Resensi

“The Coffee Memory”

coffee memory coverSaat melihat cover novel ini, aku langsung jatuh cinta. Bagaimana tidak, sebagai penyuka minuman kopi, tentu sensitif dengan sesuatu yang bernuansa kopi. Bungkus cover novel ini berwarna coklat muda seperti bungkus kopi klasik asli. Setelah dibuka, tampak cover bukunya, bergambar biji-biji kopi dan ditengahnya tertulis tinta emas timbul “The Coffee Memory”, dan nama penulisnya Riawani Elyta dengan warna tinta yang sama tertulis di bawahnya.

Menurutku, cover-nya eyecatchy, menarik dan unik. Membaca kisah cinta 224 halaman dalam novel ini, aku merasa bahwa ada kemiripan konsep dengan buku “Filosofi Kopi” karya Dewi Dee Lestari. Namun kisah di novel ini menyajikan makna berbeda. Kopi memang selalu menjadi inspirasi bagi beberapa orang di manapun. Kisah cinta dan aromanya tak dapat dipisahkan seperti Andro dan Dania dalam kisah novel ini. Konflik di dalam kisah ini lumayan bervariasi, dan penulis pandai memainkan kalimat filosofisnya tentang kerinduannya pada semangat Andro terhadap hal-hal yang berkaitan dengan kopi. Aku jadi penasaran, pasti riset tentang kopi untuk bahan mentah kisah di novel ini tak semudah menyeduh kopi instan ke dalam cangkir.
Nilai filosofi tentang cinta dan aroma kopi dalam novel ini cukup membuatku ‘melek’, terutama memerhatikan teknis penulisan naskah novel. Aku semakin mengerti bahwa sebagai pembaca juga sebagai calon penulis novel, teknik dan penyajian kisah novel harus senikmat saat menyesap kopi yang aromanya wangi merasuk ke dalam dada. Aku harus bisa menyajikan kopi dengan segala kreativitas yang ada agar penikmatnya merasakan apa yang sebenarnya ada di dalam kopi itu. Tak sekadar membuat saja tanpa rasa.

Aku suka dengan tokoh Barry, seorang barista yang terpengaruh oleh cita-cita besar Andro,suami Dania. Namun, makhluk setampan Pram juga terkadang dapat memikat, memanipulasi perasaan dan mengganggu kesetiaan seorang perempuan. Semua tokoh di novel ini terasa nyata, juga kafe Katjoe Manis yang menjadi inti kisah ini. Mungkin aku pun akan membuat naskah novel berkonsep kafe, namun tak mirip dengan kafe di novel ini. Bagiku, kafe adalah tempat yang mampu memancing banyak inspirasi menulis. Jika di dunia nyata kafe Katjoe Manis benar-benar ada, aku akan mengunjunginya dan berlama-lama di sana.

Terimakasih kepada kopi yang selalu menggodaku untuk meminumnya lagi dan lagi, juga kepada penulis novel “The Coffee Memory”, Riawani Elyta. Your novel is nice! I like it. Every reading always bring inspiration.

beautiful songs, my journal

Between Singer and Writer (about Music Everywhere “Raisa”, 1st June 2013)

Raisa & book (a photo from www.last.fm)
Raisa & book (a photo from www.last.fm)

Malam minggu tadi, aku belum bisa memejamkan mata. Tiba-tiba teringat ada jadwal tayangan acara musik di NET.TV. Aku menyimak acara musik ini karena penyanyi yang tampil adalah penyanyi pemilik suara empuk, Raisa. Penyanyi muda ini cukup menarik perhatian telingaku akhir-akhir ini. Apapun lagu yang dia nyanyikan, enak banget di telinga. Lagu yang paling menyentuh adalah “Firasat”, penyanyi aslinya Marcell.

Melihat tayangan wawancara diselingi lagu-lagu akustik Raisa, terpikir di benakku, bahwa singer and writer itu agak mirip namun sedikit kontradiktif. Profesi Raisa yang seorang penyanyi berawal dari hobinya. Dia jarang ditemani earphone di hari-harinya, namun di kepalanya selalu ada musik. Kesenangan penulis menuangkan kalimat-kalimatnya dari isi kepalanya juga berawal dari hobi, meskipun banyak juga mereka (penulis) mengawalinya bukan dari hobi tapi hanya sebuah ‘kebutuhan’.

Cara Raisa melantunkan berbagai nada dengan suara sedemikian empuk, berharmoni, mirip dengan kalimat-kalimat yang dituangkan seorang penulis ke halaman kertas di hadapannya. Raisa terlihat sesekali memejamkan mata saat bernyanyi, penulis pun terkadang demikian. Mata yang terpejam seolah membuat soul lebih dalam hingga merasuk ke dalam syair atau kata-kata yang ada.

Raisa merasa puas setelah meng-upload video lagu-lagunya dengan aliran yang sesuai dengan idealismenya ke YouTube. Penulis pun, khususnya blogger, merasa puas setelah memosting tulisannya di blog mereka. Keduanya merupakan bentuk kepuasan atas apresiasi dan aktualisasi diri sesuai dengan passion masing-masing.

Jika Raisa suka membaca banyak buku, penulis juga begitu. Selain sebagai kesenangan, membaca mampu membuat imajinasi yang luar biasa. Seperti kata Raisa, “Membaca itu enak. Nggak seperti nonton film, imajinasi kita dibatasi hanya dengan apa yang kita lihat. Tapi kalo membaca buku, itu lain. Imajinasi kita bisa liar, sebebas apa yang kita rasakan dan bayangkan di setiap kata yang kita baca di buku itu.”

Budaya membaca tanpa disadari ditularkan dari Ayahnya, karena Raisa selalu bertanya tentang kalimat atau kata yang dia tidak mengerti pada Ayahnya. Namun Raisa selalu “dipaksa” untuk mencari kata tersebut di buku-buku yang ditunjukkan Ayahnya. Menurutku, penyanyi yang suka membaca itu ‘sexy’. Bukan sekedar soal penampilan yang feminin, tapi cara berpikir seseorang yang suka membaca itu akan berbeda dengan mereka yang tidak suka membaca.

Bagi penulis pun sama, budaya membaca itu harus “dipaksakan” demi kekayaan ilmu dan bahasa yang akan mereka tuangkan di setiap karyanya. Terkadang, para penulis juga memiliki “perpustakaan berjalan”. Ada banyak hal yang bisa ditemukan di manapun, lalu dipahami sebagai sebentuk kalimat atau bahasa hati, yang kemudian nanti menjadi ide untuk dituangkan ke dalam tulisan.

Soal cinta, Raisa baru merasakan jatuh cinta saat kelas 2 SMP. Hei! Give me five! Me and you are the same about this first love. Raisa bilang, “Sebenarnya cinta itu universal. Kita bisa cinta dengan apa saja. Kucing, benda, atau apapun. Mungkin 10 tahun lagi, Raisa akan bisa menjelaskan apa makna cinta yang sesungguhnya.”

Raisa menyukai Eropean things, karena Eropa itu terkesan suasana kreatif. Me too, I like England. I’m dreaming to go there. Raisa bilang, kalau pribadinya diidentikan dalam satu kata, COLORFULL. Dia bisa lembut, tapi bisa juga tegas. Dia bisa manis, tapi bisa juga galak. Segala hal itu memang harus dinamis menurutku, tak hanya soal kepribadian. Dinamis itu memancing diri kita untuk enerjik.
Singer ; menyampaikan bahasa jiwanya melalui syair-syair lagu, berada di panggung / menjadi pusat perhatian.
Writer ; menyampaikan bahasa jiwanya melalui tulisan kata-kata dalam karya tulisannya, berada di “balik layar”.

Tak ada yang lebih baik dari kedua profesi ini, namun “bahasa jiwa” mereka mampu membawa kebaikan bagi penikmat karya-karyanya. Jika pada akhirnya Raisa memiliki banyak penggemar, itu soal selera masyarakat. Begitu pula dengan sebuah buku/ karya yang dihasilkan seorang penulis. Jika menjadi Best Seller, itu bisa berarti disukai banyak orang, sekedar beruntung karena trend, atau bisa juga karena penulis telah mendapat tempat spesial di hati para pembacanya.

I enjoy writing while listening to your songs, Raisa… 
I think, I’ll get some new ideas from your songs. Thanks to these songs by Raisa
: “Could it be love”, “Firasat”, “Use Somebody”, “Apalah arti menunggu?”, “Inginku”.