celebrating poetry, puisiku

Suatu Pagi di Jendela

image

Pagi ini terasa sunyi
Walau hadir tangis bayi yang baru lahir
Pagi ini ku memanggil Ibu
Walau nalar ini tersadar Ibu tak ada di kamar

Tatapku menerawang bingkai jendela
Setitik air mata mengundang kerinduanku padamu
Apakah kau melihatku di sini, Bu?
Apakah kau tahu aku sedang mengingat hangat jemarimu?
Apakah kau melihat cucu mungilmu di rumahmu?

Mungkin dia mampu melihatmu dalam tangis
Mungkin dia tahu kau sedang tersenyum di tempat ku berdiri

Suatu pagi di jendela kamar ini
Selalu ku mengingatmu, Ibu

(14 April 2016, 09.20 wib)

*untuk alm. Mama Ieke Widhyati Arifien*

puisiku

Rindu Senja

image

Kutautkan rindu ini padamu, bunda
Rindu yang tak kunjung terobati
Helaian kenangan yang porak poranda bersama angin senja
Kembali menghiasi halaman rumah yang sepi
Rindu ini seperti hantu yang mengganggu kalbu
Kalbu yang terkadang beku
Kini, setiap bertemu senja
Rindu ini tercabik hingga ku bergidik
Namun senyummu yang cantik
Kan slalu ku kenang baik

— 28 Oktober 2015, 17.10 wib —

my journal, puisiku

“Pusara Ibunda”

Senja telah mengantarkanmu ke pembaringan terakhir

Angin dan hujan rintik seakan turut bertasbih mengiringi kepulanganmu

Doa-doa kami panjatkan untuk kemudahan arwahmu dan melapangkan hati kami

Semuanya seperti mimpi

Namun ini dejavu bagiku

Aku merasa pernah ke tanah lapang merah itu

Memandang langit senja nan indah

Namun suasana hatiku tak seindah itu

hingga di hari ke-40, aku masih membiru

Aku hanya mampu melafalkan doa-doa di pusaramu

Bunga-bunga yang kupetik dari halaman rumahmu pun seakan turut berdoa

Tanah merah itu telah terguyur hujan hingga gumpalannya terpecah

Seperti pecahan luka hati ini

Kami rindu, tapi kami tak boleh berderai terus menerus

Aku yakin, dirimu melihat semuanya

Di sini…

Semoga Allah menerangi tempatmu di sana

Semoga doa-doa di hari-hari kami menenangkanmu

Semoga Allah menguatkan kami

"siang, 8 Februari 2013"
“siang, 8 Februari 2013”
Image
captured by Sony Xperia #instagram

Mama, maafkan aku jika dalam perjalanan ini tak mampu melakukan yang terbaik

Aku pasti sesekali jatuh dan tersungkur

Aku hanya bisa bersyukur walau kami tak selamanya akur

Kenangan terakhir bersamamu akan senantiasa kuingat hingga ke liang lahat

Semoga Allah menempatkanmu di tempat yang paling mulia

puisiku

“Selimut merah”

Angan melayang, batin begitu ingin…

Nurani  terbata, meraba hasrat tersirat

Gapai jiwa terbawa asa kemerahan

Selimut merah … selimut cinta …

Ruang hati tlah penuh olehmu

Jiwa mengawang, raga serasa terbang

Bisikan mesra mengiang sayang …

2009

puisiku

“Rambut pusing”

Kamu di mana?

Di kepalaku…

Jika ku raba, kamu mau?

Boleh… kebetulan aku butuh sentuh

Perlahan?

Iya, karena aku suka begitu

Kenapa?

Aku sedang pusing…

Sampai-sampai jadi kriwel-kriwel ,sebel…

Bukannya memang begitu adanya?

Biasanya ikal-ikal Bengal

Cabut sajalah biar ga bikin kusut

Jangan! Biar saja begitu…

Nanti pusing dan sebelnya hilang sendiri

Terbawa sentuhan perlahan

Tersisir bulir-bulir air

Terbuai angin sepoi

2009

puisiku

SenyuMatahari

Berjalan kala rasaku masih berawan

Senyumnya bagai “spotlight” panggung

Jadikan sang biduan “bright”

Kabut masih menyelimut …

simpulnya terbingkai manis

Tapaki tanah merah yang ramah,

Injaki batu yg tak pernah menggerutu,

Sentuh rumput yang tak pernah takut,

Kagumi embun yang berayun…

Ku balas keramahannya dengan senyum terkulum

(“jalan pagi sendirian aja bu?”, ku jawab dengan senyum)

2010

puisiku

“Katamu”

Kamu ga usah tau kalau aku ….

suka senyum mu

gemas! komat kamit bibir pink mu

terpesona dengan mata indah mu

terperangah melihat cahaya mu

senang peluk mu

cemburu dengan radio dan FBmu

sedih mendengar tangis mu

gila karena mu…

sangat menyayangimu

Mencintaimu …

Karena kalau kamu tau…

Kamu jadi belagu

aku takut kehilanganmu


(24/03/2010, 18:57)

puisiku

“Jerit malam”

Ada bunyi aneh malam ini

Bukan suara hantu,

Bukan juga jangkrik

Bunyinya menjerit, tulalit…

Menggema…

Ku berjalan pelan, dia tetap terdengar

Ku bergegas lekas, makin terdengar jelas

Saat pikiran dan asa terpaut…

Oh… ini bunyi nuraniku yang berdecit

Bagai rem mendadak,

Jedaaaarrr!!!

Melabrak kalbu yang kaku beku


(ditulis sepulang dari Pot Luck Café, 09/01/2010)