365 days' Project, Februari, my journal

“Diary Yoga #1”

Resolusi utama saya di tahun 2017 ini adalah ingin lebih sehat.

Berawal dari terdeteksinya gejala kolesterol tinggi dan kadar asam urat tinggi di akhir tahun 2016. Dokter menyarankan agar STOP mengonsumsi daging, segala yang digoreng, kacang-kacangan, dan mengurangi makanan yang gurih. Saya hanya boleh memakan ikan (bukan sea food), sayuran, dan buah-buahan disertai dengan olahraga rutin.

Awalnya saya merasa tersiksa karena selama ini sudah terbiasa dengan pola makan ‘terserah apa mau saya’. Mengemil keripik dan teman-temannya juga masih dilakukan apalagi minuman kopi instan dan minuman manis lainnya. Namun saya mencoba ‘berunding’ dengan tubuh saya. Sampai saya pada keputusan ingin menjadi Vegetarian saja agar aman.

Setelah browsing mencari tahu tentang bagaimana menjadi Vegetarian, hati saya bertambah mantap. Selain karena harus memperhatikan pola makan rendah lemak, saya ingin mendisiplinkan diri sendiri untuk mengubah kebiasaan makan yang buruk menjadi pola makan yang lebih sehat. Akhirnya saya membeli buku tentang Vegetarian agar lebih paham tentang kebutuhan tubuh saya. Setelah membaca dengan saksama, saya termasuk tipe Vegetarian Ovo (tidak mengonsumsi daging dan produk olahan hewani termasuk susu, keju, tetapi masih mengonsumsi putih telur sesekali).

Buku "I am A Happy Vegetarian" karya Karina Padmasuri, penerbit Octopus Publishing House.
Buku “I am A Happy Vegetarian” karya Karina Padmasuri, penerbit Octopus Publishing House. (foto : dokumen pribadi)

Dua minggu pertama, saya sangat memperhatikan asupan makanan. Meminimalsir minyak yang terkandung dalam masakan, menghentikan penggunaan bumbu penyedap (MSG), lebih mengontrol keinginan ngemil makanan ringan yang kurang sehat dan memilih lebih banyak menyediakan buah-buahan untuk stok camilan. Sebulan saya konsisten dengan pola makan ala vegetarian tanpa mengonsumsi telur dan susu. Gejala-gejala asam urat seperti kepala pusing, pegal di area tubuh sebelah kiri terutama pundak, pergelangan tangan dan telapak kaki mulai berkurang. Terkadang kambuh jika saya salah makan. Saya juga berusaha mendetoks tubuh dengan berpuasa seminggu dua kali. Praktis setelah dua bulan berdiet, berat badan susut hingga 6 kg (dari 67kg – 61kg).

Tubuh pun mulai terasa ringan, keringat tidak terlalu membanjir kecuali saat berolahraga saja. Pola diet ini saya bantu juga dengan latihan fisik (berjalan kaki, lari, dan Yoga). Jadi dalam seminggu bisa 3 atau 4 kali berolahraga dengan intensitas bervariasi tergantung kesanggupan tubuh. Setelah rutin mengikuti jadwal Yoga seminggu sekali, saya merasa tubuh semakin fit dan otot-otot tubuh lebih fleksibel. Bonusnya kemudian berat badan turun lagi hingga di angka 58kg.

 

Saya juga mulai memvariasikan menu makan sehari-hari. Saat kangen dengan makanan yang digoreng, saya lebih memilih minyak zaitun atau minyak canola untuk menumis atau menggoreng. Tentu harganya lebih mahal dibanding minyak sawit biasa. Tetapi saya tidak mau mengambil risiko penyakit saya kambuh gara-gara urusan minyak. Demi kesehatan saya pilih yang lebih aman.

Perlahan tubuh menyesuaikan dirinya sendiri dengan ritme yang saya lakukan. Saat memakan sesuatu yang mengandung pemanis berlebih, lidah rasanya menjadi kurang ramah, atau saat tidak olahraga rasanya lemas beraktivitas di rumah. Sejak saya mengikuti kelas Yoga, manfaatnya mulai terasa setelah empat kali pertemuan. Setiap orang tentu akan mengalami reaksi yang berbeda setelah ber-Yoga. Konsultasi pada guru Yoga sangat diperlukan sebelum, selama melakukan, dan setelah latihan karena gerakan Yoga pada dasarnya sangat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan seseorang.

Saya berencana tiga bulan pertama ini (Januari-Maret) akan konsisten dengan 4 kali pertemuan per bulan. Mungkin nanti intensitasnya akan ditingkatkan menjadi 6-8 kali pertemuan sebulan. Tujuan awal ber-Yoga hanya untuk menjaga kebugaran tubuh tetapi semakin hari semakin termotivasi untuk jauh lebih baik dari sekadar bugar. Yoga memberi saya ruang untuk lebih sayang pada tubuh, membantu untuk lebih fokus, relaksasi, mengusir kejenuhan dan belajar bersabar juga menyeimbangkan jiwa raga dalam hubungan dengan rasa syukur pada Allah SWT.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai Yoga akan saya bagikan di tulisan selanjutnya, “Diary Yoga #2”.

 

my journal, September

Sekolah Kece untuk Masa Depan Kece

Kamu bingung milih sekolah yang tepat supaya dapat pekerjaan dengan cepat? Atau nyari kampus yang fasilitasnya lengkap dan nggak bakalan mikir dua kali untuk daftar jadi mahasiswa di sana?

Dulu, saya juga sempat mengalami hal kayak gitu. Banyak sekali sekolah tinggi dan universitas di Bandung yang menawarkan berbagai fasilitas yang mereka miliki. Saya sempat mencari-cari informasi terlebih dulu sebelum mendaftarkan diri sebagai mahasiswa. Mulai dari brosur, informasi dari teman-teman, dan beberapa rekomendasi sanak saudara.

Waktu itu, pilihan saya jatuh pada sebuah sekolah bahasa asing karena minat saya memang di sana. Saya pikir kalau saya belajar lebih dalam tentang bahasa Inggris harus pada tempat yang tepat. Terlebih lagi kampus saya ini memang memiliki fokus utama pada bidang kepariwisataan.

Sempat terbersit dalam benak saya, mungkin suatu hari nanti saya bisa bekerja di travel agency atau bidang-bidang lain yang berhubungan dengan bidang studi saya. Ternyata bahasa Inggris itu mencakup bidang pekerjaan yang sangat luas.

Berkaitan dengan bahasa Inggris dan hal-hal berbau pariwisata, saya jadi ingat perkenalan dengan salah seorang penyiar radio Hard Rock FM Bandung, Faisal Hasan. Ternyata latar belakang sekolahnya tidak jauh dari dua hal tadi. Setelah cukup lama menjadi penyiar radio, dia kini menjalani profesi sebagai tour guide di Pleasant Tour, Kuta, Bali. Sebelumnya dia juga sempat menjalankan bisnis kuliner dan produk Pastry. Setelah saya kepoin, dia ternyata lulusan dari NHI (Enhaii) yang sekarang bernama Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.

“Pantesan, English-nya oke pisan, ramah pula,” batin saya.

Rabu siang yang lalu, 31 Agustus 2016, saya dan teman-teman komunitas Blogger Bandung, berkesempatan mengunjungi kampus si penyiar itu. Ketika tiba di jalan Setiabudi No.186, memasuki pintu gerbang kampus megah itu, auranya terasa berbeda dibandingkan kampus lain. Kesan pertama, nyaman dan ramah.

Setiap kali berpapasan dengan para mahasiswa yang terlihat kece berseragam rapi plus wangi di lorong kampus, mereka menyapa saya,“Siang,bu,” dengan senyuman.

“Ah, saya dikira dosen kali, ya? Kok pada ramah gini, sih?” pikir saya.

Dua mahasiswa STP Bandung sedang berjalan di lorong gedung Ciremai. (foto : dokumen pribadi)
Dua mahasiswa STP Bandung sedang berjalan di lorong gedung Ciremai. (foto : dokumen pribadi)

 

Ternyata, kege-eran saya itu sirna saat tahu bahwa di sekolah ini benar-benar memegang kebiasaan ‘Being professional has to be in “Good Grooming, good attitude, good knowledge”.’

Kekaguman saya bertambah saat berkeliling kampus selepas acara perkenalan di gedung Ciremai lantai 6.

Gedung Ciremai (foto : dokumen pribadi)
Gedung Ciremai
           (foto : dokumen pribadi)

 

Saya dan teman-teman Komunitas Blogger Bandung di lobby gedung Ciremai. (foto : dokumen pribadi)
Saya dan teman-teman Komunitas Blogger Bandung di lobby gedung Ciremai. (foto : dokumen pribadi)

Dua mahasiswa jurusan Manajemen Pengaturan Perjalanan, mas Hindami, yang ramah, dan mbak Martina yang cantik, memandu kami melihat-lihat area kampus.

Mas Hindami (kanan) & Mbak Martina (kiri), mahasiswa jurusan Perjalanan (program studi Manajemen Pengaturan Perjalanan). (foto : dokumen pribadi)
Mas Hindami (kanan) & Mbak Martina (kiri).
        (foto : dokumen pribadi)

Sekolah tinggi pariwisata yang lebih dikenal dengan nama NHI (eNHaii) ini telah 54 tahun berdiri dan mendapatkan berbagai penghargaan. Kampus ini dibawah naungan Kementerian Pariwisata. Kini, bapak Drs. Anang Sutono,MM.Par.,CHE, menjadi ketua Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung.

Kampus yang luas ini menyediakan fasilitas lengkap. Mulai dari gedung-gedung yang bertemakan nama-nama gunung, dome (fasilitas olahraga), perpustakaan, kafe, coffee shop, bar, restaurant, dan laboratorium sesuai bidang studi, gedung serbaguna dengan kapasitas besar.

Denah Kampus STP Bandung (foto : dokumen pribadi)
Denah Kampus STP Bandung
                                                                      (foto : dokumen pribadi)

Kenyamanan kampus dan fasilitas penunjang yang baik menurut saya adalah dua hal paling penting untuk tempat belajar. Sekolah ini memiliki keduanya. Terbukti setelah saya berkeliling kampus bersama teman-teman Blogger Bandung. Semua fasilitas tersedia sesuai dengan program bidang studi yang diikuti para mahasiswa.

Dome STP Bandung (gedung olahraga). (foto : dokumen pribadi)
Dome STP Bandung (gedung olahraga).
                                               (foto : dokumen pribadi)

Saat sesi pengenalan kampus, Bapak Dony Riyadi,MM.Par, selaku Kepala Unit Komunikasi Publik (Humas) memaparkan bahwa di STP Bandung memiliki jurusan utama, yaitu Hospitaliti, Perjalanan dan Kepariwisataan, serta program studi pasca sarjana. Masing-masing jurusan memiliki program studi setingkat D3, D4, dan S1.

Bapak Dony Riyadi,MM.Par, Kepala Unit Komunikasi Publik. (foto : dokumen pribadi)
Bapak Dony Riyadi,MM.Par, Kepala Unit                 Komunikasi Publik.
           (foto : dokumen pribadi)

Berikut ini program studi yang ada di setiap jurusan :

Jurusan Hospitaliti

  1. Studi Akomodasi & Katering (SAK) – S1
  2. Administrasi Hotel (ADH) – D4
  3. Manajemen Divisi kamar (MDK) – D3
  4. Manajemen Tata Hidang (MTH) – D3
  5. Manajemen Tata Boga (MTB) – D3
  6. Manajemen Patiseri (MPI) – D3

Jurusan Perjalanan

  1. Studi Industri Perjalanan (SIP) – S1
  2. Manajemen Bisnis Perjalanan (MBP) – D4
  3. Manajemen Pengaturan Perjalanan (MPP) – D4
  4. Manajemen Bisnis Konvensi & Event (MBK) – D4

Jurusan Kepariwisataan

  1. Studi Destinasi Pariwisata (SDP) – S1
  2. Manajemen Destinasi Pariwisata (MDP) – D4
  3. Manajemen Bisnis Pariwisata (MBW) – D4

Kami sempat melihat langsung kegiatan di jurusan Hospitaliti, yaitu tempat praktik program studi Manajemen Tata Hidang (MTH), Manajemen Tata Boga (MTB), dan Manajemen Patiseri (MTP).

Di ruang kafe, para mahasiswa melakukan praktik bagaimana menghidangkan makanan yang telah dibuat oleh para mahasiswa program Pastry (Patiseri) dan minuman ringan.

Kafe Kampus (foto : dokumen pribadi)
Kafe kampus (foto : dokumen pribadi)

 

Para mahasiswa yang sedang bertugas di kafe. (foto : dokumen pribadi)
Para mahasiswa yang sedang bertugas di kafe. (foto : dokumen pribadi)
Menu pilihan jus buah di kafe. (foto : dokumen pribadi)
Menu pilihan jus buah di kafe. (foto : dokumen pribadi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Makanan dan minuman yang tersedia di kafe adalah hasil karya para mahasiswa program studi Tata Boga dan Pastry. Semua produknya dijual dengan harga terjangkau, mulai Rp 5.000,00. Siklus distribusi hidangan yang dibuat adalah dari mahasiswa untuk mahasiswa.

Mahasiswa semester awal akan mendapatkan bimbingan kakak kelasnya dalam pengawasan dosen. Mereka pun secara bergantian saling memahami teori dan praktik dalam bidang studi yang mereka pelajari juga memberi masukan atas apa yang sudah mereka kerjakan. Sebagai contoh, mahasiswa Tata Boga menyajikan hasil karya mereka pada mahasiswa lain agar mencicipi langsung.

Nama Restoran

 

Bar yang menyediakan minuman ringan. (foto : dokumen pribadi)
Bar yang menyediakan minuman ringan. (foto : dokumen pribadi)
Kegiatan Praktikum Mahasiswa di restoran. (foto : dokumen pribadi)
Kegiatan Praktikum Mahasiswa program studi Manajemen Tata Hidang (MTH). (foto : dokumen pribadi)

 

Contoh Penataan Alat Makan di Meja Restoran FIne Dining. (foto : dokumen pribadi)
Contoh Penataan alat makan di meja restoran fine dining.
                                                                 (foto : dokumen pribadi)

 

Bar di restoran fine dining. (foto : dokumen pribadi)
Bar di restoran fine dining. (foto : dokumen pribadi)
Outdoor view di restoran (foto : dokumen pribadi)
Outdoor view di restoran (foto : dokumen pribadi)

 

 

 

 

 

 

 

View dari jendela restoran (foto : dokumen pribadi)
View dari jendela restoran (foto : dokumen pribadi)

 

Dapur (Tata Boga)
Dapur (Tata Boga)  (foto : dokumen pribadi)

 

Dapur restoran (foto : dokumen pribadi)
Dapur restoran
     (foto : dokumen pribadi)
Ruang Baking (foto : dokumen pribadi)
Ruang Baking
                                   (foto : dokumen pribadi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Coklat putih berbentuk menara Eiffel, salah satu karya mahasiswa program studi Pastry. (foto : dokumen pribadi)
Coklat putih berbentuk menara Eiffel, salah satu karya mahasiswa program studi Pastry.
(foto : dokumen pribadi)
Macam-macam roti (foto : dokumen pribadi)
Macam-macam roti
(foto : dokumen pribadi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kami juga mengunjungi ruang kelas jurusan Perjalanan, program studi Manajemen Pengaturan Perjalanan (MPP). Di sana, mas Hindami memperlihatkan ruang Galileo, tempat belajar mahasiswa dengan fasilitas komputer, in focus, dan audio visual. Salah satu materi yang mereka pelajari adalah bagaimana memproses sistem ticketing untuk perjalanan. Program studi ini mengarahkan mahasiswa pada bidang pekerjaan tour consultant (konsultasi perjalanan) dengan mata kuliah mempelajari hal-hal yang berkaitan pembuatan paket tour perjalanan dan belajar menjadi tour guide (pemandu wisata). Selain itu pembelajaran bahasa asing seperti bahasa Inggris, Mandarin dan Perancis juga ada dalam mata kuliahnya.

 

Ruang Galileo, tempat belajar mahasiswa MPP. (foto : dokumen pribadi)
Ruang Galileo, tempat belajar mahasiswa MPP. (foto : dokumen pribadi)

 

Ruang demo penumpang (foto : dokumen pribadi)
Ruang demo penumpang (foto : dokumen pribadi)

Bagi mahasiswa yang memiliki hobi dan bakat di bidang olahraga dan musik, STP Bandung menyediakan wadah yang lengkap, termasuk kegiatan di bidang kerohanian. Sekelumit kegiatan mahasiswa yang ditampung dalam sebuah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM), dijelaskan oleh perwakilan dari Senat Mahasiswa (SEMA) STP Bandung.

Perwakilan Senat Mahasiswa STP Bandung sedang menjelaskan berbagai kegiatan mahasiswa di kampus dan luar kampus. (foto : dokumen pribadi)
Perwakilan Senat Mahasiswa STP Bandung sedang menjelaskan berbagai kegiatan mahasiswa di kampus dan luar kampus. (foto : dokumen pribadi)

Berikut ini sebagian penampilan klub hobi di UKM STP Bandung :

Grup angklung ini tampil di pembukaan acara pengenalan kampus STP Bandung di gedung Ciremai, lantai 6 dengan membawakan lagu daerah, lagu barat, dan lagu ‘Kopi Dangdut’.

Grup angklung & arumba
Grup Angklung STP Bandung (foto : dokumen pribadi)

 

Penampilan Modern Dance mahasiswa STP Bandung. (foto : dokumen pribadi)
Penampilan Modern Dance mahasiswa STP Bandung.
                                                             (foto : dokumen pribadi)

 

NBC 2

 

Atraksi NBC (eNHaii Bartender Club). (foto : dokumen pribadi)

 

NBC 3 (lempar)
Atraksi NBC (eNHaii Bartender Club)                                                                                                                          (foto : dokumen pribadi)

Kegiatan mahasiswa yang ada di STP Bandung telah menghasilkan beberapa penghargaan tingkat nasional maupun internasional.

Melihat sekolah dengan segala fasilitas kece tentu erat kaitannya dengan biaya kuliah. Mahal atau murah itu sangat relatif, tetapi dengan biaya kuliah sebesar 12 juta rupiah, saya pikir sepadan dengan kualitas pendidikannya. Jumlah tersebut mencakup biaya pendaftaran, baju seragam, dan biaya praktikum (belum termasuk biaya program studi). Terlebih lagi jaminan masa depan yang cerah akan terlihat jelas di depan mata karena bidang kepariwisataan semakin ke depan semakin menjadi primadona di berbagai belahan dunia. Hal itu sesuai dengan slogan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung :

Marching Forward to a World-Class Tourisme Standard”.

STP Bandung juga menjalin kerjasama dengan beberapa donatur untuk program bantuan dana pendidikan bagi mereka yang berprestasi atau kurang mampu. Jadi selalu ada jalan bagi mereka yang ingin meraih masa depan yang lebih baik.

Bayangkan jika kamu atau kerabatmu suatu hari nanti menjadi chef andal yang bekerja di luar negeri, pemilik agen travel domestik dan international, pegawai profesional di hotel terkenal, atau bekerja di restoran kapal pesiar yang menjelajah berbagai belahan dunia. Menyenangkan bukan? Apapun profesimu nanti, tentu harus dicapai dengan usaha keras. Langkah awalnya adalah memilih tempat belajar yang tepat.

Saya merekomendasikan Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung ini karena mengarah pada pencapaian profesionalisme bidang kepariwisataan, khususnya pariwisata Indonesia, sejalan dengan program ‘Wonderful Indonesia’ yang sedang gencar dipromosikan oleh Kementerian Pariwisata.

Screenshot laman situs STP Bandung
Screenshot laman situs STP Bandung

Informasi lengkap tentang Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung bisa dilihat di : http://www.stp-bandung.ac.id

Telepon : (022) 222011456 Fax : (022) 222012097, alamat kampus : Jl.Dr.Setiabudi No.186 Bandung 40141.

Foto bersama komunitas Blogger Bandung dan pengurus STP Bandung. (sumber foto : laman Facebook STP Bandung)
Foto bersama komunitas Blogger Bandung dan pengurus STP Bandung.
                                   (sumber foto : laman Facebook STP Bandung)
365 days' Project, Media Cetak

Cerpen Kedua “Opor Minang Mama” (dimuat di Majalah Femina no.26/XLVI – 25 Juni-1 Juli 2016)

 

Cover Majalah Femina No.26 & ilustrasi Cerpen
Cover Majalah Femina No.26 & ilustrasi Cerpen (dokumen pribadi)

 

Alarm ponsel membangunkanku. Aku meraba-raba ke atas nakas di sisi tempat tidurku. Beberapa kali ku mengerjapkan mata agar jelas melihat layar ponsel. Pukul 04.30. Ikon dismiss kusentuh.

Aku bangkit dan melemaskan otot punggungku. Kepalaku terasa berat. Semalam tidur terlalu larut. Bu Wina, atasanku, memintaku membuat format power point untuk presentasi produk asuransi di sebuah lembaga pendidikan besok. Pengerjaannya membuatku lama berada di depan laptop.

Segera ku menyegarkan diri ke kamar mandi. Aroma dadar telur plus mentega menguar hingga ke kamarku di lantai atas. Mama sangat memanjakanku. Selain menyiapkan sarapan, wanita tangguh itu selalu membekaliku makan siang untuk di kantor. Sampai-sampai teman-teman staf di kantor meledekku karena aku seperti anak TK yang selalu membawa bekal. Namun sesekali aku turut makan siang bersama mereka ke luar kantor.

Kafie, rekan kerja di divisi pemasaran yang sedang dekat denganku, penasaran ingin mencicipi masakan opor ayam bumbu Minang yang kubawa hari ini. Setelah satu suapan besar ke mulutnya, dia tak berkata apapun selain acungan jempol.

Keesokan harinya, Kafie membocorkan pengalamannya pada Bu Wina. Beliau tiba-tiba memesan opor padaku.

“San, Kafie bilang, opor yang kamu bawa enak banget.”

“Biasa saja, Bu.” Aku tersenyum tipis.

“Gimana kalau itu jadi salah satu menu untuk berbuka puasa minggu depan?”

Kantorku biasanya mengadakan buka puasa bersama di minggu pertama bulan Ramadhan. Awalnya aku ragu apakah Mama sanggup memasak sebanyak itu. Ada tigapuluh orang personil di kantorku termasuk para agen marketing. Kalau aku yang memasak, belum tentu seenak buatan Mama.

Mama selalu menerima pesanan masakan apapun dari para tetangga selain berjualan lontong opor Minang di warung setiap hari. Beberapa masakan khas Minang juga tersedia. Sejak memutuskan pensiun dini, Mama menikmati kegiatannya menggeluti bisnis kecil ini. Ruangan bekas garasi mobil, kami sulap menjadi warung makan yang nyaman. Penghasilannya lumayan bisa membantu biaya kuliahku hingga selesai.

***

“Ma, kantorku mau pesan opor ayam untuk buka puasa bersama sabtu nanti.”

“Opor pedas bumbu Minang?” tanya Mama sambil membenahi daster batiknya.

“Iya. Porsinya kira-kira untuk tiga puluh orang.”

“Boleh. Tapi gimana caranya mengantar dua panci besar opor itu nanti ke kantor kamu? Harus diangkut pakai mobil, kan?”

“Mm…minta tolong Bang Azwar aja.” Aku tersenyum mobil van kakakku.

“Ya, mudah-mudahan Abangmu nggak ke mana-mana pas hari ‘H’.”

“Nanti aku telepon Bang Azwar, Ma.”

***

Sebelum beranjak tidur, kuambil ponselku dan langsung menyentuh nama Bang Azwar di phone contact.

“Bang, aku mau minta tolong bawa pesanan opor untuk kantorku, sabtu besok.”

“Abang enggak janji, San. Kadang bos Abang suka mendadak menelepon suruh jemput barang. Nanti Abang kabari lagi.”

Aku menutup koneksi ponsel dan memutar otak. Apa ada alternatif angkutan jika Bang Azwar tak bisa mengantarku. Segala sesuatu harus siap agar di hari ‘H’ tidak kelimpungan.

Aku teringat Kafie. Ah, pasti dia keberatan membawa panci sebesar itu. Kalau kuahnya tumpah, dia bakal bete sama aku. Jazz hitamnya itu sangat terawat. Noda setitik pun jadi masalah.

***

Aura bulan pengampunan telah terasa. Beberapa tetangga kompleks perumahan menggelar meja yang menjual penganan khas Ramadan. Mama pun menambah berbagai macam takjil di warung. Mulai dari puding buah, jelly, dan aneka kolak. Pembeli yang rata-rata remaja biasanya mulai menyemut sambil menanti azan magrib.

Mama lumayan sibuk melayani pembeli di hari pertama puasa. Aku membantunya jika kebetulan pulang cepat dari kantor dan di akhir minggu. Aku mengingatkan Mama bahwa tiga hari lagi opor pesanan kantor harus dibuat. Bu Wina sudah memberikan dananya padaku dua hari lalu.

“Santi, kamu harus bisa memasak. Dulu, Mama diajarkan memasak oleh Nenekmu. Mulai dari membuat kue jajan pasar, sayur bening, sampai masakan bersantan.” Ujar Mama sambil mewadahi kolak candil ke plastik.

“Aku enggak ada waktu, Ma. Pulang kerja udah capek. Hari libur, ya pengin leyeh-leyeh.”

“Kamu itu perempuan. Sesibuk apapun kamu, memasak untuk keluarga itu kewajiban. Suami akan lengket sama kamu kalau kamu pintar masak.”

Kalimat Mama ini menyudutkanku. Aku wanita dua puluh tujuh tahun, belum berkeluarga dan malas memasak. Apa kata dunia jika calon suamiku tahu? Apakah Kafie mau menikahiku kalau ternyata aku nggak bisa memasak? Salah satu kriteria wanita idaman Kafie adalah pintar memasak.

Ingatanku melayang ke beberapa tahun lalu saat Papa masih hidup. Mama selalu menyempatkan memasak masakan lezat untuknya. Sesibuk apapun Mama, selalu wajah ceria yang beliau perlihatkan pada Papa. Apa aku bisa seperti Mama? Ketulusan hati Mama merasuk ke masakannya hingga membuat Papa semakin mencintainya.

***

Mama tiba-tiba mengeluh sesak napas dan pusing sepulang berbelanja dari pasar. Aku membereskan bungkusan yang dibawa Mama. Di dalamnya adalah bahan-bahan untuk membuat opor. Aku menuntun Mama ke kamarnya dan menyuruhnya berbaring.

“Ma, aku nggak jadi pergi kerja. Aku mau temani Mama.” Hatiku mendadak nyeri melihat Mama seperti ini. Aku takut Mama seperti bulan lalu. Tekanan darahnya naik, asmanya kambuh, dan kedua kakinya dingin. Waktu itu, aku mengira Mama akan dipanggil Tuhan.

“Kamu pergi saja, Mama nggak apa-apa. Mungkin terlalu capek, nanti juga baikan. Mama perlu minum obat saja.”

“Aku saja yang masak opor, ya, Ma.” Entah kekuatan apa yang mendorongku untuk melakukannya. Aku bisa saja membatalkan pesanan pada Bu Wina. Tapi aku tidak mau mengecewakan Bu Wina dan Mama.

“Kamu yakin?” kata Mama sambil berusaha mengatasi rasa sakitnya.

Aku mengangguk lalu membenahi bantal Mama. Beliau menunjukkan resep opor bumbu Minang di laci mejanya. Aku membacanya dengan teliti. Praktiknya pernah kulihat setiap hari.

Setelah memberi obat dan memastikan Mama tertidur, aku melangkah ke dapur. Aku menelepon Bu Wina terlebih dulu dan meminta ijin tidak ke kantor karena harus memasak. Aku berjanji padanya sore nanti membawa opor itu segera.

Dapur mungil ini, tempat aku bercerita pada Mama tentang pacar pertamaku, kegelisahanku sebagai wanita dewasa. Juga tentang Kafie yang terlalu perhatian padaku.

Peralatan memasak yang komplit milik Mama seakan menjadi saksi bisu perjuangan Mama untuk anak gadisnya. Aku masih ingat saat SMA, terpaksa memasak sup ayam karena Mama tak sempat lalu pergi ke kantor. Mama telah menyediakan bahan-bahannya di kulkas dan memberiku instruksi langkah-langkah memasak sup sebelum pergi.

Papa memujiku karena memasak sup dengan kuah yang banyak. Papa tidak berkomentar apapun, mungkin takut merusak suasana hatiku. Saat Mama pulang, beliau mencicipi sup itu. “Kurang garam dan gula sedikit. Kuahnya terlalu banyak,” katanya. Mama tetap memujiku sambil membelai rambutku,“Gadis Mama sudah bisa memasak.” Walau supnya kurang enak, aku cukup bangga karena ini hasil masakan perdanaku.

Aku tak mampu membayangkan bagaimana jika Mama yang lebih dulu dipanggil Tuhan. Berat rasanya. Ditinggal Papa pun rasanya perih. Pasti aku akan selalu merindukan setiap olahan masakan dari tangan hangat Mama yang lembut. Kali ini, aku akan mencoba memasak opor ayam bumbu Minang untuk Mama dan orang-orang di kantor.

Ya, memasak memang membutuhkan latihan berulang-ulang dan ketulusan hati. Mama bilang, jika kita sedang tidak mood, masakan yang kita buat tak enak rasanya. Beda tangan akan berbeda rasanya. Jika dulu dalam keadaan terdesak aku bisa, mengapa sekarang tidak.

Aku melirik ke arah bawang putih dan bawang merah lalu mengupasnya beberapa siung sesuai resep. Jintan, ketumbar, jahe, daun salam, serai, dan santan, kukeluarkan dari bungkusan. Ayam kampung yang sudah dipotong-potong, kucuci bersih. Aku mencoba mengingat langkah pertama yang pernah Mama lakukan. Ayamnya harus digoreng sebentar. Jangan terlalu matang. Mama bilang, cara ini agar daging ayam tidak benyek saat direbus dengan santan nanti. Terlebih jika menggunakan ayam negeri.

Minyak goreng kupanaskan di wajan besar secukupnya. Kumasukkan satu persatu potongan ayam tadi. Semua bumbu dasarnya kuulek di atas cobek agar lebih baik hasilnya daripada dihancurkan dengan blender. Itu anjuran Mama. Cita rasa masakan akan berbeda.

Bumbu ini seolah memberiku makna bahwa proses memasak mirip dengan proses jatuh bangunnya Mama membesarkanku dan Bang Azwar saat Papa tiada. Setiap bahan dasar yang kusatukan di cobek harus berbaur dengan baik hingga menjadi bumbu opor yang sempurna. Bahan dasar dari ketulusan Mama menjalani tahap kehidupan adalah kesabaran dan kesungguhan yang menyatu hingga menghasilkan pribadi yang tahan banting.

Aku mengangkat ayam lalu menggoreng beberapa potong lainnya hingga semuanya selesai. Minyak bekas ayam tadi kupindahkan dan kusisakannya sedikit untuk menumis bumbu. Aku melangkah mendekati kulkas dan membuka pintunya. Yes! Daun jeruk. Ini rahasia wanginya opor ayam Minang Mama. Walau daun salam juga berfungsi sebagai pewangi masakan, namun Mama selalu menambahkan daun jeruk di setiap masakan bersantan. Hasilnya aroma daun jeruk menggoda hidung.

Kutumis bumbu halus tadi plus daun jeruk. Mama biasanya menambahkan cabai keriting merah giling. Aku membuka tas plastik dan mencari-cari bungkusan cabai merah giling. Ah, ini dia.

Aroma wangi bumbu mulai memenuhi ruangan dapur. Mama pernah bilang, jika sudah terlihat agak pekat tumisan bumbunya, segera masukkan potongan ayam yang sudah digoreng tadi. Jangan sampai bumbunya gosong. Aduk rata supaya bumbu meresap ke dalam daging ayam.

Kutuangkan santan sambil mengaduknya. Peluhku mulai membayang di pelipis karena uang panas dan rasa gugupku. “Ternyata memasak itu butuh kekuatan fisik,” gumamku. Tak heran jika profesi chef lebih didominasi pria.

Aku melirik jam dinding. Pukul 9.15. Syukurlah masih banyak waktu. Keringat kian membanjir. Kubiarkan kuah santan mendidih. Sesekali aku mengaduknya seperti yang biasa Mama lakukan. Sedetik kemudian, aku ingat kapulaga. Aku mengambilnya di toples dan memasukkannya ke dalam panci setelah kumemarkan. Oporku akan bercitarasa lebih tajam dan memikat penciuman orang-orang hingga berselera mencicipinya.

Aku teringat keadaan Mama. Kutengok celah pintu kamarnya. Mama masih terpejam. Aku kembali ke dapur. Tiba-tiba lagu Maroon 5 “Animal” dari ponselku terdengar. Kuraih ponselku di meja dapur. Di layar tertera nama Kafie.

“Mama enggak enak badan, Fie. Jadi aku yang masak opor untuk pesanan kantor.”

“Serius? Wah, aku nggak sabar pengin segera mencicipi. Mau aku jemput enggak?”

Seperti gadis kecil yang mendapatkan kado kejutan, aku sangat senang dengan tawaran Kafie. Aku memintanya menjemputku pukul tiga.

Aku kembali fokus ke wajan opor dan bertanya-tanya berapa lama merebusnya. Biasanya Mama mencuil daging ayam untuk mengecek keempukannya. Kuaduk lagi pelan kuahnya. Aroma bumbu yang berpadu dengan kapulaga meluruhkan air liurku di dinding mulut.

Resah masih berteman denganku. Setengah jam kemudian, kucuil daging ayam dengan ujung susuk. Belum empuk. Kuputar mp3 player ponsel agar sejenak keresahan sirna. Tepat di saat suara Ellie Goulding menyanyikan lirik ‘How long will I love you… as long as star above you and longer if I may’. Opor ayam sebentar lagi matang sempurna.

Taburan bawang goreng di sentuhan akhir akan membuat opor ini sangat cantik, pikirku. Aku mengambil toples bawang goreng di lemari. Seandainya Papa melihat ini, beliaulah yang pertama mencicipi ini.

Tanpa kusadari, Mama sudah berdiri di mulut pintu dapur.

“Karena Mama hari ini tidak berpuasa, silakan mencicipi,”  ujarku sambil memegang lengannya lalu melangkah ke depan wajan.

Dadaku bergemuruh saat bibir Mama menyentuh ujung sendok. Beliau mengecap rasanya.

“Opor ayam bumbu Minang ala Santi, lamak bana[1].”

Genangan kecil menghangat di kelopak mataku.

*****

[1] Lamak bana (Bahasa Minang) : sangat lezat

 

Cerpen ini terinspirasi dari masakan almarhum mama. Ada beberapa hal yang saya kaji dari filosofi hidup melalui masakan opor khas Minang. Kisah tokoh dalam cerpen ini tidak sepenuhnya pengalaman pribadi namun saya mencoba meraciknya seperti kisah yang mungkin pernah terjadi dalam kehidupan seorang wanita.

Sebetulnya kabar cerpen ini akan dimuat sudah saya terima via emali sejak akhir tahun 2015. Email tersebut mengabarkan bahwa cerpen akan dimuat di antrean majalah edisi bulan Februari – Maret 2016. Namun ternyata jawaban email dari saya terselip dan editor mengabari saya lagi bahwa cerpen ini terbit di akhir bulan Juni 2016. Jadi, total masa tunggunya 1 tahun.

Naskah memang akan menemukan jodohnya sendiri. Tepat aura ramadan sangat pas dengan nuansa cerpennya. Semoga saya bisa mengolah ide lain untuk cerpen berikutnya dan tentu saja berjodoh lagi dengan media cetak yang keren, majalah Femina. Terimakasih sudah membaca cerpen saya. Give me your comment, please. 😉

celebrating poetry, puisiku

Suatu Pagi di Jendela

image

Pagi ini terasa sunyi
Walau hadir tangis bayi yang baru lahir
Pagi ini ku memanggil Ibu
Walau nalar ini tersadar Ibu tak ada di kamar

Tatapku menerawang bingkai jendela
Setitik air mata mengundang kerinduanku padamu
Apakah kau melihatku di sini, Bu?
Apakah kau tahu aku sedang mengingat hangat jemarimu?
Apakah kau melihat cucu mungilmu di rumahmu?

Mungkin dia mampu melihatmu dalam tangis
Mungkin dia tahu kau sedang tersenyum di tempat ku berdiri

Suatu pagi di jendela kamar ini
Selalu ku mengingatmu, Ibu

(14 April 2016, 09.20 wib)

*untuk alm. Mama Ieke Widhyati Arifien*

Resensi

Review Film “Aach…Aku Jatuh Cinta”

poster film AAJC

Awal ketertarikan saya menonton film ini adalah saat menyaksikan bintang tamu di acara Sarah Sechan. Pevita Pearce, sang pemain wanita utama, dan Garin Nugroho, sang sutradara merangkap penulis skenario, tengah membicarakan film bergenre komedi romantis ini. Terlebih saat melihat trailer-nya di YouTube :

Film produksi Multi Vision Pictures ini mengangkat cerita cinta yang berbalut nuansa klasik tahun 70an. Tokoh Yulia (Pevita Pearce) menjadi sebuah sosok yang sangat dekat dengan Rumi (Chico Jerico). Sejak kecil mereka bertetangga dengan masalah yang mereka miliki sendiri-sendiri di keluarganya. Pesan di dalam botol limun milik Rumi menjadi benang merah yang menautkan alur cerita di film ini.

Masalah timbul bermula dari hadirnya perubahan zaman ditambah dengan kenakalan Rumi yang cukup membuat Yulia kesal. Ibu Yulia (Anissa Hertami) pun melarang keras Yulia untuk tidak bergaul lagi dengan Rumi. Ada rentetan kejadian yang terkesan norak namun kocak yang sempat Rumi lakukan baik semasa sekolah bersama Yulia maupun setelah lulus.

Saya terkesan dengan akting Rumi kecil (Bima Azriel) yang terlihat natural. Terutama di adegan saat ia menjemput ibunya di sebuah bar pada malam hari. Rumi kecil menangis saat ibunya menyuruh seseorang  mengantarkannya pulang kembali ke rumah. Adegan-adegan lucu lainnya saat berinteraksi dengan Yulia kecil cukup menghibur saya. Khas kenakalan anak-anak.

Pesan moral yang disampaikan di cerita film ini selain bagaimana sepasang teman dekat menemukan takdir cintanya, adalah tentang keutuhan keluarga. Garin mengangkat dua hal krusial dalam permasalahan rumahtangga yaitu KDRT yang dialami ibu Rumi (Nova Eliza) dan perceraian. Setiap masalah yang terjadi dalam keluarga di film ini perlahan mendewasakan Rumi dan Yulia. Namun dalam prosesnya mereka harus mengalami kesedihan dan kemarahan yang mendalam.

Salah satu adegan yang saya sukai di film ini antara lain adalah saat Yulia bersepeda mencari Rumi di sepanjang deretan tangkai tebu kering. Nuansa vintage dari penggalan kisah film ini juga menjadi nilai artisitik yang lebih. Lagu-lagu karya musisi zaman itu turut mewarnai kesan klasik. Mungkin almarhum ibu saya sangat hapal dengan lagu-lagu itu. Lagu yang menjadi soundtrack film ini adalah lagu ciptaan Ismail Marzuki berjudul ‘Dari Mana Datangnya Asmara’ :

Darimana datangnya asmara
Akupun tak mengetahui
Cara bagaimana dia
Dapat mengikat hatiku

Bagaimanakah rasa asmara
Merajalela dihati
Tak dapat aku membantah
Walau pun dahulu benci

Mulai dia berpantun hatiku berdetik
Kubalas dengan senyum sambil mataku melirik

Kemudian datang rasa sayang
Mulai wajahnya terbayang
Setiap waktu terkenang
Akhirnya aku bertunang

(sumber : http://www.sigotom.com)

Secara umum, film ini menyajikan dialog yang puitis ala puisi Rumi, kocak, dan sarat kalimat bijak orang tua. Sosok Chicco menurut saya kurang cocok memerankan nuansa klasik. Namun saat dia bertingkah jahil terasa sangat menjiwai dan lekat dengan senyum khas Chicco. Penggalan adegan Rumi yang ini juga terasa cukup menguras emosi adalah saat bertemu dengan Yulia di area candi.

sumber gambar : www.cinema21cineplex.com
sumber gambar : http://www.21cineplex.com

Peran Pevita patut saya acungi jempol karena dia terlihat sangat menghayati tokoh Yulia. Terlebih dengan kostum yang sangat pas dan serasi di sepanjang film. Adegan yang paling membuat saya berkaca-kaca adalah saat ibu Yulia memungut buah jambu yang berjatuhan dari pohon salah satu rumah yang dilewati. Ini menjadi salah satu pemantik semangat sang ibu untuk melanjutkan hidupnya sebagai penjahit. Bagaimana kehidupan keluarga Rumi dan Yulia selanjutnya? Silakan simak sendiri tayangannya di film “Aach… Aku Jatuh Cinta”.

Film ini lebih cocok ditonton oleh remaja dan dewasa karena bisa ‘mengalami’ hal-hal yang terjadi di zaman yang menjadi latar film ini. Para penonton remaja mungkin akan lebih tercerahkan apa makna cinta pada zaman itu  hingga zaman 90an.

Mungkin setelah film ini, saya berencana menonton film Indonesia lainnya. Pilihan saya tetap pada genre drama romantis. Setelah menonton film AAJC ini, saya tercerahkan bagaimana alur yang bagus untuk sebuah drama romatis. Suara Pevita sebagai narator cerita film ini menjadikannya sebuah bingkai kemasan yang manis.

Thanks to mas Raja Lubis, rekan blogger pecinta film Indonesia, yang sudah memberikan tiket gratis di kuis tempo hari. 🙂

foto : dokumen pribadi
foto : dokumen pribadi
Januari 2016

Saya Tidak Takut ke Dokter Gigi (2)

Proses pembersihan karang gigi biasanya akan memerlukan waktu beberapa kali pertemuan tergantung pada tingkat keparahan karang gigi pasien. Saya sendiri sudah melakukan dua kali pertemuan untuk hal tersebut. Rasa ngilu pasti ada saat proses pembersihan dilakukan. Namun lebih baik merasa sakit sekarang daripada sakit berkepanjangan.

Setelah melihat hasilnya, gigi saya lebih bersih namun gusi yang tadinya tertutup karang gigi akan terlihat kemerahan karena radang. Deretan gigi jadi terlihat lebih renggang karena terdorong oleh karang gigi yang menumpuk sekian lama. Saya sudah menduga hal tersebut. Dokter pun menyarankan pemasangan behel. Memang ini akan memerlukan biaya besar karena sama sekali tidak dijamin oleh BPJS. Pemasangan behel termasuk dalam kategori perawatan kecantikan / estetis harus memakai biaya pribadi. Setelah saya tanyakan biayanya sekitar 4-5 juta rupiah. Menurut informasi seorang teman, biaya sebesar itu terbilang murah dibandingkan jika kita melakukannya di tempat praktek dokter gigi pribadi.

Tentu saja proses pemasangannya tidak secepat yang saya duga. Saya memiliki masalah dengan gusi gigi geraham bawah ketiga dari belakang. Dari hasil rontgen pertama, terlihat jelas bahwa ada gusi gigi geraham saya yang agak turun / rusak lagi-lagi penyebabnya adalah karang gigi dan cara menggosok gigi yang salah.

Berikut ini cara menggosok gigi yang benar :

Petunjuk Cara Menggosok Gigi yang Benar (foto : dokumen pribadi)
             Petunjuk Cara Menggosok Gigi yang Benar (foto : dokumen pribadi)
  1. Sikatlah semua gigi rahang atas dari arah gusi ke gigi dengan gerakan memutar (roll technique).
  2. Untuk gigi bawah sikatlah juga dari gusi ke gigi.
  3. Jangan lupa menyikat permukaan gigi dekat langit-langit dan lidah dengan gerakan dari dalam ke arah luar.
  4. Sikatlah permukaan kunyah gigi ke arah depan dan belakang.
  5. Perhatikan permukaan gigi yang menghadap pipi, sikatlah perlahan dengan gerakan memutar.
  6. Akhiri berkumur dengan segelas air bersih. Jika perlu, pakailah obat kumur.

 

Dokter Sp.Orthodontie memeriksa gigi geraham saya dan menyarankan untuk mempertahankan gigi itu karena giginya masih melekat kuat.  Nanti akan dianalisa kemudian di pertemuan berikutnya, apakah di bagian gusi tersebut masih ada jaringan atau tidak, dan bisa dilakukan pembersihan khusus dengan cara ‘dikorek’. Mendengar kata itu, saya kembali merasa ngilu. Proses pembersihan karang gigi saja sudah membuat gusi saya cenat-cenut, eh.. malah harus ada tahapan ini juga. Namun saya harus sabar mengikuti prosedurnya.

Tiba di minggu berikutnya, dokter mengecek kembali kondisi gigi geraham saya. Dokter tidak berkomentar apapun. Saya me-rewind perkataan dokter, “Dokter, saya mau cetak rahang.”

Perawat menyiapkan keperluan cetakan. Bahan berupa pasta berwarna ungu dengan aroma mint diwadahi ke sebuah cetakan rahang gigi lalu dokter memasukkannya ke dalam mulut saya. Cetakan ditekan ke rahang atas terlebih dulu dan menunggu kira-kira 5 menit hingga adonan pasta ungu itu sedikit mengeras, lalu dokter mengeluarkannya. Dokter melakukan hal yang sama untuk rahang bagian bawah. Cetakan tersebut nanti akan menjadi bahan pembelajaran dokter dalam pemasangan behel.

Dokter kembali mengecek apakah karang gigi saya sudah benar-benar bersih. Pembersihan akan dilakukan lagi sebelum dokter memasang benda mirip karet gelang kecil yang disebut separator. Benda itu diletakkan di sela-sela di graham atas dan bawah. Hal ini dilakukan untuk tempat di mana kawat behel akan dililitkan nanti.

Pemasangan separator (warna biru) di sela-sela gigi geraham (foto : dokumen pribadi)
Pemasangan separator (warna biru) di sela-sela gigi geraham (foto : dokumen pribadi)

 

Dokter mengatakan, “Jika terasa sakit, minum obat Ponstan. Setelah seminggu, ibu ke sini lagi.”

“Dokter, kalau ngunyah makanan gimana? Takut copot.” Gigi gerahama saya mulai terasa kurang nyaman.

“Paksakan saja mengunyah, ya?” ujar dokter.

Benar saja apa yang saya khawatirkan itu terjadi.

 

Bersambung ke bagian 3

Januari 2016

Saya Tidak Takut ke Dokter Gigi (1)

foto : dokumen pribadi
foto : dokumen pribadi

Awalnya, kedatangan saya ke dokter gigi di sebuah rumah sakit umum adalah hanya untuk membersihkan karang gigi yang sudah terlihat parah. Saya sempat mengingat momen kapan terakhir kali ke dokter gigi. Mungkin 2 atau 3 tahun lalu. Itupun hanya karena sakit gigi geraham belakang. Sakitnya hingga menyebabkan sakit kepala sebelah. Begitulah kebanyakan orang pergi ke dokter gigi karena sakit gigi.

Mungkin Anda juga begitu. Setelah rasa nyeri dan sakit kepala itu hilang, lupa deh, untuk kembali ke dokter gigi. Waktu itu dokter menyarankan, “Gigi geraham harus dioperasi, karena tempat tumbuhnya tidak memadai jadi harus dibuang atau nanti akan sakit lagi.”

Membayangkan ruang operasi saja saya sudah ngeri! Saya takut banget kalau harus operasi. Hal ini tidak saya lakukan. Ternyata memang tidak lagi timbul gejala nyeri di gigi geraham itu hingga hari ini. Jadi saya pikir tidak perlu menjalankan operasi.

Beberapa hal yang saya rasakan sebelum karang gigi dibersihkan, antara lain : gusi berdarah setiap kali menggosok gigi, gusi terasa panas, dan terkadang ngilu jika sedang mengunyah makanan.

Beruntung saya memakai BPJS sehingga proses pembersihan karang gigi bisa dijamin. Perlu diingat sebelum dokter menangani hal ini, berkas pasien pengguna BPJS dari bagian pendaftaraan di poli Gigi harus di-acc terlebih dulu di BPJS Center. BPJS hanya memberikan manfaat ini setahun sekali saja. Jika dokter menyarankan untuk pembersihan tahap kedua maka harus menggunakan biaya sendiri sebesar Rp.67,000,00. Jika terdapat masalah gigi dan dokter meminta Anda untuk melakukan rontgen Panoramix. Rontgen jenis ini dijamin oleh BPJS. Hasil rontgen biasanya bisa diambil di hari berikutnya (maksimal pengambilan hanya tiga hari).

Setelah dokter umum membaca hasil rontgen Panoramix, saya disarankan untuk menemui dokter spesialis Orthodontie. Pertemuan dengan dokter spesialis ini tidak dijamin oleh BPJS. Pendaftaran di antrean dokter sp. ortho dikenakan biaya sebesar Rp.20,000,00 (dua puluh ribu rupiah). Dokter spesialis akan meminta Anda untuk melakukan rontgen Cepalometrix sebelum melakukan analisa untuk pemasangan behel pada pasien. Ini di luar jaminan BPJS sehingga dikenakan biaya sebesar Rp.54,000,00 (lima puluh empat ribu rupiah). Hasil rontgen dapat ditunggu.

Alat Rontgen Panoramix & Cepalometrix (foto : dokumen pribadi)
             Alat Rontgen Panoramix & Cepalometrix (foto : dokumen pribadi)

 

Beberapa hal perlu diperhatikan saat pendaftaran di RSUD untuk pengguna BPJS :

  1. Surat rujukan ASLI dari Puskesmas atau Rumah Sakit lain. Perhatikan periode surat rujukannya (biasanya 1 bulan) karena terdapat kemungkinan Anda untuk kembali lagi ke rumah sakit sesuai petunjuk dokter.
  2. KTP (asli) serta fotokopinya (fotokopi KTP 2 lembar akan diminta saat pengambilan hasil rontgen Panoramix / fotokopi Kartu Keluarga (untuk pengguna Jamkesmas).
  3. Kartu BPJS ASLI serta fotokopinya (2 lembar)
  4. Fotokopi surat rujukan (2 lembar)
  5. Kartu pasien rumah sakit. Jika belum memiliki kartu ini, Anda bisa mendaftarkan diri langsung di bagian pendaftaran poli yang Anda tuju. Kartu akan langsung dibuat. Bawa selalu kartu ini setiap Anda hendak berobat ke rumah sakit tersebut.
  6. Jika ada hal yang belum Anda ketahui tentang manfaat apa saja yang bisa dijamin oleh BPJS, Anda bisa langsung ke BPJS Center yang ada di RSUD tersebut.
  7. Perhatikan jam pengambilan nomor antrean.
    Kini sistem nomor antrean telah menggunakan komputer layar sentuh. Jika belum mengetahui prosedur pemakaiannya, Anda bisa menanyakan pada pusat informasi atau Satpam yang sedang bertugas. Rumah sakit tempat saya berobat (RSUD kota Bandung – Ujungberung) telah menyediakan layanan permintaan nomor antrean via SMS. Ada format SMS tertentu yang harus diketik, bergantung pada poli apa yang akan Anda tuju. Anda akan mendapatkan jawaban SMS yang berisi nomor urut antrean serta jam kehadiran. Pengguna layanan SMS ini harus sudah memiliki kartu pasien RS setempat.

 

*Bawalah selalu persyaratan di atas setiap kali Anda berobat ke RSUD. Jika sewaktu-waktu ditanyakan oleh petugas administrasi, berkas Anda telah siap.

 

Bersambung ke bagian 2

Resensi

Review Kumcer “As Tears Dry Out”

Kumcer Nuthayla Anwar
Sampul depan buku Kumcer “As Tears Dry Out”

Judul                : As Tears Dry Out

Penulis              : Nuthayla Anwar 

Penerbit           : Fayla Production

Cetakan           : I, Agustus 2009.

Tebal               :  206 Halaman

ISBN                 : 978-602-95537-0-3

Satu lagi buku kumpulan cerpen yang saya baca. Awalnya saya mendapatkan rekomendasi bacaan ini dari seorang teman. Namun ternyata setelah saya mencari di toko buku, buku ini sudah tidak beredar. Akhirnya, saya meminjamnya dari teman yang baik itu.

Tak ada ruginya membaca, meskipun ini terbilang buku lama. Terlebih jika cerpen yang ada di dalam buku ini sangat membuat saya betah untuk terus menyimak halaman demi halaman. Bahasa yang lugas, natural, dan penggambaran suasana si cerita itu sendiri sangat terasa oleh saya. Di setiap cerpennya terdapat elemen menu masakan yang menjadi pelengkap isi cerita. Penulis bahkan menambahkan resep masakan yang terkait dengan setiap cerpennya di halaman terpisah.

Ada dua cerpen yang memiliki sudut pandang unik menurut saya. Cerpen berjudul “Ketika Sepatu Berkisah” memakai sudut pandang sepasang sepatu sebagai penutur cerita. Seolah si sepatu adalah benda hidup yang sangat peduli pada si empunya. Ada nilai-nilai moral yang disajikan di cerpen tersebut. Tentang makna keluarga dan pernikahan juga perjuangan seorang suami memenuhi segala keinginan istri dan anaknya.

Cerpen yang kedua berjudul “69”, memakai sudut pandang seekor anjing. Sang penulis, Nuthayla Anwar yang dikenal juga sebagai penulis novel ‘Alazhi Perawan Xin Jiang’ ini, menggambarkan kasih sayang seorang pemilik anjing  dengan sentuhan narasi seekor anjing. Saya tersadar oleh penuturan narasi yang sangat menyayat hati. Bahwa anjing setia pada Tuan-nya melebihi seorang laki-laki pada sang pacar. Namun cerpen ini menyajikan sisi manusia yang lain. Yang bukan pencinta binatang hingga nasib si Molly, tokoh anjing tersebut, kembali terlantar setelah sang  pemilik meninggal di usia 69 tahun.

Cerpen dengan nuansa kekinian dengan tajuk “Chatting” memberi warna lain. Kesan saya saat membacanya, kisah yang lucu dan mungkin saja dialami oleh pasangan yang telah menikah. Namun jalan ceritanya mudah saya tebak. Ternyata benar bagian akhir ceritanya seperti yang saya duga.

Secara keseluruhan, kumpulan cerpen ini sangat menggugah pembaca karena nilai-nilai yang tersirat darinya. Masalah perempuan, keluarga, pernikahan, sosial, kemanusiaan, bahkan kriminal memberikan wawasan dalam bentuk fiksi. Wawasan dari beberapa realita di dunia nyata mampu juga disajikan dalam bentuk fiksi semenarik cerpen-cerpen yang ada di buku ini.

Berikut ini 12 judul cerpen dan 17 resep masakan yang ada di dalam kumcer ini :

  1. Menjemput Cinta
  • Soto Betawi
  1. Ketika Sepatu Berkisah
  • Lasagna
  1. Reuni
  • Makaroni Panggang dengan Bayam & Wortel
  • Nugget Ayam dengan Brokoli
  1. Pejuang Waktu
  • Ayam Panggang
  • Sop
  • Perkedel Tahu
  1. Chatting
  • Soto Padang
  1. Prahara
  • Nasi Mutabagiah (Nasi Goreng ala Arabia)
  • Gulai Kambing dengan Bamia
  1. Kulepas Aku
  • Puding Roti
  1. Gelap
  • Roti Goreng Keju
  1. Paviliun
  • Sambal Goreng Udang
  1. 69
  • Bolu Kukus
  1. Origami
  • Chocolate Blended
  1. Sketsa Cinta
  • Donut Kentang
  • Bakso

Ada pesan yang dituliskan oleh penulis di balik kulit sampul buku ini untuk si teman pemilik buku ini. ‘Cerita dan Resep Cinta’. Ya, seringkali kita tidak pernah mengerti apa makna di balik setiap masakan yang pernah kita sajikan untuk seseorang. Mungkin semua cerpen dalam buku ini mewakili makna cinta itu sendiri. This is a lovely book, really nice stories. :*

Terimakasih kepada Epiest Gee yang telah meminjamkan buku kumcer ini tanpa tenggat waktu. 🙂

Artikel Parenting

4 Things That Make Your Children Smarter

Every children are special. Depends on how parents treat and taking care of them. My experience told me that the more we gain our children’s ability, the more they get smarter. These are 4 main things that make your children smarter.

Music

Musik Angklung
Photo : my courtesy

Trough music, children’s IQ will be increasing. When a baby listens to music, his brain will accept some signal that will give good effect to its nerves. It will help the brain growth. Listening and playing music also works to children to get smarter especially when they able to play one of the music instrument. Sing a song will be one of the simple thing to make children’s memory better. Just do those things happily with their parents. In my experience, I always sing some children song when my daughter was 1-3 years old. I got surprised when she gets more talkative and speak clearly. Now, she is 10 and love to play Angklung at school once a week. She also eager to learn playing guitar. I think, I will buy her a classic guitar first for her training.

Language

Photo from www.thewellarmedwoman.com
Photo from http://www.thewellarmedwoman.com

This is the first thing that children know. They heard mom’s voice when they were in mom’s uterus. As they born, more vocabularies will be heard. Although a baby couldn’t talk yet, but making conversation in his mother tongue will make his brain growth and increasing speaking ability.

When the children grow being a teenager, teach them some good mother tongue, polite sentences, and other foreign language. So, they could learn a lot more than they know at school. Trough a simple thing that they see in daily activities, we could say some vocabularies. They will remain it and ask more about it. By the time they get more vocabularies, they will be able to make sentences and making conversation in foreign language.

Reading

reading with children
Photo from http://www.michellegriffithsbooks.com

Children usually love pictures and short dialogue on books. As parents we have to choose the appropriate books for them. But the most important thing is we have to read with them not reading for them. So the bonding between parents and children will happen. When the children asking some question about the story, we could give them some advice about the character in the story. The children will get a lot of information and knowledge trough reading. Do this habit regularly so the children will love reading books. Just make it fun for a smarter children’s brain.

Nutrition

Photo : my courtesy
Photo : my courtesy

This is also the main thing on making children smarter. When we give healthy food, children’s body will be healthy too. Give them balance nutrition everyday so it will affect their way of thinking and their brain health. Protein sources will be the nice substance in their meal for breakfast for example. We have to combine some other sources such as carbohydrates, fruits, and vegetables. So, all of that substances will be reacted in their body to support their activities well.

Healthy food will create healthy brain.

So, be a smart parents for smarter children.

puisiku

Rindu Senja

image

Kutautkan rindu ini padamu, bunda
Rindu yang tak kunjung terobati
Helaian kenangan yang porak poranda bersama angin senja
Kembali menghiasi halaman rumah yang sepi
Rindu ini seperti hantu yang mengganggu kalbu
Kalbu yang terkadang beku
Kini, setiap bertemu senja
Rindu ini tercabik hingga ku bergidik
Namun senyummu yang cantik
Kan slalu ku kenang baik

— 28 Oktober 2015, 17.10 wib —