my journal, September

Sekolah Kece untuk Masa Depan Kece

Kamu bingung milih sekolah yang tepat supaya dapat pekerjaan dengan cepat? Atau nyari kampus yang fasilitasnya lengkap dan nggak bakalan mikir dua kali untuk daftar jadi mahasiswa di sana?

Dulu, saya juga sempat mengalami hal kayak gitu. Banyak sekali sekolah tinggi dan universitas di Bandung yang menawarkan berbagai fasilitas yang mereka miliki. Saya sempat mencari-cari informasi terlebih dulu sebelum mendaftarkan diri sebagai mahasiswa. Mulai dari brosur, informasi dari teman-teman, dan beberapa rekomendasi sanak saudara.

Waktu itu, pilihan saya jatuh pada sebuah sekolah bahasa asing karena minat saya memang di sana. Saya pikir kalau saya belajar lebih dalam tentang bahasa Inggris harus pada tempat yang tepat. Terlebih lagi kampus saya ini memang memiliki fokus utama pada bidang kepariwisataan.

Sempat terbersit dalam benak saya, mungkin suatu hari nanti saya bisa bekerja di travel agency atau bidang-bidang lain yang berhubungan dengan bidang studi saya. Ternyata bahasa Inggris itu mencakup bidang pekerjaan yang sangat luas.

Berkaitan dengan bahasa Inggris dan hal-hal berbau pariwisata, saya jadi ingat perkenalan dengan salah seorang penyiar radio Hard Rock FM Bandung, Faisal Hasan. Ternyata latar belakang sekolahnya tidak jauh dari dua hal tadi. Setelah cukup lama menjadi penyiar radio, dia kini menjalani profesi sebagai tour guide di Pleasant Tour, Kuta, Bali. Sebelumnya dia juga sempat menjalankan bisnis kuliner dan produk Pastry. Setelah saya kepoin, dia ternyata lulusan dari NHI (Enhaii) yang sekarang bernama Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.

“Pantesan, English-nya oke pisan, ramah pula,” batin saya.

Rabu siang yang lalu, 31 Agustus 2016, saya dan teman-teman komunitas Blogger Bandung, berkesempatan mengunjungi kampus si penyiar itu. Ketika tiba di jalan Setiabudi No.186, memasuki pintu gerbang kampus megah itu, auranya terasa berbeda dibandingkan kampus lain. Kesan pertama, nyaman dan ramah.

Setiap kali berpapasan dengan para mahasiswa yang terlihat kece berseragam rapi plus wangi di lorong kampus, mereka menyapa saya,“Siang,bu,” dengan senyuman.

“Ah, saya dikira dosen kali, ya? Kok pada ramah gini, sih?” pikir saya.

Dua mahasiswa STP Bandung sedang berjalan di lorong gedung Ciremai. (foto : dokumen pribadi)
Dua mahasiswa STP Bandung sedang berjalan di lorong gedung Ciremai. (foto : dokumen pribadi)

 

Ternyata, kege-eran saya itu sirna saat tahu bahwa di sekolah ini benar-benar memegang kebiasaan ‘Being professional has to be in “Good Grooming, good attitude, good knowledge”.’

Kekaguman saya bertambah saat berkeliling kampus selepas acara perkenalan di gedung Ciremai lantai 6.

Gedung Ciremai (foto : dokumen pribadi)
Gedung Ciremai
           (foto : dokumen pribadi)

 

Saya dan teman-teman Komunitas Blogger Bandung di lobby gedung Ciremai. (foto : dokumen pribadi)
Saya dan teman-teman Komunitas Blogger Bandung di lobby gedung Ciremai. (foto : dokumen pribadi)

Dua mahasiswa jurusan Manajemen Pengaturan Perjalanan, mas Hindami, yang ramah, dan mbak Martina yang cantik, memandu kami melihat-lihat area kampus.

Mas Hindami (kanan) & Mbak Martina (kiri), mahasiswa jurusan Perjalanan (program studi Manajemen Pengaturan Perjalanan). (foto : dokumen pribadi)
Mas Hindami (kanan) & Mbak Martina (kiri).
        (foto : dokumen pribadi)

Sekolah tinggi pariwisata yang lebih dikenal dengan nama NHI (eNHaii) ini telah 54 tahun berdiri dan mendapatkan berbagai penghargaan. Kampus ini dibawah naungan Kementerian Pariwisata. Kini, bapak Drs. Anang Sutono,MM.Par.,CHE, menjadi ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.

Kampus yang luas ini menyediakan fasilitas lengkap. Mulai dari gedung-gedung yang bertemakan nama-nama gunung, dome (fasilitas olahraga), perpustakaan, kafe, coffee shop, bar, restaurant, dan laboratorium sesuai bidang studi, gedung serbaguna dengan kapasitas besar.

Denah Kampus STP Bandung (foto : dokumen pribadi)
Denah Kampus STP Bandung
                                                                      (foto : dokumen pribadi)

Kenyamanan kampus dan fasilitas penunjang yang baik menurut saya adalah dua hal paling penting untuk tempat belajar. Sekolah ini memiliki keduanya. Terbukti setelah saya berkeliling kampus bersama teman-teman Blogger Bandung. Semua fasilitas tersedia sesuai dengan program bidang studi yang diikuti para mahasiswa.

Dome STP Bandung (gedung olahraga). (foto : dokumen pribadi)
Dome STP Bandung (gedung olahraga).
                                               (foto : dokumen pribadi)

Saat sesi pengenalan kampus, Bapak Dony Riyadi,MM.Par, selaku Kepala Unit Komunikasi Publik (Humas) memaparkan bahwa di STP Bandung memiliki jurusan utama, yaitu Hospitaliti, Perjalanan dan Kepariwisataan, serta program studi pasca sarjana. Masing-masing jurusan memiliki program studi setingkat D3, D4, dan S1.

Bapak Dony Riyadi,MM.Par, Kepala Unit Komunikasi Publik. (foto : dokumen pribadi)
Bapak Dony Riyadi,MM.Par, Kepala Unit                 Komunikasi Publik.
           (foto : dokumen pribadi)

Berikut ini program studi yang ada di setiap jurusan :

Jurusan Hospitaliti

  1. Studi Akomodasi & Katering (SAK) – S1
  2. Administrasi Hotel (ADH) – D4
  3. Manajemen Divisi kamar (MDK) – D3
  4. Manajemen Tata Hidang (MTH) – D3
  5. Manajemen Tata Boga (MTB) – D3
  6. Manajemen Patiseri (MPI) – D3

Jurusan Perjalanan

  1. Studi Industri Perjalanan (SIP) – S1
  2. Manajemen Bisnis Perjalanan (MBP) – D4
  3. Manajemen Pengaturan Perjalanan (MPP) – D4
  4. Manajemen Bisnis Konvensi & Event (MBK) – D4

Jurusan Kepariwisataan

  1. Studi Destinasi Pariwisata (SDP) – S1
  2. Manajemen Destinasi Pariwisata (MDP) – D4
  3. Manajemen Bisnis Pariwisata (MBW) – D4

Kami sempat melihat langsung kegiatan di jurusan Hospitaliti, yaitu tempat praktik program studi Manajemen Tata Hidang (MTH), Manajemen Tata Boga (MTB), dan Manajemen Patiseri (MTP).

Di ruang kafe, para mahasiswa melakukan praktik bagaimana menghidangkan makanan yang telah dibuat oleh para mahasiswa program Pastry (Patiseri) dan minuman ringan.

Kafe Kampus (foto : dokumen pribadi)
Kafe kampus (foto : dokumen pribadi)

 

Para mahasiswa yang sedang bertugas di kafe. (foto : dokumen pribadi)
Para mahasiswa yang sedang bertugas di kafe. (foto : dokumen pribadi)
Menu pilihan jus buah di kafe. (foto : dokumen pribadi)
Menu pilihan jus buah di kafe. (foto : dokumen pribadi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Makanan dan minuman yang tersedia di kafe adalah hasil karya para mahasiswa program studi Tata Boga dan Pastry. Semua produknya dijual dengan harga terjangkau, mulai Rp 5.000,00. Siklus distribusi hidangan yang dibuat adalah dari mahasiswa untuk mahasiswa.

Mahasiswa semester awal akan mendapatkan bimbingan kakak kelasnya dalam pengawasan dosen. Mereka pun secara bergantian saling memahami teori dan praktik dalam bidang studi yang mereka pelajari juga memberi masukan atas apa yang sudah mereka kerjakan. Sebagai contoh, mahasiswa Tata Boga menyajikan hasil karya mereka pada mahasiswa lain agar mencicipi langsung.

Nama Restoran

 

Bar yang menyediakan minuman ringan. (foto : dokumen pribadi)
Bar yang menyediakan minuman ringan. (foto : dokumen pribadi)
Kegiatan Praktikum Mahasiswa di restoran. (foto : dokumen pribadi)
Kegiatan Praktikum Mahasiswa program studi Manajemen Tata Hidang (MTH). (foto : dokumen pribadi)

 

Contoh Penataan Alat Makan di Meja Restoran FIne Dining. (foto : dokumen pribadi)
Contoh Penataan alat makan di meja restoran fine dining.
                                                                 (foto : dokumen pribadi)

 

Bar di restoran fine dining. (foto : dokumen pribadi)
Bar di restoran fine dining. (foto : dokumen pribadi)
Outdoor view di restoran (foto : dokumen pribadi)
Outdoor view di restoran (foto : dokumen pribadi)

 

 

 

 

 

 

 

View dari jendela restoran (foto : dokumen pribadi)
View dari jendela restoran (foto : dokumen pribadi)

 

Dapur (Tata Boga)
Dapur (Tata Boga)  (foto : dokumen pribadi)

 

Dapur restoran (foto : dokumen pribadi)
Dapur restoran
     (foto : dokumen pribadi)
Ruang Baking (foto : dokumen pribadi)
Ruang Baking
                                   (foto : dokumen pribadi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Coklat putih berbentuk menara Eiffel, salah satu karya mahasiswa program studi Pastry. (foto : dokumen pribadi)
Coklat putih berbentuk menara Eiffel, salah satu karya mahasiswa program studi Pastry.
(foto : dokumen pribadi)
Macam-macam roti (foto : dokumen pribadi)
Macam-macam roti
(foto : dokumen pribadi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kami juga mengunjungi ruang kelas jurusan Perjalanan, program studi Manajemen Pengaturan Perjalanan (MPP). Di sana, mas Hindami memperlihatkan ruang Galileo, tempat belajar mahasiswa dengan fasilitas komputer, in focus, dan audio visual. Salah satu materi yang mereka pelajari adalah bagaimana memproses sistem ticketing untuk perjalanan. Program studi ini mengarahkan mahasiswa pada bidang pekerjaan tour consultant (konsultasi perjalanan) dengan mata kuliah mempelajari hal-hal yang berkaitan pembuatan paket tour perjalanan dan belajar menjadi tour guide (pemandu wisata). Selain itu pembelajaran bahasa asing seperti bahasa Inggris, Mandarin dan Perancis juga ada dalam mata kuliahnya.

 

Ruang Galileo, tempat belajar mahasiswa MPP. (foto : dokumen pribadi)
Ruang Galileo, tempat belajar mahasiswa MPP. (foto : dokumen pribadi)

 

Ruang demo penumpang (foto : dokumen pribadi)
Ruang demo penumpang (foto : dokumen pribadi)

Bagi mahasiswa yang memiliki hobi dan bakat di bidang olahraga dan musik, STP Bandung menyediakan wadah yang lengkap, termasuk kegiatan di bidang kerohanian. Sekelumit kegiatan mahasiswa yang ditampung dalam sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dijelaskan oleh perwakilan dari Senat Mahasiswa (SEMA) STP Bandung.

Perwakilan Senat Mahasiswa STP Bandung sedang menjelaskan berbagai kegiatan mahasiswa di kampus dan luar kampus. (foto : dokumen pribadi)
Perwakilan Senat Mahasiswa STP Bandung sedang menjelaskan berbagai kegiatan mahasiswa di kampus dan luar kampus. (foto : dokumen pribadi)

Berikut ini sebagian penampilan klub hobi di UKM STP Bandung :

Grup angklung ini tampil di pembukaan acara pengenalan kampus STP Bandung di gedung Ciremai, lantai 6 dengan membawakan lagu daerah, lagu barat, dan lagu ‘Kopi Dangdut’.

Grup angklung & arumba
Grup Angklung STP Bandung (foto : dokumen pribadi)

 

Penampilan Modern Dance mahasiswa STP Bandung. (foto : dokumen pribadi)
Penampilan Modern Dance mahasiswa STP Bandung.
                                                             (foto : dokumen pribadi)

 

NBC 2

 

Atraksi NBC (eNHaii Bartender Club). (foto : dokumen pribadi)

 

NBC 3 (lempar)
Atraksi NBC (eNHaii Bartender Club)                                                                                                                          (foto : dokumen pribadi)

Kegiatan mahasiswa yang ada di STP Bandung telah menghasilkan beberapa penghargaan tingkat nasional maupun internasional.

Melihat sekolah dengan segala fasilitas kece tentu erat kaitannya dengan biaya kuliah. Mahal atau murah itu sangat relatif, tetapi dengan biaya kuliah sebesar 12 juta rupiah, saya pikir sepadan dengan kualitas pendidikannya. Jumlah tersebut mencakup biaya pendaftaran, baju seragam, dan biaya praktikum (belum termasuk biaya program studi). Terlebih lagi jaminan masa depan yang cerah akan terlihat jelas di depan mata karena bidang kepariwisataan semakin ke depan semakin menjadi primadona di berbagai belahan dunia. Hal itu sesuai dengan slogan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung :

Marching Forward to a World-Class Tourisme Standard”.

STP Bandung juga menjalin kerjasama dengan beberapa donatur untuk program bantuan dana pendidikan bagi mereka yang berprestasi atau kurang mampu. Jadi selalu ada jalan bagi mereka yang ingin meraih masa depan yang lebih baik.

Bayangkan jika kamu atau kerabatmu suatu hari nanti menjadi chef andal yang bekerja di luar negeri, pemilik agen travel domestik dan international, pegawai profesional di hotel terkenal, atau bekerja di restoran kapal pesiar yang menjelajah berbagai belahan dunia. Menyenangkan bukan? Apapun profesimu nanti, tentu harus dicapai dengan usaha keras. Langkah awalnya adalah memilih tempat belajar yang tepat.

Saya merekomendasikan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung ini karena mengarah pada pencapaian profesionalisme bidang kepariwisataan, khususnya pariwisata Indonesia, sejalan dengan program ‘Wonderful Indonesia’ yang sedang gencar dipromosikan oleh Kementerian Pariwisata.

Screenshot laman situs STP Bandung
Screenshot laman situs STP Bandung

Informasi lengkap tentang Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung bisa dilihat di : http://www.stp-bandung.ac.id

Telepon : (022) 222011456 Fax : (022) 222012097, alamat kampus : Jl.Dr.Setiabudi No.186 Bandung 40141.

Foto bersama komunitas Blogger Bandung dan pengurus STP Bandung. (sumber foto : laman Facebook STP Bandung)
Foto bersama komunitas Blogger Bandung dan pengurus STP Bandung.
                                   (sumber foto : laman Facebook STP Bandung)
my journal, September

“When a Mom Wants to Meet a Movie Critic” (edited)

This slideshow requires JavaScript.

Ini catatan tentang pertemanan baru lho, bukan aib. Networking itu sangat penting untuk para blogger. Saya belum pede sih, dikatakan sebagai blogger karena masih dalam proses belajar. Salah satunya ini, ngepoin orang.

Dari awal saya melihat mas Raja Lubis ini, saya sudah tertarik. Eits! Jangan protes dulu! Saya bukan tipe emak-emak suka sama brondong kecuali si brondongnya lagu-lagunya keren kayak Ed Sheeran gitu. Ups!

Jadi ketertarikan saya pada mas yang satu ini soal kritikus film dan pencinta musik Indonesia. Nah, pasti film itu nggak bisa lepas dari musik karena setiap film selalu ada movie soundtrack. Saya ingin mengobrol soal ini.

Ternyata mas Raja ini sangat sibuk. Selain sedang menyusun skripsi, dia juga seorang banker (menengok profil akun Twitter), bergelut di dunia informatika, dan pengajar Bahasa Inggris. Aduh, susah banget deh, kayaknya bikin janji untuk bertemu. Padahal katanya, dia lebih suka mengobrol langsung kalau membahas soal film.

Saya harus agak sabar ya, soal kapan bisa ketemu. Setelah saya bertanya ini itu di SMS dan WhatsApp, saya kagum dengan kesibukannya. 12 September 2015 lalu, saat Festival Film Bandung digelar, dia bertugas sebagai panitia. Saya nggak sempat menonton tayangannya di SCTV. Saya akhirnya memilih menunggu postingan liputannya tapi belum muncul di blog mas Raja : http://www.rajablackwhite.wordpress.com  Saat saya tanyakan soal itu, dia bilang belum sempat posting. Tuh kan, beneran sibuk orangnya.

Saya telat berkenalan nih, tapi sudah follow duluan akun twitternya saat acara Fun Blogging 6 (@r4dzML) waktu itu. Saat saya bertanya tentang undangan buat blogger di acara FF Bandung, mas Raja bilang masih ada satu undangan nganggur. Tapi acaranya udah kelewat. Yaaah… Ah, memang benar ya, kalau menjalin networking itu nggak boleh lelet, jadi satu kesempatan hilang, deh. Padahal kalau undangan itu dikasih ke saya, wah… seru banget bisa melihat langsung dan membuat liputan acara FF Bandung. Lalu, berkhayal bertemu Reza Rahardian. *ehem! mendadak keselek*

Saya nggak kehilangan akal. Hari sabtu biasanya saya punya waktu luang setelah siang mengantar anak sekolah. Nah, saya pikir bisa kayaknya janjian sama mas Raja. Ternyata eh, ternyata, dia ada jadwal dari pagi sampai sore mengajar Bahasa Inggris, pemirsa. Wah, langsung saya dapat ide! Bagaimana kalau saya ngobrolnya pake Bahasa Inggris aja nanti kalau jadi ketemu. Kan seru, tuh! Sambil melatih lagi Bahasa Inggris saya yang sudah kaku. Semenjak berhenti mengajar les bahasa Inggris, lidah saya seperti kehilangan rasa British and American. *halah lebay*

Ah, begitu banyak maunya si emak yang satu ini. Ya begitulah, katanya, kalau orang yang bergolongan darah O, saat sedang bersemangat melakukan sesuatu pasti gigih dan fokus pada hal tersebut. Mungkin mas Raja bergolongan darah sama dengan saya. Entahlah, belum sempat nanya. Tapi melihat semangat mudanya, saya kagum. Saya yakin mas Raja nanti akan menjadi pekerja yang tangguh dan bertanggung jawab. Saya pun memberi semangat untuk segera menyelesaikan skripsinya di pesan WA.

To be continued… (masih menunggu waktu luang mas Raja)

Tiba di hari pertemuan dengan mas Raja, saya ngebut (emak biker) dari Bandung Timur menuju kawasan BEC. Setelah menunaikan shalat dzuhur di mushola Gramedia, saya bertemu mas Raja di sebuah restoran fast food. Saya sempat bingung mencari resto itu yang tadinya menghadap ke jalan Merdeka, sekarang pindah ke sebelah bawah gedung BEC. Rupanya itu gedung baru dan ada bioskopnya bernama Cinema Blitz, kalau nggak salah.

Kami memulai obrolan seputar keseharian mas Raja lalu nyambung ke sana kemari. Sampai di perbincangan tentang film. Ada beberapa hal yang saya tanyakan sama mas Raja. Kira-kira cuplikannya begini :

Saya : “Mas Raja gimana ceritanya kemarin bisa jadi panitia FF Bandung? Gabung di komunitas atau gimana?”

Raja : “Awalnya sih, saya kenal seseorang di media social baru.” *mas Raja menyebut nama apa gitu, saya lupa.*

Saya     : “Oh ada lagi med-sos baru?” *kening berkerut* “Saya tahu yang baru cuma ‘tsu’ aja yang buatan Jepang. Nggak keurus, udah bikin akun.”

Raja     : “Dari sana saya diajak rapat persiapan acaranya. Mulai sibuk dari hari Jumat sampai di hari H.“

Saya     : “Panitia bagian apanya di FF Bandung?”

Raja     : “MC off air. Itu membawakan acara sebelum on air di SCTV. Waktu itu, rangkaian acaranya, pembukaan. Ada sambutan dari Wakil Gubernur Jawa Barat, bapak Deddy Mizwar, sambutan ketua umum Forum Film Bandung, Eddy D.Iskandar hingga pembacaan film impor terbaik. Saya panitia backstage yang bertugas  nganter-nganter aktris/ actor peraih piala terpuji dari mobil ke winner area sampai duduk kembali di tribun utama. Teman-teman panitia yang cowok sempat pada iri, tuh. Saya nganter Pevita Pearce, Raline Shah, terus… banyak lah, pokoknya.”

Bintang tamu di acara FF Bandung diantaranya Iwan Fals, Kotak, Doel Sumbang, Zaskia Gotic, dan Lesty D’Academy.

Mas Raja Lubis di Festival Film Bandung 2015
Mas Raja Lubis di Festival Film Bandung 2015 (foto : courtesy of Raja Lubis)

 

Terus mas Raja jadi ngobrolin cewek keturunan Melayu, Tionghoa, Pakistan, model sampo dan kopi ini. “Raline Shah, orangnya ramah lho,” kata Mas Raja. “Selama menunggu giliran Raline tampil ke panggung, dia ngajakin ngobrol dengan penuh senyum dan inner beauty-nya terpancar banget. Cantik abis!”

Saya     : “Wah,  udah cantik, ramah pula.”

Lalu mas Raja membahas akting Raline di film ‘Surga Yang Tak Dirindukan’. “Itu Raline banget deh, sesuai sama karakternya secara personal. Berbeda dengan aktingnya di film ‘5 cm’, itu nggak banget, terlalu dipaksakan.”

Saya juga melihatnya begitu kalau di film ‘5 cm’. Kurang natural gitu.

Saya     : “Dresscode-nya apa para aktris dan actor yang datang?”

Raja     : “Ada yang pake batik kalau aktor, aktrisnya pake gaun gitu lah, yang anggun seksi. Raline itu pake gaun yang terbuka bagian depannya.”

*dalam hati saya, wow!* Tapi memang pastilah, kalau di acara khusus, mereka tampil maksimal, nggak seperti sehari-hari di lokasi syuting.

Tapi sayang mas Raja nggak sempat berfoto bersama Raline. Mungkin saking terpesona dengan keramahan dan kecantikannya kali, ya? Cuma sama Pevita yang diabadikan. Nih…

Mas Raja & Pevita Pearce
Mas Raja & Pevita Pearce (foto : courtesy of Raja Lubis)

Saya     : “Eh, Reza Rahardian, ada?” *tetep pengin tahu sama si ganteng yang satu itu.*

Raja     : “Nggak datang. Vino Bastian datang.”

Saya     : “Sama istrinya?”

Raja     : “Mm…nggak kayaknya, saya nggak lihat Marsha Timothy.”

Kami berdua udah rumpi aja, ngomonging artis. Nggak peduli ada orang lain nguping. Heheh…

Ada beberapa film yang dibahas mas Raja. Saya sampai bingung yang mana yang mau ditulis di sini. Saya mulai kategori film remaja aja, ya, karena itu sempat saya tanyakan. Itung-itung sebagai bahan riset juga, cerita seperti apa yang baik untuk ditonton oleh remaja.

Menurut mas Raja, film remaja yang segi cerita dan aktingnya bagus itu, film “Heart” yang dibintangi oleh Acha Septriasa dan Irwansyah. Saya sempat suka juga sih, sama soundtrack-nya yang easy listening. Dari situ saya tahu bagaimana film remaja yang benar-benar mengisahkan problem remaja. Kualitas film remaja itu sekarang jarang yang bagus dinilai dari isi cerita dan tokoh pemainnya.

Mas Raja sempat ngemsi bareng Acha di museum Sribaduga, Bandung, acara diskusi dan Talkshow Pemutaran Film Omnibus. Waktu itu, yang menjadi narasumber Acha dan Pak Parwez (produser Star Vision).

Ngemsi bersama, Raja Lubis & Acha Septriasa
Ngemsi bersama, Raja Lubis & Acha Septriasa (foto : courtesy of Raja Lubis)

“Kebanyakan tokoh pemain remaja itu aktingnya nggak terlalu bagus. Seringkali hanya bermodal tampang dan jumlah fans yang banyak. Paling setara FTV,” ujar mas Raja.

Ada film yang menurut mas Raja gagal mewakili cerita yang sebenarnya. Film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk” itu cerita di filmnya jauh berbeda dengan esensi kisah kenyataannya. Sang sutradara gagal menginterprestasikan esensi apa yang seharusnya ditampilkan dalam film itu. Tapi akting para pemerannya cukup baik.”

Film lainnya, ‘Merry Riana (Mimpi Sejuta Dolar)’, yang tokoh Merry-nya diperankan oleh Chelsea Islan. Menurut mas Raja, peran Chelsea di sana kurang cocok dan ceritanya kurang lengkap. Sampai mas Raja mengkritik, bagian mana yang menceritakan tentang seorang Merry mendapatkan sejuta dolar, di film-nya tidak diceritakan secara jelas. Tapi saya suka bagian adegan yang seorang ibu pemain biola itu dititipi cincin untuk Merry. Cincin itu dari pemuda yang bernama Alfa (Dion Wiyoko). Itu sweet banget!

Setelah ngalor ngidul soal isi cerita film, saya penasaran dengan tiga orang utama dibalik pembuatan sebuah film. Satu pertanyaan saya lontarkan lagi, “Mas Raja, bagaimana sih, seorang penulis skrenario bisa menuliskan rentetan kejadian, dialog, dan segala macamnya di skenario? Hal-hal apa saja yang harus dimiliki untuk itu?”

“Sutradara itu harus memilih penulis skenario yang benar-benar jago dalam merepresentasikan sudut pandang mana yang akan ditampilkan ke dalam sebuah film. Penulis skenario harus mengerti apa yang akan divisualkan oleh sang sutradara dan produser pun harus mengetahui apakah konsep film tersebut bisa disukai oleh masyarakat. Jangan sampai pesan-pesan penting dalam film juga menjadi kabur hanya karena sudut pandang penyajian yang kurang bagus.”

Kira-kira begitu jawaban mas Raja.

Saya manggut-manggut, memasang wajah serius dan menerawang apakah suatu hari nanti saya bisa mengenal seorang penulis skenario andal? Saya tanyakan langsung sama mas Raja perihal itu. “Mas Raja, pernah kenal dengan penulis skenario yang bagus?” *modus*

Lalu, saya berpikir, berarti beban seorang penulis skenario itu berat juga, ya? Hhh…saya menulis draft naskah novel satu aja, latihannya berkali-kali, beratus-ratus lembar, belum tentu ditaksir penerbit. ‘Tidak ada hasil tanpa proses’, itu pepatah yang benar banget!

“Sempat sih, kenal selewat aja. Tapi yang saya nilai bagus itu Titien Wattimena.”

Saya sempatkan membuka Wikipedia, saat menulis ini. Tenyata benar, rentetan prestasi telah dimiliki mbak Titien.* Salah satu prestasinya adalah menjadi nominator penulis skenario terbaik film ‘Mengejar Matahari’ (2004). Beliau juga sempat menjadi asisten sutradara di film ‘Laskar Pelangi’.

Lalu, kami jadi membahas soal hubungan antara siapa di balik sebuah film dan siapa pemeran utama, serta hubungan dekat apa yang mereka jalin. Hubungan dekat yang saya maksud adalah saat istri bermain sebagai pemeran film A, eh ternyata memang si suami yang jadi sutradara, atau si aktris anu kok scene-nya lebih banyak ketimbang si pemeran utamanya. Eh, pantas aja, lha wong sutradaranya kakak dari si aktris itu.

Mas Raja juga berpendapat tentang idealism sebuah karya film. Menurutnya, idealis itu boleh saja tetapi harus melihat dan mengikuti pasar juga. Kalau terlalu idealis, filmnya nggak bakalan laku. Hidup juga harus realistis. Semua mengarah pada materi alias money.

Seperti saat membahas beberapa katagori di FF Bandung, mas Raja menyebutkan ada anugrah untuk film import (Eropa dan Amerika). Saya lupa judulnya apa. Dari Eropa cenderung idealis sementara Amerika itu lebih komersil.

Saya setuju dengan itu walau nggak terlalu mengamati secara detil. Film Amerika banyak yang box office, terutama saya sebagai penyuka film animasi. Film garapan negara uncle Sam ini selalu laris manis. Kalau Eropa saya suka dengan latar dan setting-nya, artistik, dan terkesan berkelas seni banget. Isi ceritanya pun lebih elegan dan kemasannya apik.  Mungkin mas Raja lebih tahu judul-judul film yang saya maksud.

Film Indonesia yang bagus secara isi cerita dan penokohannya sejauh ini adalah ‘Filosofi Kopi’, menurut mas Raja. Penulis cerita aslinya sendiri, Dewi Lestari, tidak benar-benar terlibat di proses pembuatan skenario-nya. Sang sutradara berhasil mengambil angle mana yang bagus untuk diangkat ke dalam layar lebar dan esensinya dapat banget, katanya.

Saya sendiri sudah membaca buku kumcer ‘Filosofi Kopi’. Walau belum menonton filmnya, saat tahu pemerannya Chico Jericho dan Rio Dewanto, itu pilihan keren. Mas Raja pun berpendapat sama, mereka chemistry-nya oke banget padahal mungkin belum terlalu sering bermain bareng di film. Tetapi ada hal yang kurang secara riset tentang kopi dalam film tersebut, menurut mas Raja. Setiap karya film itu memang nggak ada yang sempurna tetapi secara keseluruhan, filmnya bagus.

Mas Raja juga menyebutkan “Ayat-ayat Cinta”. Yang ini, saya udah tahu banget. Memang bagus filmnya, dan pemerannya juga cocok, kata mas Raja. Sudut pandang penyajian cerita filmnya hanya mengambil tentang poligami, sedangkan dari novelnya sebenarnya tentang kasih sayang. Tetapi karena sutradara dan penulis skenario berhasil ‘bekerjasama’, sukseslah film itu di mata masyarakat. Walau dalam setiap karya itu pasti menuai kritik juga.

Tetapi satu hal yang saya kutip dari pernyataan mas Raja tentang itu, “Silakan mengkritik, tetapi Anda harus menonton terlebih dahulu film itu. Jangan asal kritik ini itu, menjelekkan dan sebagainya, tetapi Anda belum pernah menyimaknya.”

Saya berpikir, sama halnya dengan dunia perbukuan. Kalau belum pernah baca bukunya, nggak usah mengkritik ini itu, deh. Kalau udah baca, silakan. Setuju nggak, temans? 🙂

Banyak hal yang saya dapat dari obrolan yang hanya satu jam lebih sedikit. Selain tentang personality aktris dan aktor, kami juga membahas penyanyi cewek dan cowok. Hal off the record yang tidak saya tampilkan di tulisan ini, akan saya saring di dalam kepala saya. Bisa saja nanti menjadi ide cerpen atau konsep cerita novel dewasa yang bertema cosmopolitan. Tuh, kan, dari mengobrol itu bisa dapat banyak ide menulis.

Saya selalu menyukai orang-orang yang penuh semangat, penyuka tantangan, dan berkepribadian dinamis seperti mas Raja. Satu kalimat yang saya pegang erat-erat di benak saya, “Rejeki itu sudah ada yang ngatur. Tugas kita hanya menjalani aja, ke arah mana kita berjalan. Hadapi aja apa yang ada, and enjoy it!”

Mas Raja juga menambahkan, “Buat apa mengeluh setiap saat soal pribadi dan pekerjaan, terutama di media sosial. Apalagi soal pekerjaan yang kita geluti, nggak akan barokah jadinya.”

Setuju banget, mas Raja! Saya menilai mas Raja sebagai generasi muda yang aktif dan out of the box. Keep up your way of thinking cause the money will follow. *mudah-mudahan benar grammar-nya*

Hobi kreatif kami berdua sangat tersalurkan melalui Fun Blogging waktu itu. Mas Raja passion-nya memang di dunia hiburan (musik & film Indonesia), saya senang menulis fiksi dan sedang merintis artikel parenting berbahasa Inggris.

Kami berdua ternyata sama suka ikut kuis radio. Biasanya dapat CD music atau produk. Makan di restoran fast food yang 3 huruf itu juga salah satu benefitnya bias dapat CD music Indonesia, kata mas Raja. Saya pun bercerita salah satu penyanyi favorit yang CD-nya didapat dari situ. Pas ngobrolin Marcell, Andien, Vidi Aldiano, Tulus, Agnes Monica, Afgan, Raisa, Isyana Sarasvati, dan beberapa penyanyi lainnya, seru banget! Udah kayak dua penyiar radio lagi on air aja.

Semoga jalinan pertemanan ini bisa terus berlanjut karena memelihara silaturahmi itu mengundang rejeki. Buktinya saat mas Raja bilang, mau pulang ke Sukabumi, katanya nanti insyaAllah mau bawa pisang Cakra (sejenis piscok). Jajanan khas Sukabumi selain Moci. Asyik! *padahal saya nanya duluan sih, soal oleh-oleh khas Sukabumi. Dasar emak-emak, makanan mulu!*

Sebelum kami berpisah, kami sempat berwelfie dulu. Mas Raja pamit mau menonton Kafe Sore (live performance), sponsornya Global Radio FM, dan dimeriahkan oleh Indah Dewi Pertiwi, Cherrybelle, Restina, dan banyak lagi. Sementara saya langsung ngebut pulang, menjemput putri saya di sekolah.

Demikian cerita “kencan” saya bersama mas Raja Lubis. It’s so fun making new friends!

Welfie bersama sang kritikus film Indonesia
Welfie bersama sang kritikus film Indonesia
my journal, September

Mau Awet Muda? Kurangi Gula Putih

sugar
sumber foto : idealbody4life.com

Seberapa sering Anda memakai gula putih? Anda pasti menambahkan satu atau dua sendok kecil gula ke dalam teh, kopi, jus, atau sejumput saja ke masakan Anda. Belum lagi makanan atau minuman manis lainnya yang tanpa kita sadari mengandung gula.

Saya tersadar dengan teguran pasangan tentang minuman manis. Dia bilang, “Jangan terlalu banyak makan makanan dan minuman manis. Nanti sakit diabetes.”

Ingatan saya langsung melayang pada mendiang Mama. Beliau mengidap diabetes. Dulu, semasa muda, Mama memang hobi jajan makanan yang enak, seperti kue dan roti, cake yang lumayan banyak dihiasi krim dan pemanis. Otomatis budaya mengonsumsi makanan sejenis itu menular pada saya. Kini, saya berusaha menerapkan pola makan sehat dengan mengurangi konsumsi gula putih secara bertahap.

Hampir 4-6 bulan ke belakang saya tak lagi memakai gula putih untuk masakan. Gula merah (gula kawung) menjadi penggantinya. Jika kebetulan sedang ada stok gula batu, kiriman ibu mertua, saya memakainya hanya di waktu tertentu saja dan tidak berlebihan.

Dari pola pemakaian gula merah saja, saya telah mendapatkan manfaatnya. Kulit wajah menjadi lebih cerah, tubuh nggak mudah lemas, dan flek hitam di wajah berkurang. Tentu saja itu semua didukung oleh pemakaian krim untuk kulit, minum air putih, infused water, dan kualitas air mandi yang baik.

Konsumsi sayuran dan buah juga turut membantu kulit kita menjadi lebih sehat. Pikiran dan hati yang happy juga menjadi dua hal yang mampu menjadikan raut wajah berseri-seri, terutama jika rajin berdo’a. Dengan mengurangi konsumsi gula putih saja, saya merasa lebih baik. Walaupun penyakit bisa datang kapan saja. Minimal pencegahan bisa kita lakukan daripada tak peduli sama sekali.

Mengutip dari ahli kesehatan Universitas Harvard, Dr.Fung,”Jika Anda ingin memakan sesuatu yang manis, makanlah buah sebagai makanan penutup. Dengan cara itu, Anda akan memperoleh manfaat yang baik. Tentu saja buah segar tanpa tambahan gula.” Jika Anda sedang mengontrol kebiasaan minum soda, Dr.Fung menyarankan mencampurkan sedikit soda ke dalam jus buah.

Akan lebih bijak jika kita memperlakukan juga diri kita sendiri seperti memperlakukan seseorang yang kita sayangi. Jika tubuh butuh istirahat, segeralah beristirahat, misalnya tidur atau hanya merebahkan diri sambil mendengarkan musik. Me time seperti itu bisa membuat jiwa dan raga segar kembali untuk melanjutkan aktivitas. Kegiatan menelepon sahabat hanya untuk bertukar resep, curhat, atau membahas fashion, juga bisa relaksasi pikiran.

Lakukan pula olahraga ringan seperti berjalan kaki di pagi hari, atau bersepeda. Melihat-lihat pemandangan pagi dengan udara segar adalah hal yang mampu meningkatkan semangat beraktivitas. Satu lagi, perbanyaklah minum air putih dari pada air berwarna.

Semua hal tadi dapat membuat Anda menjadi awet muda jika dilakukan secara rutin. Namun jangan sampai Anda lupa diri saat sedang hang out bersama teman-teman Anda di luar karena produk-produk gula itu akan kembali menjadi godaan terbesar. Jika Anda masih memiliki stok gula putih (pasir), lebih baik gunakan sebagai scrub untuk kulit Anda saat mandi. Anda bisa mencampurkannya dengan madu. Kulit bakal lebih kinclong kan?!

Ketika Anda ingat usia, cobalah untuk mengurangi gula agar Anda awet muda.

my journal, September

Blogger Bukan Sekadar “Udar-ider”

Sabtu, 5 September 2015, saya menghadiri acara Fun Blogging dengan tema “Dari Hobi Menjadi Profesi” di gedung Grapari Telkomsel Digilife, Dago, Bandung.

Saya mengetahui acara ini dari jejaring sosial Facebook. Info tersebut di-share oleh mbak Shinta Ries, founder Blogger Perempuan. Sponsor yang mendukung acara Fun Blogging 6 “Dari Hobi Menjadi Profesi” adalah Telkomsel Digilife ‘Be Fun and Color’,  dan GeraiCNI.com, Smartfen, dan Infomedia.

Tiba pukul 08.20 wib di gedung Digilife, saya dan dua teman blogger, Dyah Prameswarie dan teh Ida Tahmidah disambut oleh salah seorang admin yang berdiri dekat pintu masuk. Dia mempersilakan melakukan registrasi di tablet yang nangkring cantik di meja. Setelah teregistrasi, kami mendapatkan gelang kertas bertuliskan “Dago Digital Life Style”. 4

Kesan digital life langsung terasa di ruangan itu. Big screen yang canggih dengan fitur wireless yang bisa terhubung ke perangkat laptop Apple menambah kekaguman saya tentang dunia digital.

Big Screen di Grapari Telkomsel Digilife (foto: dokumen pribadi)
Big Screen di Grapari Telkomsel Digilife (foto: dokumen pribadi)

Pojok lain di gedung ini juga tersedia fasilitas  yang sangat berjiwa muda, yaitu portal game dan aplikasi, portal e-book, dan music.

3

Menuju pukul sembilan, sambil menunggu mbak Haya hadir, para peserta saling memperkenalkan diri. Kami memberikan identitas blog dan akun media social. Ada beragam latar belakang pengalaman yang dimiliki peserta acara ini. Mulai dari penulis, pencinta buku, kritikus film Indonesia, traveler, fotografer, hingga bidang marketing dan kesehatan.

Pukul sembilan, acara dimulai. Mbak Haya Aliya Zaki sebagai pembicara di segmen pertama. Beliau membuka acara dengan satu hal ‘cling cling’. Panitia membagikan kertas kecil pada peserta. Mbak Haya meminta kami untuk menuliskan dua hal yang ingin kami dapatkan dari aktivitas ngeblog. Apakah itu berwujud benda atau hal lain. Namun, kami harus menuliskannya dengan tangan kiri.

Saya menulis ini. 8

Menulis dengan kiri secara psikologis merasa tidak mungkin menuliskan impian dengan baik. Tetapi bukan tidak mungkin suatu hari terwujud.

Awal saya menulis di blog hanya untuk diri sendiri sebagai wadah curahan hati dan pemikiran serta menulis beberapa puisi. Setelah mendengar penjelasan mbak Haya tentang “Writing Great Content”, benak saya menjadi tercerahkan.

Blogger itu harus memiliki ciri khas. Tentukan satu atau dua tema yang menjadi fokus utama di blog kita, misalnya : fiksi dan puisi, kesehatan, kuliner, atau tentang apa saja yang menjadi kesukaan blogger itu sendiri. Dari sana para blogger bisa menemukan dirinya dan konsisten terhadap itu.

Hal dasar di setiap penulisan konten adalah 5W (What, Where, When, Who) + 1H (How). Sama halnya dengan kegiatan menulis cerita. Elemen tersebut harus ada saat blogger menulis konten di blognya. Buatlah judul yang sensasional namun rasional sehingga menarik minat pembaca. Tulislah sebuah konten yang unik dengan sudut pandang berbeda dari orang lain.

This slideshow requires JavaScript.

Mbak Haya juga menyampaikan bahwa blogger pun harus memperhatikan EYD agar tulisan enak dibaca dan mudah dipahami. Sama halnya dengan proses menulis, ada proses self editing sebelum tulisan itu dipublikasikan. Lakukan editing berulang-ulang agar kita sendiri merasa nyaman membaca konten tersebut. Jika ingin tahu apakah konten itu enak dibaca atau tidak, mbak Haya menyarankan untuk mencoba ‘menyuarakannya’. Seperti orang menyampaikan cerita dengan intonasi yang enak didengar. Dari cara itu, blogger bisa melakukan perbaikan di penulisan konten kalimatnya.

“Content is King. Promotion is Queen” (Bob Mayer)

Ini falsafah hidup mbak Haya sebagai blogger.

Mbak Haya menekankan satu hal yang paling diharamkan bagi para blogger yaitu Copy Paste. Kredibilitas seorang blogger adalah orisinalitas konten yang dia tulis di blog-nya.

Dari hobi ngeblog, jika kita serius, konsisten, bisa jadi profesi yang menjanjikan. Mbak Haya telah merasakan sendiri bagaimana proses dari penulis, lalu menjadi editor dan menekuni dunia blogging. Proses panjang dan konsistensi adalah kunci utama untuk memetik hasil yang memuaskan di kemudian hari. Mbak haya sendiri telah mendapatkan ‘pinangan’ dari beberapa brand ternama dengan fee yang lumayan besar.

Sebelum segmen kedua oleh mbak Shinta Ries, kami istirahat untuk makan siang dan shalat. Saat menuju ke toilet, di taman belakang sedang berkumpul anak-anak SMK yang berlatih membuat konten game PC. Ini adalah salah satu program terbaru dari Digilife Telkomsel ‘Be Fun and Color’.

Anak-anak SMK yang sedang belajar membuat konten game PC (foto: dokumen pribadi)
Anak-anak SMK yang sedang belajar membuat konten game PC (foto: dokumen pribadi)

Saya berpikir, masak sih, emak-emak kalah sama anak-anak itu. Blogger juga harus menerapkan Digital Life karena kegiatannya berkaitan erat dengan perangkat digital.

Masuk ke segmen kedua, mbak Shinta Ries membahas bagaimana mendandani blog dengan desain yang ‘ramah’ pembaca dan bagaimana mengatur isi konten agar mudah masuk di mesin pencari terutama Google search engine.

Tampilan blog mempengaruhi ketertarikan orang untuk membaca. Aturlah tampilan blog dengan sederhana. Tampilan ideal adalah side bar di sebelah kanan, dan konten di sebelah kiri karena umumnya orang membaca dari arah kiri ke kanan. Jadi mereka akan membaca langsung konten kita. Jika memasang iklan, usahakan maksimal delapan iklan saja.

Gunakan background yang simple agar loading site-nya tidak berat saat dibuka oleh pembaca. Pilih huruf yang jelas terbaca, contoh : sans serif atau huruf yang sesuai dengan pilihan standar theme di blog kita. Jangan memilih font yang meliuk-liuk keriting karena akan melelahkan mata pembaca.

Mbak Shinta juga menjelaskan, artikel atau konten yang berisi atau sarat informasi biasanya dengan mudah masuk ke mesin pencari. Biasanya hanya seribu kata saja tetapi isinya sangat informative, maka akan lebih banyak orang yang membaca. Penggunaan Google Analytics pun penting untuk mengetahui siapa dan dari mana pembaca blog kita. Dari sana juga kita bisa tahu postingan yang mana yang menjadi favorit para pembaca.

Bahasan ini agak rumit karena saya awam tentang hal ini, kecuali soal keyword. Saya lumayan paham karena sempat menulis artikel dengan menggunakan beberapa keyword serta kata yang sudah ditentukan sekian ratus jumlahnya.

Intinya, tampilan blog usahakan clean and minimalist design. Jangan lupa cantumkan contact details (email), Soc-Med spotlight (akun Google +, Twitter, Facebook, Instagram, LinkedIn, dll) di side bar agar pembaca mudah mengontak kita. Sharing blog melalui media sosial sangat memegang peranan penting untuk meningkatkan jumlah pengunjung blog.

Pakailah platform yang sesuai kebutuhan kita, baik itu blog gratis atau berbayar, misalnya : wordpress atau blogspot. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan.

Materi dari mbak Shinta sangat berguna untuk saya sebagai blogger pemula. Walaupun saya suka menulis di blog tetapi belum sedetil itu perhatian saya terhadapnya. Setelah ini, saya akan mulai memperhatikan hal-hal tersebut.

Tiba di segmen terakhir, mbak Ani Berta menyampaikan bagaimana menghasilkan uang dari ngeblog (How to Monetize Your Blog Through Branding). Ini masih berkaitan erat dengan segmen pertama dan kedua tadi. Mbak Ani menceritakan bagaimana pengalaman dan perjuangannya hingga menjadi blogger internasional. Karakter dan kepribadian yang blogger tampilkan di media social sangat menentukan rejeki job dari ngeblog. Profil dan status seorang blogger di media sosial adalah personal branding.

Saya mencoba mengutip dalam ingatan pengalaman mbak Ani yang pernah tidak dibayar apapun dari kegiatan ngeblog. Setelah proses panjang, pengorbanan waktu, tenaga dan sempat memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan kantoran karena focus di dunia blogger, ada keajaiban hadir padanya yaitu tawaran menarik dari Australian Aid dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Kini mbak Ani sudah bekerja tetap di sana dengan gaji sangat lumayan dan bisa berkeliling alias ‘udar-ider’ (dalam Bahasa Sunda) ke seluruh penjuru Indonesia karena pekerjaan ini.

Kesimpulan saya dari acara ini, bahwa ‘dari hobi bisa menjadi profesi’ itu memang telah terbukti. Seperti halnya kegiatan menulis karena saya menyukai kegiatan itu hingga perlahan setia padanya dan berusaha konsisten hingga menemukan jalan menjadi sebuah profesi yang menyenangkan plus mendatangkan uang.

Tidak ada hal yang tidak mungkin jika kita berusaha dan konsisten. Fun Blogging 6 memang benar-benar FUN! Terimakasih pada para pembicara yang telah membagikan ilmunya, dan teman-teman blogger yang saling menginspirasi.

Profesi Blogger memang bukan sekadar “udar-ider”.

"Teman-teman Fun Blogging 6 beserta para pemateri keren dan sponsor marketing (foto : Courtesy of Vivera Siregar)
“Teman-teman Fun Blogging 6 beserta para pemateri keren dan sponsor marketing (foto : Courtesy of  Vivera Siregar)

 

 

my journal, September

“Antar Jemput”

kaka bobo pake sragam

“Jangan pernah mengeluh saat mengantar dan menjemput si buah hati.”
Itu kalimat yang selalu saya teriakan dalam hati. Ada saat di mana saya merasa sensitif ketika kaki ini terasa sakit saat berjalan mengantar anak ke sekolah yang jaraknya hanya 10 menit berjalan kaki. Saya teringat Mama, mungkin rasa sakit beliau lebih dari saya.

Pikiran saya menerawang jauh ke depan, melihat anak perempuan saya dengan seragam putih abu-abu, lalu waktu seakan melesat cepat. Tiba-tiba anak gadis ini sudah memakai baju toga. Mungkin bayangan seperti ada dalam benak setiap orangtua. Membayangkan bagaimana nanti saya masih juga mengantar dan menjemputnya sekolah. Tapi akan ada saat di mana dia akan mampu pergi dan pulang seorang diri, entah kapan.

Saya ingin tetap bisa mengantar dan menjemputnya selama saya mampu karena rasa khawatir selalu datang. Meski dia telah menemukan teman hidup, saya tetap dengan tangan dan hati yang terbuka ingin mengantar dan menjemputnya dalam makna yang lain. Tugas mengantar dan menjemput bukan hanya semasa dia sekolah, tetapi selama kita hidup. Saya harus mampu mengantarkannya ke gerbang masa depan, dan menjemput impiannya yang dia ukir dari sekarang. Semoga, saya mampu…

beautiful songs, my journal, September

“My Story and Yours”

cropped-on-air.jpg

Acara ini digagas oleh Didik Djunaedi (owner Catfish radio), dan suatu kesenangan tersendiri bagi saya menjadi host acara ini. My Story and Yours adalah acara CURHAT On Air bagi pendengar radio Catfish dengan cara mengirimkan kisahnya via Email. Kisah dan CURHAT di My Story and Yours diharapkan bisa memberikan sesuatu bagi pendengar, baik itu makna penggalan kisah hidup seseorang tentang cinta, kesungguhan, karier, rumahtangga, atau apapun. Ada pelajaran dan hikmah di setiap kisah. Beberapa CURHAT dari pendengar (teman Catfish) menjadi inspirasi bagi saya pribadi, dan semoga pendengar Catfish (teman Catfish) bisa mendapatkan hal yang berharga dari CURHAT di My Story and Yours. “Sharing Is Good for Your Soul”
Berikut beberapa tema CURHAT yang sudah dibahas On Air :

My S&Y — Edisi 1 “Sakit Punggung”
My S&Y — Edisi 2 “Tanya Hati”
My S&Y — Edisi 3 “Batal Menikah”
My S&Y — Edisi 4 (Ramadhan) “Belajar Berpuasa”
My S&Y — Edisi 5 (Ramadhan) “Dilema”
My S&Y — Edisi 6 (Ramadhan) “Ramadhan dalam Kesederhanaan”
My S&Y — Edisi 7 (Ramadhan) “Mudik”
My S&Y — Edisi 8 “Kehilangan Keponakan”
My S&Y — Edisi 9 “Cyber Love”
My S&Y — Edisi 10 “Ayah Rumahtangga”
My S&Y — Edisi 11 “Bagaimana Mengatasi Bad Mood”
My S&Y — Edisi 12 “Sang Pacar Menghilang”
My S&Y — Edisi 13 “Bad Mood”
My S&Y — Edisi 14 “Sang Mantan”

Teman Catfish bisa mengirimkan CURHAT ke email : catfish_radio@yahoo.com Cc: betakun.widias@yahoo.com dengan Subject : MY STORY & YOURS. Setiap email yang saya terima akan dibahas bergiliran setiap hari SENIN pukul 20.00 WIB. My Story and Yours disiarkan ulang hari SELASA pukul 16.00 WIB

So, what are you waiting for? Join in “My Story and Yours” with me, Sis B, only on Catfish Radio. Enjoy some good music!
See you on the air!

CATFISH RADIO bisa diakses di http://www.webradiocentral.com/stations/52929-catfish-radio , https://us4.listen2myradio.com:2199/start/catfishr , dan melalui aplikasi di Android, Blackberry, I-Phone, via TuneIn radio app atau Mpme radio app.

my journal, September

CATFISH Radio INFO

Catfish Radio
Catfish Radio

Temans, saya mewakili Catfish Radio [Internet radio] dengan sukacita memberikan informasi menarik ini.

1. PASANG IKLAN TOKO ON LINE
Khusus bagi teman-teman yang memiliki Toko On Line, kami (Catfish Radio) memberikan layanan PASANG IKLAN GRATIS. Persyaratannya mudah, teman-teman hanya melakukan langkah-langkah berikut ini :
LIKE page FB CATFISH RADIO di sini.
– Kirim Link web Toko On Line-nya di INBOX Catfish Radio , sertakan juga Nama Pemilik Toko On Line.
FOLLOW akun TWITTER @RadioCatfish
– Bersedia memberikan PRODUK TERBARU yang tersedia di Toko On Line tersebut saat Catfish Radio mengadakan KUIS sebagai hadiah untuk pendengar Catfish Radio.
Iklan akan diudarakan dalam bentuk ‘rekaman’ singkat secara berkala dan bergantian untuk beberapa Toko On Line yang sudah melakukan langkah-langkah di atas.

2.BOOK REVIEW (On Air)
Acara Book Review di Catfish Radio, setiap KAMIS pukul 16.00 WIB.
Jika teman-teman PENULIS ingin bukunya di-REVIEW di radio kami, ditunggu kehadiran BUKUnya dengan cara mengirimkan 1 (satu) buah buku yang ditulisnya ke :
CATFISH RADIO
Jl. Haji Lele No.81 Rt 06/07
Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Kontak Bapak Didik Djunaedi di FB untuk kesediaan menjawab pertanyaan seputar buku tersebut.

3. MY STORY & YOURS
Acara CURHAT radio via email, setiap SENIN pukul 20.00-21.00 WIB with Sis B (saya). Teman Catfish bisa kirim CURHATnya ke email ini —-> catfish_radio@yahoo.com Cc: betakun.widias@yahoo.com dengan SUBJECT: MY STORY & YOURS. Setiap email yang masuk akan dibacakan ON AIR, satu email di setiap SENIN.
“Sharing Is Good for Your Soul”

Semoga INFO menarik ini bermanfaat. Silakan SHARE pada teman-teman lain.
Jika ada pertanyaan, silakan hubungi saya via INBOX FB Beta Widias.
Terimakasih.

CATFISH RADIO bisa diakses via INTERNET : http://www.webradiocentral.com/stations/52929-catfish-radio , https://us4.listen2myradio.com:2199/start/catfishr , http://www.yourmuze.fm/ atau via TuneIn app , MPme app (for BB,Android,IPhone) yang bisa didownload di Google Play Store dan BB World App. We Only Play Good Music

my journal, September

Sahabat di Buitenzorg

Hei, aku rindu padamu, sahabat…

Sepertinya kamu lebih sering meneleponku sejak kamu tinggal di kota hujan. Aku selalu senang mengangkat telepon darimu, sesibuk apapun aku. Saling berbagi cerita tentang anak-anak kita hingga membuat kita sadar, kita sedang memahami sebuah pembelajaran dalam hidup, bahwa menjadi seorang ibu itu penuh rasa sendu dan bahagia. Kamu selalu bertanya bagaimana cara mendidik anak, tentang keseharianku, dan menyempatkan menanggapi kecerewetan anakku.

Tahukah kamu, ketika di sela-sela obrolan kita mengenang saat bersama dulu, aku merasa ingin kembali ke masa itu. Kamu pernah bilang, kamu kehilanganku saat aku memutuskan untuk bekerja. Tak ada teman ngobrol di angkot menuju ke kampus hingga membuat harimu kurang menyenangkan. Kamu bilang, kamu sedih saat itu.

Tapi sekarang, aku lihat kamu jauh lebih bahagia, cukup mandiri, dan sisi melankolismu masih di sana. Aku senang dengan keadaanmu sekarang. Tak apa jika kamu tetap melankolis, karena sisi itu memang dibutuhkan seorang ibu agar mampu merasa dan meraba dengan halus hingga mengasah kelembutanmu. Bagaimanapun setiap kebersamaan pasti akan hadir sebuah perpisahan. Ini roda perjalanan manusia di dunia. Semakin kita pahami ketidakbersamaan ini, justru semakin menguatkan tali persahabatan kita.

Aku merasa takjub ketika pada hari yang sama, kita saling merindukan. Ada keterikatan batin yang mampu membuat kita tetap in touch walau berjauhan. Aku tak akan pernah lupa, bagaimana pertamakali chemistry  denganmu terjadi. Aku tak akan pernah merasa kehilanganmu karena kebaikan dan ketulusanmu selalu membekas di hati. Tak akan pernah ku lupakan, saat di mana kamu dan Mamamu mendampingi pernikahanku hingga membenahi bulu mata palsuku, juga mendengarkan segala kekhawatiranku tentang malam pertama bersama sang pangeran nan baik hati.

Semoga kita tetap menjalin persahabatan ini, selalu berusaha mengerti satu sama lain, tanpa pamrih, dan hanya karena-Nya kita mampu seperti sekarang.

Semoga kita tetap bersahabat hingga kita menua dan renta. Kita ‘kan berbagi cerita tentang anak cucu kita dan saling mengingatkan tentang indahnya keimanan.

 

Untuk sahabatku, Susi R. Kurniawan di Buitenzorg.

my journal, September

Bunga-bunga Mama

This slideshow requires JavaScript.

Aku tidak seperti Mama yang bisa merawat bunga-bunga dan tanaman. Aku hanya penikmat keindahan bunga. Saat melihatnya, aku akan mensyukuri satu hal. Hati ini masih bisa merasakan keindahan dari salah satu anugrah Yang Maha Kuasa. Mama pasti selalu merasakan banyak hal ketika menyentuh, menyiram, dan mengajak bunga-bunga itu bicara.

Mama bilang, bunga juga seperti manusia. Dia harus diajak bicara hingga dia terangsang untuk tumbuh dan menjadi indah. Awalnya aku tidak terlalu percaya dengan itu. Tanaman diajak bicara? Mereka kan tidak bicara seperti manusia. Kemudian aku mengerti, berbicara itu tidak hanya dalam kata-kata, namun hati kita pun mampu berbicara. Mama senang merawat bunga dan tanaman hingga hatinya terhibur, mengusir stres juga kepenatan pikirannya.

Ya, aku tiba-tiba membandingkan, cara Mama merawat bunga dan menikmati kecantikannya dengan caraku merawat dan memperlakukan anakku. Cara Mama berbicara dengan hati itu adalah cara terbaik untuk merawat, memahami, menyiram jiwa anakku dengan kasih sayang, hingga aku bisa menikmati keindahannya saat dia tumbuh dewasa. Aku tidak boleh menjadi penikmat keindahannya saja. Dia harus dirawat dengan baik dan selalu diajak bicara dari hati ke hati.

Bunga-bunga Mama akan terus berganti dengan kuncup kecil yang baru muncul. Dia akan selalu disentuh tangan dingin orang-orang di sekeliling yang mencintainya. Anakku adalah kuncup kecil itu. Semoga aku selalu mampu belajar berbicara dengan hatiku untukmu…