Resensi

Review Film “Aach…Aku Jatuh Cinta”

poster film AAJC

Awal ketertarikan saya menonton film ini adalah saat menyaksikan bintang tamu di acara Sarah Sechan. Pevita Pearce, sang pemain wanita utama, dan Garin Nugroho, sang sutradara merangkap penulis skenario, tengah membicarakan film bergenre komedi romantis ini. Terlebih saat melihat trailer-nya di YouTube :

Film produksi Multi Vision Pictures ini mengangkat cerita cinta yang berbalut nuansa klasik tahun 70an. Tokoh Yulia (Pevita Pearce) menjadi sebuah sosok yang sangat dekat dengan Rumi (Chico Jerico). Sejak kecil mereka bertetangga dengan masalah yang mereka miliki sendiri-sendiri di keluarganya. Pesan di dalam botol limun milik Rumi menjadi benang merah yang menautkan alur cerita di film ini.

Masalah timbul bermula dari hadirnya perubahan zaman ditambah dengan kenakalan Rumi yang cukup membuat Yulia kesal. Ibu Yulia (Anissa Hertami) pun melarang keras Yulia untuk tidak bergaul lagi dengan Rumi. Ada rentetan kejadian yang terkesan norak namun kocak yang sempat Rumi lakukan baik semasa sekolah bersama Yulia maupun setelah lulus.

Saya terkesan dengan akting Rumi kecil (Bima Azriel) yang terlihat natural. Terutama di adegan saat ia menjemput ibunya di sebuah bar pada malam hari. Rumi kecil menangis saat ibunya menyuruh seseorang  mengantarkannya pulang kembali ke rumah. Adegan-adegan lucu lainnya saat berinteraksi dengan Yulia kecil cukup menghibur saya. Khas kenakalan anak-anak.

Pesan moral yang disampaikan di cerita film ini selain bagaimana sepasang teman dekat menemukan takdir cintanya, adalah tentang keutuhan keluarga. Garin mengangkat dua hal krusial dalam permasalahan rumahtangga yaitu KDRT yang dialami ibu Rumi (Nova Eliza) dan perceraian. Setiap masalah yang terjadi dalam keluarga di film ini perlahan mendewasakan Rumi dan Yulia. Namun dalam prosesnya mereka harus mengalami kesedihan dan kemarahan yang mendalam.

Salah satu adegan yang saya sukai di film ini antara lain adalah saat Yulia bersepeda mencari Rumi di sepanjang deretan tangkai tebu kering. Nuansa vintage dari penggalan kisah film ini juga menjadi nilai artisitik yang lebih. Lagu-lagu karya musisi zaman itu turut mewarnai kesan klasik. Mungkin almarhum ibu saya sangat hapal dengan lagu-lagu itu. Lagu yang menjadi soundtrack film ini adalah lagu ciptaan Ismail Marzuki berjudul ‘Dari Mana Datangnya Asmara’ :

Darimana datangnya asmara
Akupun tak mengetahui
Cara bagaimana dia
Dapat mengikat hatiku

Bagaimanakah rasa asmara
Merajalela dihati
Tak dapat aku membantah
Walau pun dahulu benci

Mulai dia berpantun hatiku berdetik
Kubalas dengan senyum sambil mataku melirik

Kemudian datang rasa sayang
Mulai wajahnya terbayang
Setiap waktu terkenang
Akhirnya aku bertunang

(sumber : http://www.sigotom.com)

Secara umum, film ini menyajikan dialog yang puitis ala puisi Rumi, kocak, dan sarat kalimat bijak orang tua. Sosok Chicco menurut saya kurang cocok memerankan nuansa klasik. Namun saat dia bertingkah jahil terasa sangat menjiwai dan lekat dengan senyum khas Chicco. Penggalan adegan Rumi yang ini juga terasa cukup menguras emosi adalah saat bertemu dengan Yulia di area candi.

sumber gambar : www.cinema21cineplex.com
sumber gambar : http://www.21cineplex.com

Peran Pevita patut saya acungi jempol karena dia terlihat sangat menghayati tokoh Yulia. Terlebih dengan kostum yang sangat pas dan serasi di sepanjang film. Adegan yang paling membuat saya berkaca-kaca adalah saat ibu Yulia memungut buah jambu yang berjatuhan dari pohon salah satu rumah yang dilewati. Ini menjadi salah satu pemantik semangat sang ibu untuk melanjutkan hidupnya sebagai penjahit. Bagaimana kehidupan keluarga Rumi dan Yulia selanjutnya? Silakan simak sendiri tayangannya di film “Aach… Aku Jatuh Cinta”.

Film ini lebih cocok ditonton oleh remaja dan dewasa karena bisa ‘mengalami’ hal-hal yang terjadi di zaman yang menjadi latar film ini. Para penonton remaja mungkin akan lebih tercerahkan apa makna cinta pada zaman itu  hingga zaman 90an.

Mungkin setelah film ini, saya berencana menonton film Indonesia lainnya. Pilihan saya tetap pada genre drama romantis. Setelah menonton film AAJC ini, saya tercerahkan bagaimana alur yang bagus untuk sebuah drama romatis. Suara Pevita sebagai narator cerita film ini menjadikannya sebuah bingkai kemasan yang manis.

Thanks to mas Raja Lubis, rekan blogger pecinta film Indonesia, yang sudah memberikan tiket gratis di kuis tempo hari. 🙂

foto : dokumen pribadi
foto : dokumen pribadi
Resensi

Review Kumcer “As Tears Dry Out”

Kumcer Nuthayla Anwar
Sampul depan buku Kumcer “As Tears Dry Out”

Judul                : As Tears Dry Out

Penulis              : Nuthayla Anwar 

Penerbit           : Fayla Production

Cetakan           : I, Agustus 2009.

Tebal               :  206 Halaman

ISBN                 : 978-602-95537-0-3

Satu lagi buku kumpulan cerpen yang saya baca. Awalnya saya mendapatkan rekomendasi bacaan ini dari seorang teman. Namun ternyata setelah saya mencari di toko buku, buku ini sudah tidak beredar. Akhirnya, saya meminjamnya dari teman yang baik itu.

Tak ada ruginya membaca, meskipun ini terbilang buku lama. Terlebih jika cerpen yang ada di dalam buku ini sangat membuat saya betah untuk terus menyimak halaman demi halaman. Bahasa yang lugas, natural, dan penggambaran suasana si cerita itu sendiri sangat terasa oleh saya. Di setiap cerpennya terdapat elemen menu masakan yang menjadi pelengkap isi cerita. Penulis bahkan menambahkan resep masakan yang terkait dengan setiap cerpennya di halaman terpisah.

Ada dua cerpen yang memiliki sudut pandang unik menurut saya. Cerpen berjudul “Ketika Sepatu Berkisah” memakai sudut pandang sepasang sepatu sebagai penutur cerita. Seolah si sepatu adalah benda hidup yang sangat peduli pada si empunya. Ada nilai-nilai moral yang disajikan di cerpen tersebut. Tentang makna keluarga dan pernikahan juga perjuangan seorang suami memenuhi segala keinginan istri dan anaknya.

Cerpen yang kedua berjudul “69”, memakai sudut pandang seekor anjing. Sang penulis, Nuthayla Anwar yang dikenal juga sebagai penulis novel ‘Alazhi Perawan Xin Jiang’ ini, menggambarkan kasih sayang seorang pemilik anjing  dengan sentuhan narasi seekor anjing. Saya tersadar oleh penuturan narasi yang sangat menyayat hati. Bahwa anjing setia pada Tuan-nya melebihi seorang laki-laki pada sang pacar. Namun cerpen ini menyajikan sisi manusia yang lain. Yang bukan pencinta binatang hingga nasib si Molly, tokoh anjing tersebut, kembali terlantar setelah sang  pemilik meninggal di usia 69 tahun.

Cerpen dengan nuansa kekinian dengan tajuk “Chatting” memberi warna lain. Kesan saya saat membacanya, kisah yang lucu dan mungkin saja dialami oleh pasangan yang telah menikah. Namun jalan ceritanya mudah saya tebak. Ternyata benar bagian akhir ceritanya seperti yang saya duga.

Secara keseluruhan, kumpulan cerpen ini sangat menggugah pembaca karena nilai-nilai yang tersirat darinya. Masalah perempuan, keluarga, pernikahan, sosial, kemanusiaan, bahkan kriminal memberikan wawasan dalam bentuk fiksi. Wawasan dari beberapa realita di dunia nyata mampu juga disajikan dalam bentuk fiksi semenarik cerpen-cerpen yang ada di buku ini.

Berikut ini 12 judul cerpen dan 17 resep masakan yang ada di dalam kumcer ini :

  1. Menjemput Cinta
  • Soto Betawi
  1. Ketika Sepatu Berkisah
  • Lasagna
  1. Reuni
  • Makaroni Panggang dengan Bayam & Wortel
  • Nugget Ayam dengan Brokoli
  1. Pejuang Waktu
  • Ayam Panggang
  • Sop
  • Perkedel Tahu
  1. Chatting
  • Soto Padang
  1. Prahara
  • Nasi Mutabagiah (Nasi Goreng ala Arabia)
  • Gulai Kambing dengan Bamia
  1. Kulepas Aku
  • Puding Roti
  1. Gelap
  • Roti Goreng Keju
  1. Paviliun
  • Sambal Goreng Udang
  1. 69
  • Bolu Kukus
  1. Origami
  • Chocolate Blended
  1. Sketsa Cinta
  • Donut Kentang
  • Bakso

Ada pesan yang dituliskan oleh penulis di balik kulit sampul buku ini untuk si teman pemilik buku ini. ‘Cerita dan Resep Cinta’. Ya, seringkali kita tidak pernah mengerti apa makna di balik setiap masakan yang pernah kita sajikan untuk seseorang. Mungkin semua cerpen dalam buku ini mewakili makna cinta itu sendiri. This is a lovely book, really nice stories. :*

Terimakasih kepada Epiest Gee yang telah meminjamkan buku kumcer ini tanpa tenggat waktu. 🙂

Resensi

Review Novel “Broken Vow”

Judul                : “Broken Vow”

Penulis             : Yuris Afrizal

Penerbit          : Stiletto Book

Cetakan           : 1, Agustus 2015.

Tebal               : 270 Halaman

ISBN                 : 978-602-7572-41-6

Genre              : Romance (Dewasa)

Harga              : Rp52.000,00

Novel 'Broken Vow' dan segelas milk tea strawberry. (foto : dokumen pribadi)
Novel ‘Broken Vow’ dan segelas milk tea strawberry.
(foto : dokumen pribadi)

 

Masalah dalam kehidupan kaum Hawa memang selalu menarik untuk dikaji. Salah satu masalah krusialnya hadir dalam kemasan novel terbitan Stiletto Book ini. Pernikahan memang sebuah hal penting bagi kehidupan perempuan, bukan? Namun zaman sekarang, hal itu bukan lagi menjadi tujuan utama setiap perempuan karena hidup melajang bisa saja menjadi pilihan yang lebih baik.

Tag line yang tertera di sampul depan novel ini, ‘Tiga Sahabat. Tiga Pernikahan. Tiga Luka.’ Tiga orang perempuan duduk bersama, itu semacam kode bahwa isi cerita di novel ini adalah tentang mereka, Nadya, Amara, dan Irena.

Bagian awal novel “Broken Vow” ini menyajikan gambaran bagaimana tokoh Nadya, pemilik karir cemerlang, sedang merenung sejenak sebelum dia menjalani gerbang kehidupan barunya. Kalimat, “Kenapa kita harus menikah?” berhasil menarik minat saya sebagai pembaca untuk membaca paragraph selajutnya. Balutan pernak-pernik calon pengantin perempuan tersaji jelas di bab ini serta obrolan bersama dua sahabat Nadya menjelang prosesi akad nikah. Keresahan yang dihadapi Nadya mewakili perasaan yang pasti dialami setiap perempuan yang hendak menikah.

Sang penulis menggunakan alur maju dan mundur sehingga pembaca mampu memahami apa yang terjadi dengan para tokoh di dalam ceritanya. Bahasa yang digunakan adalah bahasa yang ringan dan istilah-istilah khas obrolan perempuan dewasa. Dialog-dialog yang dibangun antar tokoh sangat atraktif dan membuat emosi pembaca terbawa hanyut ke dalamnya. Saya sendiri sempat berkaca-kaca membaca kisah Nadya yang tengah kesulitan mengatasi perasaannya yang kacau karena tidak mencintai Dion, laki-laki yang dia nikahi. Ditambah lagi dengan hal-hal menyakitkan yang dialami dua sahabat Nadya. Semuanya menimbulkan sesak di dada. Konflik dari ketiga tokoh perempuan dalam novel ini (Nadya, Amara, dan Irena) sangat dekat dengan kehidupan perempuan. Kenyataan yang seringkali menghiasi keseharian dalam kehidupan pernikahan mereka tersaji jelas. Saya salut pada penulis yang mampu membuat konflik di tokoh utama maupun tokoh-tokoh pendukungnya.

Tokoh perempuan favorit saya di novel ini, Amara, karena dia berani memutuskan apa yang menurutnya baik bagi dirinya dan berpegang teguh pada prinsipnya walau suaminya (Nathan) seolah ingin menebus segala kesalahan. Bagian adegan yang saya sukai adalah saat Amara mencoba beberapa pakaian di kamarnya untuk menarik perhatian Nathan. Satu lagi, bagian di mana Amara membakar semua foto-foto kenangan keluarganya bersama Nathan di rumahnya.

Tokoh laki-laki favorit saya adalah Dion, karena sebagai laki-laki, dia mampu membuktikan cintanya dengan segala usahanya pada Nadya dengan tulus. Saya sangat menyayangkan sikap Leo (mantan kekasih Nadya), rasanya ingin menonjok wajahnya saat membaca kalimat-kalimat yang dilontarkannya pada Nadya.

Kalimat favorit saya di bagian Epilog :

“Tidak ada hidup yang sempurna. Hidup itu pilihan, begitu juga dengan kebahagiaan.” (hal.270)

Novel ini membuat saya sadar bahwa harta, tahta, cinta, dan persahabatan memang tak pernah lepas dari kehidupan perempuan. Pesan moral yang disampaikan penulis cukup banyak tersirat dari sikap para tokoh dalam menangani masalahnya. Secara keseluruhan, tulisan cukup jelas terbaca, minim typo, dan desain sampul menarik. Novel ini sangat pas untuk bacaan di waktu luang dan sangat sesuai bagi para perempuan cosmopolitan.This novel is recommended ! 😉

Sampul Belakang
Sampul Belakang
Sampul Depan
Sampul Depan
Resensi

Review Novel “Walking After You”

Sampul depan novel
Sampul depan novel “Walking After You” (foto: dokumen pribadi IG: @betakun)

Judul               : Walking After You

Penulis            : Windry Ramadhina

Penerbit           : Gagas Media

Cetakan           : Kedua, 2015.

Tebal               : 320 Halaman

ISBN                 : 979-780-772-X

Genre              : Romance (Young Adult) ; Fiksi Kuliner

Harga              : Rp 50,000

Ini novel kuliner kedua yang saya baca. Sebelumnya saya pernah membaca beberapa cerpen kuliner juga. Saat pertama melihat sampul depannya yang bergambar kue macaron biru, saya pikir ini novel romance biasa. Ternyata macaron ini adalah salah satu pemikat isi cerita dalam novel ini.

Sang penulis menyajikan prolog dengan cantik. Saya sebagai pembaca merasa terhanyut ke dalam adegan-adegan di sana. Penggambaran suasana yang tampak jelas membuat pembaca merasa nyata melihat ke dalam cerita hingga menjadi penasaran dengan bab berikutnya.

Benar saja, bab berikutnya semakin kece. Emosi dari dialog dan deskripsi suasana sangat terasa. Saya mengutip beberapa diksi sebagai bahan referensi dalam menulis penggambaran suasana hingga menimbulkan kesan dramatis. Ini salah satunya di halaman 24 :

“Hujan menutup matahari dengan gumpalan-gumpalan awan kelabu yang bergelayut berat, mengubah langit biru yang ceria menjadi muram. Hujan menyapu titik-titik bintang, juga memberi udara dingin, membasahi tanah hingga becek, dan menyebabkan sepatu mahal berbahan beledu bebercak coklat. Hujan menghentikan berbagai acara menyenangkan di ruang terbuka – festival, piknik, kencan.”

Beberapa item yang memikat di novel ini di antaranya :

  1. Dekorasi kamar Arlet.
  2. Masakan khas Italia (pasta).
  3. Cokelat.
  4. Tiramisu.
  5. Cokelat Truffle.
  6. Macaron.
  7. Bruschetta.
  8. Souffle Cokelat.
  9. Perempuan pengunjung toko kue ‘sang pembawa hujan’ bernama Ayu.
  10. Rum.
  11. Skuter cokelat kopi (Vespa matic)

Banyak adegan yang membuat saya terhanyut, terutama saat Anise dan Julian mengobrol berdua, berdebat, lalu suasana panas berubah menjadi romantis dan indah. Salah satunya di halaman 140-144, saat Anise menelepon Julian dan mengobrol lama hingga Julian tertidur.

| Dan, ya, Julian menghadiahi aku sekotak cokelat. Truffle. Gula-gula cokelat berisi garnache – campuran cokelat – yang mengandung rum. Permukaannya dibaluri kakao pahit sebagai penawar rasa manis. | 

Adegan termanis adalah saat Anise mendapatkan kado dari Julian.

“Hanya punggungnya yang sempat tertangkap oleh mataku – serta aroma apel bercampur sage, dan mint yang samar, tercium di antara Wangi vanili. Aroma yang diam-diam kurindukan.” (halaman 200.)

kutipan kalimat tentang 'Hujan' di dalam cerita novel ini. (foto : dokumen pribadi)
kutipan kalimat tentang ‘Hujan’ di dalam cerita novel ini. (foto : dokumen pribadi)

Secara keseluruhan, cerita dalam novel ini dikemas menarik. Bukan hanya sekadar cerita tentang anak perempuan kembar (Arlet dan Anise) yang manis saat mereka kecil tetapi konflik yang pelik di antara keduanya saat dewasa.

Sampul belakang novel (foto : dokumen pribadi, buku milik Dyah Prameswarie)
Sampul belakang novel (foto : dokumen pribadi, buku milik Dyah Prameswarie)

Penulis berhasil memainkan perasaan pembaca dengan alur maju-mundur hingga betah membacanya sampai akhir bab. Epilog di halaman akhir novel ini tetap membuat saya penasaran dengan kelanjutan hubungan Anise ‘si koki masakan Italia’ dan Julian ‘si koki kue’. This novel is highly recommended! :*

Resensi

“Review Novel Remaja – Swarna Alor”

"Novel Swarna Alor"
“Novel Swarna Alor”

Judul              : “Swarna Alor – Impian di Langit Timur”

Penulis          : Dyah Prameswarie

Penerbit         : Tiga Serangkai

Cetakan         : I, Mei 2015.

Tebal              : 282 Halaman

ISBN               : 978-602-72097-9-4

 

Sebuah novel tentang kekayaan bumi Indonesia. Beberapa waktu lalu, penerbit Tiga Serangkai mengadakan lomba menulis novel dengan tema “Seberapa Indonesiakah Dirimu?”. Saya menyesal sekali tidak mengikuti lomba tersebut karena merasa tidak mampu untuk melakukan riset mendalam.

Saya turut senang dengan hadirnya novel “Swarna Alor” ini yang ditulis seorang teman penulis sebagai Juara Harapan. Saya sudah tidak sabar membacanya hingga novel ini dikirim langsung dari sang penulis. Novel ini saya peroleh tak sengaja dari tag line ‘Impian di Langit Timur’ saat penulisnya meminta saran di Facebook sesaat sebelum terbit.

Melihat ilustrasi covernya yang artistic bergambar dua orang gadis berambut panjang dan pendek, saya jadi penasaran dengan ceritanya. Setiap lembarannya disertai paper art dan di akhir babnya terdapat ilustrasi elemen yang berhubungan dengan cerita di bab tersebut. Ini jadi nilai ketertarikan tersendiri bagi mereka yang kurang menyukai kegiatan membaca novel tebal. Paper art bisa membuat pembaca betah membaca hingga akhir.

Awalnya saya menilai ada penuturan narasi yang inkonsistensi antara ‘aku’ dan ‘gue’. Ternyata setelah saya lihat di setiap bagian judulnya terdapat bab ‘Lilo’ dan ‘Mbarep’, kedua tokoh utama novel ini memang menggunakan narasi yang berbeda. Aku Lilo. Gue Mbarep. Saya menyukai tokoh ‘Mbarep’ yang pemberani dan ceplas ceplos. Bagian yang saya suka dari bab ‘Mbarep’ adalah saat dia menyelam untuk pemotretan bawah laut. Satu kata saja untuk Mbarep, keren!

Penuturan narasi dan dialog si tokoh sangat ‘cerewet’ sehingga membuat saya betah untuk meneruskan membaca ke bab berikutnya. Tema cerita juga sesuai dengan masalah remaja. Salah satunya adalah soal cita-cita. Banyak hal yang si tokoh hadapi demi mencapai cita-citanya hingga harus mengorbankan hal lain.

Saya terenyuh dengan adegan di mana Mbarep meminta maaf pada Ibunya setibanya di rumah. Ini salah satu hal yang perlu para remaja pahami bagaimanapun dan kemanapun seorang remaja pergi, mereka tetap akan ingat Ibu yang membesarkan mereka. Begitupun dengan Lilo dan Juan, tokoh lain yang ada di dalam novel ini. Mereka tetap memegang kecintaan pada keluarga karena keluarga adalah tempat mereka pulang dan merasa diakui.

Secara keseluruhan novel ini disajikan dengan nuansa Indonesia banget! Karena itu berpredikat juara. Saya jadi berpikir, risetnya berapa lama ya untuk novel secakep ini? Apalagi novel yang mendapat juara pertama.

Oh iya, satu lagi yang membuat saya menjadi semakin cinta pada bumi Indonesia ini setelah membaca novel “Swarna Alor” adalah kekayaan kain tenun. Kain khas yang indah ini menjadi bahasan utama dalam cerita novel ini.

Jika ingin mendapatkan novel ini, di toko-toko buku utama telah tersedia. Atau mendapatkannya secara gratis dengan mengikuti kuis di Blog Tour, mulai tanggal 7 September 2015. Penulisnya bisa di-follow di @gudienz (Twitter), Dyah Prameswarie (Facebook) atau blog-nya di prameswariedyah.wordpress.com.

Resensi

Review Novel “Dua Masa di Mata Fe”

Novel Dydie

 

  • Judul            : “Dua Masa di Mata Fe”
  • Penulis         : Dyah Prameswarie
  • Cetakan        : I, 2014
  • Penerbit        : Moka Media, Jakarta.
  • Tebal            : 220 Halaman
  • Harga           : Rp 49,000
  • Genre           : Romance (Young Adult)

 

Novel karya teman sekaligus penasihat saya di dunia kepenulisan ini, bersampul manis. Nuansa biru, oren, dan merah, serta dua orang tokoh yang terlihat di sampul cukup mengundang pembaca untuk segera membuka lembaran pertama. Di bagian belakang sampul tertulis blurb cerita dengan siluet jam pasir dan pembatas buku juga berdesain hampir sama.

DSC_0399

Bab pertama dengan judul “Namanya Fathir” cukup mengundang rasa penasaran karena benda yang disebutkan dalam cerita yaitu kotak kayu cokelat yang dimiliki Fe, gadis keturunan Tionghoa (tokoh utama) serta kalimat akhir di bab ini. Pembaca ingin tahu, siapakah Fathir dan ‘laki-laki itu’.

Konflik di setiap bab dalam novel ini beragam. Selain tentang perbedaan etnis, keyakinan, nilai-nilai keluarga, dan tentu saja makna cinta, penulis juga menggambarkan tentang suasana kerusuhan Mei 1998 dengan jelas. Karakter Raish, pemuda keturunan Sunda (tokoh utama) cukup kuat karena penggambaran yang jelas dalam dialog dan sikap. Beberapa penggalan lagu yang hits di latar masa cerita ini disematkan penulis di adegan tertentu, diantaranya : ‘Always’ (Bon Jovi) dan ‘Trully Madly Deeply’ Savage Garden. Lagu-lagu tersebut sukses membawa saya secara pribadi sebagai remaja yang sempat mengalami zaman itu, terbawa larut ke dalam cerita. Komik yang pernah digemari remaja tahun 90an juga hadir menambah pernik cerita.

Ada sedikit kejanggalan di bab berjudul “Fighter”. Di sana terdapat percakapan Raish saat mobilnya mogok. Dia berkenalan dengan salah seorang penduduk di daerah Sengon. Raish mengenalkan Fe sebagai teman pada orang itu tetapi di lembar lain, Raish berkata bahwa Fe adalah istrinya. Saya sedikit bingung, namun hal tersebut diulas lagi dalam konflik di percakapan berikutnya hingga saya mengerti maksudnya. Bab “Menyapa Matahari Terbit” menjadi bagian favorit saya, terlebih kalimat Raish pada Fe yang berbunyi, “Semua kesedihan nggak akan selesai sama air mata yang kamu tumpahkan itu, Fe. Mereka nggak akan mengubah takdir yang sudah kamu lewati!”

Kata-kata yang typo di beberapa paragrap cukup mengurangi kenyamanan membaca. Cetakan huruf cukup jelas tetapi warna tinta sedikit memudar di beberapa halaman dan cukup hitam tebal di halaman bab akhir. Secara keseluruhan cerita dalam novel ini mampu membuka pikiran pembaca bagaimana perbedaan selalu menjadi konflik kehidupan padahal seharusnya perbedaan bisa membuat orang-orang saling melengkapi satu sama lain. Novel ini mengisahkan cinta dari sudut pandang yang signifikan yang terjadi di masyarakat kita. Saya kurang menyukai bagian akhir novel ini karena saya jadi bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Raish? Apakah Fe tidak pernah lagi bertemu dengannya?

DSC_0398

But over all, it’s really nice story, Dydie. Semoga kita tetap mampu mengisahkan cinta dari berbagai makna. Saya tunggu karya Dydie selanjutnya.  🙂

Resensi

“Review Novel Teenlit – Love Puzzle”

Cover Novel "Love Puzzle"
Cover Novel “Love Puzzle”

 

Judul               : “Love Puzzle”

Penulis            : Eva Sri Rahayu

Penerbit          : Teen@Noura (Noura Books), Jakarta.

Cetakan          : I, November 2013.

Tebal               : 286 halaman

Genre              : Remaja

Harga              : Rp 49,000

 

Judul novel remaja ini membuat calon pembaca menebak-nebak, apakah ini ada hubungannya dengan puzzle yang biasa dimainkan anak atau orang dewasa di dunia nyata? Warna cover yang soft dan ilustrasi kamera instan dengan balon warna warni yang terikat di kamera serta gambar tiga orang di dalam foto, cukup menarik minat pembaca. Setiap bab dibatasi art paper bernuansa penggalan puzzle sesuai bahasan cerita babnya.

Cinta memang tema yang paling disukai dan tetap menjadi favorit beberapa pembaca. “Love Puzzle” seolah ini menjanjikan hal-hal manis di dalam ceritanya. Tebakan saya tidak salah. Bab demi bab saya nikmati dan membuat rasa penasaran oleh teka-teki yang ditampilkan sejak bab awal. Prolog cukup memancing bayangan cerita yang akan tersaji di Puzzle 1.

Selain tentang percintaan, novel ini juga menghadirkan tema keluarga, persahabatan, masalah-masalah remaja SMA hingga menjelang kuliah. Tokoh utama perempuan bernama Rasi, dan tokoh laki-laki kembar yang menjadi pokok permasalahan adalah Raja Alexander Agusta dan Iskandar. Konflik keluarga tokoh kembar sangat kental. Sayang sekali, latar belakang keluarga Rasi tidak terlalu dimunculkan.

Setiap bab di novel ini menyajikan konflik yang beragam. Konflik batin tokoh-tokohnya pun begitu terasa dalam. Narasi dan dialog yang ada mampu membuat saya sebagai pembaca hanyut dalam cerita. Namun ada beberapa adegan yang menurut saya kurang logis. Entah karena ada unsur magis dan misteri tentang si tokoh yang telah meninggal atau karena pengalaman saya sebagai pembaca novel yang memang tidak terlalu menyukai hal-hal gaib.

Kalimat favorit saya dalam cerita ini, saat Rasi berusaha menyadarkan tokoh perempuan yang menjadi sahabat barunya, bernama Ayara (pacar Iskandar), Please, Aya. Berhenti hidup dalam kebohongan. Jangan terus hidup di masa lalu!” Adegan yang paling saya sukai adalah saat Rasi membakar kartu identitas Iskandar yang dimiliki Alexander di hadapan Ayara.

Menurut saya, konflik yang paling tajam ada di Puzzle 14. Di bab ini, teka-teki dan misteri yang saya baca bab demi bab mulai terkuak hingga saya ingin terus melanjutkannya ke bab selanjutnya. Penulis cukup berhasil menggunakan alur mundur sebagai penyajian yang mengundang rasa penasaran pembaca. Jika ingin tahu “gambaran utuh” dari puzzle yang teracak di setiap bab di dalam novel ini, silakan baca novel ini, temans. Epilog yang ada di akhir cerita menjadi penutup yang cantik untuk menggambarkan apa yang terjadi dengan Raja Alexander Agusta dan Rasi setelah puzzle-puzzle cerita tersusun sedemikian rupa.

Novel “Love Puzzle” ini layak menjadi pilihan pembaca, khususnya remaja, yang menyukai cerita cinta dramatis, penuh hal-hal magis, perjalanan hidup yang tragis, namun tak lepas dari sentuhan-sentuhan manis.

Terimakasih kepada Eva Sri Rahayu, sang penulis novel ini yang telah membubuhkan tulisan di halaman depan untuk saya, “Selamat bertualang di dunia Raja dan Rasi. Semoga suka.” Saya sudah bertualang dalam ceritanya, dan Yup! Saya suka novel ini. It’s recommended! 🙂

my journal, Resensi

Review Kumcer “Braga Siang Itu”

Cover "Braga Siang Itu" sumber : andipublisher.com
Cover “Braga Siang Itu”
sumber : andipublisher.com
  • Judul           : Braga Siang Itu
  • Penulis         : Triani Retno A.
  • Cetakan       : I, 2013
  • Penerbit       : Sheila Fiksi (imprint Penerbit ANDI), Yogyakarta.
  • Tebal           : 140 Halaman
  • Harga           : Rp29,000
  • Kategori       : Fiksi (Kumpulan Cerpen)
  • Genre          : Dewasa

Cover buku Kumcer ini sangat Braga. Terlihat dari foto dua pasang kaki bersepatu wanita dan pria yang sedang menjejakkan kaki di trotoar jalan Braga, Bandung. Judul Kumcer ini diambil dari salah satu judul cerpen yang ada di dalamnya.

Cerpen “Braga Siang Itu” di halaman 14, menyuguhkan kenangan pasangan kekasih bernama Fei dan Ben serta peristiwa kerusuhan Mei 1998. Mereka memiliki kenangan di jalan Braga hingga akhirnya kenangan itu retak bersama waktu yang bergulir. Saya suka dengan cerpen ini karena sangat bermakna yang menggugah pikiran saya sebagai wanita. Penggalan dialognya seperti ini : “Kamu tahu, Fei, di balik kesuksesan seorang laki-laki, selalu ada perempuan hebat. Begitu juga di belakang kehancuran seorang laki-laki. Perempuanlah yang memainkan peranan di balik kesuksesan dan kehancuran itu.”

Di dalam Kumcer ini terdapat 15 cerpen apik yang pernah dimuat di berbagai media cetak dengan tema bahasan yang dekat dengan dunia wanita. Hal-hal yang kita temui sehari-hari dikemas dengan sudut pandang penulis sehingga memberi kesan kritis, menyentuh, tegas, namun indah. Sebagian besar ide dari cerpen-cerpen tersebut adalah masalah-masalah sosial.

15 cerpen tersebut adalah :

  1. Bunda, Ibu yang Tak Pernah Ada (Dimuat di harian Tribun Jabar, 12 Oktober 2008)
  2. Braga Siang Itu (Dimuat di harian Tribun Jabar, 18 Maret 2012)
  3. Sansevieria (Dimuat di harian Tribun Jabar, 29 Maret 2009)
  4. Saat Malin Bertanya
  5. Sarapan
  6. Undangan
  7. Suara
  8. Ceu Kokom (Dimuat di majalah Sekar Edisi 49/11, 26 Jan-Feb 2011)
  9. Bunda Tak Tersenyum (Dimuat di majalah Kartika No.78/Februari 2010)
  10. 10. Surat Untuk Presiden
  11. 11. Merajut Hari
  12. 12. Hati yang Tak Kunjung Damai
  13. 13. Gunting
  14. 14. Gigi (Dimuat di harian Tribun Jabar, 18 Januari 2009)
  15. 15. Hujan (Dimuat di harian Tribun Jabar, 29 September 2009)

Namun ada hal yang mengurangi kenyamanan saya sebagai pembaca. Tulisan di beberapa halaman di dalamnya tidak tercetak jelas (berbayang), warna tintanya memudar, di  halaman 48 terlihat mirip tinta fotokopi yang tercecer, dan lembar lainnya tampilan lay-out-nya agak miring. Ukuran font pas dan nyaman dibaca secara keseluruhan. Font lain, mirip tulisan huruf sambung, ditampilkan di cerpen berjudul ‘Surat untuk Presiden’. Di cerpen ini, penulis seolah menyuarakan sebagian dari masalah dari negeri kita ini.

Kalau boleh menandai tanda bintang di setiap cerpennya, saya akan menandai lima bintang untuk cerpen berjudul ‘Braga Siang Itu’, ‘Saat Malin Bertanya’, ‘Sanseviera’, dan ‘Hujan’. Cerita yang sesuai dengan suasana kampanye Pemilu yang sebentar lagi akan digelar di Indonesia, terwakili oleh cerpen berjudul ‘Suara’ yang menampilkan tokoh seorang caleg gagal. Tak sedikit materi yang ia gunakan hingga terpaksa berutang pada beberapa orang, dan berujung pada gangguan psikis. Ia depresi dan harus menetap di klinik psikiatri dan rehabilitasi. Cerpen ini sungguh menggelitik ingatan saya tentang banyaknya orang-orang yang memaksakan diri untuk nyaleg dan wara-wiri di pemberitaan televisi.

Keseluruhan tema cerpen yang ada di Kumcer ini sangat inspiratif dan menyadarkan bahwa hal-hal yang melintas di depan kita setiap hari adalah inspirasi dan pembelajaran kehidupan. Bahkan cerita seorang ibu yang menuntut materi dari sang anak tergambar di cerpen berjudul ‘Bunda, Ibu Tak Pernah Ada’ dan ‘Saat Malin Bertanya’. Pada kenyataannya di jaman sekarang, banyak hal yang serba memusingkan, dan cerita ibu seperti itu memang benar-benar terjadi.

Buku Kumcer ini bisa menjadi alternatif bacaan di saat santai. Terutama bagi para penulis cerpen yang butuh referensi bacaan cerpen, Kumcer “Braga Siang Itu” karya Triani Retno A. adalah pilihan tepat. Saya sebagai penulis yang masih belajar menulis cerpen merasa bertambah ilmu dan mendapat pencerahan untuk tetap berlatih dari buku ini.

Well, Triani Retno A. wrote : Ide memang ada di sekitar kita.”

Happy reading!  🙂

Tandatangan Penulis
Tandatangan Penulis

Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku utama di kotamu, bisa juga memesan langsung ke penulisnya di Facebook Triani Retno A. (plus tandatangan, lho!) atau di :

http://andipublisher.com/produk-1213004999-braga-siang-itu.html

http://gramediaonline.com/moreinfo.cfm?Product_ID=873487

my journal, Resensi

Review Novel “Pre Wedding Rush”

Foto cover taken from goodreads.com
Foto cover taken from goodreads.com
  • Judul            : Pre Wedding Rush
  • Penulis         : Okke ‘Sepatu Merah’
  • Cetakan        : I, Desember 2013
  • Penerbit        : Stiletto Book, Yogyakarta.
  • Tebal            : 204 Halaman
  • Genre           : Romance Dewasa

Kesan pertama yang ada di benak saya saat membaca judul novel ini adalah persiapan pernikahan yang terburu-buru. Sampulnya didominasi warna merah dan merah muda, ilustrasi mirip batik dengan gambar perempuan bergaun pengantin putih diapit oleh dua orang laki-laki. Sebuah quote dari Dave Meurer di halaman pembuka tertera “A great marriage is not when ‘perfect couple’ comes together. It is when an imperfect couple learns to enjoy the differences.”

Bab pertama dibuka dengan suasana di sebuah toko kue kuno “Sumber Hidangan” (Snoephuis) di kawasan jalan Braga, Bandung. Tempat ini memberi kesan manis dan penuh kenangan. Penulis berhasil menyajikannya dengan menarik karena paduan lompatan-lompatan dialog yang dibangun pada tokoh utama, Menina Putri Amanda, dengan Lanang Andreadi Kusumo (mantan pacar Menina). Julukan ‘Femme Metale’ bagi Menina dan ‘Chaos Seeker’ bagi Lanang sangat mewakili karakter mereka.

Konflik di dalam novel ini cukup beragam. Selain dari tokoh utama, Menina dan Dewo (calon suami Menina), hal yang berhasil membuat saya penasaran untuk terus membaca bab berikutnya adalah petualangan Lanang bersama Menina, serta intrik yang terjadi antara Lanang dan Ayako. Shocking chapter juga hadir di salah satu bab berjudul “5.9”. Di bab ini, setiap adegannya lumayan menguras emosi pembaca. Bab lain juga menghadirkan obrolan Menina dan Agnes, sahabatnya, yang menjadi warna tersendiri dalam novel ini.

Saya menemukan tampilan font yang terlihat lebih kecil dibandingkan yang lainnya di halaman 90 dan 114. Namun hal itu tak mengurangi alur cerita. Bahasa yang digunakan ringan dan santai, alur ceritanya cukup nyaman untuk dipahami. Bagian yang paling saya sukai adalah suasana desa tempat Rumah Mitra Muda, semacam sanggar kreatif milik Sigit dan Ayako (teman Lanang), di Yogyakarta.

Sampai di akhir cerita, dugaan saya ternyata salah tentang laki-laki pilihan Menina. Siapakah yang Menina pilih? Lanang atau Dewo? Silakan simak sendiri ceritanya di novel ini.

Saya mengambil satu pemahaman dari cerita dalam novel ini, bahwa siapapun tak bisa lepas dari kenangan cinta masa lalu. Hidup harus berjalan ke depan dan berpikir bahwa kenyataan di depan lebih membutuhkan ketulusan hati yang luas agar bisa menerima dan memahami makna cinta dalam pernikahan.

Novel ini tersedia di toko buku utama di kotamu atau bisa dibeli di sini : http://www.stilettobook.com/index.php?page=buku&id=40
This book is recommended for you, pre wedding galauers! Happy reading! 🙂

Oh iya, kalau boleh saya memilih jenis sepatu untuk para tokoh dalam novel ini, pilihan saya adalah :

–        Menina    : Sneakers

–        Lanang    : Leather Boots

–        Dewo       : Pantofel

–        Agnes      : High heels

–        Sigit         : Kanvas shoes

–        Ayako      : Flat shoes

Resensi

Review novel “Marginalia-Catatan Cinta di Pinggir Hati”

Cover Novel "Marginalia" karya Dyah Rini
Cover Novel “Marginalia” karya Dyah Rini
  • Judul            : Marginalia-Catatan Cinta di Pinggir Hati
  • Penulis         : Dyah Rini
  • Penerbit        : Qanita/ PT.Mizan Pustaka, Bandung.
  • Cetakan        : I, Februari 2013.
  • Tebal            : 302 Halaman
  • Harga           : Rp49,000

Kata “Marginalia” dengan emboss berwarna pink metalic membuat saya penasaran. Apakah ini tentang bait-bait kenangan atau filosofi kehidupan perempuan? Desain sampul novel pemenang kedua lomba penulisan romance Qanita ini berwarna dasar krem dengan ilustrasi bentuk bangunan mirip rumah, awan-awan berwarna pink.

Penulis menyuguhkan kata pembuka yang catchy di bab pertama, dengan nama ‘Aruna’ berwarna pink di sisi margin kiri. Tulisan kata ‘Drupadi’ dengan warna yang sama juga saya temui di paragraf halaman lainnya. Ini memudahkan pembaca untuk mengetahui siapa yang sedang ‘berbicara’ di paragraf itu. Penggunaan dua sudut pandang cerita (sisi Aruna dan sisi Drupadi) menjadi hal yang menarik dari novel ini.

Konflik dan dialog yang atraktif juga menjadi hal yang membuat penasaran dan gemas untuk meneruskan membacanya halaman demi halaman. Masalah-masalah yang dihadirkan di setiap tokoh terasa nyata dan para tokoh pun benar-benar bernyawa serta berkarakter kuat.

Tokoh Inez dalam cerita di novel ini pun sukses membuat saya sebagai pembaca sebal. Inez adalah awal konflik yang dihadirkan di cerita novel ini. Tokoh laki-laki, Aruna, yang seorang rocker di grup band Lescar, dan Adnan, kekasih Drupadi, menggambarkan dua yang sangat berlawanan sifat dan karakter. Secara pribadi, saya naksir Adnan. Namun, Drupadi dihadapkan pada pilihan yang sulit dalam memilih pasangan hidupnya. Inez selalu menjadi akar dari kebingungan dan kemarahan Drupadi.

Nama Drupadi sepintas terdengar seperti nama-nama di dalam cerita sejarah. Penokohan juga sangat kekinian karena Drupadi diceritakan sebagai seorang wedding organizer di Luna Nueva. Penggambaran aktivitasnya sebagai wedding organizer sangat jelas dan nyata.

Setelah memahami kata “Marginalia” dari halaman satu ke halaman lainnya, ternyata ada dua makna. Marginalia sebagai nama sebuah kafe, dan marginalia sebagai penggalan tulisan yang ditorehkan Drupadi di lembaran puisi Rumi milik Padma, kekasih Aruna. Hal yang menarik juga hadir di halaman 64 di novel ini karena penggalan tulisan Drupadi dan Aruna ditampilkan dengan lay-out-nya yang berbeda. Konflik menegangkan dan hal-hal lucu terjadi antara Aruna dan Drupadi.

Secara keseluruhan, ide dan tema cerita menarik dan sangat dekat dengan dunia perempuan dewasa. Perjodohan, persahabatan, kebencian, percintaan dan perasaan yang rumit dikemas menarik dari awal cerita hingga bab terakhir.

Beberapa quote yang saya suka dari novel ini antara lain :

“Tidak ada yang romantis maupun ajaib tentang kehidupan” [Drupadi]

“Saat kita mencintai seseorang, kita tidak perlu mencintainya 100%. Cintailah dia 70% dan bangun sisanya setelah menikah.” [Ibu Drupadi]

“Kebencian membuatmu buta. Kebencian membuatmu melakukan hal yang tidak terbayangkan, memakanmu dari dalam tubuh, mengubah jiwamu menjadi monster.” [Drupadi]

“Cinta adalah permainan bagi pecundang. Cinta adalah untuk mereka yang terlalu takut menghadapi kejamnya dunia, kerasnya persaingan hingga mereka memutuskan untuk sembunyi saja dalam kepompong cinta dan menikmati dunia kecilnya.” [Drupadi]

Adegan yang paling saya sukai adalah saat Drupadi meninju wajah Aruna. Tebak, apa yang terjadi pada Drupadi dan Aruna?

Happy reading, friends!