Media Cetak

Tips Menulis Artikel ala Gado-gado Femina (“Ohayou Gozaimasu” dimuat di majalah Femina edisi 39/XLIII- 3-9 Oktober 2015)

"Artikel Gado-gado Femina perdanaku" (foto: dokumen pribadi)
“Artikel Gado-gado Femina perdanaku”
(foto: dokumen pribadi)

Saya ingin membagi pengalaman menulis artikel ‘Gado-gado’ majalah Femina, nih. Kalau Anda sudah sering membaca majalah tersebut, pasti tahu seperti apa jenis artikelnya. Artikel ala ‘Gado-gado’ Femina ini mengandung nilai-nilai human interest (kemanusiaan), inspiratif, sekaligus lucu.

Pengalaman yang dituangkan dalam naskah jenis ini bisa pengalaman pribadi atau orang lain dan diberi sentuhan Fiksi yang kreatif. Anda bisa mengambil ide dari keseharian, seperti tetangga sebelah misalnya atau penjual gorengan yang selalu lewat atau mangkal dekat rumah. Ambil satu hal yang membuat Anda terasa menyentuh hati sekaligus lucu jika dicerminkan pada diri Anda sendiri.

Jangan lupa, buatlah judul yang eye catchy dan unik supaya menarik perhatian mbak editor. Dijamin naskah Anda akan segera dibaca sampai selesai.

EYD dan ungkapan spontan seperti ‘Ah!’ ,’Wah’, ‘Aih’, Huh!’, dan sejenisnya harus menjadi poin penambah nilai naskah Anda. Lakukan self editing hingga Anda eneg supaya hasil tulisan terbaik bisa segera dikirimkan. Tulisan yang ramah editing akan membuat nilai plus naskah layak muat atau tidak. Naskah yang saya kirimkan pun mengalami beberapa kalimat yang disempurnakan oleh editor.

Persyaratan pengirimannya secara umum, yaitu :

  • Jenis font Arial, 12, spasi 2
  • 3.500 – 3.700 karakter (maksimal 3 halaman folio)
  • Nama tokoh dan tempat boleh fiktif.
  • Sertakan biodata di bawah naskah beserta nomor HP dan rekening tabungan
  • Kirim via email : kontak@femina.co.id dengan subject : Gado-gado
  • Masa tunggu 6 bulan
  • Jika naskah dimuat akan dikonfirmasi via telepon atau SMS dari sekretaris redaksi Femina.
  • Honor 500 ribu potong pajak.

Selamat berkarya!

Ini dia naskah saya yang sudah dimuat di majalah wanita keren ini :

"Kulit Sampul Femina 39, model : Rianti Cartwright" (sumber gambar : www.femina.co.id)
“Kulit Sampul Femina 39, model : Rianti Cartwright”
(sumber gambar : http://www.femina.co.id)

“Ohayou Gozaimasu”

Aku memerhatikan seorang wanita berdaster motif bunga, berambut putih keabuan, kedua matanya sipit, sedang menyiram halamannya yang luas di rumah besar itu. Luasnya hampir dua kali rumahku. Menurut teman suamiku, rumah itu milik orang berkebangsaan Jepang. Wah, pasti orang itu kaya. Ada dua mobil terparkir di carportnya. Tipe mobil yang sedang kuidamkan.

Aku belum mengenal wanita itu bahkan penghuni rumah di sebelah kiri kananku. Ah, pasti orang-orang di komplek bagus begini nggak seramah orang-orang kampung. Aku kurang suka berbasa-basi lebih dulu, berbeda dengan suamiku.

Suatu pagi, kulihat seorang wanita berkulit mulus, wajahnya oriental, berambut hitam lurus ala model iklan sampo di rumah besar itu. Bahasa tubuhnya pongah. Terutama saat berada di balik kemudi mobilnya plus kacamata hitam. Ih, cantik-cantik kok sombong.

Eeeeh, tiba-tiba terdengar suara cempreng berbahasa Sunda dari mulut si cantik. Ia memerintah bak putri raja pada asisten rumahtangganya. “Ai! Ambil sweater Ibu di dalam!”

Ow, ternyata dia bisa bahasa Sunda, toh.  Seharusnya mereka berbahasa Jepang, kan? Apakah wanita berdaster itu atau ayahnya? Pikiran tidak penting berkecamuk di otakku. Namanya juga pengin tahu tetangga baru. Ha… ha… ha…!

Saat aku membersihkan kaca jendela, wanita cantik itu terlihat menemani anaknya bermain sepeda. Tentu saja ditemani salah satu asistennya sambil menyuapi sarapan anaknya. Aku melirik dengan ujung mataku. Wanita itu berjalan mendekati carport tetangga sebelah rumahku yang kosong, lalu balik arah ke carport rumahnya. Aih, lenggang lenggoknya mirip model di catwalk.

Langkah kakinya sangat elegan dan kesan sombong di wajahnya semakin jelas. Arah pandangan matanya sempat tertuju padaku. Namun saat pandangan kami bertemu, dia tak menegurku. Ah, malas banget menegur orang sombong kayak gitu. Huh!

Sepulang suamiku, aku menceritakan tentang wanita cantik itu. Suami hanya bilang, “Kalau wanita cantik kayak gitu, terus orangtuanya kaya, ya wajar. Kalau ekonominya pas-pas-an tapi sombong, ya nggak cocok,” katanya seolah tak peduli. Ha… ha… ha… betul juga. Jadi ngapain aku judes… ya, kan?

Esok paginya, aku, suami, dan putriku menyengaja bangun lebih pagi untuk jogging keluar kompleks. Baru beberapa langkah keluar dari halaman rumah, kami berpapasan dengan wanita berdaster yang sama persis seperti yang tempo hari kulihat. Eh, ini kan si pemilik rumah besar yang orang Jepang itu.

Wanita itu tersenyum pada kami bertiga. Dia memperkenalkan diri lebih dulu dengan ramah sambil mengulurkan kedua tangannya menyalami kami.

“Perkenalkan, saya Heti Tanaka. Saya tinggal di sini bareng anak saya,” katanya dalam bahasa Sunda.

Lho, kok bahasa Sunda? Padahal tadi aku sudah berniat mengucapkan ‘selamat pagi’ dalam bahasa Jepang.

“Olahraga, ya?” tanyanya sangat ramah.

Kami membalas keramahannya dengan berbasa-basi sejenak sebelum melanjutkan perjalanan. Sekilas kulihat anaknya yang cantik itu sedang berdiri di mulut pintu samping rumah memperhatikan kami.

Aku dan suamiku saling berpandangan dan terkekeh. “Pa, tadinya Mama mau bilang ‘ohayou gozaimasu’. Ternyata dia bisa bahasa Sunda.”

“Nanti kalau kita ketemu sama suaminya tinggal bilang aja ‘wilujeng enjing’.” Kami bertiga tergelak. Well, ternyata hidup bertetangga itu memang warna-warni. Kadang-kadang kita termakan pikiran sendiri. *****

— Beta Widias, Ujungberung, Bandung.—

 

my journal

“Happy Birthday, Ibu-ibu Doyan Nulis!”

Kumpul IIDN di Indscript Creative
Kumpul IIDN di Indscript Creative
Kumpul anggota IIDN Bandung Timur di KFC Ujungberung
Kumpul anggota IIDN Bandung Timur di KFC Ujungberung
#1 IIDN di indscript
Kumpul dan silaturahmi IIDN di Giggle Box, Bandung
Kumpul dan silaturahmi IIDN di Giggle Box, Bandung
Saya masih ingat saat baru mencoba menggunakan sebuah situs jejaring sosial Facebook, tahun 2010. Saya tiba-tiba mendapatkan pesan di inbox FB, isinya adalah sebuah tawaran bergabung di sebuah pelatihan gratis menulis Indscript Creative. Saya tidak menyiakan kesempatan ini karena saya sedang menyenangi kegiatan menulis saat itu sebagai terapi diri. Saya ingin mengetahui cara dan pengalaman baru di hobi ini.

Tak berapa lama setelah itu, saya mengetahui ada komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) di Facebook. Melihat nama grup ini, rasanya gue banget! Saya seorang ibu dan saya mulai doyan menulis. Ternyata founder grup ini adalah pengirim pesan inbox waktu itu, Indari Mastuti. Saya bergabung di grup IIDN dan mendaftarkan diri menjadi peserta pelatihan gratis Indscript Creative. Persyaratannya waktu itu mudah saja. Saya hanya membuat surat permohonan dan menyertakan rincian konsep buku yang ingin saya buat.

Awalnya saya bingung, bagaimana membuat uraian konsep buku itu? Saya mencoba membuat surat permohonan tersebut dan saya dipanggil untuk wawancara di kantor Indscript Creative. Saat bertemu di hari yang telah dijanjikan ibu Indari Mastuti, saya datang ke kantor di kawasan Jalan Moh. Toha, Bandung. Saya merasa familiar dengan nama depan dan wajahnya ketika bertatap muka langsung. Foto profil FB beliau pun telah saya perhatikan baik-baik. Ya, sepertinya beliau ini teman satu almamater dengan saya saat SMP dulu.

Akhirnya, interview berubah menjadi obrolan nostalgia, walau kami tidak sekelas saat sekolah. Saya diberikan informasi bahwa dari kegiatan menulis buku, saya bisa mendapatkan penghasilan. Saya pikir, menulis hanya kesenangan semata bagi saya, dan tidak mengharapkan lebih dari itu. Tetapi informasi ini membukakan mata dan pikiran saya, bahwa penulis itu dihargai sesuai dengan karya yang telah dia buat.

Semua tulisan yang saya miliki di laptop, tadinya hanya akan disimpan sebagai kenangan saja. Suatu hari akan saya wariskan pada anak perempuan saya, tanpa terpikir untuk mempublikasikannya. Namun setelah bergabung di komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) dan Indscript Creative Writing Club, saya semakin merasa menemukan harapan akan kreativitas yang hadir di setiap guratan tulisan-tulisan saya. Ternyata banyak ibu yang memiliki kesenangan yang sama seperti saya. Ternyata menulis bukan hanya milik kalangan anak muda saja. Saya semakin mengetahui bahwa kegiatan menulis bisa dilakukan oleh siapapun. Banyak hal yang akhirnya saya dapat di sana, menyangkut berbagai hal mengenai dunia penerbitan. Pelatihan menulis tersebut dikemas secara on line maupun off line dan memberikan pengetahuan serta pembelajaran dalam kegiatan menulis.

Saya merasakan lebih banyak suka daripada duka, kala bertemu muka dengan 9 orang teman-teman baru di pelatihan menulis yang hampir semuanya ibu-ibu. Bertukar ilmu dan pengalaman, menggali segala ide hingga menjadikannya sebuah buku, semua itu merupakan hal yang sangat menyenangkan dan menggugah pikiran. Silaturahmi dengan teman-teman pelatihan tetap terjalin melalui Facebook dan media on line lain, bahkan terkadang kami menyempatkan bertatap muka. Begitu pula dengan beberapa anggota IIDN, diantaranya sang Marketing Communication (IIDN) dan penulis beberapa buku antologi Lygia Pecanduhujan, penulis buku “La Taias for Akhwat” Honey Miftahuljannah, penulis “Lucky Backpacker” Astri Novia, penulis “For the Love of Mom” dan buku anak Dydie Prameswarie, penulis “Ada Apa dengan Otak Tengah” Nia Haryanto, pemateri kelas Fotografi IIDN (Foto bercerita) Vivera Siregar, penulis puisi Epi Siti Sopiah, blogger dan crafter Ima Rochmawati, dll. Semakin luas pertemanan di dunia kepenulisan, maka akan semakin memperkaya pengalaman. Setiap anggota IIDN dapat saling menularkan semangat untuk banyak belajar dan kreatif dengan tulisannya.

Hal yang paling utama saya rasakan dari kegiatan menulis adalah belajar untuk tidak mudah menyerah dengan ide-ide yang kita tuangkan serta mengasah rasa dan kesabaran. Saya ingin tetap menulis dan menulis demi sebuah pembelajaran hingga menjadikannya sebuah investasi menuju terwujudnya sebuah buku. Bahkan hingga hari tua nanti, menulis akan selalu menjadi hiburan yang menyenangkan.

Selamat Ulang Tahun, Ibu-ibu Doyan Nulis! Terimakasih padamu atas karya pertama saya yang lahir dan berproses panjang bersamaan dengan perjalanan mengenal IIDN. 3 tahun berkarya tak hanya dalam bentuk buku, namun saling menularkan semangat menulis bagi ibu-ibu yang berpikiran maju. 3 tahun saya mengenal IIDN tak hanya dalam bentuk obrolan-obrolan canda, tetapi semangat untuk selalu aktif belajar bersama. Semoga IIDN menjadi komunitas yang solid dan banyak melahirkan karya-karya yang bermanfaat bagi bangsa.