my journal, September

“Antar Jemput”

kaka bobo pake sragam

“Jangan pernah mengeluh saat mengantar dan menjemput si buah hati.”
Itu kalimat yang selalu saya teriakan dalam hati. Ada saat di mana saya merasa sensitif ketika kaki ini terasa sakit saat berjalan mengantar anak ke sekolah yang jaraknya hanya 10 menit berjalan kaki. Saya teringat Mama, mungkin rasa sakit beliau lebih dari saya.

Pikiran saya menerawang jauh ke depan, melihat anak perempuan saya dengan seragam putih abu-abu, lalu waktu seakan melesat cepat. Tiba-tiba anak gadis ini sudah memakai baju toga. Mungkin bayangan seperti ada dalam benak setiap orangtua. Membayangkan bagaimana nanti saya masih juga mengantar dan menjemputnya sekolah. Tapi akan ada saat di mana dia akan mampu pergi dan pulang seorang diri, entah kapan.

Saya ingin tetap bisa mengantar dan menjemputnya selama saya mampu karena rasa khawatir selalu datang. Meski dia telah menemukan teman hidup, saya tetap dengan tangan dan hati yang terbuka ingin mengantar dan menjemputnya dalam makna yang lain. Tugas mengantar dan menjemput bukan hanya semasa dia sekolah, tetapi selama kita hidup. Saya harus mampu mengantarkannya ke gerbang masa depan, dan menjemput impiannya yang dia ukir dari sekarang. Semoga, saya mampu…

my journal

“Belajar dari Anak”

pantaiSetiap perilaku dan komentar anak di hari-hariku sebagai ibu menjadi pelajaran berharga. Kadang terlewat begitu saja tanpa makna, kadang aku tersadar dengan apa yang dilakukan anak. Perilaku dan perkataannya bisa menjadi cerminan bagi diriku sendiri.

Suatu kesempatan, aku memerhatikan anakku sedang menggambar komik. Dia begitu menikmati setiap prosesnya. Komik pertamanya masih hitam putih, dan dia cukup puas dengan itu. Kini, dia sedang membuat yang kedua, tampilannya berwarna. Dia dengan bangga menunjukkan setiap helaian gambar karyanya padaku. Aku bangga dan terharu karenanya. Hal-hal yang tidak terwujud di masa sekolahku dulu, ternyata terwujud pada anakku. Aku semakin merasa dia adalah bagian dari jiwa dan ragaku karena ketertarikan yang sama.

Aku becermin dan mencoba memahami bahwa dalam proses menulis sebuah buku pun aku harus seperti anakku. Nikmati saja setiap prosesnya, walau belum mampu full color, tapi setidaknya di setiap kalimat yang tertuang di halaman kosong A4 itu, aku merasakan sebuah kepuasan tersendiri. Meskipun hanya coretan kasar mirip outline, toh, nanti akan menjadi sebuah uraian yang ‘berwarna’.
Anakku mengerjakan proyek gambarnya dengan moody, aku pun terkadang begitu. Wajar jika mood menguasai anak-anak karena mereka cenderung pembosan. Tapi padaku, mungkin harus sedikit demi sedikit dikikis hingga si moody ini benar-benar tak bisa lagi hadir di sela-sela perasaan. Disiplin diri itu mungkin kuncinya. Aku harus disiplin, menyempatkan waktu untuk membaca, agar tulisan yang aku buat lebih baik. Menulis itu butuh latihan yang berkelanjutan, mirip berbahasa Inggris. Jika jarang menggunakannya, menjadi lupa dan gagap. Aku mulai membiasakan diri menulis di blog, satu hari satu tulisan. Sesibuk apapun, seberat apapun perjuangan melawan rasa malas.

Bisa karena biasa. Kalimat itu benar-benar sebuah pemahaman yang telah terbukti bagi beberapa penulis yang andal. Sharing dengan teman sesama penulis dan mereka yang dengan senang hati mau membaca tulisanku, itu pun menjadi bahan masukan untuk diriku. Jika aku menginginkan sebuah buku yang bagus, maka sebuah kerja keras harus dikerahkan.

Sebuah quote mengatakan bahwa “A really good book is a damn hard writing” atau kalimat dari mbak Triani Retno yang aku ingat baik-baik, “jika seorang penulis memperlakukan naskahnya dengan keras maka hasilnya akan jauh lebih baik dan ramah editing.” Bahkan anakku bertanya padaku, “Ma, ini sudah jadi. Bagus nggak, Ma?” Dia akan merengut jika aku mengomentari hal-hal yang kurang dari gambar itu. Sebaliknya saat dipuji, dia senang. Dia juga sangat idealis dengan karyanya. Aku membiarkannya dan tidak terlalu banyak berkomentar karena perlahan dia akan menemukan bagaimana membuat gambar komik yang bagus. Dia mulai melakukan perbandingan gambarnya dengan komik yang aku belikan untuknya. Dia juga berusaha untuk mengenal teknik menggambar secara otodidak hingga tiba-tiba muncul keinginan untuk mempelajari teknik menggambar kartun manga.

Aku pun harus seperti dia. Lebih banyak membaca karya penulis lain dan berusaha memiliki acuan untuk menulis, baik secara teknis atau non teknis. Membaca itu seperti memahami dan mendengarkan. Saat menulis, aku seperti berbicara. Jadi, sebelum berbicara dengan kalimat yang asal-asalan, lebih baik mendengarkan dan mencoba mengerti apa yang sebaiknya aku sampaikan orang lain. Setiap kesalahan bisa aku perbaiki tanpa sesal, jika harus mengulanginya dari awal. Hasil terbaik diperoleh dari usaha yang terbaik.

Aku melihat anakku seperti tak pernah bosan dengan kegiatan menggambar, walau tak ada waktu rutin yang khusus melakukannya. Aku pun tak akan pernah bosan belajar menulis bukuckarena dalam hidup, pembelajaran tak akan pernah usai selama diri ini masih diberi umur panjang. Jalani saja, senangi saja prosesnya. Take a deep breath if I got stucked, read a lot, then continue the writing, lalu bersikaplah sebagai pembaca saat editing akhir dengan menurunkan ego pribadi.
Ada investasi yang harus aku keluarkan untuk anakku untuk mendukung ketertarikannya dengan membeli komik-komik yang dia suka. Aku membeli beberapa buku referensi yang tak sedikit. Pilihan buku-buku yang aku beli pada akhirnya didominasi oleh hal yang aku sukai. Investasi itu perlahan akan menjadi tabungan pembelajaran menuju mimpi yang aku idamkan.

Aku akan tetap berguru pada anakku tentang kesungguhan dan idealisme. Aku akan berguru pada mereka yang telah berpengalaman untuk kemajuan dan pemahaman tentang pencapaian mimpiku. Mungkin suatu hari, aku akan melihat anakku sebagai arsitek atau komikus, atau apapun. Aku tak terlalu memermasalahkan dia akan menjadi apa, karena yang terpenting adalah proses menuju ke sana. Dia belajar memahami potensi dirinya sendiri dan merasakan manfaat apa yang dia dapatkan dari sana. Aku pun tak akan memermasalahkan hasil dari tulisanku, jika pada prosesnya aku bersungguh-sungguh. Sebuah proses hanya sebuah tahapan perjalanan menuju impian dan harapan.