sejenis cerita pendek

“Kereta Senja”

Railway

Ingin sekali ku berteriak, “Mama, aku akan merindukanmu!” saat kereta ini melaju meninggalkan stasiun Bandung.

Tak ada sejumput pun raut sedih Mama. Seulas senyum darinya membuatku tegar. Seperti jalur rel baja ini yang beribu kali tergesek oleh rodanya.

Buku filsafat yang kubawa menjadi teman dalam perjalanan menuju kota Pahlawan.

“Saya takut kalau baca yang begitu,bikin kening berkerut,” celetuk laki-laki gondrong bertubuh kurus yang tak kusadari telah duduk di sebelahku.

Aku hanya tersenyum.

“Suka ya, baca yang begitu?” tanyanya lagi.

“Nggak juga.”

“Kalau saya lebih suka baca yang ringan tapi meninggalkan kesan.”

“Oh…” Aku mengangguk dan kembali menekuri halaman buku. Namun si gondrong masih ingin mengobrol.

“Turun di mana?”

“Surabaya Gubeng.”

“Oh…”

Hening.

Mataku mulai perih, lalu aku terlelap. Cukup lama. Di stasiun Tugu aku terbangun. Si gondrong sudah lenyap. Aku belum tahu namanya. Tapi aku tak peduli di mana dia turun. Kami berdua hanya orang asing seperti kereta yang berganti disinggahi.

 

 

sejenis cerita pendek

“Seulas Senyum Dery”

Pagi itu, aku mendapat firasat buruk tentang adikku, Dery. Aku bergegas menengoknya di rumah Ibu setelah meminta ijin suami. Saat tiba di sana, aku melihat Dery terbaring di kamarnya dengan wajah kuyu dan tubuhnya yang berubah kurus. Ia seperti balon yang tiba-tiba kempes padahal sebelum Ibu meninggal, tubuhnya mirip celengan semar.

Entah kapan terakhir kali aku menegok Derry sepeninggal Ibu. Mungkin dua bulan lalu. “Kamu sakit apa, Ry? Kok badan kamu jadi begini?” tanyaku sambil memegang lengannya yang tadinya berlemak, sekarang lemak itu entah menguap ke mana.

sumber gambar : 'Minions Galau' --www.gambarzoom.blogspot.com
sumber gambar : ‘Minions Galau’ –www.gambarzoom.blogspot.com

“Cuma demam, Kak. Mungkin aku kurang bergerak,” jawabnya dengan suara pelan tanpa ekspresi kesakitan. Lurus saja seolah tak ada yang serius.

“Makanya, kamu jangan makan sembarangan, rajin olahraga, dong. Jangan Cuma makan, tidur melulu.” Aku mulai seperti almarhum Ibu yang cerewet menasihati anaknya.

“Kulit jadi mengelupas begini. Udah mendingan kok sekarang, Kak. Cuma lemas aja,” imbuh Dery.

“Ya udah, nanti aku belikan sebotol madu sama vitamin, ya? Ini aku bawa nasi dan lauk buat kamu. Makan, ya?”

Dery hanya mengangguk, lalu ia menanyakan kakak tertua kami, Ardi. “Kak Ardi, sudah ditelepon belum, Kak? Suruh ke sini.”

“Hhh…Ry, aku udah kirim SMS, menelepon gak dibalas juga. Udah lah, enggak usah terlalu diharapkan datang. Mungkin sibuk terus. Kalau mau, kamu aja yang berkunjung ke sana.”

Dery hanya mematung lalu membuka wadah nasi yang aku sodorkan tadi.

“Ry, maafin aku, enggak bisa sering-sering nengok kamu karena di rumah juga punya kewajiban. Sekali-kali kamu jalan kaki ke rumahku sambil olahraga.”

Dery hanya mengangguk sambil mulutnya sibuk mengunyah. Ia nampak lahap. Aku terdiam dan memerhatikannya, lalu merasa dada ini sesak oleh beban yang sepertinya akan kutanggung seumurhidupku. Apakah aku sanggup menemukan kembali senyum di wajah Dery setelah sekian lama ia sulit berdamai dengan traumanya? Sejak tersandung kasus narkoba saat masih remaja, Dery sangat berubah. Ia tidak seceria dan sejail dulu, cenderung sangat introvert. Aku khawatir melihatnya terlalu sering melamun dan jarang sekali bicara pada dua orang adik tiri kami yang tinggal serumah. Mungkin sebagian fungsi otak Dery sudah rusak oleh barang haram itu. Beruntung ia tidak menggunakannya lagi namun pengaruh bagi tubuhnya masih menjadi pemikiranku.

Dery, suatu hari kamu harus mampu melangkah sendiri untuk kebaikanmu. Tak selamanya aku mampu menanggung hidupmu. Adakalanya aku berharap bisa memperbaiki keadaan di masa kecil kita dulu. Aku tak bisa dan masa lalu hanya bisa dijadikan cermin bagi kita. Aku hanya mampu berdoa untukmu agar keajaiban hadir di kehidupanmu. Aku ingin melihat senyummu yang selama ini hilang. Tersenyumlah untukku, Dery…

 

 

my journal, sejenis cerita pendek

“Suatu Hari Bersama Paman” (Part 1)

Waktu itu, aku masih usia SD, menikmati sore di belakang kemudi sebuah mobil mungil yang sedang diperbaiki Paman. Paman selalu ku panggil dengan sebutan ‘Bapak’ karena ia memintanya begitu.

“Pak, aku ingin belajar menyetir mobil!” teriakku pada Paman.

“Ya, nanti kalau sudah besar, nanti Neng punya mobil sendiri,” jawab Paman sambil mengepulkan asap rokok kreteknya ke atas kap depan mobil.

Love Uncle
taken from : http://www.cafepress.com

Sejenak ku bayangkan aku benar-benar mengemudikan sebuah mobil sambil menyetel radio. Ah, sepertinya asyik! Teriakku dalam hati. Aku selalu senang melihat Paman bekerja di garasi kecil yang berfungsi sebagai bengkelnya. Aroma oli dan segala peralatan yang ada di sana seperti taman bermain yang menyenangkan bagiku. Saat Paman menyuruhku membeli sebungkus rokok favoritnya, dengan senang hati aku segera beranjak pergi ke warung terdekat. Sekembalinya dari sana, aku selalu diberi uang kembalian untuk ku pakai jajan. Sempat terpikir dalam benakku, enak ya, punya Paman apalagi punya Bapak. Belum ada rasa sedih yang mendera kala itu, aku masih terlalu kecil untuk mengerti mengapa Bapak kandungku pulang begitu cepat ke hadapan-Nya.

Sampai pada masa di mana Paman pun pulang untuk selamanya. Aku sangat sedih hingga tak sanggup menghadiri pemakamannya. Ia sosok yang hangat dan memberiku banyak hal. Kesederhanaan dan kasih sayang seorang Bapak begitu membekas.

Pak, Neng yakin suatu hari nanti, Neng akan memiliki sebuah mobil dan yang orang yang pertama kali Neng ingat adalah Bapak. Senyum dan pelukanmu tak akan terlupakan. :’)

Untuk alm. Bapak Deden Suganda bin Natapradja

sejenis cerita pendek

“Semangkuk Mi untuk Adam”

Adam, laki-laki bermata sayu, berkulit gosong, berkepala plontos itu bergeming sambil menatap layar televisi.

Aku membuatkannya mi rebus plus telur. Lima menit saja mi rebus telah siap. Hanya itu yang bisa kusajikan. Tak ada yang istimewa. “Nih, makan dulu,” ujarku.

Adam tak merespon. Tatapan matanya kosong seolah seolah tak berselera pada semangkuk mi itu. Sejurus kemudian dia berkata, “Nggak ada siapa-siapa di rumah. Semua pergi.”

“Oh…” kataku singkat. Dalam hatiku berkata, Adam, kamu kesepian. Kamu seperti zombie yang melangkah gontai dan tak ada keinginan untuk mengetahui seperti apa dunia ini sebenarnya. Mau sampai kapan kamu begini? Hanya mengandalkan pemberian kakakmu dan hanya tahu kata ‘meminta’ daripada kata ‘berusaha’.

Adam akhirnya menghabiskan mi itu secepat kilat. Mirip ular Phyton yang mencaplok mangsanya seketika. Tak ada seutas kalimat pun selama aku dan Adam duduk bersama di depan TV.  Pikiranku sibuk bertanya, bagaimana nasib adikku ini nanti jika aku tak ada lagi di dunia. Apakah nasibnya berakhir buruk atau akan hadir keajaiban pada dirinya? Aku tak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk terjadi padanya. Semoga saja tidak.

“Kak, minta uang untuk rokok,” celetuk Adam diiringi senyum memelas.

“Dam, aku nggak punya uang sepeser pun. Berhentilah merokok! Cuma bakar uang saja! Kalau kamu mau makan, satu atau dua piring di rumahku, ada.” Setelah itu, aku hanya ngedumel dalam hati, Dam, kamu itu mengerti nggak? Jika kamu tak ada kemampuan untuk membeli barang itu, ya berhentilah! Jangan memaksakan diri untuk mengikuti segala keinginan duniawi jika itu diluar kemampuan. Hiduplah apa adanya.

Aku tidak akan memanjakanmu dengan benda-benda yang kamu minta karena uang dan harta benda itu tidak jatuh dari langit. Semua yang kamu mau harus kamu usahakan sendiri. Ah, entahlah kamu masih mengerti apa makna berusaha. Tapi sepertinya angan-angan dan keinginan kamu itu telah sesak memenuhi pikiranmu.

Dam, kamu korban perasaan masa lalu di keluarga kita yang penuh mimpi buruk. Rasanya sulit sekali mengembalikan keceriaanmu seperti saat kecil dulu. Senyum itu sepertinya sudah tenggelam. Senyum yang kulihat saat kita bermain hujan-hujanan dan layang-layang di lapangan. Kedua matamu pun sangat muram sekarang. Apakah kamu menyimpan kesedihan yang begitu dalam hingga tak mampu lagi membersihkannya dari dalam hatimu? Kamu perlu teman dalam perjalanan hidupmu. Aku tak mampu mewujudkan itu.

Anggukanmu itu mungkin tanda kamu mengerti bahwa aku tak mampu memberikan harta sebanyak yang kamu inginkan. Aku bukan sang kaya raya yang bisa dengan mudah mengeluarkan lembaran uang yang kamu minta. Aku pun tidak boleh menyalahkan keadaan karena setiap orang telah digariskan dengan takdirnya. Yang kumengerti sekarang hanya bersabar dan berbuat semampuku.

Adam, apa kamu masih ingat Tuhan? Hanya kepada Dia seharusnya kamu memohon dan berdoa. Seharusnya kamu ingat kalimat-kalimat yang pernah kamu tahu dari guru mengaji dulu. Aku hanya berharap malaikat selalu berbisik padamu agar kamu ingat pada lima waktu yang wajib. Lakukanlah untuk dirimu sendiri lalu Tuhan akan menolongmu dalam keadaan apapun.

Apakah kamu masih ingat cara berdoa? Katakan kalimat doa itu jika kamu ingat. Katakan sesering mungkin agar hatimu tenteram dan bunda pun tersenyum dari sana mendengar doamu.

my journal, sejenis cerita pendek

“Stereo Heart”

picture by http://www.popscreen.com/
picture by http://www.popscreen.com/

I don’t know what do I have to do with this feeling. Maybe, I have to tell what I really feel to him, but I don’t have enough courage to do it. What if he didn’t accept this feeling or he suddenly made a distance from me?

Karen tries to enjoy her favorite playlist on her mp3 player while her mind still thinking about Dennis, her classmate. He’s the one who makes Karen got insomnia lately.

Until one day, she had a chance to talk to Dennis.

“Have you done your Biology project, Dennis?”

“Not yet, I was wondering we could make the project together.” Dennis’ smile is really mesmerized Karen.

“Oh, really?” Karen’s heart is beating rapidly.

“Yeah! When will we start?” Dennis’s eyes smash up Karen’s heart into pieces.

“How about after school at my house ?” Karen said.

“Ok, then.”

After the class is over, they are chatting along the way to Karen’s house.

“Dennis, I know this is a silly thing to tell but I think I had the answer about my special feeling.”

“What is it?” Dennis pretends that he didn’t understand.

“It’s you.” Dennis takes her right hand, Karen suddenly blushing.

Their stereo hearts are playing.

my journal, Rumah Kayu, sejenis cerita pendek

“Kopi dan Kamu”

cappucino

Berkali-kali kamu melarangku minum kopi terlalu sering, dan itu malah membuatku semakin ketagihan. Aku hanya bisa tahan dua minggu saja tidak minum kopi. Aku kembali menikmati secangkir dan cangkir berikutnya setiap hari, lalu aku sadar bahwa aku kecanduan kopi.

Mungkin kopi seperti dirimu yang selalu membuatku selalu butuh kamu. Rasa-rasa ketika berada di dekatmu dan buaianmu itu yang membuatku nyaman hingga mampu menciptakan aura bahagia tak terkira. Dia menebarkan aroma yang begitu menggoda hati untuk tetap menyeduhnya lagi dan lagi. Sehari tanpa kopi itu seperti sehari tanpamu. Aku tidak bisa meninggalkan kopi, dan sangat tak bisa berpaling darimu.

Ketika air keruh kopi yang nikmat itu menjalar ke pencernaanku, dia membuat ketenangan jiwa dan kreativitas hadir luar biasa. Kamu selalu aku butuhkan agar aku bisa berjalan dengan nyaman selayaknya teman. Sebagian orang mungkin akan terjaga karena meminum kopi. Ya, akupun terjaga karena cintamu. Namun aku tetap akan mengantuk jika kamu butuh peluk karena kamu tak akan mengajakku masuk ke dalam mimpi buruk.

Ya, kopi itu kamu. Ijinkan aku untuk selalu menyeduhmu.

sejenis cerita pendek

“Kedewasaan”

Apakah kita sudah dewasa? Mungkin secara kisaran usia, iya.
Kapan kita disebut dewasa? Mungkin saat usia sudah kepala dua atau mungkin saat usia belasan bisa saja menjadi dewasa secara mendadak karena keadaan yang memaksanya. Banyak orang menjadi dewasa karena masalah dan keadaan yang membuat dirinya lebih bisa menghadapi dan menjalani semuanya. Tak sedikit juga orang yang dihadapkan pada masalah namun tetap tak membuatnya dewasa.

So, dewasa itu menurut kamu tuh apa? Cara berpikir, sikap, perkataan, atau hanya angka di usia kita. Berapapun usia kita, jika kita telah mampu memilah mana yang menjadi tanggung jawab kita dan mana yang bukan, saya pikir itulah sebuah bentuk pendewasaan diri.

Saya pun mengalami bagaimana sulitnya menjadi dewasa. Kesulitan yang dihadapi adalah risiko yang saya ambil jika saya melakukan satu langkah karena menjadi seseorang yang dewasa dalam berpikir, bersikap, berujar, memerlukan keberanian dan kesabaran. Semakin kita ditempa dengan masalah rumit, semakin pula diri kita dituntut untuk menyelesaikannya dengan sepenuh hati.

Lingkungan yang kondusif mampu membuat seseorang yang tadinya selalu bergantung pada orang lain, kemudian mampu menjadi dewasa dalam bersikap dan berpikir. Pola pikir kita mengalami metamorfosis seperti halnya tubuh dan wajah kita. Perubahan itu akan berangsur dari dewasa ke tahap bijaksana. Ini sangat membutuhkan kelapangan hati dalam menjalaninya.

Saya mungkin belum bisa seratus persen bijaksana dalam menghadapi perjalanan hidup, tetapi minimal selalu ada saat untuk kita merenung dan menjadikan masalah yang menimpa kita sebagai ‘pengasah diri’ agar menjadi pribadi yang lebih dewasa.

Hanya orang lain atau orang terdekat kita yang bisa menilai apakah kita dewasa atau tidak. Kini saya sedang mencoba untuk tidak menyalahkan orang lain jika saya melihat pribadi yang belum juga dewasa. Saya mencoba berpikir lagi, mungkin penyebabnya adalah pola asuh orangtua dan kebiasaan.

my journal, sejenis cerita pendek

“Just Do You”

India Arie "Just Do You" from my screenshot Radio Internet
India Arie “Just Do You” from my screenshot Radio Internet

Seminggu sudah saya “tertidur” dan bermalas-malasan sampai saya mendengar satu lagu yang harus membuat saya “bangun” dari bad mood saya. Yup! Lagu India Arie ini, iramanya lumayan membuat saya nyaman dan mencoba menggerakkan pikiran serta anggukan kepala. Just do you! Kalimat itu seolah menyuruh saya untuk lebih bersemangat dalam beraktivitas terutama ketekunan menulis (novel project). Saya mencoba membayangkan apa yang akan saya dapatkan jika saya selesai tepat waktu, dan naskah yang sedang saya buat bisa menjadi ‘sesuatu’. Hadiah yang akan saya dapatkan dari menulis novel mungkin bisa perlahan berada di genggaman, cepat atau lambat.

Setiap lagu mewakili perasaan diri kita,atau bahkan membuat diri kita tiba-tiba bersemangat. Pilihan saya salah satunya lagu dari India Arie ini. Yuk, simak setiap penggalan lirik lagunya.

I heard a voice that told me I’m essential
How all my fears are limiting my potential
Said it’s time to step into the light and
Use every bit of the power I have inside

So what’chu waiting on
Who You waiting for
If You don’t take a chance You’ll never know what’s in store
Just Do You (Somebody’s got to be a star)
Just Do You (Somebody’s got to raise the bar)
Just Do You (Somebody’s got to change the game)
Just Do You (Today)

Every mountain needs someone to climb it
Every ocean needs someone to dive in
Every dream needs someone to wish it
Every adventure needs someone to live it

So what’chu waiting on
Who You waiting for
If You don’t take a chance You’ll never know what’s in store

Just Do You (Somebody’s got to be a star)
Just Do You (Somebody’s got to raise the bar)
Just Do You (Somebody’s got to change the game)
Just Do You (Today)

If You create the game then You create the rules
And if You just be You
There’s no way You can lose

There’s a story waiting for you to write it
There’s a treasure waiting for you to find it
There’s a picture waiting for you to paint it
There’s a dollar waiting for you to make it

So what’chu waiting on
Who You waiting for
If You don’t take a chance You’ll never know what’s in store

Just Do You (Somebody’s got to be a star)
Just Do You (Somebody’s got to raise the bar)
Just Do You (Somebody’s got to change the game)
Just Do You (Today)

If You create the game then You create the rules
And if You just be You
There’s no way You can lose

“Bad mood shouldn’t controling you, You should control your mood.”

sejenis cerita pendek

“My Listeners, My Soul”

radio internet
radio internet

Alarm berteriak beberapa kali di meja kamar kos Dorothea. Namun dia masih saja betah dibalik bedcover bercorak underwear warna-warninya. Sepertinya cerita mimpi bertemu seorang pria wangi berkaus putih tak mau diakhiri. Ketukan pintu tetangga kos membuyarkan mimpi itu. Dorothea terpaksa bangun, mematikan alarm, lalu menghentikan ketukan di pintunya.
“Iya Vi, gue udah bangun nih!” Dorothea membuka daun pintu sedikit, agak kesal hingga membelalakkan matanya pada Vivy.
“Syukurlah…” Vivy melengos menuju ke dapur di lantai bawah. Kamar mereka berada di lantai 2.
“Eh, sekalian bikinin kopi dong buat gue!” Nada Dorothea seperti anak manja di rumahnya sendiri.
“Enak aja lo, bikin sendiri kali!” Vivy berteriak menuruni tangga.
“Hmm… berbaik hati sedikit kenapa sih, Vi!”

Dorothea selalu membutuhkan kopi di pagi hari agar otaknya melek. Tanpa roti atau menu sarapan lainnya. Maklum anak kos, bisa meminum kopi setengah mug saja sudah bagus. Entah bagaimana nasib lambungnya jika kebiasaan ini tetap dia lakukan.
Jam dinding kamar menunjukkan pukul 9.00. Kebiasaannya sebelum mandi adalah menyalakan netbook, log in di blognya dan memosting satu tulisan. Dia mengklik tweetdeck lebih dulu dan mulai membaca satu persatu mention untuknya, juga deretan timeline di sana. Dorothea memiliki 40,040 followers dan hanya memfollow sekitar 350 orang. Dia merasa dirinya keren memiliki banyak pengikut di twitter. Dia seorang penulis yang puitis, juga broadcaster di sebuah radio wanita di Bandung. Follower blognya pun cukup banyak karena mereka menyukai kisah-kisah patah hati dan beberapa puisi cinta yang mewarnai blognya. Ya, kisah cinta memang selalu disukai banyak orang. Tanpa pendengar, aku bukan siapa-siapa. Tanpa musik, hidupku akan hampa. Tanpa cinta, aku mungkin harus rela menderita. Namun, cinta dari pendengar setiaku membuat jiwaku hidup.

“Mana ya, kok Rully belum confirm tempat on air nih… Di studio atau di mall sih?” Dorothea mengangkat alis kanannya sambil matanya sibuk melihat-lihat timeline lagi. Fungsi jejaring sosial telah menggantikan posisi layanan sms atau telepon di handphone akhir-akhir ini. Dorothea lebih sering membuat janji dengan teman-temannya via facebook dan twitter. Sms yang masuk ke handphonenya jarang sekali dia gubris, kecuali sms dari pendengarnya atau tawaran job MC. Dorothea masih setia menggunakan handphone Siemens yang dimilikinya sejak mulai kuliah dulu, walau kaca pelindung LCDnya retak. Dia belum memiliki budget untuk membeli Blackberry. Dorothea mengambil mug kesayangan dan satu bungkus kopi instan di mejanya dan bergegas menuju dapur untuk menyeduhnya, karena Vivy tak mengabulkan permohonannya.

Suci, salah satu pendengarnya, sesekali mengirimi sms. Kadang menanyakan kabar pagi hari, sudah makan atau belum, bahkan memberitahu Dorothea kalau dia memimpikannya semalam. Hari itu Suci berjanji akan membawakan sepaket makan siang untuk Dorothea. Bagi Dorothea, ini seperti rejeki turun dari langit. Dia bisa menghemat budget makan siangnya hari itu. Walau tempat kos Dorothea sekitar satu jam perjalanan naik angkot dari rumah Suci, tapi demi bertemu sang penyiar pujaan, dia tetap pergi ke sana.
Sesampainya di pintu gerbang, Suci menelepon Dorothea.

“The, aku udah di depan gerbang kosan nih…”
“Masuk aja, aku di lantai 2.”
“Oke.”
Suci membuka pintu gerbang perlahan. Seorang ibu paruh baya dengan daster batik tengah menyapu dedaunan yang berserakan di sekitar halaman yang lumayan luas.
“Mau bertemu siapa Neng?” Ibu itu berhenti menyapu sejenak dan memandang ke arah Suci.
“Mau bertemu Dorothea, Bu. Di lantai dua kamarnya.”
“Neng, siapa?”
“Saya temannya.” White lies always be needed when we had a special occasion.
“Oh, iya. Silahkan, masuk aja lewat pintu sebelah sana. Nanti ada tangga ke lantai dua.” Raut muka ibu itu berubah 180 derajat, dari curiga dan jutek menjadi seratus persen ramah.

Peraturan di beberapa tempat kos memang terkadang ketat, demi keamanan dan kenyamanan sang pemilik kos juga penghuni kos itu sendiri.
“Terimakasih, Bu.” Suci menuju pintu kaca yang dimaksud. Persis di depan pintu, terlihat tangga. Tak lama, terdengar langkah seseorang menuruni tangga.
“Suci ya?” Suara merdu itu pernah Suci dengar di radio.
“Dorothea?” Senyum Suci merekah dan dirinya segera menghambur memeluk sosok penyiar pujaannya yang seorang Mollucan. Baju batik Bali jingga dan celana pendek biru, rambut keriting tergerai. Penampilan Dorothea benar-benar apa adanya.

“Akhirnya kita bertemu juga ya? Apa kabar?” Dorothea dengan keramahan yang sama seperti saat dia menyapa di on air. Suci berbinar dan sedikit berkaca-kaca mengatasi kegembiraan bertemu sang pujaan. Kedua mata Suci mengitari ruangan sekitar. Tempat kos itu bernuansa bohemian.

“Baik, terimakasih. The, aku bawa makan siang sesuai janjiku.” Suci menyerahkan bungkusan berisi nasi timbel, pepes ikan mas, sambal hijau, dan beberapa sachet cappucino.
“Terimakasih, Suci. Ngerepotin nih… Nanti kita gelar tikar aja di halaman belakang situ.” Dorothea menujuk ke halaman belakang hijau menghampar di kelilingi pohon cengkeh.
“Hey, boy!” Tiba-tiba seekor anjing Sheltie berbulu putih tebal menghampiri Dorothea. Tingginya sebatas perut orang dewasa. Dorothea mengelus bulu putihnya dengan penuh rasa sayang. Suci tergoda ingin mengelusnya juga.
“Nggak apa-apa nih, The?” Suci nampak ragu.
“Nggak apa-apa, pegang aja. Dia baik kok.” Dorothea memang penyuka anjing. Suci dengan tenang mengelus-elus bulu putih lembutnya. Sheltie itu nampak bersahabat.
“Boy, kamu main lagi di luar ya? Ayo, sana!” Dorothea menggiringnya keluar pintu dan dia menurut saja.
“Yuk, kita ke atas.” Mereka berdua meniti tangga perlahan menuju lantai 2.
“Ini dia kamarku. Maaf ya, berantakan nih, belum beres-beres. Pemalas soalnya. Hahaha…” Dorothea tertawa renyah.
“Ih The, enak banget viewnya ke arah situ ya?” Suci menunjuk ke arah jendela kaca dengan pemandangan halaman rumput di halaman belakang.

“Banget. Kadang kalo menjelang sore, aku melamun di sini sambil telungkup di atas kasur atau duduk di halaman situ sambil nulis.” Suci berjalan mengelilingi kamar itu. Ada beberapa note kertas warna-warni tertempel di pinggir cermin besar. Lalu dia melihat beberapa bingkai foto-foto Dorothea di meja.
“The, ini kamu yang pake kebaya putih?” Di foto berbingkai jingga itu, ada seorang gadis dengan senyum manis berkebaya putih, berponi lurus.
“Iya, itu aku, waktu wisuda.” Dorothea lulus D-3 Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD.
“Hah?! Kok beda banget ya… Rambutnya lurus. Hehe…”
“Teman kosku dulu iseng mencatok rambutku. Jadi lurus deh…”
“Kalo ini foto waktu jaman kecil?” Di antaranya tiga anak perempuan yang ada di foto itu, Suci memperhatikan anak paling kecil berbaju merah dengan senyum manis gigi ompong.
“Coba tebak, aku yang mana?”
“Kayaknya yang lagi nyengir ini deh…” Suci menunjuk gadis paling kecil.
“Yup! Benar!”
“Ternyata waktu kecil kamu begini ya? Hehehe…” Suci terkekeh dan menyadari bahwa setiap makhluk manis di dunia ini berevolusi. Dorothea hanya tersenyum. Manis, padahal belum tersentuh air mandi.
“Eh The, siaran kan hari ini?” Suci hapal benar jadwal on air Dorothea.
“Iya, jam 4. Nanti pergi jam 3. Tapi belum tahu di mana nih, di studio atau di mall. Produser acara belum ngetwit ke aku. Kayaknya siaran di studio nih…” Dorothea masih mengecek timeline.
“The, follow aku dong di twitter. Kayaknya kamu belum follow aku deh…”
“Udah bu, aku udah follow. Coba cek lagi deh…”
“Masa sih? Kok aku nggak ngeh ya?”
“Hmm… dasar ibu-ibu gaptek.” Canda Dorothea.
“Ya, nggak gaptek-gaptek amat lah, The. Aku kan bisa ngeblog juga.” Suci melihat-lihat beberapa buku yang ada di rak merah. Koleksi bacaan Dorothea cukup banyak dan beragam. Salah satunya adalah novel pemberian Suci, Message in the Bottle karya Nicholas Sparks.
“Aku suka baca-baca tulisan kamu di blog, Ci. Tapi nggak komen.” Dorothea asik dengan netbook yang dibelinya dari hasil memandu acara bergengsi di beberapa event. Dorothea membuka blog Suci dan memperhatikan beberapa judul tulisan yang telah diposting Suci. Dorothea membaca tulisan berjudul ‘Tentang bumbu masak.’
“Sehari-hari banget isinya.” Suci menyungging senyum.
“The, aku suka tulisan kamu yang judulnya The man in a white shirt di blogmu.” Dorothea menghela napas diiringi senyum kecil.
“Kayaknya tentang someone special nih…” Suci menggoda Dorothea.
“Nggak juga sih… kita dulu pernah dekat. Ada hal-hal yang bikin kangen dari dia, jadi aku tulis di sana.”
“The, anjing putih tadi punya siapa?
“Punya ibu kos.”
“Anjing itu kadang-kadang jahil. Suka ngumpetin sandal, tapi setia.” Dorothea mengucapkan hal itu dengan mantap. “Aku pernah nulis soal itu di blog. Udah baca belum?”
“Iya, udah. Jadi kamu lebih memilih dekat dengan Sheltie tadi daripada bersama seseorang?” Pertanyaan Suci ini benar-benar menohok Dorothea.
“Anjing itu setia pada Tuannya. Kalo pacar, belum tentu, Ci.”

Mereka memutuskan untuk segera makan siang, menuju halaman belakang. Saat Dorothea mencicipi pepes buatan Suci, responnya, “Hmm… pepesnya enak banget nih… bakal ketagihan deh aku.” Suci lumayan mahir memasak walau belum setaraf Farah Quinn. Makan siang bersama penyiar favorit menjadi pengalaman paling menyenangkan bagi Suci.
Setelah mereka selesai makan siang, Suci menunggu Dorothea mandi dan berpakaian. Dorothea memakai tanktop hitam bercorak bunga-bunga kecil, cardigan biru gelap, celana pendek jingga, rambutnya diikat dengan scarf jingga, dan terakhir flat shoes kuning. Riasan wajah hanya bedak dan lipgloss. Mereka pergi naik angkot bersama dengan tujuan masing-masing. Dorothea menuju radio Gee, Suci pulang ke rumah. Ongkos angkot dibayari Suci. Headsetnya telah siap di telinganya, mendengarkan radio Gee.

Ruang siaran, pukul 16.00 WIB
Dorothea mengecek playlist yang sudah disiapkan music director di komputer sebelum jam siarannya dimulai. Dia juga menyiapkan beberapa artikel yang akan dibahas on air di acara Day Break request. Cara, suara empuknya saat membawakan acara, dan tema obrolannya, dan playlist yang diperdengarkan, membuat pendengar terbius. Semakin hari, pendengarnya semakin bertambah.

90.9 Gee radio ‘Female dreamland station’… Selamat sore, listeners. Apa kabar sore ini? Oke banget pastinya ya, apalagi kalau ditemani Dorothea dan playlist cantik. So, silahkan request via sms di 08112233909 atau di Yahoo Messenger, gee909bdg@yahoo.com . Satu lagu pembuka dari India Arie ‘Chocolate high’ untuk Suci. Sekali lagi, terimakasih untuk makan siangnya yang enak. Enjoy!

Hal yang harus Dorothea lakukan di ruang siaran, selain menguasai mixer, dan melihat dua layar komputer digital, adalah menjawab YM dari pendengar yang meminta lagu. Suci menjadi semakin sering ‘mengganggu’ Dorothea di YM. Obrolan tentang cinta memang menjadi sebuah chemistry Dorothea dan Suci sejak mulai chat di Yahoo Messenger. Mungkin itu yang membuat Dorothea klik dengan Suci.
Dorothea ingin menjadi ibu rumahtangga dan penulis. Penyiar radio hanya profesi sementara agar tetap survive di kota perantauan, juga sebagai hiburan. Kegiatan mengajar public speaking pun dilakukannya di sebuah komunitas creative writing untuk menambah penghasilannya. Setidaknya, bisa ngafe seminggu sekali, membeli menu makan sederhana, dan membayar sewa kos per tahun mampu dia penuhi.

Setiap kali lagu “Home” dari Michael Buble menggema di ruang siaran, dia selalu merindukan Ambon, kampung halamannya, dan pantai indah Hunimea yang mampu membuatnya tenang, melupakan segala kepenatan hidup. Sosok Papa dan Mamanya seolah hadir di pelupuk mata. Terakhir dia pulang ke sana, Natal tahun lalu. Hal yang membuatnya gerah adalah sang Mama yang selalu menekannya menjadi pegawai negeri sipil. Dorothea merasa itu bukan jiwanya walau kesempatan itu bisa saja dengan mudah diraih di kota tempat kelahirannya.

Dia banyak belajar dari keadaan yang dia alami selama di Bandung. Sang Papa sangat mengerti karakternya dan memberikan kepercayaan sepenuhnya pada Dorothea. Terkadang Dorothea rindu kelakar Ayahnya. Kedekatan antara Ayah dan anak perempuannya tak akan tergantikan oleh apapun. Dorothea benar-benar akan memilih pasangan hidupnya yang mirip dengan sang Ayah. Laki-laki yang sederhana, mampu meluluhkan hatinya yang keras, dan memiliki tautan perasaan cinta yang kuat padanya menuju kebahagiaan yang selama ini ada dalam bayangan.

*sebuah cerpen untuk Lomba Cerpen Femina, Desember 2012.