my journal

“Catching Dreams Trough Fun Blogging”

"Ucapan Selamat Ulang Tahun untuk Fun Blogging" (foto edited : dokumen pribadi, lokasi Telkomsel Digilife Dago)
“Ucapan Selamat Ulang Tahun untuk Fun Blogging”
(foto edited : dokumen pribadi, lokasi Telkomsel Digilife Dago)

Manusia selalu penuh dengan keinginan-keinginan dan impian dalam hidup. Ya, salah satu manusia itu adalah saya. Awalnya saya hanya ingin hidup bahagia. Tetapi makna bahagia itu ternyata abstrak. Hanya duduk menikmati buku yang bagus ditemani secangkir milk tea, itu salah satu kebahagiaan saya. Atau menuliskan sebuah kisah manis sekaligus tragis ke halaman kosong di layar laptop tanpa ada gangguan apapun, itu kebahagiaan saya juga. Namun ada hal-hal lain yang harus kita capai dengan materi untuk mencapai kebahagiaan yang lain.

Saat kondisi keuangan sedang menipis di akhir bulan Agustus lalu dan menanti honor cerpen yang tak kunjung tiba ke rekening tabungan, saya merasa tak bahagia. Di hari-hari penantian itu, saya mendapatkan informasi acara Fun Blogging 6 dari salah satu teman Facebook. Kala itu saya bingung karena anggaran belanja sedang diperketat. Otomatis biaya untuk mendaftarkan diri ke acara tersebut tampaknya nihil. Kalau saya meminta pada suami pun, saya pesimis akan diberi.

Saya memberanikan diri untuk mendaftarkan diri terlebih dulu karena jumlah peserta menurut info itu dibatasi. Setelah mendaftarkan diri, saya berharap keajaiban datang. Hingga tiba di batas tanggal pembayaran, saya belum bisa memenuhinya. Saya menyerah untuk beberapa saat tapi hati ini sangat ingin mengikuti acara itu. Saya teringat profil Mbak Haya Aliya Zaki. Beliau itu kan salah satu figur keren yang sudah banyak pengalamannya di bidang penulisan buku dan blogging.

Saya curhat tentang kegalauan saya pada Dyah Prameswarie di WhatsApp. Dia menyarankan, “Coba tanya aja ke mbak Haya, siapa tahu bisa bayar on the spot.” Aha! Saya langsung mengirim pesan di inbox FB mbak Haya, lalu cemas menunggu jawaban. Lega rasanya saat mbak Haya mengijinkannya dengan catatan saya positif hadir di acara itu.

Awal bulan September tiba, saya langsung menyisihkan anggaran belanja untuk Fun Blogging dengan pikiran, “Biarin lah, pake uang belanja. Toh, acara itu bakal bermanfaat banget buat saya. Mudah-mudahan nggak dosa.”

Saya sedang batuk dan flu saat menghadiri acara Fun Blogging 6 di gedung Grapari Digilife Dago. Tetapi sakit itu terlupakan, saking asyiknya menyimak setiap materi dan pengalaman yang diceritakan oleh ketiga emak keren, Haya Aliya Zaki, Ani Berta, dan Shinta Ries. Saya pun merasa terhibur karena telah sekian lama saya tidak ‘beredar’ keluar rumah. Pikiran saya benar-benar tercerahkan terutama saat teh Ani Berta menceritakan pengalamannya. Saya sangat terinspirasi dan termotivasi.

Saya mulai menemukan arah tujuan dalam dunia blogging. Tadinya saya menulis hanya untuk diri sendiri seperti menulis jurnal dan curhatan berbentuk narasi juga puisi. Tanpa terasa blog saya sudah berumur 5 tahun, tentu dengan semangat menulis yang turun naik. Kebanyakan turunnya. Sekarang saya mengerucutkan tujuan ngeblog ke arah yang saya senangi, yaitu fiksi, puisi, dan parenting. Walau saya pun menyukai hal-hal berbau teknologi, mungkin itu akan jadi tambahan pembelajaran untuk saya karena masih newbie.

Saya pun sedikit demi sedikit telah membuka pikiran pasangan saya tentang blogger karena hadiah yang saya terima kemarin. Setiap kali saya memiliki target mengikuti lomba blog, saya selalu mengatakannya pada pasangan saya. Berharap dia turut mendukung dengan doa karena beberapa impian yang kami miliki ada kesamaan. Impian bersama harus kami wujudkan bersama, salah satunya adalah mendukung kegiatan pasangan jika itu hal positif.

Hadiah Lomba Blog Smartfren #GoForIt - Fun Blogging 6, Andromax Es 4G LTE.
Hadiah Lomba Blog Smartfren #GoForIt – Fun Blogging 6, Andromax Es 4G LTE.

Dari hasil lebih rajin posting tulisan di blog, memiliki networking, dan pemanfaatan social media terutama aplikasi chatting, mulai terlihatlah kesempatan job untuk saya. Salah satu teman Fun Blogging 6 yang sudah saya kenal di dunia menulis fiksi mengabari saya bahwa profil saya sedang diajukan untuk job review produk souvenir. Ah, calon-calon rezeki memang akan datang jika kita undang dengan usaha. Semoga segera berjodoh dengan job tersebut.

Impian saya dalam waktu dekat adalah mendapatkan job review produk dan selesai menulis naskah novel remaja lalu segera ditaksir penerbit impian. Di jangka panjang rasanya ingin mendapatkan job artikel parenting. Saya harus lebih banyak membaca untuk referensi tentang parenting dan psikologi selain dari pengalaman pribadi untuk target itu. Tak ada hasil tanpa usaha.

Fun Blogging 6 is a place where I could build dreams and learning about life struggle.

Happy birthday, Fun Blogging!
May the joy and happiness always spreading to all over the nation.

my journal, September

Blogger Bukan Sekadar “Udar-ider”

Sabtu, 5 September 2015, saya menghadiri acara Fun Blogging dengan tema “Dari Hobi Menjadi Profesi” di gedung Grapari Telkomsel Digilife, Dago, Bandung.

Saya mengetahui acara ini dari jejaring sosial Facebook. Info tersebut di-share oleh mbak Shinta Ries, founder Blogger Perempuan. Sponsor yang mendukung acara Fun Blogging 6 “Dari Hobi Menjadi Profesi” adalah Telkomsel Digilife ‘Be Fun and Color’,  dan GeraiCNI.com, Smartfen, dan Infomedia.

Tiba pukul 08.20 wib di gedung Digilife, saya dan dua teman blogger, Dyah Prameswarie dan teh Ida Tahmidah disambut oleh salah seorang admin yang berdiri dekat pintu masuk. Dia mempersilakan melakukan registrasi di tablet yang nangkring cantik di meja. Setelah teregistrasi, kami mendapatkan gelang kertas bertuliskan “Dago Digital Life Style”. 4

Kesan digital life langsung terasa di ruangan itu. Big screen yang canggih dengan fitur wireless yang bisa terhubung ke perangkat laptop Apple menambah kekaguman saya tentang dunia digital.

Big Screen di Grapari Telkomsel Digilife (foto: dokumen pribadi)
Big Screen di Grapari Telkomsel Digilife (foto: dokumen pribadi)

Pojok lain di gedung ini juga tersedia fasilitas  yang sangat berjiwa muda, yaitu portal game dan aplikasi, portal e-book, dan music.

3

Menuju pukul sembilan, sambil menunggu mbak Haya hadir, para peserta saling memperkenalkan diri. Kami memberikan identitas blog dan akun media social. Ada beragam latar belakang pengalaman yang dimiliki peserta acara ini. Mulai dari penulis, pencinta buku, kritikus film Indonesia, traveler, fotografer, hingga bidang marketing dan kesehatan.

Pukul sembilan, acara dimulai. Mbak Haya Aliya Zaki sebagai pembicara di segmen pertama. Beliau membuka acara dengan satu hal ‘cling cling’. Panitia membagikan kertas kecil pada peserta. Mbak Haya meminta kami untuk menuliskan dua hal yang ingin kami dapatkan dari aktivitas ngeblog. Apakah itu berwujud benda atau hal lain. Namun, kami harus menuliskannya dengan tangan kiri.

Saya menulis ini. 8

Menulis dengan kiri secara psikologis merasa tidak mungkin menuliskan impian dengan baik. Tetapi bukan tidak mungkin suatu hari terwujud.

Awal saya menulis di blog hanya untuk diri sendiri sebagai wadah curahan hati dan pemikiran serta menulis beberapa puisi. Setelah mendengar penjelasan mbak Haya tentang “Writing Great Content”, benak saya menjadi tercerahkan.

Blogger itu harus memiliki ciri khas. Tentukan satu atau dua tema yang menjadi fokus utama di blog kita, misalnya : fiksi dan puisi, kesehatan, kuliner, atau tentang apa saja yang menjadi kesukaan blogger itu sendiri. Dari sana para blogger bisa menemukan dirinya dan konsisten terhadap itu.

Hal dasar di setiap penulisan konten adalah 5W (What, Where, When, Who) + 1H (How). Sama halnya dengan kegiatan menulis cerita. Elemen tersebut harus ada saat blogger menulis konten di blognya. Buatlah judul yang sensasional namun rasional sehingga menarik minat pembaca. Tulislah sebuah konten yang unik dengan sudut pandang berbeda dari orang lain.

This slideshow requires JavaScript.

Mbak Haya juga menyampaikan bahwa blogger pun harus memperhatikan EYD agar tulisan enak dibaca dan mudah dipahami. Sama halnya dengan proses menulis, ada proses self editing sebelum tulisan itu dipublikasikan. Lakukan editing berulang-ulang agar kita sendiri merasa nyaman membaca konten tersebut. Jika ingin tahu apakah konten itu enak dibaca atau tidak, mbak Haya menyarankan untuk mencoba ‘menyuarakannya’. Seperti orang menyampaikan cerita dengan intonasi yang enak didengar. Dari cara itu, blogger bisa melakukan perbaikan di penulisan konten kalimatnya.

“Content is King. Promotion is Queen” (Bob Mayer)

Ini falsafah hidup mbak Haya sebagai blogger.

Mbak Haya menekankan satu hal yang paling diharamkan bagi para blogger yaitu Copy Paste. Kredibilitas seorang blogger adalah orisinalitas konten yang dia tulis di blog-nya.

Dari hobi ngeblog, jika kita serius, konsisten, bisa jadi profesi yang menjanjikan. Mbak Haya telah merasakan sendiri bagaimana proses dari penulis, lalu menjadi editor dan menekuni dunia blogging. Proses panjang dan konsistensi adalah kunci utama untuk memetik hasil yang memuaskan di kemudian hari. Mbak haya sendiri telah mendapatkan ‘pinangan’ dari beberapa brand ternama dengan fee yang lumayan besar.

Sebelum segmen kedua oleh mbak Shinta Ries, kami istirahat untuk makan siang dan shalat. Saat menuju ke toilet, di taman belakang sedang berkumpul anak-anak SMK yang berlatih membuat konten game PC. Ini adalah salah satu program terbaru dari Digilife Telkomsel ‘Be Fun and Color’.

Anak-anak SMK yang sedang belajar membuat konten game PC (foto: dokumen pribadi)
Anak-anak SMK yang sedang belajar membuat konten game PC (foto: dokumen pribadi)

Saya berpikir, masak sih, emak-emak kalah sama anak-anak itu. Blogger juga harus menerapkan Digital Life karena kegiatannya berkaitan erat dengan perangkat digital.

Masuk ke segmen kedua, mbak Shinta Ries membahas bagaimana mendandani blog dengan desain yang ‘ramah’ pembaca dan bagaimana mengatur isi konten agar mudah masuk di mesin pencari terutama Google search engine.

Tampilan blog mempengaruhi ketertarikan orang untuk membaca. Aturlah tampilan blog dengan sederhana. Tampilan ideal adalah side bar di sebelah kanan, dan konten di sebelah kiri karena umumnya orang membaca dari arah kiri ke kanan. Jadi mereka akan membaca langsung konten kita. Jika memasang iklan, usahakan maksimal delapan iklan saja.

Gunakan background yang simple agar loading site-nya tidak berat saat dibuka oleh pembaca. Pilih huruf yang jelas terbaca, contoh : sans serif atau huruf yang sesuai dengan pilihan standar theme di blog kita. Jangan memilih font yang meliuk-liuk keriting karena akan melelahkan mata pembaca.

Mbak Shinta juga menjelaskan, artikel atau konten yang berisi atau sarat informasi biasanya dengan mudah masuk ke mesin pencari. Biasanya hanya seribu kata saja tetapi isinya sangat informative, maka akan lebih banyak orang yang membaca. Penggunaan Google Analytics pun penting untuk mengetahui siapa dan dari mana pembaca blog kita. Dari sana juga kita bisa tahu postingan yang mana yang menjadi favorit para pembaca.

Bahasan ini agak rumit karena saya awam tentang hal ini, kecuali soal keyword. Saya lumayan paham karena sempat menulis artikel dengan menggunakan beberapa keyword serta kata yang sudah ditentukan sekian ratus jumlahnya.

Intinya, tampilan blog usahakan clean and minimalist design. Jangan lupa cantumkan contact details (email), Soc-Med spotlight (akun Google +, Twitter, Facebook, Instagram, LinkedIn, dll) di side bar agar pembaca mudah mengontak kita. Sharing blog melalui media sosial sangat memegang peranan penting untuk meningkatkan jumlah pengunjung blog.

Pakailah platform yang sesuai kebutuhan kita, baik itu blog gratis atau berbayar, misalnya : wordpress atau blogspot. Keduanya memiliki kelebihan dan kekurangan.

Materi dari mbak Shinta sangat berguna untuk saya sebagai blogger pemula. Walaupun saya suka menulis di blog tetapi belum sedetil itu perhatian saya terhadapnya. Setelah ini, saya akan mulai memperhatikan hal-hal tersebut.

Tiba di segmen terakhir, mbak Ani Berta menyampaikan bagaimana menghasilkan uang dari ngeblog (How to Monetize Your Blog Through Branding). Ini masih berkaitan erat dengan segmen pertama dan kedua tadi. Mbak Ani menceritakan bagaimana pengalaman dan perjuangannya hingga menjadi blogger internasional. Karakter dan kepribadian yang blogger tampilkan di media social sangat menentukan rejeki job dari ngeblog. Profil dan status seorang blogger di media sosial adalah personal branding.

Saya mencoba mengutip dalam ingatan pengalaman mbak Ani yang pernah tidak dibayar apapun dari kegiatan ngeblog. Setelah proses panjang, pengorbanan waktu, tenaga dan sempat memutuskan mengundurkan diri dari pekerjaan kantoran karena focus di dunia blogger, ada keajaiban hadir padanya yaitu tawaran menarik dari Australian Aid dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak.

Kini mbak Ani sudah bekerja tetap di sana dengan gaji sangat lumayan dan bisa berkeliling alias ‘udar-ider’ (dalam Bahasa Sunda) ke seluruh penjuru Indonesia karena pekerjaan ini.

Kesimpulan saya dari acara ini, bahwa ‘dari hobi bisa menjadi profesi’ itu memang telah terbukti. Seperti halnya kegiatan menulis karena saya menyukai kegiatan itu hingga perlahan setia padanya dan berusaha konsisten hingga menemukan jalan menjadi sebuah profesi yang menyenangkan plus mendatangkan uang.

Tidak ada hal yang tidak mungkin jika kita berusaha dan konsisten. Fun Blogging 6 memang benar-benar FUN! Terimakasih pada para pembicara yang telah membagikan ilmunya, dan teman-teman blogger yang saling menginspirasi.

Profesi Blogger memang bukan sekadar “udar-ider”.

"Teman-teman Fun Blogging 6 beserta para pemateri keren dan sponsor marketing (foto : Courtesy of Vivera Siregar)
“Teman-teman Fun Blogging 6 beserta para pemateri keren dan sponsor marketing (foto : Courtesy of  Vivera Siregar)

 

 

my journal

“Gathering Pegiat Social Media” (bersama Nukman Luthfie & penerbit Mizan)

Banner Gathering

Jum’at siang, 6 Februari 2015, pukul 13.00 wib, saya menghadiri acara “Gathering Pegiat Social Media” yang diselenggarakan di gedung kantor Mizan Grafika Sarana / MGS (penerbit Mizan), jalan Cinambo no. 135-137, Ujungberung-Bandung, dengan pembicara Kang Nukman Luthfie. Saya disambut dengan ramah oleh salah seorang staf Mizan, lalu ia memberikan kupon Coffee Break kepada saya setelah mengisi daftar hadir.

 

 

Menu Coffee Break
Menu Coffee Break

Sebelum masuk ke acara utama, saya dan beberapa peserta lain yang umumnya adalah blogger, diperkenalkan dengan Company Profile penerbit Mizan.

CEO Mizan
CEO Mizan

 

Gedung MGS (Mizan Grafika Sarana) , Jalan Cinambo 135, Ujungberung-Bandung
Gedung MGS (Mizan Grafika Sarana) , Jalan Cinambo 135, Ujungberung-Bandung

Setelah pengenalan Company Profile Mizan, MC memperkenalkan manajer produksi dan promosi, Mohamad A.Luthfi. Kang Lutfi membeberkan bagaimana proses distribusi dan promosi buku-buku yang diterbitkan oleh Mizan. Mulai dari bagaimana naskah yang diterima oleh Mizan diolah dengan baik oleh tim redaksi, apa saja produk-produk dari Mizan, bagaimana alur perjalanan buku-buku bisa terpajang di toko-toko buku, bagaimana tim Mizan yang solid berusaha dengan baik menjaga agar buku-buku Mizan dapat bertahan lama berada di display toko buku hingga mampu menarik pembaca, dan langkah-langkah untuk mengetahui selera pasar melalui survey di media sosial.

Mohamad A.Luthfi (Manajer Produksi & Promosi)
Mohamad A.Luthfi (Manajer Produksi & Promosi)

Selama ini banyak hal detil yang belum saya ketahui tentang distribusi sebuah buku akhirnya terjawab oleh penjelasan Kang Lutfi. Para peserta acara juga mengajukan beberapa pertanyaan terkait hal tersebut, salah satunya, “Bagaimana bentuk kerjasama antara penerbit Mizan dengan karya-karya fiksi luar negeri sehingga bisa diterbitkan di Mizan?”

Pihak Mizan membeli hak cipta (rights) dari penulisnya dan bekerjasama dengan agen distributor tersebut dalam bentuk perjanjian yang resmi. Sebagai contoh : Novel fiksi “Dunia Sophie” karya Joestin Gaarder, yang dialihbahasakan oleh Mizan menjadi best seller bahkan menjadi gold edition (buku laris dengan hasil cetakan berkualitas tinggi dan eksklusif, lebih dari 400 eksemplar terjual dalam kurun waktu tertentu ). Buku tersebut kini, naik cetak setiap bulan.

Jika ingin mengetahui tentang karya fiksi “Dunia Sophie” bisa di klik di sini lalu terjemahannya bisa diperoleh di beberapa toko buku yang bekerjasama dengan Mizan.

Sayang sekali, karena keterbatasan waktu, saya tak bisa menambahkan pertanyaan pada Kang Luthfi. Saya dan para peserta diajak melihat-lihat proses percetakan buku di gedung belakang. Kami dipandu sang MC mengunjungi gudang kertas, melihat jenis-jenis kertas yang akan digunakan, sisa-sisa potongan kertas yang akan didaur-ulang, mesin pembuat plat yang sehelainya bisa memuat 16 halaman, pengecekan ketebalan tinta pada plat, proses cetak tulisan di  kertas, mesin pelipat kertas, pembuatan cover buku dan penimbulan hurufnya, laminasi cover, dan tahap akhir adalah pengemasan buku.

 

This slideshow requires JavaScript.

Setelah melihat proses pembuatan buku yang panjang, saya jadi tersadar bahwa ketelitian dan kesabaran menjadi faktor utama kualitas cetakan buku. Selain itu, mesin-mesin yang canggih dan keahlian para pengontrol mesin juga menjadi bagian yang sangat penting.

Saya dan para peserta acara kembali ke ruangan untuk break sejenak sambil menikmati hidangan yang sedari awal kedatangan tersaji dan sang MC memberikan games tidak penting tetapi hadiahnya yang penting. Lima belas menit berlalu, acara utama bersama Kang Nukman Luthfie, pakar social media, dimulai.

Perkenalan dengan sang pembicara, Nukman Luthfie
Perkenalan dengan sang pembicara, Nukman Luthfie

 

Kang Nukman sesungguhnya adalah seorang pengusaha di bidang digital advestising. Beliau adalah CEO dari Harmonia dan musikkamu.com yang penyuka kopi dan selalu “shoefie”. Beliau memulai materi tentang social media dengan obrolan dan pertanyaan-pertanyaan sederhana, seperti : Untuk apa sih, kita gabung di media sosial? Apa sekadar ingin eksis? Atau ikut-ikutan saja? Atau ada tujuan yang jelas?

 

Personal Branding Nukman Luthfie on Twitter
Personal Branding Nukman Luthfie on Twitter

Saya tercenung, lalu bertanya pada diri sendiri dan berusaha menjawab pertanyaan itu. Ya, saya memang mengikuti tren, berinteraksi dengan teman lama dan ingin mendapatkan informasi tentang berbagai hal, khususnya dunia kepenulisan dari media sosial, juga eksis dengan menulis di blog pribadi. Ketika saya mendengar Kang Nukman, bertanya pada salah seorang dari seorang peserta yang hadir, saya merasa takjub. Pemuda tersebut hanya berjualan sepatu dan omzet penjualannya sudah mampu mencukupi kebutuhan hidupnya sendiri. Jumlah follower akun Twitter-nya sudah lebih dari 1000.

Nukman Luthfie
Nukman Luthfie

DSC_0499-2

About personal branding on Soc-Med

 

on mata najwa
Nukman Luthfie On ‘Mata Najwa’

 

Kang Nukman memperlihatkan contoh yang jelas dari pemuda itu. Jika kita memiliki profil yang jelas, tujuan memiliki akun media sosial juga jelas untuk apa, dan follower kita terus bertambah, itu sudah oke.  Apa yang kita bagi di media sosial adalah ciri kepribadian kita dan jati diri kita (Personal Branding). Jika kita adalah penjual sepatu, maka bagilah hal-hal yang berkaitan dengan produk sepatu. Jika kita penulis, bagilah konten dan tulisan-tulisan di blog atau hal-hal yang berhubungan dengan dunia itu. Perbaiki data profilmu di akun media sosial menjadi data yang menyajikan dirimu yang sebenarnya dan sesuai dengan keahlian serta bidangmu. Follow dan bertemanlah dengan orang-orang yang membawa manfaat bagi dirimu.

Ada hal-hal yang perlu dihindari saat menggunakan media sosial, diantaranya : jangan gunakan media sosial saat sedang marah, mengkritik boleh saja tetapi dengan cara yang santun, jangan memasang foto profilmu bersama orang lain. Tunjukkan siapa dirimu karena itu adalah brand kamu. Hal-hal tersebut akan mempengaruhi jumlah follower kamu.

Kang Nukman juga mengingatkan untuk berhati-hati dalam berbicara di media sosial karena itu adalah ruang publik dan pemerintah telah memberlakukan Undang-undang ITE.

UU-ITE

 

 

Langkah-langkah untuk membangun Personal Branding antara lain seperti diagram di bawah ini :

Step Personal Branding

Secara garis besar saya menyimpulkan bahwa Personal Branding di akun media sosial yang kita miliki harus kita bangun perlahan seiring dengan keahlian dan bidang yang kita tekuni. Kang Nukman menambahkan bahwa kita tidak perlu terlalu banyak selfie untuk menunjukkan siapa diri kita tetapi tunjukkan dengan apa yang kita share kepada publik. Kalau boleh saya katakan, what you share is who you are. Kalimat yang sangat saya ingat baik-baik dari Kang Nukman adalah ‘Derajat tertinggi pengguna media sosial adalah sang creator. Dia adalah pencetus ide-ide dan pemikiran yang dituangkan di dalam tulisannya di blog.’

Thank God, I like writing and blogging! 🙂

Di akhir acara, saya tidak dapat mengikuti sesi tanya jawab dengan Kang Nukman, namun dari gathering ini saya mendapatkan pencerahan tentang bagaimana eksis dengan sehat di media sosial untuk perkembangan jati diri ke arah yang lebih baik. Terimakasih kepada penerbit Mizan atas kesempatan emas ini. Semoga bisa berjodoh lagi suatu hari nanti.