365 days' Project, Februari

“Musik dan Dita”

—cerita sebelumnya

Teks lagu Michael Learns to Rock "That's Why You Go Away". (foto : dokumen pribadi)
Teks lagu Michael Learns to Rock “That’s Why You Go Away”. (foto : dokumen pribadi)

 

Dita tidak bisa menelepon Dani karena telepon rumahnya dikunci. Dia tak cukup berani untuk mencongkel tombol angkanya seperti yang biasa dilakukan bang Raka. Setiap kali Raka menelepon pacarnya, selalu curi-curi kesempatan. Terkadang Dita tak sengaja mendengar obrolannya dari kamar yang berada dekat dengan meja telepon.

Dita teringat Dani, bagaimana nasibnya setelah hari itu kesiangan masuk sekolah.

“Mudah-mudahan Dani nelpon ke sini,” gumamnya. Lalu DIta beranjak dari kamarnya. DIa melihat abangnya masih saja berbincang mesra. Dita memberi kode untuk segera menutup teleponnya.

“Apaan sih, dek? Ganggu orang pacaran aja.” Ujarnya sambil senyum jahil.

“Tutup dong, teleponnya. Takutnya nanti ada teman nelpon kesini.”

“Teman apa temaaan?” Abangnya mengerling jahil.

“Bang, tutup!” Dita melotot.

“Iya,iya, iyaaa…Ampun deh, miss jutek.” Setelah mengakhiri pembicaraan, Raka segera menutup gagang telepon. Tak lama Raka naik ke kamarnya di lantai atas, telepon berdering.

Dita segera menyambar gagang telepon dan mengucap salam.

“Assalammualaikum.”

“Waalaikumsalam. Dita ya?” suara Dani menghangatkan hati Dita.

“Hei, Dan. Sori gue gak bisa nelpon. Dikunci sama mama teleponnya.”

“Iya, nggak apa-apa. Gimana tadi di sekolah? Dihukum?”

“Biasa lah, gak boleh ikut satu jam pelajaran. Berdiri di lapangan. Elu juga?”

“Lari keliling lapangan lima keliling. Lumayan segar!”

Mereka tergelak bersama.

“Eh, Dit, udah dulu ya. Nggak bisa lama. Nanti diomelin ibu.”

“Oke. See you.”

Bye.

Dita melangkah ke kamarnya setelah menutup telepon. Lalu mengambil gitarnya dan membuka binder berisi catatan lirik lagu favoritnya. Beberapa lagu dia tulis dari acara radio yang khusus mendiktekan lagu-lagu barat beserta grif-nya, ‘Words by Tune’.

 

Baby won’t you tell me why there is sadness in your eyes
I don’t wanna say goodbye to you
Love is one big illusion I should try to forget
But there is something left in my head…

 

——-bersambung

365 days' Project, Februari

“Angkot Pink”

"Angkot Pink" (jurusan Gede Bage - Sadang Serang) Bandung. [dokumen pribadi]
“Angkot Pink” (jurusan Gede Bage – Sadang Serang) Bandung. [dokumen pribadi]
Dita melirik arloji bertali karet jingga.  Pukul 06.05 namun angkot yang membawanya ke arah Dago, Bandung, belum juga muncul.

“Haduh, bakal kesiangan nih, gue.”  Gerutu Dita.

“Kok belum ada juga ya, angkotnya.” Ujar Dani sambil melirik kea rah belokan jalan.

“Gimana dong, Dan. Elu naik angkot ijo aja deh, duluan. Ntar kesiangan gara-gara bareng gue.”

“Udah nggak apa-apa, sebentar lagi juga datang.” Dani menenangkan Dita tapi mimic wajahnya sendiri seolah tak tenang.

Dani berbeda sekolah dengan Dita, namun terkadang mereka janjian bareng supaya bisa bertemu. Di akhir minggu, Dani sudah memiliki jadwal latihan sepak bola. Hari lainnya sibuk di OSIS dan ekskul Angklung.

Lima menit kemudian, angkot pink muncul. Dita dan Dani beruntung mendapatkan tempat duduk. Mereka duduk bersebelahan. Setelah tiga ratus meter angkot melaju, ada calon penumpang melambaikan  tangan di pinggir jalan. Angkot berhenti, lalu ibu dan seorang anak laki-laki 5 tahun naik. Tempat duduk yang terisisa hanya tinggal di dekat pintu. Ibu itu terlihat kerepotan dengan barang bawaannya.

Dani spontan membantu memindahkan barang itu mengajak anak kecil tadi duduk di pangkuannya.

“Oh, Dani ternyata kamu penyayang anak kecil,” gumam Dita sambil memperhatikan Dani memeluk anak itu dengan hangat.

Anak itu tak berkomentar apapun selain tatapan lugu pada ibunya lalu tersungging senyum yang memamerkan gigi ompongnya.

Tiba di terminal Cicaheum.

“Dit, gue turun di sini, ya? Ganti angkot yang itu. Nanti nelpon aja ya, kalua mau bareng lagi. Oke?”

“Oh, oke. Carefull.”

            Dani berlari melesat menuju kea rah angkot jurusan Cicaheum-Kebon Kelapa.

 

Posisi duduk Dita  mulai bergeser sedikit demi sedikit ke pojok dekat jendela angkot dan kedua matanya mulai redup. Dug! Sesekali kepalanya terantuk kaca saat angkot mengerem.

Tiba di sekolah, gerbang sudah ditutup.

Pak Satpam mempersilakan para murid berseragam putih abu yang telat untuk segera masuk ke ruang guru piket.

“Ah, sial! Beneran diskors, nih. Apa kabar Dani?”

_________________ (bersambung ke ‘Musik dan Dita’)

 

Resensi

Review Film “Aach…Aku Jatuh Cinta”

poster film AAJC

Awal ketertarikan saya menonton film ini adalah saat menyaksikan bintang tamu di acara Sarah Sechan. Pevita Pearce, sang pemain wanita utama, dan Garin Nugroho, sang sutradara merangkap penulis skenario, tengah membicarakan film bergenre komedi romantis ini. Terlebih saat melihat trailer-nya di YouTube :

Film produksi Multi Vision Pictures ini mengangkat cerita cinta yang berbalut nuansa klasik tahun 70an. Tokoh Yulia (Pevita Pearce) menjadi sebuah sosok yang sangat dekat dengan Rumi (Chico Jerico). Sejak kecil mereka bertetangga dengan masalah yang mereka miliki sendiri-sendiri di keluarganya. Pesan di dalam botol limun milik Rumi menjadi benang merah yang menautkan alur cerita di film ini.

Masalah timbul bermula dari hadirnya perubahan zaman ditambah dengan kenakalan Rumi yang cukup membuat Yulia kesal. Ibu Yulia (Anissa Hertami) pun melarang keras Yulia untuk tidak bergaul lagi dengan Rumi. Ada rentetan kejadian yang terkesan norak namun kocak yang sempat Rumi lakukan baik semasa sekolah bersama Yulia maupun setelah lulus.

Saya terkesan dengan akting Rumi kecil (Bima Azriel) yang terlihat natural. Terutama di adegan saat ia menjemput ibunya di sebuah bar pada malam hari. Rumi kecil menangis saat ibunya menyuruh seseorang  mengantarkannya pulang kembali ke rumah. Adegan-adegan lucu lainnya saat berinteraksi dengan Yulia kecil cukup menghibur saya. Khas kenakalan anak-anak.

Pesan moral yang disampaikan di cerita film ini selain bagaimana sepasang teman dekat menemukan takdir cintanya, adalah tentang keutuhan keluarga. Garin mengangkat dua hal krusial dalam permasalahan rumahtangga yaitu KDRT yang dialami ibu Rumi (Nova Eliza) dan perceraian. Setiap masalah yang terjadi dalam keluarga di film ini perlahan mendewasakan Rumi dan Yulia. Namun dalam prosesnya mereka harus mengalami kesedihan dan kemarahan yang mendalam.

Salah satu adegan yang saya sukai di film ini antara lain adalah saat Yulia bersepeda mencari Rumi di sepanjang deretan tangkai tebu kering. Nuansa vintage dari penggalan kisah film ini juga menjadi nilai artisitik yang lebih. Lagu-lagu karya musisi zaman itu turut mewarnai kesan klasik. Mungkin almarhum ibu saya sangat hapal dengan lagu-lagu itu. Lagu yang menjadi soundtrack film ini adalah lagu ciptaan Ismail Marzuki berjudul ‘Dari Mana Datangnya Asmara’ :

Darimana datangnya asmara
Akupun tak mengetahui
Cara bagaimana dia
Dapat mengikat hatiku

Bagaimanakah rasa asmara
Merajalela dihati
Tak dapat aku membantah
Walau pun dahulu benci

Mulai dia berpantun hatiku berdetik
Kubalas dengan senyum sambil mataku melirik

Kemudian datang rasa sayang
Mulai wajahnya terbayang
Setiap waktu terkenang
Akhirnya aku bertunang

(sumber : http://www.sigotom.com)

Secara umum, film ini menyajikan dialog yang puitis ala puisi Rumi, kocak, dan sarat kalimat bijak orang tua. Sosok Chicco menurut saya kurang cocok memerankan nuansa klasik. Namun saat dia bertingkah jahil terasa sangat menjiwai dan lekat dengan senyum khas Chicco. Penggalan adegan Rumi yang ini juga terasa cukup menguras emosi adalah saat bertemu dengan Yulia di area candi.

sumber gambar : www.cinema21cineplex.com
sumber gambar : http://www.21cineplex.com

Peran Pevita patut saya acungi jempol karena dia terlihat sangat menghayati tokoh Yulia. Terlebih dengan kostum yang sangat pas dan serasi di sepanjang film. Adegan yang paling membuat saya berkaca-kaca adalah saat ibu Yulia memungut buah jambu yang berjatuhan dari pohon salah satu rumah yang dilewati. Ini menjadi salah satu pemantik semangat sang ibu untuk melanjutkan hidupnya sebagai penjahit. Bagaimana kehidupan keluarga Rumi dan Yulia selanjutnya? Silakan simak sendiri tayangannya di film “Aach… Aku Jatuh Cinta”.

Film ini lebih cocok ditonton oleh remaja dan dewasa karena bisa ‘mengalami’ hal-hal yang terjadi di zaman yang menjadi latar film ini. Para penonton remaja mungkin akan lebih tercerahkan apa makna cinta pada zaman itu  hingga zaman 90an.

Mungkin setelah film ini, saya berencana menonton film Indonesia lainnya. Pilihan saya tetap pada genre drama romantis. Setelah menonton film AAJC ini, saya tercerahkan bagaimana alur yang bagus untuk sebuah drama romatis. Suara Pevita sebagai narator cerita film ini menjadikannya sebuah bingkai kemasan yang manis.

Thanks to mas Raja Lubis, rekan blogger pecinta film Indonesia, yang sudah memberikan tiket gratis di kuis tempo hari. 🙂

foto : dokumen pribadi
foto : dokumen pribadi
Resensi

Review Kumcer “As Tears Dry Out”

Kumcer Nuthayla Anwar
Sampul depan buku Kumcer “As Tears Dry Out”

Judul                : As Tears Dry Out

Penulis              : Nuthayla Anwar 

Penerbit           : Fayla Production

Cetakan           : I, Agustus 2009.

Tebal               :  206 Halaman

ISBN                 : 978-602-95537-0-3

Satu lagi buku kumpulan cerpen yang saya baca. Awalnya saya mendapatkan rekomendasi bacaan ini dari seorang teman. Namun ternyata setelah saya mencari di toko buku, buku ini sudah tidak beredar. Akhirnya, saya meminjamnya dari teman yang baik itu.

Tak ada ruginya membaca, meskipun ini terbilang buku lama. Terlebih jika cerpen yang ada di dalam buku ini sangat membuat saya betah untuk terus menyimak halaman demi halaman. Bahasa yang lugas, natural, dan penggambaran suasana si cerita itu sendiri sangat terasa oleh saya. Di setiap cerpennya terdapat elemen menu masakan yang menjadi pelengkap isi cerita. Penulis bahkan menambahkan resep masakan yang terkait dengan setiap cerpennya di halaman terpisah.

Ada dua cerpen yang memiliki sudut pandang unik menurut saya. Cerpen berjudul “Ketika Sepatu Berkisah” memakai sudut pandang sepasang sepatu sebagai penutur cerita. Seolah si sepatu adalah benda hidup yang sangat peduli pada si empunya. Ada nilai-nilai moral yang disajikan di cerpen tersebut. Tentang makna keluarga dan pernikahan juga perjuangan seorang suami memenuhi segala keinginan istri dan anaknya.

Cerpen yang kedua berjudul “69”, memakai sudut pandang seekor anjing. Sang penulis, Nuthayla Anwar yang dikenal juga sebagai penulis novel ‘Alazhi Perawan Xin Jiang’ ini, menggambarkan kasih sayang seorang pemilik anjing  dengan sentuhan narasi seekor anjing. Saya tersadar oleh penuturan narasi yang sangat menyayat hati. Bahwa anjing setia pada Tuan-nya melebihi seorang laki-laki pada sang pacar. Namun cerpen ini menyajikan sisi manusia yang lain. Yang bukan pencinta binatang hingga nasib si Molly, tokoh anjing tersebut, kembali terlantar setelah sang  pemilik meninggal di usia 69 tahun.

Cerpen dengan nuansa kekinian dengan tajuk “Chatting” memberi warna lain. Kesan saya saat membacanya, kisah yang lucu dan mungkin saja dialami oleh pasangan yang telah menikah. Namun jalan ceritanya mudah saya tebak. Ternyata benar bagian akhir ceritanya seperti yang saya duga.

Secara keseluruhan, kumpulan cerpen ini sangat menggugah pembaca karena nilai-nilai yang tersirat darinya. Masalah perempuan, keluarga, pernikahan, sosial, kemanusiaan, bahkan kriminal memberikan wawasan dalam bentuk fiksi. Wawasan dari beberapa realita di dunia nyata mampu juga disajikan dalam bentuk fiksi semenarik cerpen-cerpen yang ada di buku ini.

Berikut ini 12 judul cerpen dan 17 resep masakan yang ada di dalam kumcer ini :

  1. Menjemput Cinta
  • Soto Betawi
  1. Ketika Sepatu Berkisah
  • Lasagna
  1. Reuni
  • Makaroni Panggang dengan Bayam & Wortel
  • Nugget Ayam dengan Brokoli
  1. Pejuang Waktu
  • Ayam Panggang
  • Sop
  • Perkedel Tahu
  1. Chatting
  • Soto Padang
  1. Prahara
  • Nasi Mutabagiah (Nasi Goreng ala Arabia)
  • Gulai Kambing dengan Bamia
  1. Kulepas Aku
  • Puding Roti
  1. Gelap
  • Roti Goreng Keju
  1. Paviliun
  • Sambal Goreng Udang
  1. 69
  • Bolu Kukus
  1. Origami
  • Chocolate Blended
  1. Sketsa Cinta
  • Donut Kentang
  • Bakso

Ada pesan yang dituliskan oleh penulis di balik kulit sampul buku ini untuk si teman pemilik buku ini. ‘Cerita dan Resep Cinta’. Ya, seringkali kita tidak pernah mengerti apa makna di balik setiap masakan yang pernah kita sajikan untuk seseorang. Mungkin semua cerpen dalam buku ini mewakili makna cinta itu sendiri. This is a lovely book, really nice stories. :*

Terimakasih kepada Epiest Gee yang telah meminjamkan buku kumcer ini tanpa tenggat waktu. 🙂

Resensi

Review Novel “Dua Masa di Mata Fe”

Novel Dydie

 

  • Judul            : “Dua Masa di Mata Fe”
  • Penulis         : Dyah Prameswarie
  • Cetakan        : I, 2014
  • Penerbit        : Moka Media, Jakarta.
  • Tebal            : 220 Halaman
  • Harga           : Rp 49,000
  • Genre           : Romance (Young Adult)

 

Novel karya teman sekaligus penasihat saya di dunia kepenulisan ini, bersampul manis. Nuansa biru, oren, dan merah, serta dua orang tokoh yang terlihat di sampul cukup mengundang pembaca untuk segera membuka lembaran pertama. Di bagian belakang sampul tertulis blurb cerita dengan siluet jam pasir dan pembatas buku juga berdesain hampir sama.

DSC_0399

Bab pertama dengan judul “Namanya Fathir” cukup mengundang rasa penasaran karena benda yang disebutkan dalam cerita yaitu kotak kayu cokelat yang dimiliki Fe, gadis keturunan Tionghoa (tokoh utama) serta kalimat akhir di bab ini. Pembaca ingin tahu, siapakah Fathir dan ‘laki-laki itu’.

Konflik di setiap bab dalam novel ini beragam. Selain tentang perbedaan etnis, keyakinan, nilai-nilai keluarga, dan tentu saja makna cinta, penulis juga menggambarkan tentang suasana kerusuhan Mei 1998 dengan jelas. Karakter Raish, pemuda keturunan Sunda (tokoh utama) cukup kuat karena penggambaran yang jelas dalam dialog dan sikap. Beberapa penggalan lagu yang hits di latar masa cerita ini disematkan penulis di adegan tertentu, diantaranya : ‘Always’ (Bon Jovi) dan ‘Trully Madly Deeply’ Savage Garden. Lagu-lagu tersebut sukses membawa saya secara pribadi sebagai remaja yang sempat mengalami zaman itu, terbawa larut ke dalam cerita. Komik yang pernah digemari remaja tahun 90an juga hadir menambah pernik cerita.

Ada sedikit kejanggalan di bab berjudul “Fighter”. Di sana terdapat percakapan Raish saat mobilnya mogok. Dia berkenalan dengan salah seorang penduduk di daerah Sengon. Raish mengenalkan Fe sebagai teman pada orang itu tetapi di lembar lain, Raish berkata bahwa Fe adalah istrinya. Saya sedikit bingung, namun hal tersebut diulas lagi dalam konflik di percakapan berikutnya hingga saya mengerti maksudnya. Bab “Menyapa Matahari Terbit” menjadi bagian favorit saya, terlebih kalimat Raish pada Fe yang berbunyi, “Semua kesedihan nggak akan selesai sama air mata yang kamu tumpahkan itu, Fe. Mereka nggak akan mengubah takdir yang sudah kamu lewati!”

Kata-kata yang typo di beberapa paragrap cukup mengurangi kenyamanan membaca. Cetakan huruf cukup jelas tetapi warna tinta sedikit memudar di beberapa halaman dan cukup hitam tebal di halaman bab akhir. Secara keseluruhan cerita dalam novel ini mampu membuka pikiran pembaca bagaimana perbedaan selalu menjadi konflik kehidupan padahal seharusnya perbedaan bisa membuat orang-orang saling melengkapi satu sama lain. Novel ini mengisahkan cinta dari sudut pandang yang signifikan yang terjadi di masyarakat kita. Saya kurang menyukai bagian akhir novel ini karena saya jadi bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan Raish? Apakah Fe tidak pernah lagi bertemu dengannya?

DSC_0398

But over all, it’s really nice story, Dydie. Semoga kita tetap mampu mengisahkan cinta dari berbagai makna. Saya tunggu karya Dydie selanjutnya.  🙂

Resensi

“Review Novel Teenlit – Love Puzzle”

Cover Novel "Love Puzzle"
Cover Novel “Love Puzzle”

 

Judul               : “Love Puzzle”

Penulis            : Eva Sri Rahayu

Penerbit          : Teen@Noura (Noura Books), Jakarta.

Cetakan          : I, November 2013.

Tebal               : 286 halaman

Genre              : Remaja

Harga              : Rp 49,000

 

Judul novel remaja ini membuat calon pembaca menebak-nebak, apakah ini ada hubungannya dengan puzzle yang biasa dimainkan anak atau orang dewasa di dunia nyata? Warna cover yang soft dan ilustrasi kamera instan dengan balon warna warni yang terikat di kamera serta gambar tiga orang di dalam foto, cukup menarik minat pembaca. Setiap bab dibatasi art paper bernuansa penggalan puzzle sesuai bahasan cerita babnya.

Cinta memang tema yang paling disukai dan tetap menjadi favorit beberapa pembaca. “Love Puzzle” seolah ini menjanjikan hal-hal manis di dalam ceritanya. Tebakan saya tidak salah. Bab demi bab saya nikmati dan membuat rasa penasaran oleh teka-teki yang ditampilkan sejak bab awal. Prolog cukup memancing bayangan cerita yang akan tersaji di Puzzle 1.

Selain tentang percintaan, novel ini juga menghadirkan tema keluarga, persahabatan, masalah-masalah remaja SMA hingga menjelang kuliah. Tokoh utama perempuan bernama Rasi, dan tokoh laki-laki kembar yang menjadi pokok permasalahan adalah Raja Alexander Agusta dan Iskandar. Konflik keluarga tokoh kembar sangat kental. Sayang sekali, latar belakang keluarga Rasi tidak terlalu dimunculkan.

Setiap bab di novel ini menyajikan konflik yang beragam. Konflik batin tokoh-tokohnya pun begitu terasa dalam. Narasi dan dialog yang ada mampu membuat saya sebagai pembaca hanyut dalam cerita. Namun ada beberapa adegan yang menurut saya kurang logis. Entah karena ada unsur magis dan misteri tentang si tokoh yang telah meninggal atau karena pengalaman saya sebagai pembaca novel yang memang tidak terlalu menyukai hal-hal gaib.

Kalimat favorit saya dalam cerita ini, saat Rasi berusaha menyadarkan tokoh perempuan yang menjadi sahabat barunya, bernama Ayara (pacar Iskandar), Please, Aya. Berhenti hidup dalam kebohongan. Jangan terus hidup di masa lalu!” Adegan yang paling saya sukai adalah saat Rasi membakar kartu identitas Iskandar yang dimiliki Alexander di hadapan Ayara.

Menurut saya, konflik yang paling tajam ada di Puzzle 14. Di bab ini, teka-teki dan misteri yang saya baca bab demi bab mulai terkuak hingga saya ingin terus melanjutkannya ke bab selanjutnya. Penulis cukup berhasil menggunakan alur mundur sebagai penyajian yang mengundang rasa penasaran pembaca. Jika ingin tahu “gambaran utuh” dari puzzle yang teracak di setiap bab di dalam novel ini, silakan baca novel ini, temans. Epilog yang ada di akhir cerita menjadi penutup yang cantik untuk menggambarkan apa yang terjadi dengan Raja Alexander Agusta dan Rasi setelah puzzle-puzzle cerita tersusun sedemikian rupa.

Novel “Love Puzzle” ini layak menjadi pilihan pembaca, khususnya remaja, yang menyukai cerita cinta dramatis, penuh hal-hal magis, perjalanan hidup yang tragis, namun tak lepas dari sentuhan-sentuhan manis.

Terimakasih kepada Eva Sri Rahayu, sang penulis novel ini yang telah membubuhkan tulisan di halaman depan untuk saya, “Selamat bertualang di dunia Raja dan Rasi. Semoga suka.” Saya sudah bertualang dalam ceritanya, dan Yup! Saya suka novel ini. It’s recommended! 🙂

my journal, Rumah Kayu, sejenis cerita pendek

“Kopi dan Kamu”

cappucino

Berkali-kali kamu melarangku minum kopi terlalu sering, dan itu malah membuatku semakin ketagihan. Aku hanya bisa tahan dua minggu saja tidak minum kopi. Aku kembali menikmati secangkir dan cangkir berikutnya setiap hari, lalu aku sadar bahwa aku kecanduan kopi.

Mungkin kopi seperti dirimu yang selalu membuatku selalu butuh kamu. Rasa-rasa ketika berada di dekatmu dan buaianmu itu yang membuatku nyaman hingga mampu menciptakan aura bahagia tak terkira. Dia menebarkan aroma yang begitu menggoda hati untuk tetap menyeduhnya lagi dan lagi. Sehari tanpa kopi itu seperti sehari tanpamu. Aku tidak bisa meninggalkan kopi, dan sangat tak bisa berpaling darimu.

Ketika air keruh kopi yang nikmat itu menjalar ke pencernaanku, dia membuat ketenangan jiwa dan kreativitas hadir luar biasa. Kamu selalu aku butuhkan agar aku bisa berjalan dengan nyaman selayaknya teman. Sebagian orang mungkin akan terjaga karena meminum kopi. Ya, akupun terjaga karena cintamu. Namun aku tetap akan mengantuk jika kamu butuh peluk karena kamu tak akan mengajakku masuk ke dalam mimpi buruk.

Ya, kopi itu kamu. Ijinkan aku untuk selalu menyeduhmu.

beautiful songs, my journal

“Heart Hypnotic”

DELTA & BRYAN in the past
DELTA & BRYAN in the past
Gorgeous DELTA GOODREM
Gorgeous DELTA GOODREM

Judul sebuah lagu terbaru dari Delta Goodrem, membuat saya terhipnotis untuk mengulang-ulang lagu ini. Lagu ini mengingatkan saya akan daya magis dari seseorang yang saya kagumi. Ia membuat hati saya terhipnotis, apapun yang ia mau pasti saya akan melakukannya tanpa nalar.

Di awal situasi ini terjadi, saya tak menyadarinya, apa ini namanya? Jatuh cintakah? Hingga saya sedemikian terpesona, juga sebaliknya, dia terpikat pada saya. Mungkin cinta memang mengandung daya tarik magnetis hingga hati ini tertarik hanya pada satu objek yang menjadi pilihan hati.

Di saat lain, patah hati menjadi nyanyian indah karena kenangan yang dibawa olehnya. Ya, seperti simphony dua hati. Saat saya menyanyikan lagu patah hati, terbayang segala hal tentangnya dan luka yang pernah terasa. Saat saya lupa bahwa pernah patah hati, itu menjadi nyanyian hati yang lebih indah. Saya tersadar telah terhipnotis oleh orang asing yang membuat saya terbuai dengan kalimat cintanya dan sebenar-benarnya cinta.

Grey skies over a setting sea
Heartbreak, that sounds like a symphony
Future memories at the thought of you
Perfect moments of a desperate youth

Sun light burning into the moon
Just like all off the things you do
The way you got me,You in control,
Yeah, you can hypnotize me, You hypnotize me,

I don’t, I don’t know what this is,
But I know I love it, Baby yes I know,
You got my heart hypnotic, and no letting go

I don’t, I don’t know what this is,
But I know I love it, Baby yes I know,
You got my heart hypnotic, and no letting go

Dark nights under the setting sun
Bright lights, come we’re the only one
I’ve got this vision, how it’s supposed to be
There’s a fortune teller, telling you and me

Your light, is beaming inside of you,
That’s how, you mesmerized me too,
The way you got me,Yeah you in control,
You can hypnotize me,You hypnotize me

Delta, you hipnotized me with the song.
Husband, you hipnotized me with your humble and warmth.
Past, you’ve hipnotized me with the first thing I saw you.

catatan ramadan, my journal

“Pelukan Hujan”

Raindrops at the bus window
Raindrops at the bus window

Hei, hujan, lagi-lagi kamu membuatku tersipu dan merasa nyaman dengan pelukanmu. Walau dinginmu sangat mengganggu, tapi aku selalu asyik bersamamu. Apalagi yang harus aku syukuri setelah bertemu denganmu di hari-hariku? Ya, kenyamanan berada di suasana rinai hujanmu, itu yang aku harus syukuri. Percikan air deras dari langit membuatku memahami makna sebuah keberkahan

‘Ketika rinai hujan memeluk jiwa yang perawan maka keberkahan yang ia dapatkan’

Terkadang saat aku sendiri, mencoba mengerti irama dan aroma hujan, dan rasanya seperti mendapatkan sebuah pelukan dari-Nya. Pelukan yang menghangatkan jiwa, menambah ketaqwaan hati yang perawan. Setiap tetesnya membawa keberkahan bagi jiwa dan raga yang mengerti.

Hujan, tetaplah dalam pelukan, tetaplah menjadi teman dalam kedukaan dan kebahagiaan, karena kau diciptakan untuk memberi kekayaan jiwa manusia.