my journal, Resensi

Review Kumcer “Braga Siang Itu”

Cover "Braga Siang Itu" sumber : andipublisher.com
Cover “Braga Siang Itu”
sumber : andipublisher.com
  • Judul           : Braga Siang Itu
  • Penulis         : Triani Retno A.
  • Cetakan       : I, 2013
  • Penerbit       : Sheila Fiksi (imprint Penerbit ANDI), Yogyakarta.
  • Tebal           : 140 Halaman
  • Harga           : Rp29,000
  • Kategori       : Fiksi (Kumpulan Cerpen)
  • Genre          : Dewasa

Cover buku Kumcer ini sangat Braga. Terlihat dari foto dua pasang kaki bersepatu wanita dan pria yang sedang menjejakkan kaki di trotoar jalan Braga, Bandung. Judul Kumcer ini diambil dari salah satu judul cerpen yang ada di dalamnya.

Cerpen “Braga Siang Itu” di halaman 14, menyuguhkan kenangan pasangan kekasih bernama Fei dan Ben serta peristiwa kerusuhan Mei 1998. Mereka memiliki kenangan di jalan Braga hingga akhirnya kenangan itu retak bersama waktu yang bergulir. Saya suka dengan cerpen ini karena sangat bermakna yang menggugah pikiran saya sebagai wanita. Penggalan dialognya seperti ini : “Kamu tahu, Fei, di balik kesuksesan seorang laki-laki, selalu ada perempuan hebat. Begitu juga di belakang kehancuran seorang laki-laki. Perempuanlah yang memainkan peranan di balik kesuksesan dan kehancuran itu.”

Di dalam Kumcer ini terdapat 15 cerpen apik yang pernah dimuat di berbagai media cetak dengan tema bahasan yang dekat dengan dunia wanita. Hal-hal yang kita temui sehari-hari dikemas dengan sudut pandang penulis sehingga memberi kesan kritis, menyentuh, tegas, namun indah. Sebagian besar ide dari cerpen-cerpen tersebut adalah masalah-masalah sosial.

15 cerpen tersebut adalah :

  1. Bunda, Ibu yang Tak Pernah Ada (Dimuat di harian Tribun Jabar, 12 Oktober 2008)
  2. Braga Siang Itu (Dimuat di harian Tribun Jabar, 18 Maret 2012)
  3. Sansevieria (Dimuat di harian Tribun Jabar, 29 Maret 2009)
  4. Saat Malin Bertanya
  5. Sarapan
  6. Undangan
  7. Suara
  8. Ceu Kokom (Dimuat di majalah Sekar Edisi 49/11, 26 Jan-Feb 2011)
  9. Bunda Tak Tersenyum (Dimuat di majalah Kartika No.78/Februari 2010)
  10. 10. Surat Untuk Presiden
  11. 11. Merajut Hari
  12. 12. Hati yang Tak Kunjung Damai
  13. 13. Gunting
  14. 14. Gigi (Dimuat di harian Tribun Jabar, 18 Januari 2009)
  15. 15. Hujan (Dimuat di harian Tribun Jabar, 29 September 2009)

Namun ada hal yang mengurangi kenyamanan saya sebagai pembaca. Tulisan di beberapa halaman di dalamnya tidak tercetak jelas (berbayang), warna tintanya memudar, di  halaman 48 terlihat mirip tinta fotokopi yang tercecer, dan lembar lainnya tampilan lay-out-nya agak miring. Ukuran font pas dan nyaman dibaca secara keseluruhan. Font lain, mirip tulisan huruf sambung, ditampilkan di cerpen berjudul ‘Surat untuk Presiden’. Di cerpen ini, penulis seolah menyuarakan sebagian dari masalah dari negeri kita ini.

Kalau boleh menandai tanda bintang di setiap cerpennya, saya akan menandai lima bintang untuk cerpen berjudul ‘Braga Siang Itu’, ‘Saat Malin Bertanya’, ‘Sanseviera’, dan ‘Hujan’. Cerita yang sesuai dengan suasana kampanye Pemilu yang sebentar lagi akan digelar di Indonesia, terwakili oleh cerpen berjudul ‘Suara’ yang menampilkan tokoh seorang caleg gagal. Tak sedikit materi yang ia gunakan hingga terpaksa berutang pada beberapa orang, dan berujung pada gangguan psikis. Ia depresi dan harus menetap di klinik psikiatri dan rehabilitasi. Cerpen ini sungguh menggelitik ingatan saya tentang banyaknya orang-orang yang memaksakan diri untuk nyaleg dan wara-wiri di pemberitaan televisi.

Keseluruhan tema cerpen yang ada di Kumcer ini sangat inspiratif dan menyadarkan bahwa hal-hal yang melintas di depan kita setiap hari adalah inspirasi dan pembelajaran kehidupan. Bahkan cerita seorang ibu yang menuntut materi dari sang anak tergambar di cerpen berjudul ‘Bunda, Ibu Tak Pernah Ada’ dan ‘Saat Malin Bertanya’. Pada kenyataannya di jaman sekarang, banyak hal yang serba memusingkan, dan cerita ibu seperti itu memang benar-benar terjadi.

Buku Kumcer ini bisa menjadi alternatif bacaan di saat santai. Terutama bagi para penulis cerpen yang butuh referensi bacaan cerpen, Kumcer “Braga Siang Itu” karya Triani Retno A. adalah pilihan tepat. Saya sebagai penulis yang masih belajar menulis cerpen merasa bertambah ilmu dan mendapat pencerahan untuk tetap berlatih dari buku ini.

Well, Triani Retno A. wrote : Ide memang ada di sekitar kita.”

Happy reading!  🙂

Tandatangan Penulis
Tandatangan Penulis

Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku utama di kotamu, bisa juga memesan langsung ke penulisnya di Facebook Triani Retno A. (plus tandatangan, lho!) atau di :

http://andipublisher.com/produk-1213004999-braga-siang-itu.html

http://gramediaonline.com/moreinfo.cfm?Product_ID=873487

my journal, Rumah Kayu

“Memories in Braga”

captured by my Fujifilm Finepix
captured by my Fujifilm Finepix
Entah kapan aku terakhir bersama almarhumah Mama berada di jalan Braga. Mungkin saat aku menemani beliau check-up ke dokter dekat persimpangan jalan Braga. Selain moment itu, ada beberapa moment yang tak bisa aku lupakan. Terutama saat aku berkunjung ke toko kue di sana. Canary adalah toko kue pertama yang membuatku merasa seperti di negeri khayalan. Aroma roti dan kue yang menggugah selera, warna-warni cake dan puding yang tersedia di sana membuatku ingin memborong semuanya untuk dibawa pulang.

Mama selalu memberikan kebebasan padaku untuk memilih. Walau banyak jenis pilihan kue dan roti di etalase kaca itu, aku tetap memilih roti isi semur ayam yang lezat sebagai roti favoritku. Sekali mencoba roti ini, aku merasa ketagihan. Aku pasti mengambil 2 buah roti semur ayam itu setiap kali Mama menawarkan. Tapi mama selalu menawarkan tambahan cake atau kue yang lain untuk persediaan di rumah.
Cake lucu berbentuk perahu berbalut coklat menjadi pilihanku sesuai rekomendasi mama. Awalnya sih sayang sekali jika kue itu harus dimakan, karena bentuknya nanti tak lagi seperti perahu. Saat mencoba cake ini, krim mokanya begitu wangi dan terasa nikmat. Coklatnya meleleh di dalam mulut membuatku ingin merasakan gigitan selanjutnya sampai habis. Aku juga sempat memilih agar-agar spons. Saat mencicipinya, rasanya memang lembut seperti busa tapi manisnya pas. Tidak terlalu manis.

Roti lainnya yang cukup membuatku tergiur yaitu roti abon kacang mede, kue sus, cheese roll, apple pie, dan pie pisang keju. Saat melihat lemari pendingin, ada beberapa macam rasa es krim di sana. Pembeli bisa memilih rasa apa di lemari es krim itu, setiap scoop yang diambil diwadahi ke corong wafel. Pilihanku jatuh kepada coklat dan stroberi. Corong wafelnya juga enak.

Mama lebih suka pie isi daging berbentuk kotak. Biasanya setengah lusin Mama membeli pie ini. Namun ketika sampai di rumah, hanya 2 pie saja yang dimakan Mama. Sisanya aku minta, berebut dengan kakak dan adik. Ya, kalau soal mencicipi jajanan itu memang hobi kami.

Mama juga pernah mengajak ke toko kue di sebelah Canary, namanya toko Sumber Hidangan. Kue-kue dan roti tradisional khas Belanda begitu menarik pembeli termasuk kami berdua. Rasanya jangan ditanya. Sangat nikmat! Tapi aku lupa nama-nama kue dan rotinya karena roti isi semur ayam tetap menjadi unggulan bagiku di antara jenis kue lainnya.

Di depan kantor berita ANTARA, sebelah Canary, ada penjual es kelapa jeruk. Mama tidak pernah melewatkan es jeruk ini. Aku selalu diajak membelinya. Saat itu rasanya tak ada es jeruk yang nikmat seperti es jeruk kelapa itu.
Ya… memori bersama seseorang di suatu tempat memang dimiliki setiap orang. Aku merasa Mama berada di jalan Braga kemarin, saat aku bersama putriku merasakan pagi di Braga. It was like a dejavu! Namun sayang sekali, toko Canary belum buka. Aku hanya memotretnya.

Mama, aku akan selalu ingat kenangan itu. Aku akan pahami betapa berartinya dirimu di perjalanan hidupku. Aku jadi tahu tentang kota dan Braga, kelezatan jajanan kota, serta kesibukanmu di kantor. Terimakasih selalu membawa serta diriku di sela-sela lelah dan bahagiamu.

Putriku menjadi penyuka roti karena aku yang mengenalkannya, itu pun karenamu, Mama. Aku pernah punya mimpi ingin mahir membuat kue dan roti. Katamu, aku harus kursus dan berlatih. Aku belum intens melakukannya. Hanya eksperimen kecil saja di rumah. Semoga kamu tahu Mama, bahwa memiliki sebuah toko kue pastry adalah impian terpendamku. Itu karenamu…

Sebelum aku mewujudkan mimpiku, Braga telah menjadi inspirasi dari seorang tokoh di konsep calon novelku berikutnya. Semoga setelah menjadi naskah utuh nanti hingga terbit menjadi sebuah buku, aku akan bilang, “it was like a dejavu!”