapi terkadang kamu lupa mengoleskanku di bibirmu.

Aku melihat tatapan mata pacar pertamamu ke arah bibirmu. Dia tidak cukup berani memuji bibirmu dan tak berani mengecupmu. Aroma strawberry menjadikanmu terlihat segar dan cerah walau saat hatimu sedang gundah. Saat kamu memilih aroma peach di waktu lain, aku menyangka kamu telah mengalami perubahan sikap atau memang kamu cepat bosan dengan satu rasa.

Ya… kamu dinamis yang memiliki senyum manis namun perjalanan hidupmu terbilang tragis. Menangis dengan aroma peach di bibir, itu adalah hal yang indah. Ketika bibirmu bergetar menahan tangis, aku tiba-tiba merasa semakin jadi bagian dari dirimu. Kamu boleh oleskan kapanpun kamu mau dan rasa apapun yang kamu inginkan. Mungkin aku akan disentuh anakmu nanti saat dia beranjak remaja, saat dia mengacak-acak beautycasemu, lalu dia menciumi wangiku yang segar. Aku akan hadir di bibir mungilnya yang merah muda dan membuat senyumnya lebih merekah tanpa terlalu banyak tangis.

Lipstick akan menjadi pilihanmu saat ini namun aku tetap mencampuri urusanmu dengan lipstick agar bibirmu tetap menawan, terjaga dengan indahnya melembabkan bibirmu dan hatimu, menghiasi setiap tawa bahagiamu, juga tangis bahagiamu.

 

my beauty case

Eyeliner VS Eyepencil

“Kamu membuatnya perih, jangan sentuh dia lagi,” eyepencil merasa peduli akan keperihan perempuan tomboy itu.

“Biarkan saja dia tahu bagaimana rasa perih dipinggiran kelopak matanya,” eyeliner tak mau kalah.

“tapi dia lebih sering memegangku dan menorehkannya di pinggir lingkar matanya yang teduh,” lagi-lagi eyepencil membanggakan warna coklat yang menghiasi hari-hari indah di mata perempuan itu.

“kenapa dia lebih sering bersama kamu? Aku malah dibiarkannya bersebelahan bersama maskara hitam,” gerutu eyeliner hitam dalam laci.

“Perempuan itu lebih senang dengan warna yang membuat dia tenang dan senang, hingga hatinya ikut melayang menjalani apa-apa yang dia lakukan di hari-harinya,” eyepencil berkelakar.

“Justru aku yang akan membuatnya lebih jelas melihat dan matanya akan lebih tegas, juga pada sikapnya yang akan menjadi lebih tegas terhadap urusan sekeras apapun,” eyeliner berkampanye.

“Sudahlah, kamu istirahat saja di dalam laci yang gelap ini. Aku mau pergi menemaninya seharian ini,” eyepencil pergi dan melambai dengan senyum menyeringai saat perempuan itu memasukkannya di tas kecil yang akan dibawanya pergi.

Eyepencil ditemani compact powder dan lipgloss di dalam tas kecil itu.

Apa yang mereka bicarakan dalam perjalanan?

Next, lipgloss will talk…

 

my beauty case

Loose powder

Karin sedang butuh loose powder karena yang padat (compact powder) sudah pernah mencoba. Mungkin seperti sebuah anugrah kelegaan hati bagi Karin yang mengurungkan niatnya untuk membeli loose powder. Tiba-tiba Karin mendapatkan pesan singkat, bahwa sang nenek memerlukan ongkos untuk pergi ke dokter. Karin pikir, beli bedak bisa nanti. Uang yang dia alokasikan untuk bedak dia berikann pada nenek dengan ijin suaminya.

          Ya… Karin memang sedang memerlukan bedak tabur.

Just loose the feeling like a powder…

Bedak padat hanya membuat muka bertambah berat.

But sometimes, you should make your heart harder like a compact powder with the mirror, then in a mean time that would be fragile, cracked into pieces, and turn to dust.

Karin ingin terbebas dari rasa bersalah, sedikit melonggarkan hati dan keinginannya agar raut wajahnya bisa lebih bersinar tanpa harus berbedak. Walau nantinya akan sedikit berminyak di wajahnya, hingga dia mendapat sebuah makna dari sebuah perasaan unik kala Ramadhan.

Ramadhan bukan untuk terlalu banyak dandan, Karin menyadarinya. Tapi suaminya ingin Karin tetap cantik walau tak berbedak seperti saat dia menatap lekat-lekat raut wajah Karin ketika tidur. Mungkin Karin akan lebih cantik setelah lebaran dengan loose powder yang akhirnya akan tetap dipesannya atau sebuah kejutan dari suaminya yang selalu memberinya pelukan kala Karin dalam kegalauan.