30 hari bercerita

“Percakapan Bersama Bapak”

img_7403.jpg
Honda BRV Prestige

Teringat percakapan bersama seorang lelaki yang kupanggil bapak tentang sesuatu.

Waktu itu, aku masih SMA. Saat berkunjung ke rumah uwa -kakak bapak kandungku- kukatakan padanya,”Pak, neng ingin belajar nyetir mobil.”

“Iya boleh, nanti kalau kamu sudah punya mobilnya.”

Ia kembali sibuk dengan mesin mobil yang ngadat di garasi.

Kupikir waktu itu bapak mau langsung mengajarkanku cara menyetir mobil. Selama berada dalam pengasuhannya, apapun kemauanku seolah tak pernah terlewat dari perhatiannya.

Padahal aku sangat berharap saat itu bisa berada di kursi pengemudi mobil tua bapak. Ternyata aku harus bersabar.

Entahlah, aku suka dengan tantangan. Rasanya bahagia jika sudah menaklukan sebuah tantangan. Seperti saat mengikuti kursus mengemudi. Walau rasanya panas dingin di hari pertama, namun keberanianku lebih menguasai jiwa.

Kini, aku tercenung di belakang kemudi sebuah mobil yang telah lama kuidamkan. Tiba-tiba terngiang percakapan bersama bapak.
Bulir-bulir di pelupuk mataku pun berjatuhan.

“Pak, neng udah punya mobil. Tapi…bapak sudah pulang,” gumamku.
Kubaca surat Al Fatihah untuknya dalam hati.

Sekelebat wajah bapak hadir dalam benak dengan kerutan di wajahnya seolah mewakili garis-garis pengalaman hidup dan kumis tebal menghiasi bibir hitamnya yang sedang menyungging sebuah senyuman.

“Pak, aku janji, saat SIM sudah di tangan, aku akan  mengemudikan Tuan Abu-abu mengunjungi nisanmu di sana.”

Kuingat juga senyum mendiang mama di mimpiku semalam.  Semasa hidup beliau sempat berkelakar,”Neng, kayaknya kamu yang duluan bisa nyetir mobil daripada suamimu.”
Kembali hatiku bising dengan harapan yang tak mungkin lagi terwujud.
“Mom, wish you were here besides me…”
———-
@30haribercerita
#30haribercerita2019 #30hbc1901

* Tulisan ini didedikasikan untuk alm. Mama Ieke W.Arifien, Bapak Asep Natapradja, & bapak Deden Sukanda Natapradja. 😇*