Resensi

Review Kumcer “As Tears Dry Out”

Kumcer Nuthayla Anwar
Sampul depan buku Kumcer “As Tears Dry Out”

Judul                : As Tears Dry Out

Penulis              : Nuthayla Anwar 

Penerbit           : Fayla Production

Cetakan           : I, Agustus 2009.

Tebal               :  206 Halaman

ISBN                 : 978-602-95537-0-3

Satu lagi buku kumpulan cerpen yang saya baca. Awalnya saya mendapatkan rekomendasi bacaan ini dari seorang teman. Namun ternyata setelah saya mencari di toko buku, buku ini sudah tidak beredar. Akhirnya, saya meminjamnya dari teman yang baik itu.

Tak ada ruginya membaca, meskipun ini terbilang buku lama. Terlebih jika cerpen yang ada di dalam buku ini sangat membuat saya betah untuk terus menyimak halaman demi halaman. Bahasa yang lugas, natural, dan penggambaran suasana si cerita itu sendiri sangat terasa oleh saya. Di setiap cerpennya terdapat elemen menu masakan yang menjadi pelengkap isi cerita. Penulis bahkan menambahkan resep masakan yang terkait dengan setiap cerpennya di halaman terpisah.

Ada dua cerpen yang memiliki sudut pandang unik menurut saya. Cerpen berjudul “Ketika Sepatu Berkisah” memakai sudut pandang sepasang sepatu sebagai penutur cerita. Seolah si sepatu adalah benda hidup yang sangat peduli pada si empunya. Ada nilai-nilai moral yang disajikan di cerpen tersebut. Tentang makna keluarga dan pernikahan juga perjuangan seorang suami memenuhi segala keinginan istri dan anaknya.

Cerpen yang kedua berjudul “69”, memakai sudut pandang seekor anjing. Sang penulis, Nuthayla Anwar yang dikenal juga sebagai penulis novel ‘Alazhi Perawan Xin Jiang’ ini, menggambarkan kasih sayang seorang pemilik anjing  dengan sentuhan narasi seekor anjing. Saya tersadar oleh penuturan narasi yang sangat menyayat hati. Bahwa anjing setia pada Tuan-nya melebihi seorang laki-laki pada sang pacar. Namun cerpen ini menyajikan sisi manusia yang lain. Yang bukan pencinta binatang hingga nasib si Molly, tokoh anjing tersebut, kembali terlantar setelah sang  pemilik meninggal di usia 69 tahun.

Cerpen dengan nuansa kekinian dengan tajuk “Chatting” memberi warna lain. Kesan saya saat membacanya, kisah yang lucu dan mungkin saja dialami oleh pasangan yang telah menikah. Namun jalan ceritanya mudah saya tebak. Ternyata benar bagian akhir ceritanya seperti yang saya duga.

Secara keseluruhan, kumpulan cerpen ini sangat menggugah pembaca karena nilai-nilai yang tersirat darinya. Masalah perempuan, keluarga, pernikahan, sosial, kemanusiaan, bahkan kriminal memberikan wawasan dalam bentuk fiksi. Wawasan dari beberapa realita di dunia nyata mampu juga disajikan dalam bentuk fiksi semenarik cerpen-cerpen yang ada di buku ini.

Berikut ini 12 judul cerpen dan 17 resep masakan yang ada di dalam kumcer ini :

  1. Menjemput Cinta
  • Soto Betawi
  1. Ketika Sepatu Berkisah
  • Lasagna
  1. Reuni
  • Makaroni Panggang dengan Bayam & Wortel
  • Nugget Ayam dengan Brokoli
  1. Pejuang Waktu
  • Ayam Panggang
  • Sop
  • Perkedel Tahu
  1. Chatting
  • Soto Padang
  1. Prahara
  • Nasi Mutabagiah (Nasi Goreng ala Arabia)
  • Gulai Kambing dengan Bamia
  1. Kulepas Aku
  • Puding Roti
  1. Gelap
  • Roti Goreng Keju
  1. Paviliun
  • Sambal Goreng Udang
  1. 69
  • Bolu Kukus
  1. Origami
  • Chocolate Blended
  1. Sketsa Cinta
  • Donut Kentang
  • Bakso

Ada pesan yang dituliskan oleh penulis di balik kulit sampul buku ini untuk si teman pemilik buku ini. ‘Cerita dan Resep Cinta’. Ya, seringkali kita tidak pernah mengerti apa makna di balik setiap masakan yang pernah kita sajikan untuk seseorang. Mungkin semua cerpen dalam buku ini mewakili makna cinta itu sendiri. This is a lovely book, really nice stories. :*

Terimakasih kepada Epiest Gee yang telah meminjamkan buku kumcer ini tanpa tenggat waktu. 🙂

365 days' Project, Media Cetak

“Nyanyian Hujan” (Cerpen Perdana dimuat di majalah Femina edisi 32/XLII/15-21 Agustus 2015)

Ilustrasi cerpen
Ilustrasi cerpen “Nyanyian Hujan”

Akhir bulan Juli lalu saya mendapatkan dua miscalled di ponsel. Kodenya wilayah Jakarta. Saya cuek saja, nggak menelepon balik. Paling marketing asuransi atau promosi TV berlangganan, pikir saya.

Sejam kemudian, saya membuka email. Ternyata ada surat cinta dari editor di sana. Dua miscalled tadi dari kantor redaksi majalah Femina rupanya. Esoknya, saya menelepon editor Femina dan mengonfirmasi Cerpen saya. Saat itu saya pikir cerpen yang akan dimuat adalah naskah yang saya kirim bulan Maret 2015.

Mbak editor bilang, email tahun 2014. Setelah saya cek di sent email, ternyata naskah di bulan November 2014. Udah agak lupa. Namun lupa berbuah bahagia. Mbak editor juga menyampaikan bahwa editan hanya sedikit. Syukurlah, padahal saya udah lumayan dag-dig-dug, takut banyak kalimat yang salah ketik.

Awalnya naskah cerpen “Nyanyian Hujan” ini pengembangan dari cerpen yang dulu saya tulis tahun 2010 tetapi versi remaja. Cerpen yang sempat dieksekusi oleh penulis dan editor berpengalaman, mbak Triani Retno. Setelah saya baca lagi cerpen itu, ternyata memang buruk sekali tulisan saya.

Saya terus berlatih, entah ini yang ke berapa kali. Semangat menulis naik turun seperti melalui jalur roller coaster. Lalu memberanikan diri mengirimkan ke majalah Femina. Tentu saja saya membaca terlebih dulu persyaratan naskah cerpen majalah tersebut. Sebelum naskah cerpen, saya sempat mengirim naskah untuk rubrik ‘Gado-gado’ Femina bulan Maret lalu. Alhamdulillah, kemarin sore mendapat kabar dari mbak editor Femina lagi. Semoga segera hadir di majalah edisi mendatang. Judulnya masih rahasia.

Ide cerita cerpen “Nyanyian Hujan” ini hanya secuil saya ambil dari pengalaman pribadi. Tebak saja yang mana. Kemudian, saya kembangkan dengan beberapa polesan. Terutama di bagian bahasa daerah Cirebon. Menurut saya, setiap bahasa memiliki ciri khasnya sendiri. Redaksi Femina sepertinya menyukai cerpen yang bermuatan nilai-nilai lokal daerah di Indonesia dan tentu saja masalah-masalah yang sering dihadapi wanita dewasa. Bumbu kisah cinta tetap menjadi pemanis isi cerita.

Saya juga melakukan riset kecil pada beberapa teman di dunia kepenulisan, suami, dan first reader yang sangat membantu saya untuk melakukan perbaikan di naskah. Alhasil, saya belajar lebih mendalam bagaimana sebuah cerpen bisa hidup di benak pembaca. Semoga pembaca mendapatkan pesan yang saya siratkan di sana. Seperti kata Dewi ‘Dee’ Lestari di blog-nya, “Tidak penting apakah pembaca menyukai tulisan saya atau tidak. Yang penting adalah bagaimana pesan saya sebagai penulis sampai di benak pembaca.”

Setelah cerpen ini dimuat, putri saya senang melihat ilustrasinya. Terimakasih untuk mbak illustrator. Gambar seorang perempuan dengan sepatu kanvas merah, itu gue banget! Putri saya memeluk saya sambil tersenyum lebar dan berkata, “Mama, selamat, ya… Mama sudah sukses dua kali. Pertama, buku “Amazing 30“. Yang kedua, cerpen di majalah Femina.”

Ternyata putriku yang kelas 5 SD itu mengerti apa arti kata ‘sukses’. Saya hanya tersenyum geli. Dia juga bertanya terus, “Mama, cerpen anak yang kakak baca waktu itu udah dikirim belum? Cepetan kirim!”

Alhamdulillah, pertanyaan putriku itu menjadi alarm pengingat target saya berikutnya.

Tunggu karya-karya saya berikutnya, ya, temans. Bukan tidak mungkin dari cerpen ini bisa jadi sebuah novel. Entah kapan itu terwujud. Draft ide sedang dalam proses di folder laptop.

Semoga semangat berkreatifitas selalu bersama kita.  😉

Cover Femina edisi 32 : Anindya Kusuma Putri (Putri Indonesia 2015)
Cover Femina edisi 32 : Anindya Kusuma Putri (Putri Indonesia 2015)

Ini dia, cerpen “Nyanyian Hujan” versi asli sebelum diedit oleh editor.

Aku terpana pada sesosok lelaki jangkung bermata teduh, Keansantang. Usianya dua belas tahun lebih tua dariku. Pak Tama, kolega Mama, mengenalkannya padaku. Beliau sepertinya sedang berusaha menjodohkanku. Yang terbersit di hatiku saat berjabat tangan tangan dengan Kean hanyalah, “Sepertinya laki-laki ini orang baik.” Raut Kean seolah memancarkan sesuatu yang aku rindukan.

***

Udara siang yang menyengat di dusun Kreyo, Palimanan, seakan tersamarkan oleh sambutan hangat, mbok Siti, ibunda Kean. Ia terlihat bersahaja dengan balutan kebaya cokelat dan kain batik bermotif bunga. Sebuah aliran air sungai yang jernih terpancar dari matanya seolah berkata, “selamat datang di keluarga kami”. Itu membuat hatiku sejuk. Ditambah lagi deretan pohon mangga cengkir yang lebat, pisang dan kelapa di sekitar halaman membuat suasana asri. Tak seperti suasana rumahku yang selalu panas oleh pertengkaran Mama dan ayah tiriku serta polah adik tiriku, Beni, yang semakin lama semakin menjadi.

Priye mbok?” bisik Kean pada ibunya sambil melirik padaku.

“Ibu setuju saja siapapun wanita pilihanmu, Kean.” Jawab mbok Siti dalam bahasa Cirebon. Tak pernah sekalipun orangtua Kean turut campur dalam kehidupan ketujuh anaknya. Hal itu yang membuat mereka menjadi pribadi yang percaya diri menjalani hidup.

Cara Kean bertutur dan tawanya yang lepas berhasil menyejukkan jiwaku. Aku hampir lupa dengan tawa. Entah kapan terakhir kali tertawa.

“Kamu tahu rumba?” Kean mulai mempromosikan menu spesial di rumahnya.

Rumba?” Keningku berkerut. Bagiku, kata itu terdengar seperti nama alat musik tradisional.

“Masakan mbok yang enak banget.”

“Kok namanya lucu.”

“Kadang masakan mbok tuh, nggak ada namanya tapi rasanya luar biasa. Rumba tuh terbuat dari daun singkong, kangkung, atau pisang klutuk muda. Semuanya pakai kelapa parut. Meski pakai kelapa, kalau mbok yang masak, nggak akan basi.” Jelas Kean.

“Kok bisa?” Aku tersenyum kagum, betapa mbok pintar memasak. Tiba-tiba, nasihat Mama mengiang di telingaku, “anak perempuan tuh, harus bisa memasak. Apalagi gadis Minang, bisa memasak rendang, itu satu prestasi membanggakan.” Mama dibesarkan oleh orangtua yang juga pintar memasak. Rendang buatannya paling empuk sedunia.

Selama ini, aku hanya seorang penikmat masakan Mama. Aku malu pada Mama yang tetap sempat memasak walau aktivitas di kantor eight to five. Saat hari libur tiba, aku lebih memilih bermalas-malasan atau hanya berbenah kamar tidur.

Kean meneguk segelas air di hadapannya hingga tandas lalu ia pergi ke dapur dan bertanya, “Masak rumba ta, mbok?”

 “Iya, nanti bikin. Masak telur pindang dulu,” jawab mbok. Sesekali ia diganggu cucunya, Fajri, meminta ini dan itu.

            Menurutku selalu ada semacam magic spell di setiap masakan seorang ibu. Selain bumbu rahasia, cinta dan ketulusan adalah dua hal utama yang mampu menghipnotis lidah.

            Aroma masakan memenuhi semua sudut rumah dan menggoda hidungku. Terbit keinginan untuk bertanya tentang resep rahasia masakan mbok, namun urung. Aku bukan tipe orang yang mudah mendekati orang baru kecuali pada Kean.

***

Mentari senja beranjak pulang. Aku dan Kean pergi ke tajug selepas azan ashar. Salat berjamaah sudah menjadi kebiasaan keluarga ini dan Kean menjadi imam. Mbok telah lebih dulu berada di sana, Fajri turut bersamanya.

Hatiku menciut dan kaku. Betapa aku merasa iri pada Kean. Mama tak pernah mengajarkanku bagaimana memperoleh ketentraman hati seperti yang Kean dan ibunya lakukan di tajug ini. Yang aku mengerti hanya bagaimana senyum Mama tetap mengembang di balik wajah lelahnya sepulang bekerja. Mungkin setiap ibu di dunia memberikan makna ketenteraman yang berbeda pada anak-anaknya.

Seusai salat, aku meraih tangan kanan mbok dan mengecupnya, setelah Kean melakukannya lebih dulu. Mbok mengangguk diiringi senyuman teduhnya padaku. Seketika itu, aku merasa diriku akan menjadi bagian dari keluarga Kean. Walau aku masih belum yakin apakah aku bisa menempatkan Kean di ruang hatiku setelah Teguh.

Untuk pertama kalinya, aku mencium punggung tangan kanan Kean. Entah untuk apa aku melakukannya. Desiran di dada ini begitu menghebat hingga menggerakkan syaraf tanganku.

“Dita, aku membangun tajug ini bersama bapak saat aku masih kelas satu SMA.” Ujar Kean sembari kedua matanya menerawang jauh ke depan. Seolah sedang mengingat peristiwa yang membuatnya merasa sebagai laki-laki dewasa. Kami duduk bersisian di teras tajug sambil menikmati desiran angin senja yang membuatku semakin betah. Sementara Mbok kembali ke rumah bersama Fajri.

“Oh…” Aku mengangguk. Sesekali semilir angin memainkan helaian rambutku.

“Setelah tajug ini jadi, aku membuat sebuah madrasah supaya anak-anak di sekitar sini kalau mengaji tidak harus pergi jauh ke mesjid desa sebelah.”

Sebongkah rasa kagum hadir lagi di salah satu sudut hatiku. Seusia itu, aku hanya sibuk dengan perasaanku yang tak menentu. Sikap Teguh yang sesekali acuh padaku ditambah dengan perlakuan ayah tiriku pada Mama yang menjelma menjadi mimpi buruk.

Kang Kean berarti mengajar anak-anak mengaji setiap hari?”

“Ya, setelah ashar dan magrib.”

“Murid akang sudah banyak?”

“Awalnya hanya sepuluh orang. Sekarang, sudah puluhan generasi. Aku dibantu beberapa alumni yang sudah mahir membaca Al Quran.”

“Wah, pasti lulusan madrasah di sini sudah jadi perantau seperti kang Kean.”

“Teman-teman pengurus madrasah sudah jadi dosen di perguruan tinggi di Bandung. Alumni juga banyak yang merantau ke Jakarta dan Bandung menjadi pedangang yang sukses.”

Kang Kean tinggal di Bandung sejak kapan?”

“Sejak memutuskan untuk ikut tes masuk perguruan tinggi negeri. Waktu itu, almarhum bapak hanya membekali uang dua ratus ribu untuk pendaftaran. Sisanya, aku cari sendiri dengan bertualang dari satu pesantren ke pesantren lain, berdagang kecil-kecilan, bekerja di pabrik, sampai akhirnya kuliah bisa selesai.”

Alasan untuk mulai jatuh cinta pada Kean semakin jelas di benakku. Ia mirip Teguh yang gigih dengan tujuannya. Namun Kean begitu matang dan relijius. Teguh

memang tak pantas untuk dipertahankan jika dibandingkan dengan Kean. Ia telah dirasuki setan hingga menghamili perempuan yang baru saja dikenalnya.

“Dita, kamu sudah lama bekerja kantoran?”

“Belum lama, baru dua tahun. Awalnya sih, aku cuti kuliah dan ingin bekerja supaya bisa bayar kuliah sendiri. Melamar ke restoran fast food, tapi nggak beruntung. Tiba-tiba datang kesempatan dari sebuah perusahaan tempat pamanku bekerja. Aku coba ikuti ujian masuk dan lulus.” Aku merasa sesuatu akan tumpah dari kelopak mataku. Namun, berhasil kutahan.

“Mama sudah pensiun?”

“Mama memilih pensiun dini. Mama nggak mampu membiayai kuliahku karena uang pensiun Mama habis begitu saja.” Memoriku berputar ke saat ayah tiriku menguras semua pesangon pensiun Mama demi kesenangannya sendiri. Sejak itu, aku benar-benar membencinya. Aku merasa lega setelah Mama bercerai dengannya.

Tanpa sengaja, kami beradu pandangan. Kean menatapku dalam. Beberapa jenak aku kikuk, tak kuasa menerima tatapan itu. Aku membuang pandangan ke halaman rumah dan berusaha keras mengatur debaran hebat di hati.

“Besok pagi, setelah sarapan, kita pulang ke Bandung. Tapi kalau kamu masih betah, lusa saja.” Perkataan Kean menghentikan kegugupanku sejenak.

“Wah, aku bisa kena teguran bos-ku di kantor karena bolos kerja. Karyawan kontrak harus rajin, kang.”

Kean tertawa renyah. “Nggak enak juga ya, kerja kantoran. Nggak bisa seenaknya libur.”

Kang, kapan kita jalan-jalan ke keraton Kasepuhan? Aku pengin tahu mesjid merah.”

“Mungkin nanti. Banyak hal menarik di sana.” Kean menyungging senyum seolah menanam satu harapan untuk pergi bersamaku lagi.

Langit mulai berubah pekat dan rinai hujan mulai membasahi pekarangan dan pohon-pohon. Mbok terlihat menggiring ayam-ayam peliharaannya ke kandang di samping dapur. Aku memutuskan untuk menyegarkan diri sebelum magrib menjemput. Sementara Kean mencandai Fajri sambil menyimak tayangan televisi.

***

Usai makan malam dengan rumba daun singkong dan telur pindang yang lezat, Kean mengajakku berbincang tentang segala hal. Masa kecilnya hingga para pelaku politik yang aku tak terlalu paham dunianya. Kean berhasil membuatku betah berlama-lama menikmati tawa di antara cerita dan kelakar. Jarum jam dinding telah menunjuk ke angka sepuluh. Aku mulai menguap.

“Dita, kamu tidur di kamar mbok di depan. Mbok jarang tidur di situ, lebih sering sama Fajri di depan teve.”

Aku mengiyakan. Sementara Kean memilih tidur di kursi tamu. Ranjang besi yang ada di kamar ini mengingatkanku pada nenek. Namun si kelambu tak lagi terpasang, hanya besi-besi penyangga saja yang terlihat. Pintu kamar yang tak bisa dikunci, kututup rapat. Kasur kapuk berbalut seprai batik yang bersih, bantal kapuk yang empuk, tak kunjung membuatku mengantuk. Pandanganku mengitari bilik langit-langit kamar. Aku nggak percaya, mengapa aku berada di sini? Nyanyian hujan mengalun merdu diringi suara katak blentung yang hanya hadir di musim penghujan. Nyanyian penyejuk jiwa dari Yang Kuasa. Aku berusaha memejamkan kedua mataku, dan hujan semakin deras diiringi petir.

***

Entah pukul berapa aku terlelap. Malam berganti subuh. Suara azan membangunkanku. Segera aku mengambil peralatan mandiku, lalu keluar dari kamar. Kean tengah duduk di ruang depan.

“Mau langsung mandi?” tanyanya sambil merapikan sarung kotak-kotak hijau.

“Iya, Kang. Gerah.”

“Aku salat subuh duluan, ya? Kamu salat di kamar saja nanti.”

Aku mengangguk.

Sesaat setelah Kean pergi ke tajug, seorang wanita paruh baya berbalut daster batik memberiku alat salat sambil tersenyum ramah. Menurut perkiraanku, ia kakak Kean. Entah kapan ia datang. Mungkin tadi malam saat aku terlelap.

***

Sejujurnya aku tak ingin meninggalkan tempat ini. Perasaanku mengatakan, aku akan kembali lagi ke sini. Kean pun sepertinya berat meninggalkan ibunya. Rutinitas kepulangannya hanya satu atau dua bulan sekali.

Nok Dita, ini bawa untuk ibu di rumah, ya?” kata Mbok dalam bahasa Cirebon. Ia membekaliku beberapa bungkus krupuk beraroma bawang, buah mangga cengkir, krupuk melinjo, dan gula batu.

“Terimakasih, bu.” Aku menerimanya dengan senang walaupun sebenarnya khawatir Kean kerepotan. Tas ranselku pun sudah sesak.

Wis mbok, ora cukup tempate ning motore.” Kean terlihat resah.

Lebetaken nang bagasi atau tas, Kean.” Mbok memaksa Kean membawa seluruh bekalku.

Kean mengalah, dan melaksanakan perintah ibunya.

Kami pamit lalu menaiki motor Kean. Sisi kiri jalan pintas perkampungan yang kami lewati menyajikan siluet gunung Ciremai. Begitu jelas terbingkai langit pagi yang berseri-seri. Area persawahan terbentang luas dan padi-padi di sana telah dipanen. Sungguh anugerah pagi yang tak bisa kusangkal.

Kang, bagus ya, pemandangan di sini.”

“Kamu baru lihat, ya, gunung Ciremai?”

“Iya. Cuma pernah dengar dari kakakku.”

“Oooh…” Kean mengangguk dan kembali fokus ke depan. Sesekali ia merespon pertanyaan-pertanyaanku.

Tiba-tiba aku teringat perempuan yang memberiku alat salat, subuh tadi.

Kang, tadi subuh itu siapa? Ada perempuan di rumah, selain mbok.”

“Oh, itu kang Kesturi. Anak pertama mbok.”

“Kok kang Kean manggil ‘kang’ juga sama kakak perempuan?”

“Di sini, sebutan ‘kang’ itu berlaku untuk kakak perempuan juga laki-laki.”

“Oh, gitu.”

Gapura ‘Selamat datang di kabupaten Cirebon’ telah terlewati. Kami singgah di sebuah warung di perbatasan Tomo-Sumedang. Dahaga sirna oleh aliran air kelapa muda. Pemandangan sungai Cimanuk yang bantarannya dihiasi ilalang tak luput dari penglihatan kami.

Kean menyesap air kelapa mudanya perlahan lalu menoleh ke arahku. “Dita, gimana kalau awal bulan depan aku melamar kamu?”

Dadaku terhenyak mendengar itu. Aku mengaduk air kelapa di hadapanku sambil mencari jawabannya.

“Mmm… melamar?” Aku masih ragu, terlebih ketika Kean mengajakku ke kampungnya dan berkata “aku ingin mengenalkanmu pada ibu sebagai calon istri.”

Kean mengangguk dan menatapku cukup lama, menunggu jawaban.

Aku menyesap air kelapa untuk melegakan dadaku lalu berkata, “Terserah kang Kean.” Bayangan Teguh belum benar-benar hilang di ruang hati ini. Sangat sulit menghapus kenangan-kenangan yang telah terukir selama enam tahun. Ya, Tuhan, apakah Kean adalah pengganti Teguh?

***

Setelah otot-otot kaki cukup nyaman, kami melanjutkan perjalanan. Aku melihat-lihat pemandangan di sepanjang jalan sebagai pengusir kantuk.

“Dita, kok, kamu nggak ada suaranya? Ngantuk?” Kean menepuk lututku tanpa menoleh ke belakang.

“Hehe, iya, kang.” Aku merasakan perih di kedua mataku.

Kean tertawa ringan. Hening menguasai kami. Hanya suara deru mesin motor dan kendaraan lalu lalang mendominasi. Sampailah kami di kawasan Nyalindung.

Aku menepuk pundak Kean dan memintanya untuk berhenti di depan kios penjual peuyeum gantung. “Kang, aku mau beli peuyeum buat Mama.”

Kean menepikan sepeda motornya.

Selesai memilih dan membayar, kami melanjutkan perjalanan. “Kang, maaf, ya, jadi menambah beban penumpang motor, nih.”

“Nggak apa-apa. Mumpung kita lewat sini.” Kean menggantungkan keranjang peuyeum di motornya.

Di sisa perjalanan, Kean setia mendengarkan ceritaku tentang Mama, juga tentang Teguh. Entah untuk apa aku jujur soal Teguh. Namun rasa sakit yang masih bercokol di dada perlahan menguap karenanya.

***

“Mamaaa! Aku pulang!” Aku mengecup pipi Mama, kiri dan kanan.

Mama sedang menikmati ubi ungu kukus dan segelas teh pahit di ruang depan. Aku membawa masuk buah tangan dari mbok dan peuyeum tadi. Kean mengekori setelah memarkirkan motor.

Assalammu’alaikum.” Kean meraih tangan kanan Mama dan mengecupnya.

Alhamdulillah, sampai rumah dengan selamat,” ujar Mama sambil mengulas senyum.

“Sebentar ya, kang. Aku ambil minum dulu.”

Kean terlibat obrolan ringan dengan Mama.

“Gimana ibu, sehat?”tanya Mama pada Kean.

“Alhamdulillah, bu. Mbok selalu sehat.”

“Terakhir Mama ke Cirebon waktu Papa Dita masih ada. Ada paman Dita di Majalengka.”

“Oh, Majalengka agak jauh dari Palimanan.”

“Wah, Mama nggak bakal kuat naik motor ke sana.”

“Bisa tiga jam non stop sampai di Palimanan. Kami tadi sempat istirahat di Sumedang. Jadi kurang lebih empat jam.” Jelas Kean. “Bu, nanti kalau saya ajak Dita lagi ke sana, boleh, ya, bu?”

“Kalau Dita mau, ya silakan. Hati-hati di jalan. Perjalanan jauh naik motor itu bahaya.”

Aku menyajikan secangkir kopi di meja untuk Kean lalu pamit sejenak untuk mengganti baju.

***

Sabtu pagi, Mama mengijinkanku pergi bersama Kean ke kawasan wisata gunung Tangkuban Perahu. Aku yang mengajak Kean ke sana. Kupikir kejenuhan pekerjaan sebagai staf administrasi yang monoton selama lima hari di kantor akan sirna.

Laju motor Kean tak terlalu terburu-buru hingga perjalanan sangat kami nikmati. Pintu masuk menuju kawasan gunung Tangkuban Perahu telah di depan mata.

Aku membayar tiket masuk. Kami melewati jalanan yang tertutup kabut. Samar-samar terlihat beberapa pengunjung sedang berjalan kaki, dan lainnya menaiki sepeda motor. Setelah sampai di tempat parkir, kami berjalan ke tepian kawah yang berpagar kayu. Beberapa pengunjung yang mengabadikan momen. Kami memerhatikan kepulan asap kawah Tangkuban Perahu dan terdiam. Hanya aroma bau belerang yang tak mau diam menusuk ke hidung.

Kean membelah kebisuan, “Dita, kira-kira kapan, ya, tanggal yang tepat?”

Kami saling berpandangan lalu aku tertunduk. Tetesan hujan mulai ribut bersama kabut. Beberapa orang terlihat berlari menuju warung tenda penjaja makanan. Aku dan Kean masih berdiri di sana.

“Tanggal sembilan?” tanya Kean lagi dengan senyuman lucu.

Aku menangkap sorot bola matanya yang jujur, lalu berkata, “Terserah kang Kean.”

Tetesan air dari langit semakin merdu seolah membelai luka hatiku. Kean meraih tanganku dan mengajakku ke warung penjual bandrek. Hatiku melagu seiring sesapan minuman hangat itu.

 *****

my journal, Resensi

Review Kumcer “Braga Siang Itu”

Cover "Braga Siang Itu" sumber : andipublisher.com
Cover “Braga Siang Itu”
sumber : andipublisher.com
  • Judul           : Braga Siang Itu
  • Penulis         : Triani Retno A.
  • Cetakan       : I, 2013
  • Penerbit       : Sheila Fiksi (imprint Penerbit ANDI), Yogyakarta.
  • Tebal           : 140 Halaman
  • Harga           : Rp29,000
  • Kategori       : Fiksi (Kumpulan Cerpen)
  • Genre          : Dewasa

Cover buku Kumcer ini sangat Braga. Terlihat dari foto dua pasang kaki bersepatu wanita dan pria yang sedang menjejakkan kaki di trotoar jalan Braga, Bandung. Judul Kumcer ini diambil dari salah satu judul cerpen yang ada di dalamnya.

Cerpen “Braga Siang Itu” di halaman 14, menyuguhkan kenangan pasangan kekasih bernama Fei dan Ben serta peristiwa kerusuhan Mei 1998. Mereka memiliki kenangan di jalan Braga hingga akhirnya kenangan itu retak bersama waktu yang bergulir. Saya suka dengan cerpen ini karena sangat bermakna yang menggugah pikiran saya sebagai wanita. Penggalan dialognya seperti ini : “Kamu tahu, Fei, di balik kesuksesan seorang laki-laki, selalu ada perempuan hebat. Begitu juga di belakang kehancuran seorang laki-laki. Perempuanlah yang memainkan peranan di balik kesuksesan dan kehancuran itu.”

Di dalam Kumcer ini terdapat 15 cerpen apik yang pernah dimuat di berbagai media cetak dengan tema bahasan yang dekat dengan dunia wanita. Hal-hal yang kita temui sehari-hari dikemas dengan sudut pandang penulis sehingga memberi kesan kritis, menyentuh, tegas, namun indah. Sebagian besar ide dari cerpen-cerpen tersebut adalah masalah-masalah sosial.

15 cerpen tersebut adalah :

  1. Bunda, Ibu yang Tak Pernah Ada (Dimuat di harian Tribun Jabar, 12 Oktober 2008)
  2. Braga Siang Itu (Dimuat di harian Tribun Jabar, 18 Maret 2012)
  3. Sansevieria (Dimuat di harian Tribun Jabar, 29 Maret 2009)
  4. Saat Malin Bertanya
  5. Sarapan
  6. Undangan
  7. Suara
  8. Ceu Kokom (Dimuat di majalah Sekar Edisi 49/11, 26 Jan-Feb 2011)
  9. Bunda Tak Tersenyum (Dimuat di majalah Kartika No.78/Februari 2010)
  10. 10. Surat Untuk Presiden
  11. 11. Merajut Hari
  12. 12. Hati yang Tak Kunjung Damai
  13. 13. Gunting
  14. 14. Gigi (Dimuat di harian Tribun Jabar, 18 Januari 2009)
  15. 15. Hujan (Dimuat di harian Tribun Jabar, 29 September 2009)

Namun ada hal yang mengurangi kenyamanan saya sebagai pembaca. Tulisan di beberapa halaman di dalamnya tidak tercetak jelas (berbayang), warna tintanya memudar, di  halaman 48 terlihat mirip tinta fotokopi yang tercecer, dan lembar lainnya tampilan lay-out-nya agak miring. Ukuran font pas dan nyaman dibaca secara keseluruhan. Font lain, mirip tulisan huruf sambung, ditampilkan di cerpen berjudul ‘Surat untuk Presiden’. Di cerpen ini, penulis seolah menyuarakan sebagian dari masalah dari negeri kita ini.

Kalau boleh menandai tanda bintang di setiap cerpennya, saya akan menandai lima bintang untuk cerpen berjudul ‘Braga Siang Itu’, ‘Saat Malin Bertanya’, ‘Sanseviera’, dan ‘Hujan’. Cerita yang sesuai dengan suasana kampanye Pemilu yang sebentar lagi akan digelar di Indonesia, terwakili oleh cerpen berjudul ‘Suara’ yang menampilkan tokoh seorang caleg gagal. Tak sedikit materi yang ia gunakan hingga terpaksa berutang pada beberapa orang, dan berujung pada gangguan psikis. Ia depresi dan harus menetap di klinik psikiatri dan rehabilitasi. Cerpen ini sungguh menggelitik ingatan saya tentang banyaknya orang-orang yang memaksakan diri untuk nyaleg dan wara-wiri di pemberitaan televisi.

Keseluruhan tema cerpen yang ada di Kumcer ini sangat inspiratif dan menyadarkan bahwa hal-hal yang melintas di depan kita setiap hari adalah inspirasi dan pembelajaran kehidupan. Bahkan cerita seorang ibu yang menuntut materi dari sang anak tergambar di cerpen berjudul ‘Bunda, Ibu Tak Pernah Ada’ dan ‘Saat Malin Bertanya’. Pada kenyataannya di jaman sekarang, banyak hal yang serba memusingkan, dan cerita ibu seperti itu memang benar-benar terjadi.

Buku Kumcer ini bisa menjadi alternatif bacaan di saat santai. Terutama bagi para penulis cerpen yang butuh referensi bacaan cerpen, Kumcer “Braga Siang Itu” karya Triani Retno A. adalah pilihan tepat. Saya sebagai penulis yang masih belajar menulis cerpen merasa bertambah ilmu dan mendapat pencerahan untuk tetap berlatih dari buku ini.

Well, Triani Retno A. wrote : Ide memang ada di sekitar kita.”

Happy reading!  🙂

Tandatangan Penulis
Tandatangan Penulis

Buku ini bisa diperoleh di toko-toko buku utama di kotamu, bisa juga memesan langsung ke penulisnya di Facebook Triani Retno A. (plus tandatangan, lho!) atau di :

http://andipublisher.com/produk-1213004999-braga-siang-itu.html

http://gramediaonline.com/moreinfo.cfm?Product_ID=873487

my journal, sejenis cerita pendek

“Stereo Heart”

picture by http://www.popscreen.com/
picture by http://www.popscreen.com/

I don’t know what do I have to do with this feeling. Maybe, I have to tell what I really feel to him, but I don’t have enough courage to do it. What if he didn’t accept this feeling or he suddenly made a distance from me?

Karen tries to enjoy her favorite playlist on her mp3 player while her mind still thinking about Dennis, her classmate. He’s the one who makes Karen got insomnia lately.

Until one day, she had a chance to talk to Dennis.

“Have you done your Biology project, Dennis?”

“Not yet, I was wondering we could make the project together.” Dennis’ smile is really mesmerized Karen.

“Oh, really?” Karen’s heart is beating rapidly.

“Yeah! When will we start?” Dennis’s eyes smash up Karen’s heart into pieces.

“How about after school at my house ?” Karen said.

“Ok, then.”

After the class is over, they are chatting along the way to Karen’s house.

“Dennis, I know this is a silly thing to tell but I think I had the answer about my special feeling.”

“What is it?” Dennis pretends that he didn’t understand.

“It’s you.” Dennis takes her right hand, Karen suddenly blushing.

Their stereo hearts are playing.

sejenis cerita pendek

“My Listeners, My Soul”

radio internet
radio internet

Alarm berteriak beberapa kali di meja kamar kos Dorothea. Namun dia masih saja betah dibalik bedcover bercorak underwear warna-warninya. Sepertinya cerita mimpi bertemu seorang pria wangi berkaus putih tak mau diakhiri. Ketukan pintu tetangga kos membuyarkan mimpi itu. Dorothea terpaksa bangun, mematikan alarm, lalu menghentikan ketukan di pintunya.
“Iya Vi, gue udah bangun nih!” Dorothea membuka daun pintu sedikit, agak kesal hingga membelalakkan matanya pada Vivy.
“Syukurlah…” Vivy melengos menuju ke dapur di lantai bawah. Kamar mereka berada di lantai 2.
“Eh, sekalian bikinin kopi dong buat gue!” Nada Dorothea seperti anak manja di rumahnya sendiri.
“Enak aja lo, bikin sendiri kali!” Vivy berteriak menuruni tangga.
“Hmm… berbaik hati sedikit kenapa sih, Vi!”

Dorothea selalu membutuhkan kopi di pagi hari agar otaknya melek. Tanpa roti atau menu sarapan lainnya. Maklum anak kos, bisa meminum kopi setengah mug saja sudah bagus. Entah bagaimana nasib lambungnya jika kebiasaan ini tetap dia lakukan.
Jam dinding kamar menunjukkan pukul 9.00. Kebiasaannya sebelum mandi adalah menyalakan netbook, log in di blognya dan memosting satu tulisan. Dia mengklik tweetdeck lebih dulu dan mulai membaca satu persatu mention untuknya, juga deretan timeline di sana. Dorothea memiliki 40,040 followers dan hanya memfollow sekitar 350 orang. Dia merasa dirinya keren memiliki banyak pengikut di twitter. Dia seorang penulis yang puitis, juga broadcaster di sebuah radio wanita di Bandung. Follower blognya pun cukup banyak karena mereka menyukai kisah-kisah patah hati dan beberapa puisi cinta yang mewarnai blognya. Ya, kisah cinta memang selalu disukai banyak orang. Tanpa pendengar, aku bukan siapa-siapa. Tanpa musik, hidupku akan hampa. Tanpa cinta, aku mungkin harus rela menderita. Namun, cinta dari pendengar setiaku membuat jiwaku hidup.

“Mana ya, kok Rully belum confirm tempat on air nih… Di studio atau di mall sih?” Dorothea mengangkat alis kanannya sambil matanya sibuk melihat-lihat timeline lagi. Fungsi jejaring sosial telah menggantikan posisi layanan sms atau telepon di handphone akhir-akhir ini. Dorothea lebih sering membuat janji dengan teman-temannya via facebook dan twitter. Sms yang masuk ke handphonenya jarang sekali dia gubris, kecuali sms dari pendengarnya atau tawaran job MC. Dorothea masih setia menggunakan handphone Siemens yang dimilikinya sejak mulai kuliah dulu, walau kaca pelindung LCDnya retak. Dia belum memiliki budget untuk membeli Blackberry. Dorothea mengambil mug kesayangan dan satu bungkus kopi instan di mejanya dan bergegas menuju dapur untuk menyeduhnya, karena Vivy tak mengabulkan permohonannya.

Suci, salah satu pendengarnya, sesekali mengirimi sms. Kadang menanyakan kabar pagi hari, sudah makan atau belum, bahkan memberitahu Dorothea kalau dia memimpikannya semalam. Hari itu Suci berjanji akan membawakan sepaket makan siang untuk Dorothea. Bagi Dorothea, ini seperti rejeki turun dari langit. Dia bisa menghemat budget makan siangnya hari itu. Walau tempat kos Dorothea sekitar satu jam perjalanan naik angkot dari rumah Suci, tapi demi bertemu sang penyiar pujaan, dia tetap pergi ke sana.
Sesampainya di pintu gerbang, Suci menelepon Dorothea.

“The, aku udah di depan gerbang kosan nih…”
“Masuk aja, aku di lantai 2.”
“Oke.”
Suci membuka pintu gerbang perlahan. Seorang ibu paruh baya dengan daster batik tengah menyapu dedaunan yang berserakan di sekitar halaman yang lumayan luas.
“Mau bertemu siapa Neng?” Ibu itu berhenti menyapu sejenak dan memandang ke arah Suci.
“Mau bertemu Dorothea, Bu. Di lantai dua kamarnya.”
“Neng, siapa?”
“Saya temannya.” White lies always be needed when we had a special occasion.
“Oh, iya. Silahkan, masuk aja lewat pintu sebelah sana. Nanti ada tangga ke lantai dua.” Raut muka ibu itu berubah 180 derajat, dari curiga dan jutek menjadi seratus persen ramah.

Peraturan di beberapa tempat kos memang terkadang ketat, demi keamanan dan kenyamanan sang pemilik kos juga penghuni kos itu sendiri.
“Terimakasih, Bu.” Suci menuju pintu kaca yang dimaksud. Persis di depan pintu, terlihat tangga. Tak lama, terdengar langkah seseorang menuruni tangga.
“Suci ya?” Suara merdu itu pernah Suci dengar di radio.
“Dorothea?” Senyum Suci merekah dan dirinya segera menghambur memeluk sosok penyiar pujaannya yang seorang Mollucan. Baju batik Bali jingga dan celana pendek biru, rambut keriting tergerai. Penampilan Dorothea benar-benar apa adanya.

“Akhirnya kita bertemu juga ya? Apa kabar?” Dorothea dengan keramahan yang sama seperti saat dia menyapa di on air. Suci berbinar dan sedikit berkaca-kaca mengatasi kegembiraan bertemu sang pujaan. Kedua mata Suci mengitari ruangan sekitar. Tempat kos itu bernuansa bohemian.

“Baik, terimakasih. The, aku bawa makan siang sesuai janjiku.” Suci menyerahkan bungkusan berisi nasi timbel, pepes ikan mas, sambal hijau, dan beberapa sachet cappucino.
“Terimakasih, Suci. Ngerepotin nih… Nanti kita gelar tikar aja di halaman belakang situ.” Dorothea menujuk ke halaman belakang hijau menghampar di kelilingi pohon cengkeh.
“Hey, boy!” Tiba-tiba seekor anjing Sheltie berbulu putih tebal menghampiri Dorothea. Tingginya sebatas perut orang dewasa. Dorothea mengelus bulu putihnya dengan penuh rasa sayang. Suci tergoda ingin mengelusnya juga.
“Nggak apa-apa nih, The?” Suci nampak ragu.
“Nggak apa-apa, pegang aja. Dia baik kok.” Dorothea memang penyuka anjing. Suci dengan tenang mengelus-elus bulu putih lembutnya. Sheltie itu nampak bersahabat.
“Boy, kamu main lagi di luar ya? Ayo, sana!” Dorothea menggiringnya keluar pintu dan dia menurut saja.
“Yuk, kita ke atas.” Mereka berdua meniti tangga perlahan menuju lantai 2.
“Ini dia kamarku. Maaf ya, berantakan nih, belum beres-beres. Pemalas soalnya. Hahaha…” Dorothea tertawa renyah.
“Ih The, enak banget viewnya ke arah situ ya?” Suci menunjuk ke arah jendela kaca dengan pemandangan halaman rumput di halaman belakang.

“Banget. Kadang kalo menjelang sore, aku melamun di sini sambil telungkup di atas kasur atau duduk di halaman situ sambil nulis.” Suci berjalan mengelilingi kamar itu. Ada beberapa note kertas warna-warni tertempel di pinggir cermin besar. Lalu dia melihat beberapa bingkai foto-foto Dorothea di meja.
“The, ini kamu yang pake kebaya putih?” Di foto berbingkai jingga itu, ada seorang gadis dengan senyum manis berkebaya putih, berponi lurus.
“Iya, itu aku, waktu wisuda.” Dorothea lulus D-3 Fakultas Ilmu Komunikasi UNPAD.
“Hah?! Kok beda banget ya… Rambutnya lurus. Hehe…”
“Teman kosku dulu iseng mencatok rambutku. Jadi lurus deh…”
“Kalo ini foto waktu jaman kecil?” Di antaranya tiga anak perempuan yang ada di foto itu, Suci memperhatikan anak paling kecil berbaju merah dengan senyum manis gigi ompong.
“Coba tebak, aku yang mana?”
“Kayaknya yang lagi nyengir ini deh…” Suci menunjuk gadis paling kecil.
“Yup! Benar!”
“Ternyata waktu kecil kamu begini ya? Hehehe…” Suci terkekeh dan menyadari bahwa setiap makhluk manis di dunia ini berevolusi. Dorothea hanya tersenyum. Manis, padahal belum tersentuh air mandi.
“Eh The, siaran kan hari ini?” Suci hapal benar jadwal on air Dorothea.
“Iya, jam 4. Nanti pergi jam 3. Tapi belum tahu di mana nih, di studio atau di mall. Produser acara belum ngetwit ke aku. Kayaknya siaran di studio nih…” Dorothea masih mengecek timeline.
“The, follow aku dong di twitter. Kayaknya kamu belum follow aku deh…”
“Udah bu, aku udah follow. Coba cek lagi deh…”
“Masa sih? Kok aku nggak ngeh ya?”
“Hmm… dasar ibu-ibu gaptek.” Canda Dorothea.
“Ya, nggak gaptek-gaptek amat lah, The. Aku kan bisa ngeblog juga.” Suci melihat-lihat beberapa buku yang ada di rak merah. Koleksi bacaan Dorothea cukup banyak dan beragam. Salah satunya adalah novel pemberian Suci, Message in the Bottle karya Nicholas Sparks.
“Aku suka baca-baca tulisan kamu di blog, Ci. Tapi nggak komen.” Dorothea asik dengan netbook yang dibelinya dari hasil memandu acara bergengsi di beberapa event. Dorothea membuka blog Suci dan memperhatikan beberapa judul tulisan yang telah diposting Suci. Dorothea membaca tulisan berjudul ‘Tentang bumbu masak.’
“Sehari-hari banget isinya.” Suci menyungging senyum.
“The, aku suka tulisan kamu yang judulnya The man in a white shirt di blogmu.” Dorothea menghela napas diiringi senyum kecil.
“Kayaknya tentang someone special nih…” Suci menggoda Dorothea.
“Nggak juga sih… kita dulu pernah dekat. Ada hal-hal yang bikin kangen dari dia, jadi aku tulis di sana.”
“The, anjing putih tadi punya siapa?
“Punya ibu kos.”
“Anjing itu kadang-kadang jahil. Suka ngumpetin sandal, tapi setia.” Dorothea mengucapkan hal itu dengan mantap. “Aku pernah nulis soal itu di blog. Udah baca belum?”
“Iya, udah. Jadi kamu lebih memilih dekat dengan Sheltie tadi daripada bersama seseorang?” Pertanyaan Suci ini benar-benar menohok Dorothea.
“Anjing itu setia pada Tuannya. Kalo pacar, belum tentu, Ci.”

Mereka memutuskan untuk segera makan siang, menuju halaman belakang. Saat Dorothea mencicipi pepes buatan Suci, responnya, “Hmm… pepesnya enak banget nih… bakal ketagihan deh aku.” Suci lumayan mahir memasak walau belum setaraf Farah Quinn. Makan siang bersama penyiar favorit menjadi pengalaman paling menyenangkan bagi Suci.
Setelah mereka selesai makan siang, Suci menunggu Dorothea mandi dan berpakaian. Dorothea memakai tanktop hitam bercorak bunga-bunga kecil, cardigan biru gelap, celana pendek jingga, rambutnya diikat dengan scarf jingga, dan terakhir flat shoes kuning. Riasan wajah hanya bedak dan lipgloss. Mereka pergi naik angkot bersama dengan tujuan masing-masing. Dorothea menuju radio Gee, Suci pulang ke rumah. Ongkos angkot dibayari Suci. Headsetnya telah siap di telinganya, mendengarkan radio Gee.

Ruang siaran, pukul 16.00 WIB
Dorothea mengecek playlist yang sudah disiapkan music director di komputer sebelum jam siarannya dimulai. Dia juga menyiapkan beberapa artikel yang akan dibahas on air di acara Day Break request. Cara, suara empuknya saat membawakan acara, dan tema obrolannya, dan playlist yang diperdengarkan, membuat pendengar terbius. Semakin hari, pendengarnya semakin bertambah.

90.9 Gee radio ‘Female dreamland station’… Selamat sore, listeners. Apa kabar sore ini? Oke banget pastinya ya, apalagi kalau ditemani Dorothea dan playlist cantik. So, silahkan request via sms di 08112233909 atau di Yahoo Messenger, gee909bdg@yahoo.com . Satu lagu pembuka dari India Arie ‘Chocolate high’ untuk Suci. Sekali lagi, terimakasih untuk makan siangnya yang enak. Enjoy!

Hal yang harus Dorothea lakukan di ruang siaran, selain menguasai mixer, dan melihat dua layar komputer digital, adalah menjawab YM dari pendengar yang meminta lagu. Suci menjadi semakin sering ‘mengganggu’ Dorothea di YM. Obrolan tentang cinta memang menjadi sebuah chemistry Dorothea dan Suci sejak mulai chat di Yahoo Messenger. Mungkin itu yang membuat Dorothea klik dengan Suci.
Dorothea ingin menjadi ibu rumahtangga dan penulis. Penyiar radio hanya profesi sementara agar tetap survive di kota perantauan, juga sebagai hiburan. Kegiatan mengajar public speaking pun dilakukannya di sebuah komunitas creative writing untuk menambah penghasilannya. Setidaknya, bisa ngafe seminggu sekali, membeli menu makan sederhana, dan membayar sewa kos per tahun mampu dia penuhi.

Setiap kali lagu “Home” dari Michael Buble menggema di ruang siaran, dia selalu merindukan Ambon, kampung halamannya, dan pantai indah Hunimea yang mampu membuatnya tenang, melupakan segala kepenatan hidup. Sosok Papa dan Mamanya seolah hadir di pelupuk mata. Terakhir dia pulang ke sana, Natal tahun lalu. Hal yang membuatnya gerah adalah sang Mama yang selalu menekannya menjadi pegawai negeri sipil. Dorothea merasa itu bukan jiwanya walau kesempatan itu bisa saja dengan mudah diraih di kota tempat kelahirannya.

Dia banyak belajar dari keadaan yang dia alami selama di Bandung. Sang Papa sangat mengerti karakternya dan memberikan kepercayaan sepenuhnya pada Dorothea. Terkadang Dorothea rindu kelakar Ayahnya. Kedekatan antara Ayah dan anak perempuannya tak akan tergantikan oleh apapun. Dorothea benar-benar akan memilih pasangan hidupnya yang mirip dengan sang Ayah. Laki-laki yang sederhana, mampu meluluhkan hatinya yang keras, dan memiliki tautan perasaan cinta yang kuat padanya menuju kebahagiaan yang selama ini ada dalam bayangan.

*sebuah cerpen untuk Lomba Cerpen Femina, Desember 2012.

sejenis cerita pendek

“This Way to The Wedding (Part 2)”

 a photo from andersongreenevents.blogspot.com
a photo from andersongreenevents.blogspot.com

Ranto sedang memikirkan kalimat apa yang akan dia sampaikan pada Ranti. Sebentar lagi pernikahan akan digelar, namun dia merasa harus menyudahi hubungannya dengan Ranti. Ranto melangkah ke sana ke mari dengan tuxedo hijau toscanya di ruang kamar kosnya. Semua penjuru kamar kosnya yang bernuansa putih abu telah dia telusuri seiring pikirannya membayangkan bagaimana reaksi Ranti nanti. Dia takut menyakiti hati Ranti. Tapi di sisi lain hatinya, dia sangat menyayangi Ranti. Tidak untuk menjadi teman hidup selama-lamanya.
Tut… tuuut… tuuut….
Nada sambung di handphone Ranto membuatnya gundah. Dia menelepon sahabatnya, Yogi. “Halo To, ada apa? Gue masih di jalan nih… macet.” Jawab Yogi setelah menyentuh answer di layar Blackberrynya.
“Ya, nggak apa-apa. Kayaknya gue nggak jadi nikah sama Ranti.”
“Hah?! Gila lo, ya!” Yogi sontak kaget. Selama ini dia melihat Ranto dan Ranti itu seperti pasangan yang tak akan pernah terpisahkan. Rencana pernikahan mereka telah dirancang sejak lama hingga pernikahannya benar-benar bisa diwujudkan di sebuah taman yang mereka berdua idamkan.
“Terus Ranti gimana, To? Dia pasti bakalan sakit hati kalo lo bilang nggak jadi nikah.”
“Gimana lagi, Gi? Gue nggak yakin sama apa yang gue putusin. Gue sayang dia tapi tidak untuk menikah sama dia. Gue …”
“Kenapa sih lo, To? Kurang baik dan cantik apa coba Ranti? Masa elo sia-siakan begitu aja. Terus duit bokap lo udah berapa yang keluar buat pesta pernikahan lo?” Tanda tanya besar hadir di kepala Yogi. Sahabatnya telah menjalin cinta selama lima tahun dengan Ranti. Dia malah akan merusak hari istimewa yang telah dia dan Ranti rencanakan.
“Uang banyak itu bisa gue nanti, gue bisa kerja sambilan.”
“Gi, Ranti itu ternyata saudara kembar gue.”
“Apa?! Kembar? Bukannya elo anak tunggal keluarga Hendrawan? Kok tiba-tiba kembar?” Yogi semakin bingung dibuatnya.
Ranto melepas dasi kupu-kupu biru mudanya, lalu terduduk di kursi kayu di kamar kosnya. “Gue juga baru tahu tadi malam, Gi. Bokap gue cerita semuanya. Gue susah tidur mikirin gimana caranya menyampaikan ini ke Ranti. Apa dia tahu atau nggak, gue bingung banget.”
“Elo di mana sekarang?”
“Masih di kosan.”
“Terus, mau nemuin Ranti kan walau pernikahannya nggak jadi digelar?”
“Iya, Gi. Harus.”
“Ya, udah cepetan. Tunggu gue di depan kosan lo. Sebentar lagi gue nyampe situ, ya?”
“Oke. Thanks ya, Gi.”
No problem.” Setelah menutup koneksi telepon genggam, dia memasukkan Blackberry ke saku jas birunya.
Yogi lega setelah kemacetan dekat pertigaan tadi terurai. Dia menancap gas. Sementara Ranto masih khawatir dengan apa yang akan dilakukannya, sambil memegang cincin pernikahannya di sebuah kotak velvet hitam. Dibukanya kotak itu perlahan. Dia menekuri setiap kilauan cincin berbahan titanium berhiaskan batu emerald hijau yang indah di kedua cincin itu. Yogi akan bertugas membawa kotak cincin itu nanti.
Kilasan-kilasan peristiwa indah bersama Ranti bergantian muncul dalam ingatannya. Pertama kali bertemu di perpustkaan kampus, makan berdua di kantin kampus, jogging bersama setiap minggu pagi, hunting foto bareng sambil bersepeda, mengikuti acara bakti sosial, mendesain kaos sablon couple, dan banyak moment telah menghiasi perjalanan cinta mereka.
Semuanya seakan menjadi scene film yang sambung menyambung, entah happy ending atau tidak di akhir ceritanya. Ranto tak begitu yakin, Ranti mampu menerima keputusannya. Dari lubuk hati Ranto, dia sesuangguhnya merasa berat jika harus mengubah rasa yang cinta yang begitu besar sebagai kekasih menjadi sebentuk kasih sayang sebagai adik. Dia pun sangat menyesal kenapa Papanya sampai harus berpisah dengan Mama Venny. Namun dia tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Dia yakin, Papanya memiliki alasan kuat mengapa perpisahan ini terjadi.
Suara klakson mobil Volkswagen merah milik Yogi membuyarkan pikiran Ranto. Dia segera memasukkan wadah cincin itu dan gelang masa kecilnya ke saku celana tuxedonya, lalu setengah berlari menghampiri Yogi.
“Ayo cepetan,To! Lima menit lagi nih…” Yogi mengingatkan moment penting Ranto akan dimulai. Ranto membuka pintu kiri mobil Yogi dan segera masuk.
“Gimana dengan cincinnya?” Yogi memastikan tugasnya membawa cincin pernikahan Ranto jadi dilakukan atau tidak.
“Cincinnya sudah siap, Gi. Tapi… gue merasa nggak siap untuk mengatakan yang sebenarnya sama Ranti. Cincin ini nggak ada artinya lagi. Mungkin hanya akan menjadi hadiah biasa buat Ranti dan gue.” Ranto merogoh sakunya, kotak cincinnya dia perhatikan baik-baik namun pikiran dan hatinya tak begitu baik. Dia menyesali perasaan yang dia miliki pada Ranti. Perlu usaha keras mengubah rasa cintanya pada Ranti menjadi sebuah rasa sayang pada saudara perempuan saja.
“Bokap lo gimana? Jadi datang?” Yogi memastikan Ayah Ranto hadir.
“Bokap gue entahlah, dia datang atau nggak. Kemarin masih di Jakarta.”
“Terus dia tahu kalo Ranti itu anaknya juga?”
“Bokap tahu setelah gue cerita bahwa Ranti anak seorang desainer. Saat gue menyebut nama Venny Jillian, bokap gue kaget. Dia kenal nama itu.”
“Jadi elo selama ini nggak tahu Nyokap lo itu siapa?”
“Gue hanya tahu fotonya, itupun fotonya saat muda dulu. Bokap gue cerita, pernikahan dia dengan Venny nggak berlangsung lama. Pertengkaran mereka berdua membuat gue dan Ranti juga dipisahkan. Bokap gue membawa gue pergi, dan Ranti dibawa Venny.”
“Kira-kira Ranty sudah tahu atau belum tentang ini?”
“Gue nggak tahu soal itu. Makanya gue harus menjelaskan ini sama Ranti.”
Mobil Yogi melaju perlahan menuju kebun Cengkeh. Mereka melanjutkan perbincangan sambil Yogi menyetir.
“Elo telepon bokap lo deh, To.” Yogi ikut merasa khawatir terhadap kemungkinan yang terjadi.
“Oke, Gi. Gue telepon sekarang.” Ranto mengambil handphonenya dari saku kiri celana tuxedonya. Dia membuka menyentuh nomor 1 di virtual keypad handphonenya sebagai pilihan nama PAPA. Call… “Halo, To.” Terdengar suara berat Papa Ranto di seberang.
“Pa, jadi hadir kan?” Ranto bernada khawatir.
“Iya. Papa masih di jalan. Nanti Papa langsung ke kebun Cengkeh.”
“Oke Pa, hati-hati di jalan.”
“Ya.” Papa Ranto menutup koneksi handphone. Dia kembali fokus pada kemudia namun pikiran dan hatinya mulai sibuk, menyiapkan segala kemungkinan saat bertemu Venny di tempat acara pernikahan Ranto. Pertengkaran itu masih terekam jelas dalam benak Hendrawan. Venny menganggap Hendrawan tak mampu menafkahinya dengan baik. Venny pada akhirnya tak terlalu berharap banyak untuk kelangsungan hidupnya dari seorang seniman seperti Hendrawan. Idealisme Hendrawan menjadi seniman tidak mampu meyakinkan Venny. Sementara Hendrawan merasa Venny dikuasai egonya sendiri dalam mengejar mimpinya menjadi desainer terkenal. Dia mengalah dan memilih bercerai. Pengadilan memutuskan pengasuhan Ranti dan Ranto kepada Venny dan Hendrawan. Mereka memutuskan membawa masing-masing satu orang anak kembarnya.
Toyota Altis hitam melaju menuju jalan Ciumbuleuit. Hendrawan harus siap dengan apapun yang akan dia hadapi di pernikahan anaknya. Dia sampai di gerbang masuk Bumi Sangkuriang lalu memarkirkan mobilnya di sebelah Honda All New Civic Maroon. Dia terdiam sejenak di dalam mobil sambil membenahi dasi abu-abunya. Dia memandang ke luar jendela kaca sebelah kanan. Di luar jendela terlihat mobil Volkswagen merah baru saja masuk. Sosok Ranto keluar dari sana disusul Yogi. Hendrawan segera keluar dari mobil dan memanggil Ranto.
“To!” Dia melambaikan tangan pada Ranto.
“Hei, Pa.” Ranto mendekat dan memeluk Papanya. Yogi menyalami Hendrawan.
“Gimana, Pa? Sudah rapi belum stelanku?” Ranto memamerkan gigi putihnya dan berputar memikat Papanya agar memuji kegantengannya.
“Ganteng banget anak Papa.” Hendrawan menepuk pundak putranya, bangga.
“Tapi Pa, ada yang mau aku bilang sama Ranti.”
“Ya sudah. Kamu bilang baik-baik. Mudah-mudahan dia mengerti.” Papanya sudah mengetahui maksud Ranto.
“Nanti Papa mau bilang apa sama Mama Venny?” Ranto menginginkan Papanya melakukan hal yang sama. Sebuah pengakuan dan permintaan maaf pada wanita yang pernah dipujanya.
“Papa belum tahu harus bilang apa?” Papa memandang ke arah langit biru cerah. Setidaknya cahaya matahari telah menghangatkan hati Hendrawan dan Ranto.
“Om, gimana kalo kita sekarang langsung ke dalam?” Yogi mengajak mereka supaya tidak mengulur waktu lagi.
“Ayo, Pa.” Ranto mengiringi langkah Papanya memasuki halaman tempat pesta pernikahan dimulai. Tema pesta kebun bernuansa hijau, pink, dan putih akan membuat keluarga Hendrawan kembali berwarna seperti warna warni bunga yang menghiasi taman dan gazebo, dan venue Bumi Sangkuriang.
“Pa, masih ingat ini?” Ranto memperlihatkan gelang kulit coklat berbandul perak inisial ‘Ro’.
“Papa sangat ingat ini, To.” Dipegangnya gelang itu dan cerita dari mulut Papanya mulai mengalir diringi langkah kaki mereka menuju lorong dekat venue.
“Waktu itu Mama yang punya ide untuk membuat gelang ini. Dia yang mendesainnya, Papa yang membuatnya. Peraknya dari teman Papa, perajin perhiasan perak di Yogyakarta.” Hendrawan menyungging senyum mengingat kenangan itu.
“Sampai umur berapa aku pakai gelang ini?”
“Kira-kira umur 5 tahun, To. Kamu kan tambah gemuk. Gelang ini nggak cukup lagi di tangan kamu.” Mereka tertawa kecil bersama.
“Sampai sekarang masih gemuk, Om walaupun kos.” Yogi meledek Ranto.
“Tapi tetap ganteng kan gue, Gi? Nggak kayak elo, cungkring gitu.” Ranto membalas.
“Gi, kamu harus berguru sama Ranto, bagaimana cara makan yang oke biar cepat berisi kayak dia.” Hendrawan menggoda Yogi.
“Wah…Om, aku nggak bisa makan sebanyak Ranto.” Mereka bertiga tertawa. Tawa mereka terhenti saat pandangan Hendrawan tertuju ke ujung lorong. Venny dan Ranti tengah berdiri di sana.
“Pa, aku duluan atau Papa yang duluan?”
“Kamu duluan, To.” Hendrawan nampak masih ragu dan pikirannya agak kacau, memikirkan kalimat apa yang akan diucapkannya pada Venny. Ranto melangkah tanpa ragu menghampiri Ranti dan Venny. Hendrawan mengekori Ranto.
“Ran…” Ranti mendekat.
“Ada hal yang mau aku bilang sama kamu.” Ranto menahan napas dan mengatakan apa yang harus dia katakan.
“Sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu sama kamu.” Ranti agak terbata.
Ranti dan Ranto saling memperlihatkan gelang kulit coklat berbandul perak milik mereka.
“To, kamu…” Ranti terbelalak dan air matanya mulai menggenang.
“Ranti, kamu sudah tahu? Kalo kita …” Ranto tak mengira bahwa Ranti sudah mengetahui hal yang sebenarnya tentang mereka berdua.
“Ya, kita saudara kembar. Kita nggak mungkin menikah.” Air mata Ranti semakin deras. Ranto mengusapnya perlahan dengan sapu tangannya.
“Kamu nggak apa-apa?” Ranto sangat tahu bagaimana perasaan Ranti. Diapun merasakan hal yang sama. Bahagia dan hancur bersamaan. Namun dunia belum hancur.
“Papa?” Ranti menoleh pada Hendrawan dan mendekat padanya.
“Ranti, anak Papa.” Hendrawan membuka lengannya lebar-lebar. Ranti memeluknya dan menangis di dada seorang laki-laki yang selama ini dia rindukan.
“Mama Venny?” Ranto tersenyum pada Venny dan segera merangkulnya.
“Ranto… jadi kamu itu benar-benar anak Mama sekarang.” Venny membalas pelukan erat Ranto. Venny tak takut lagi dengan deraian air matanya yang akan mengalahkan keangkuhan maskaranya. Dia bahagia dan hancur bersama dengan keinginannya yang terkabul. Kini, Ranti benar-benar bertemu dengan Papanya.
Ranti melepas pelukan Papanya. Ranto juga demikian. Ranti dan Ranto berpandangan. Mereka berdua bergandengan tangan dan pergi meninggalkan Venny dan Hendrawan menuju gazebo yang indah. Yogi dan Windy yang sedari tadi melihat drama keluarga yang mengharukan, memutuskan pergi dari sana menuju meja tempat minuman jus buah yang telah tersaji. Mereka berdua memilih jus Lychee yang segar untuk melegakan keharuan yang mereka saksikan tadi. Yogi dan Windy saling memperkenalkan diri dan mulai mengenal pribadi masing-masing hingga akhirnya bertukar pin BB.
Hendrawan berdiri mematung sejenak, memandangi Venny yang masih terlihat cantik seperti saat terakhir mereka bertemu di pengadilan. Kini, dia menyadari bahwa dirinya terlalu angkuh untuk mengakui bahwa Venny adalah wanita yang selalu dia puja. Dia masih mencintai Venny seperti dulu. Namun keegoisan Venny membuat cinta Hendrawan mengendur lalu memilih mundur dari hati Venny.
Venny pun terdiam dan memainkan gesper clucth dengan tangan kanannya.
“Ven, aku…” Hendrawan berusaha sekuat tenaganya untuk mengatakan maaf.
“Sudahlah Hen, kamu tidak usah mengatakan apa-apa padaku. Aku seharusnya yang meminta maaf padamu. Maafkan aku ya Hen, aku begitu egois. Tak peduli nasib Ranti dan Ranto. Akhirnya jadi seperti ini. Mereka saling mencintai tapi tidak untuk menikah.”
“Aku senang melihatmu sekarang. Kamu telah mencapai apa yang kamu inginkan. Ambisimu untuk menjadi seorang desainer telah terwujud. Ranti begitu cantik sepertimu dengan gaun itu. Pasti itu hasil rancanganmu kan? Kamu selalu suka dengan hijau tosca dan pink. Dua warna itu sisi lembutmu, Ven.”
“Ya, dia cantik. Ranto juga sangat tampan seperti Papanya. Mau kamu lukis aku dan Ranti nanti?” Venny memberikan senyuman terindah yang pernah Hendrawan lihat.
“Satu kebahagiaan buatku untuk melukis kalian. Datanglah ke galeri ‘Jillian’ milikku di Dago.”
“Jadi galeri itu milikmu?” Mata indah Venny membulat.
“Ya. Aku namai galeri itu dengan namamu. Ranto yang meminta.”
“Oh…Hen, aku…” Setetes air membasahi pipi Venny.
“Jadi apa rencanamu sekarang setelah anak kita tahu bahwa mereka saudara?”
“Aku belum tahu. Aku mungkin kembali ke Jakarta. Ada beberapa urusan pekerjaan di sana, proyek Art Deco.”
“Ranto?” Venny ingin Ranto bersamanya.
“Terserah dia. Mungkin dia tetap kos di sini, melanjutkan kuliah S2 Arsitekturnya.”
“Biar dia tinggal di rumahku saja bersama Ranti.” Venny memohon pada Hendrawan.
“Silahkan saja, jika itu membuatmu senang.”
“Ayo, kita ke gazebo sepertinya kita harus mengumumkan sesuatu pada para undangan.”
“Ayo!” Venny mengerling pada Hendrawan. Lengan kanannya menggamit lengan kiri Hendrawan.
Di gazebo, Ranti dan Ranto terlihat bergandengan tangan dan menunggu Mama dan Papanya menghampiri mereka. Sang MC telah siap mengumumkan sesuatu hal yang penting. Tak hanya para undangan yang harus mengetahui hal ini. Seluruh dunia perlu tahu bahwa Ranti dan Ranto tak jadi menikah. Pesta kebun ini menjadi pesta pertemuan keluarga Hendrawan yang mempersatukan kembali dua hati yang telah lama berpisah.
Ranto menghampiri sang MC, lalu meminjam microfon.
“Selamat pagi semuanya. Terimakasih telah datang di pesta kebun ini. Mama Venny dan Papa Hendra, kami bahagia kalian bisa bertemu kembali. Kami harap kalian bisa bersama lagi seperti dulu. Aku dan Ranti akan terus bersama walau kami bukan lagi sepasang kekasih. Mama, Papa, Ranti, aku sayang kalian.”
Ranti berlari mendekati Mamanya. Hendrawan memeluk Venny dan Ranti. Ranto menyusul mereka bertiga dan menambah hangatnya pelukan mereka. Semua tamu undangan riuh bertepuk tangan dan menikmati hidangan pesta yang tersaji. Musik yang mengalun indah dari band di panggung di taman itu menambah suasana suka cita Ranti dan Ranto.
Windy berteriak, “Ranti! Lemparin bunganya dong! Siapa tahu aku yang berikutnya.”
“Jadi anak kembar maksud kamu? Hahaha…” Ranti menggoda Windy.
“Ya nikahlah, pesta kebun juga.” Windy melirik pada Yogi. Sepertinya dia telah memiliki cinta pada pandangan pertamanya. Pesta kebun sudah ada dalam bayangannya. Mungkin bernuansa merah dan jingga.
Sementara Ranti dan Ranto mulai merancang sebuah rencana supaya Mama dan Papa mereka bisa bertemu lagi dan pergi berdua saja. Mereka meninggalkan Mama dan Papanya berdua. Mereka mendekat ke meja hidangan, sambil mencicipi beberapa makanan lezat di sana, sebuah rencana besar disusun.
“To, gimana kalo kita langsung booking satu kamar untuk Mama sama Papa. Nanti aku kasih tahu Mama kalo kamu mau ketemu di kamar itu. Nah, kamu bilang Papa, kalo aku mau ketemu Papa di kamar yang sama. Gimana?”
“Ide bagus, Ti.” Ranto menjetikkan jarinya.
“Ayo kita ke resepsionis sekarang!” Ranti meraih tangan kanan Ranto dan mengajaknya setengah berlari.
“Bentar dong, ini tanggung belum habis.” Mulut Ranto masih sibuk dengan pie aneka buah.
“Udah nanti diterusin, gampang!” Ranti tak sabar menunggu.
Mereka menuju resepsionis dan meminta kamar deluxe yang tadinya diperuntukkan bagi pengantin, di hotel Concordia sebelah taman dibooking untuk pasangan lain bernama Venny Jillian dan Hendrawan. Negosiasi dengan resepsionis telah berhasil.
“Semoga rencana kita berhasil.” Ranti dan Ranto saling menepukkan telapak tangan mereka.
“Ayo, kita terusin makan pie!” Ranto mengajak Ranti kembali ke meja hidangan.
“Eits! Sebelum itu kasih tahu dulu Papa kamu seperti yang tadi aku bilang. Oke?”
“Oke, honey!”
“Ih… nggak usah bilang gitu ah… geli.”
“Oke, adikku sayang…” Ranto mencolek dagu Ranti.
Ranto menghampiri Papanya.
Ranti memanggil Mamanya. Setelah jarak mereka cukup jauh, mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan.
“Ma, Ranto kayaknya ingin ngobrol berdua sama Mama.”
“Ya udah, suruh sini aja.” Venny tak curiga sedikitpun.
“Nggak di sini Ma. Di sana, di dekat pintu kamar deluxe. Mama tanya aja sama pelayan ya… Aku mau mengambil pie dulu.” Ranti pergi begitu saja. Venny melangkah menuju tempat yang dimaksud.
“Pa, Ranti mau ngobrol sesuatu sama Papa katanya. Di sana, dekat pintu kamar deluxe ya…”
“Kenapa nggak di sini aja?”
“Udah, Papa ke sana aja deh… cepetan!”
“Tapi…” Hendrawan menurut saja dan pergi ke tempat yang dimaksud.
Ranti dan Ranto mengamati dari jauh. Mama dan Papanya bertemu di sana.
“Hei Ven, lihat Ranti nggak? Tadi Ranto bilang, Ranti mau ngobrol sama aku di sini.”
“Aku juga diminta Ranti ke sini. Katanya Ranto mau ngobrol sesuatu sama aku.”
“Eh Ven, ternyata mereka malah asik di sana. Makan.” Hendrawan menunjukkan arah tempat meja hidangan berada.
“Maaf Pak, Bu, silahkan beristirahat di sini.” Seorang pelayan membukakan pintu kamar deluxe dekat tempat berdiri mereka berdua.
Keduanya saling berpandangan. “Maaf Mas, ini kan untuk pengantin.” Venny terheran-heran.
“Ini sudah dibooking untuk Bapak Hendrawan dan Ibu Venny. Betul itu nama Bapak dan Ibu?”
“Ya betul.” Kata mereka berdua bersamaan.
“Silahkan, Selamat istirahat.” Pelayan itu pergi.
“Hen, gimana ini? Kita masuk saja?” Venny tak yakin.
“Ya sudah, kita masuk saja.”
Keduanya melihat ke seluruh ruangan. Betapa istimewanya ruangan ini. Benar-benar cocok untuk pasangan pengantin.
“Ven, bagaimana dengan anak-anak kita?”
“Biarkan mereka yang memutuskan sendiri, mau ikut siapa mereka. Saling berkunjung juga tak ada salahnya.” Venny mendadak bijak.
“Baiklah jika itu membuatmu lega.”
“Ven, maafkan aku. Aku menyiakan kamu. Bagaimana kalau kita…”
“Bersama lagi?” Alis Venny bertaut.
“Ya. Demi kebahagiaan Ranti dan Ranto.”
“Entahlah. Mungkin aku perlu waktu untuk memikirkannya lagi, Hen.”
Hendrawan memegang jemari Venny. Venny memandang jauh ke dalam mata Hedrawan.
“Ven, aku masih mencintai kamu.” Hendrawan mengecup jemari itu dan memandang lama ke arah mata Venny yang indah.

*cerpen latihan untuk sebuah audisi menulis

my journal

LOMBA MENULIS CERPEN / DONGENG ANAK (Penerbit Alif Gemilang Pressindo)

Dalam rangka menyukseskan peringatan Hari Anak Nasional pada bulan Juli 2013 mendatang, Penerbit Alif Gemilang Pressindo dengan bangga mempersembahkan Lomba Menulis Cerpen/Dongeng Anak. Diharapkan dengan adanya event ini, akan melahirkan naskah-naskah anak berkualitas yang akan membangkitkan semangat anak-anak Indonesia untuk semakin gemar menulis dan membaca.
Tertarik? Berikut persyaratan lomba dan ketentuan-ketentuan lainnya.
• Lomba terbuka untuk siapa saja tanpa ada batasan usia dan GRATIS.
• Tema Cerpen/Dongeng bebas. Diharapkan naskah mengandung pesan moral yang pas buat anak usia 6 – 12 tahun.
• Naskah diketik rapi di kertas A4, spasi 1.5, Times New Roman, 12 pt, margin 3-3-3-3 cm, maksimal 5 halaman.
• Naskah belum pernah dipublikasikan dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
• Masing-masing peserta hanya boleh mengirimkan 1 (satu) naskah (boleh pilih: cerpen atau dongeng).
• Di halaman terakhir naskah dicantumkan biodata singkat beserta nomor HP.
• Naskah dikirim ke email: lomba_agp@yahoo.com dengan subjek: Cernak_Judul_Penulis. Contoh: Cernak_Sang Juara_Bagus Y. Hidayat
• Naskah diterima mulai tanggal 17 Mei 2013 sampai dengan 17 Juni 2013.
• Pemenang diumumkan 17 Juli 2013
• Akan diambil 17 naskah terbaik untuk dibukukan (atau tergantung jumlah dan kualitas naskah yang masuk)
• Hadiah untuk pemenang:
1. Pemenang I: Piala + Paket Buku senilai Rp 300.000 + e-Sertifikat + diskon penerbitan 25% + diskon pembelian buku 20%.
2. Pemenang II: Piala + Paket Buku Rp 200.000 + e-Sertifikat + diskon penerbitan 25% + diskon pembelian buku 20%.
3. Pemenang III: Piala + Paket Buku Rp 100.000 + e-Sertifikat + diskon penerbitan 25% + diskon pembelian buku 20%.
• Seluruh kontributor yang naskahnya dibukukan mendapat e-Sertifikat, diskon penerbitan sebesar 20% dan diskon pembelian buku-buku terbitan Alif Gemilang Pressindo sebesar 20%.
• Untuk Info lebih lengkap hubungi 085274244342

Yogyakarta, 17 Mei 2013
Tertanda
Panitia Lomba

sejenis cerita pendek

“This Way to The Wedding (part 1)”

this way to the wedding
Sinar matahari pagi begitu cerah menebarkan cahayanya ke seluruh penjuru taman di Bumi Sangkuriang, Ciumbuleuit, Bandung. Taman itu begitu indah penuh dengan hiasan aneka bunga Herbras dan Gladiol, beberapa kursi dan meja hidangan telah siap. Papan putih tergantung di salah satu pohon bertuliskan “This way to the wedding” menjadi sebuah tanda petunjuk bagi para tamu undangan memasuki area tempat pernikahan Ranto dan Ranti,
Ranti, sang pengantin perempuan tengah bersiap di sebuah ruangan khusus dekat taman. Aura kecantikannya sedikit tersamarkan oleh kekalutan perasaannya. Dia ingin mengatakan sesuatu pada Ranto, sebelum semuanya terlambat. Pernikahannya dengan Ranto akan dilangsungkan pada pukul 9.00. Gazebo yang indah berhiasankan untaiuan bunga Gladiol dan karpet merah telah menunggu pasangan penganti mengucap janji setia di sana.
“Win, aku nggak yakin aku akan menikah dengan Ranto.” Pernyataan Ranti mengagetkan Windy, sahabatnya, yang sedari tadi setia menungguinya dirias. Sang perias membubuhkan blush on sebagai finishing touch di kedua pipi Ranti. Dia juga membantu membenahi gaun hijau hasil rancangan Mama Venny, berhiaskan seledang biru tosca di bagian pinggang yang membentuk indah tubuh Ranti. Dia terlihat begitu cantik dengan tatanan rambut simple, tiga tangkai bunga Melati putih tersemat di bagian samping kepalanya.
“Ran, apa aku nggak salah dengar?” Windy memburu mendekati Ranti. Matanya terbelalak, mulutnya melongo.
“Iya, Win. Kayaknya aku … ” Ranti nampak canggung menceritakan alasannya.
“Mbak, bisa tinggalin kami sebentar?” Windy memberi kode pada perias pengantin untuk meninggalkan mereka.
“Baik, Mbak.” Perias itu segera keluar dari ruangan. Setelah perias itu benar-benar pergi, Windy mendesak Ranti untuk menjelaskan lebih lanjut.
“Ran, kamu becanda kan? Sebentar lagi Ranto datang, pernikahan kalian akan dimulai.” Bola mata Windy membulat, tak percaya apa yang ada dalam benak Ranti.
“Nggak Win, aku nggak becanda. Aku nggak bisa menikah dengan Ranto. Dia itu ternyata…” Ranti menghentikan kalimatnya sejenak. Dia menatap Windy penuh kesungguhan tentang sebuah kenyataan yang sahabatnya harus tahu.
“Dia kenapa, Ran? Ada perempuan lain?” Windy tak sabar ingin tahu apa yang terjadi.
“Bukan.” Ranti terdiam sejenak. Windy dibuatnya penasaran.
Ranti akhirnya mantap dengan perkataannya.
“Dia saudara kembarku.”
“Hah?!!” Windy melangkah ke arah jendela, lalu kembali ke hadapan Ranti.
“Ran, kok bisa?! Dari mana kamu tahu tentang itu?” Windy semakin penasaran.
“Aku mengetahuinya dari gelangku ini, dan beberapa foto yang Mama simpan di kamarnya.” Ranti memiliki gelang tali coklat dengan bandul perak berinisial ‘Ri’. Selama ini dia hanya menyimpannya di kotak perhiasan di kamarnya. Hari ini dia bawa serta dan memperlihatkannya pada Windy.
“Apa gelang dan foto itu cukup membuktikan kalo Ranto itu benar-benar saudara kembar lo?”
“Aku sudah meminta penjelasan Mama.”
“Terus?”
“Mama bilang foto-foto itu adalah fotonya saat melahirkan bayi kembarnya. Di foto itu Mama sedang menggendong aku dan Ranto. Ada gelang di tanganku dan Ranto. Aku nggak pernah tahu Papaku, karena aku nggak melihat dia di foto. Mama cuma bilang, Papa pergi ninggalin Mama karena pertengkaran hebat. Mama nggak mau melihatnya lagi. Papa membawa Ranto pergi.”
“Terus sekarang gimana dong? Mama kamu akan bertemu dengan Papa Ranto which is Papamu juga. Apa nggak akan terjadi sesuatu yang…” Kalimat Windy terhenti. Dia khawatir dengan situasi yang dia bayangkan akan terjadi.
“Mama tetap hadir, Win. Kita lihat saja apa yang terjadi. Aku berharap Mama bisa berbaikan dengan Papa. Aku juga menginginkan keluargaku lengkap lagi.”
Ranti terdiam dan dia mulai mengingat masa-masa indah bersama Ranto. Pertama kali bertemu di perpustakaan kampus, menonton film animasi bareng di Blitz Megaflek, makan berdua di kantin kampus, jogging bersama setiap minggu pagi, hunting foto bareng sambil bersepeda, mengikuti acara bakti sosial, mendesain baju kaos sablon couples, dan banyak moment telah menghiasi perjalanan cinta mereka. Hal yang mendalam dan tak terlupakan oleh Ranti adalah saat dia terserang thypus, Ranto setia menungguinya di rumah sakit selama Mamanya tak ada.
Semuanya seakan menjadi scene film yang sambung menyambung, entah happy ending atau tidak di akhir ceritanya. Ranto tak begitu yakin, Ranti mampu menerima keputusannya. Lubuk hati Ranti sesungguhnya merasa berat jika harus mengubah rasa yang cinta yang begitu besar sebagai kekasih menjadi sebentuk kasih sayang sebagai saudara. Dia pun sangat menyesal kenapa Mama Venny sampai harus berpisah dengan Papanya. Namun dia tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Dia yakin, Mamanya memiliki alasan kuat mengapa dia memutuskan untuk berpisah dengan Papanya.
Tok.. tok.. tok…
Terdengar suara ketukan pintu. Sang perias muncul dari balik pintu.
“Maaf Mbak Ranti, pesta akan dimulai.”
“Pengantin laki-laki sudah datang?” Windy cemas.
“Belum. Tapi kata Mbak MC harus segera siap. Boleh saya benahi dulu rambutnya, Mbak Ranti?”
“Kayaknya udah oke semua nih…” Ranti merasa tak ada yang kurang lagi dengan penampilannya. Dadanya bergemuruh mengelola rasa yang campur aduk. Dia tak mengerti apakah hari ini adalah hari bahagia atau bukan. Dia tidak bisa menikah dengan Ranto, tapi dia ingin Mamanya bisa bertemu dengan Papa Ranto.
“Sebentar Mbak, ini bunganya.” Sang perias memberikan rangkaian bunga Gladiol pink dan hijau untuk dipegang Ranti saat menuju pelaminan. Pita pink yang menjuntai mempermanis untaian bunga itu.
“Mama mana ya?” Raut wajah Ranti menyiratkan kegelisahan.
“Mungkin sebentar lagi datang, Mbak.” Sang perias menenangkan.
****
Honda All New Civic Maroon melaju di jalan Ciumbuleuit menuju Bumi Sangkuriang. Wanita di balik setir mobil itu mengenakan busana chic nuansa hijau daun lengkap dengan riasan wajah dan perhiasan yang membuatnya terlihat elegan. Dia Venny Jillian, ibu Ranti. Seorang single parents yang ambisius. Dia telah berhasil mendidik dan menyekolahkan Ranti hingga selesai. Perasaannya pagi itu tidak terlalu nyaman. Dia merasa dunia akan menjadi sepi karena Ranti, putri satu-satunya akan mengawali hidup baru. Jika Venny mau, dia bisa saja tetap hidup bersama Ranti dan suaminya. Namun, dia penganut paham kemandirian fanatik dan menangis meraung-raung meminta putrinya untuk tetap bersamanya bukan tipe dirinya.

Kenangan-kenangan saat bersama dengan Ranti menguasai seluruh pikirannya. Terutama saat dia melahirkannya. Dia mengalami masa-masa sulit perekenomian keluarga sejak berkeluarga bersama Hendrawan. Venny menganggap Hendrawan tak mampu menafkahinya dengan baik. Venny pada akhirnya tak terlalu berharap banyak untuk kelangsungan hidupnya dari seorang seniman seperti Hendrawan. Idealisme Hendrawan menjadi seniman tidak mampu meyakinkan Venny. Sementara Hendrawan merasa Venny begitu egois dengan mimpinya menjadi desainer terkenal. Dia mengalah dan memilih bercerai. Pengadilan memutuskan pengasuhan Ranti dan Ranto kepada Venny dan Hendrawan. Mereka memutuskan membawa masing-masing satu orang anak kembarnya.
Ranti, aku harap kamu bisa bertemu dengan Ayahmu…
Ranto, aku ingin bertemu dan memelukmu lagi. Tuhan, kabulkanlah keinginanku…
Kedua mata Venny tiba-tiba berembun. Dia segera mengambil tissue di dashboard mobilnya dan menempelkannya di ujung mata perlahan. Setetes air mata tak mengganggu riasan mata waterproofnya. Venny kembali fokus pada kemudinya. Peristiwa saat dia menyerahkan Ranto pada Hendrawan berkelebat. Walau Venny sepertinya tak mungkin bertemu dengan saudara kembarnya, tapi hatinya selalu bersamanya.
Bumi Sangkuriang telah di depan mata. Venny memasuki halaman parkir yang luas dan memarkirkan mobilnya di dekat gerbang masuk. Sebelum turun dari mobilnya, dia melihat kaca spion depan, lalu memastikan riasannya masih baik. Beberapa semprotan parfum aroma chocolate ditambahkan di kedua sisi lehernya. Venny tipe wanita perfectionis. Dia selalu tampil prima, elegan, dan selalu wangi. Dia menghela napas panjang, lalu keluar dari mobil. Langkahnya sedikit terasa berat menuju venue dekat taman tempat acara akan digelar. Beberapa karyawan hotel terlihat di hotel Concordia yang letaknya berdekatan dengan halaman luas Bumi Sangkuriang, sedang merapikan beberapa meja bertaplak putih dan kursi kayu yang dilapisi kain putih dengan ikatan di sandarannya berbentuk pita. Beberapa tamu undangan telah hadir di sekitar halaman hijau Bumi Sangkuriang yang luas. Langkahnya terhenti ketika dia perhatikan di seberang venue, gazebo yang indah untuk pelaminan Ranti dan Ranto. Dia mengambil handphone putihnya dari clutch pink yang dibawanya. Ranti nama yang dipilihnya. Call…
“Halo Ranti, sayang. Mama sudah sampai. Kamu di mana?”
“Ranti di ruangan dekat gazebo, Ma. Lorong sebelah kanan, masuk aja.”
“Oke. Mama ke sana.”

Ranti dan Windy mendengar langkah seseorang mendekati pintu. Venny hadir.
“Ranti, anak Mama cantik sekali.” Venny benar-benar terpesona dengan penampilan Ranti. Tiga buah bunga Gladiol pink menghiasi kemilau rambut hitamnya. Dia merasa baru kemarin melahirkan dan membawanya jalan-jalan. Kini, anak gadisnya sudah dewasa dan cantik dengan gaun buatannya.
“Gaun buatan Mama yang cantik.” Ranti nampak sangat senang dengan kehadiran Mamanya.
“Nggak, anak Mama memang cantik.” Venny mencium kening Ranti.
“Aku pikir Mama akan telat datang.”
“Tadi meeting dengan beberapa desainer hanya sebentar. Mama langsung ngebut ke sini.” Venny melihat ada yang sedikit aneh di raut muka Ranti.
“Ranti sayang, kamu kenapa? Ini kan hari bahagia kamu. Kok bibirmu sedikit cemberut? Nanti cantiknya hilang dong…” Goda Venny.
“Aku…” Ranti duduk di kursi kayu dekat jendela.
“Kenapa?” Venny mendekat mengikuti Ranti, meyakinkan apakah Ranti baik-baik saja.
“Ma, aku nggak bisa menikah sama Ranto.”
“What? Apa Mama nggak salah dengar?” Venny terbelalak.
“Nggak, Ma. Mama nggak salah dengar.”
“Kenapa? Ranto selingkuh? Atau…”
“Nggak ada yang salah dengan Ranto, Ma.”
“Lalu?” Kening Venny berkerut dan alisnya hampir bertaut.
“Mama yang salah.” Ranti melontarkan kalimat yang seharusnya tak dia ucapkan.
“Mama?” Venny semakin tidak mengerti.
“Kenapa Mama tak pernah mempertemukan aku dengan Papa?” Nada Ranti tiba-tiba seperti menahan amarah.
“Kamu kenapa tiba-tiba mempertanyakan ini? Hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Mama juga kamu. Mama nggak mau mengingat…” Tenggorokan Venny tercekat. Kelopak matanya mengembun. Dia terduduk.
“Ma, kalo Mama dan Papa bertemu lagi, itu akan membuat Ranti bahagia.”
“Maafkan Mama, Ranti…” Venny tak sanggup lagi membendung air di kelopak matanya.
“Nanti saja Ma, minta maaflah pada Papa dan Ranto.”
“Mereka sebentar lagi akan datang.”
“Sekarang Mama mau kan menemani Ranti ke gazebo?”
“Iya. Mama mau.” Sebuah senyum menandakan sebuah kelegaan hati Venny demi Ranti.
“Win, udah siap kan?” Ranti memastikan sahabatnya juga mengikutinya.
“Siap Ran!” Windy dengan senyum manisnya mengerling pada Ranti.
“Yuk!” Ranti menggamit lengan Mamanya dan berjalan dengan anggun menuju halaman. Langkah mereka bertiga terhenti saat Ranti berkata, “Ma, gelang ini boleh aku pakai?”
Ranti menunjukkan gelang tali kulit berbandul perak yang dipegang Windy. Melihat gelang itu, diri Venny seakan berada di dua puluh tiga tahun lalu hidupnya. Saat di mana dia merancang gelang itu sebagai tanda cinta kasihnya dengan Hendrawan. Saat di mana keegoisannya telah memisahkan Ranti dengan Papanya. Dada Venny sesak penuh sesal.
Dari arah berlawanan nampak sosok tiga orang laki-laki berjalan mendekati mereka. Salah satunya Ranto dengan tuxedo hijau tosca. Venny dan Ranti memandang lekat-lekat mereka berdua. Ranti menarik napas panjang dan menguatkan dirinya untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Ranto. Ternyata Ranto lebih dulu memanggil dan menghampirinya.
“Ran…” Ranti mendekat.
“Ada hal yang mau aku bilang sama kamu.” Ranto menahan napas dan mengatakan apa yang harus dia katakan.
“Sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu sama kamu.” Ranti agak terbata.
Ranti dan Ranto saling memperlihatkan gelang kulit coklat berbandul perak milik mereka.
“To, kamu…” Ranti terbelalak dan air matanya mulai menggenang.
“Ranti, kamu sudah tahu? Kalo kita …” Ranto tak mengira bahwa Ranti sudah mengetahui hal yang sebenarnya tentang mereka berdua.
“Ya, kita saudara kembar. Kita nggak mungkin menikah.” Air mata Ranti semakin deras. Ranto mengusapnya perlahan dengan sapu tangannya.
“Kamu nggak apa-apa?” Ranto sangat tahu bagaimana perasaan Ranti. Diapun merasakan hal yang sama. Bahagia dan hancur bersamaan. Namun dunia belum hancur.
“Papa?” Ranti menoleh pada Hendrawan dan mendekat padanya.
“Ranti, anak Papa.” Hendrawan membuka lengannya lebar-lebar. Ranti memeluknya dan menangis di dada seorang laki-laki yang selama ini dia rindukan.
“Mama Venny?” Ranto tersenyum pada Venny dan segera merangkulnya.
“Ranto… jadi kamu itu benar-benar anak Mama sekarang.” Venny membalas pelukan erat Ranto. Venny tak takut lagi dengan deraian air matanya yang akan mengalahkan keangkuhan maskaranya. Dia bahagia dan hancur bersama dengan keinginannya yang terkabul. Kini, Ranti benar-benar bertemu dengan Papanya.
Ranti melepas pelukan Papanya. Ranto juga demikian. Ranti dan Ranto berpandangan. Mereka berdua bergandengan tangan dan pergi meninggalkan Venny dan Hendrawan menuju gazebo yang indah. Yogi dan Windy yang sedari tadi melihat drama keluarga yang mengharukan, memutuskan pergi dari sana menuju meja tempat minuman jus buah yang telah tersaji. Mereka berdua memilih jus Lychee yang segar untuk melegakan keharuan yang mereka saksikan tadi. Yogi dan Windy saling memperkenalkan diri dan mulai mengenal pribadi masing-masing hingga akhirnya bertukar pin BB.
Hendrawan berdiri mematung sejenak, memandangi Venny yang masih terlihat cantik seperti saat terakhir mereka bertemu di pengadilan. Kini, dia menyadari bahwa dirinya terlalu angkuh untuk mengakui bahwa Venny adalah wanita yang selalu dia puja. Dia masih mencintai Venny seperti dulu. Namun keegoisan Venny membuat cinta Hendrawan mengendur lalu memilih mundur dari hati Venny.
Venny pun terdiam dan memainkan gesper clucth dengan tangan kanannya.
“Ven, aku…” Hendrawan berusaha sekuat tenaganya untuk mengatakan maaf.
“Sudahlah Hen, kamu tidak usah mengatakan apa-apa padaku. Aku seharusnya yang meminta maaf padamu. Maafkan aku ya Hen, aku begitu egois. Tak peduli nasib Ranti dan Ranto. Akhirnya jadi seperti ini. Mereka saling mencintai tapi tidak untuk menikah.”
“Aku senang melihatmu sekarang. Kamu telah mencapai apa yang kamu inginkan. Ambisimu untuk menjadi seorang desainer telah terwujud. Ranti begitu cantik sepertimu dengan gaun itu. Pasti itu hasil rancanganmu kan? Kamu selalu suka dengan hijau tosca dan pink. Dua warna itu sisi lembutmu, Ven.”
“Ya, dia cantik. Ranto juga sangat tampan seperti Papanya. Mau kamu lukis aku dan Ranti nanti?” Venny memberikan senyuman terindah yang pernah Hendrawan lihat.
“Satu kebahagiaan buatku untuk melukis kalian. Datanglah ke galeri ‘Jillian’ milikku di Dago.”
“Jadi galeri itu milikmu?” Mata indah Venny membulat.
“Ya. Aku namai galeri itu dengan namamu. Ranto yang meminta.”
“Oh…Hen, aku…” Setetes air membasahi pipi Venny.
“Jadi apa rencanamu sekarang setelah anak kita tahu bahwa mereka saudara?”
“Aku belum tahu. Aku mungkin kembali ke Jakarta. Ada beberapa urusan pekerjaan di sana, proyek Art Deco.”
“Ranto?” Venny ingin Ranto bersamanya.
“Terserah dia. Mungkin dia tetap kos di sini, melanjutkan kuliah S2 Arsitekturnya.”
“Biar dia tinggal di rumahku saja bersama Ranti.” Venny memohon pada Hendrawan.
“Silahkan saja, jika itu membuatmu senang.”
“Ayo, kita ke gazebo sepertinya kita harus mengumumkan sesuatu pada para undangan.”
“Ayo!” Venny mengerling pada Hendrawan. Lengan kanannya menggamit lengan kiri Hendrawan.
Di gazebo, Ranti dan Ranto terlihat bergandengan tangan dan menunggu Mama dan Papanya menghampiri mereka. Sang MC telah siap mengumumkan sesuatu hal yang penting. Tak hanya para undangan yang harus mengetahui hal ini. Seluruh dunia perlu tahu bahwa Ranti dan Ranto tak jadi menikah. Pesta kebun ini menjadi pesta pertemuan keluarga Hendrawan yang mempersatukan kembali dua hati yang telah lama berpisah.
Ranto menghampiri sang MC, lalu meminjam microfon.
“Selamat pagi semuanya. Terimakasih telah datang di pesta kebun ini. Mama Venny dan Papa Hendra, kami bahagia kalian bisa bertemu kembali. Kami harap kalian bisa bersama lagi seperti dulu. Aku dan Ranti akan terus bersama walau kami bukan lagi sepasang kekasih. Mama, Papa, Ranti, aku sayang kalian.”
Ranti berlari mendekati Mamanya. Hendrawan memeluk Venny dan Ranti. Ranto menyusul mereka bertiga dan menambah hangatnya pelukan mereka. Semua tamu undangan riuh bertepuk tangan dan menikmati hidangan pesta yang tersaji. Musik yang mengalun indah dari band di panggung di taman itu menambah suasana suka cita Ranti dan Ranto.
Windy berteriak, “Ranti! Lemparin bunganya dong! Siapa tahu aku yang berikutnya.”
“Jadi anak kembar maksud kamu? Hahaha…” Ranti menggoda Windy.
“Ya nikahlah, pesta kebun juga.” Windy melirik pada Yogi. Sepertinya dia telah memiliki cinta pada pandangan pertamanya. Pesta kebun sudah ada dalam bayangannya. Mungkin bernuansa merah dan jingga.
Sementara Ranti dan Ranto mulai merancang sebuah rencana supaya Mama dan Papa mereka bisa bertemu lagi dan pergi berdua saja. Mereka meninggalkan Mama dan Papanya berdua. Mereka mendekat ke meja hidangan, sambil mencicipi beberapa makanan lezat di sana, sebuah rencana besar direncanakan.
“To, gimana kalo kita langsung booking satu kamar untuk Mama sama Papa. Nanti aku kasih tahu Mama kalo kamu mau ketemu di kamar itu. Nah, kamu bilang Papa, kalo aku mau ketemu Papa di kamar yang sama. Gimana?”
“Ide bagus, Ti.” Ranto menjetikkan jarinya.
“Ayo kita ke resepsionis sekarang!” Ranti meraih tangan kanan Ranto dan mengajaknya setengah berlari.
“Bentar dong, ini tanggung belum habis.” Mulut Ranto masih sibuk dengan pie aneka buah.
“Udah nanti diterusin, gampang!” Ranti tak sabar menunggu.
Mereka menuju resepsionis dan meminta kamar deluxe yang tadinya diperuntukkan bagi pengantin, di hotel Concordia sebelah taman dibooking untuk pasangan lain bernama Venny Jillian dan Hendrawan. Negosiasi dengan resepsionis telah berhasil.
“Semoga rencana kita berhasil.” Ranti dan Ranto saling menepukkan telapak tangan mereka.
“Ayo, kita terusin makan pie!” Ranto mengajak Ranti kembali ke meja hidangan.
“Eits! Sebelum itu kasih tahu dulu Papa kamu seperti yang tadi aku bilang. Oke?”
“Oke, honey!”
“Ih… nggak usah bilang gitu ah… geli.”
“Oke, adikku sayang…” Ranto mencolek dagu Ranti.
Ranto menghampiri Papanya.
Ranti memanggil Mamanya. Setelah jarak mereka cukup jauh, mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan.
“Ma, Ranto kayaknya ingin ngobrol berdua sama Mama.”
“Ya udah, suruh sini aja.” Venny tak curiga sedikitpun.
“Nggak di sini Ma. Di sana, di dekat pintu kamar deluxe. Mama tanya aja sama pelayan ya… Aku mau mengambil pie dulu.” Ranti pergi begitu saja. Venny melangkah menuju tempat yang dimaksud.
“Pa, Ranti mau ngobrol sesuatu sama Papa katanya. Di sana, dekat pintu kamar deluxe ya…”
“Kenapa nggak di sini aja?”
“Udah, Papa ke sana aja deh… cepetan!”
“Tapi…” Hendrawan menurut saja dan pergi ke tempat yang dimaksud.
Ranti dan Ranto mengamati dari jauh. Mama dan Papanya bertemu di sana.
“Hei Ven, lihat Ranti nggak? Tadi Ranto bilang, Ranti mau ngobrol sama aku di sini.”
“Aku juga diminta Ranti ke sini. Katanya Ranto mau ngobrol sesuatu sama aku.”
“Eh Ven, ternyata mereka malah asik di sana. Makan.” Hendrawan menunjukkan arah tempat meja hidangan berada.
“Maaf Pak, Bu, silahkan beristirahat di sini.” Seorang pelayan membukakan pintu kamar deluxe dekat tempat berdiri mereka berdua.
Keduanya saling berpandangan. “Maaf Mas, ini kan untuk pengantin.” Venny terheran-heran.
“Ini sudah dibooking untuk Bapak Hendrawan dan Ibu Venny. Betul itu nama Bapak dan Ibu?”
“Ya betul.” Kata mereka berdua bersamaan.
“Silahkan, Selamat istirahat.” Pelayan itu pergi.
“Hen, gimana ini? Kita masuk saja?” Venny tak yakin.
“Ya sudah, kita masuk saja.”
Keduanya melihat ke seluruh ruangan. Betapa istimewanya ruangan ini. Benar-benar cocok untuk pasangan pengantin.
“Ven, bagaimana dengan anak-anak kita?”
“Biarkan mereka yang memutuskan sendiri, mau ikut siapa mereka. Saling berkunjung juga tak ada salahnya.” Venny mendadak bijak.
“Baiklah jika itu membuatmu lega.”
“Ven, maafkan aku. Aku menyiakan kamu. Bagaimana kalau kita…”
“Bersama lagi?” Alis Venny bertaut.
“Ya. Demi kebahagiaan Ranti dan Ranto.”
“Entahlah. Mungkin aku perlu waktu untuk memikirkannya lagi, Hen.”
Hendrawan memegang jemari Venny. Venny memandang jauh ke dalam mata Hedrawan.
“Ven, aku masih mencintai kamu.” Hendrawan mengecup jemari itu dan memandang lama ke arah mata Venny yang indah.

To be continued…
*cerpen latihan di Gradien Writing Audision 2013