catatan ramadan, my journal

“Gadis 10 Tahun”

Rasanya baru kemarin, aku melahirkannya di waktu shubuh, 22 Juni 2005. Parasnya sangat cantik berbulu mata lentik. Kulitnya putih bersih. Tubuhnya sehat dan bulat. Aku bahagia menerima anugrah-Nya walau kondisi perekonomian keluarga dalam keterbatasan. Neneknya setia menemani selama berada di rumah bersalin walau terkantuk-kantuk. Papanya mengazaninya dengan penuh rasa syukur.

Aku semakin mengerti bagaimana tahapan menjadi seorang ibu karena membesarkan dan mengasuhnya. Gadis kecilku yang agak terlambat berjalan tetapi bicara lebih dini, membawaku pada dunia keibuan yang sarat makna. Tangis, tawa, khawatir, dan letih silih berganti di setiap hariku menghadapi pengalaman bersamanya. Kesabaran menjadi kunci segala perjuangan dalam mengerti dirinya.

Kini, gadis kecilku menginjak usia 10 tahun. Mulai sulit mencari baju-baju yang pas dengan ukuran tubuhnya yang tanggung. Alhasil, baju remaja sudah menjadi pilihan. Gadisku akan tumbuh pesat, cepat dan tetap menjadi anak yang smart. Aku sangat beruntung memilikinya. Gadis yang hanya menangis jika merasa tak nyaman, anteng namun penuh kehati-hatian, sangat well prepare seperti Papanya, dan agak sensitif sepertiku. Hei, gadisku berzodiak sama denganku. Kami sama-sama perempuan bertipe sensitif namun perhatian.

Aku ingin gadisku menjadi sahabatku hingga aku menua. Aku ingin dia berhasil dalam hidupnya karena ajaran dan pengalaman orangtuanya. Aku ingin dia suka membaca dan menyukai seni. Itu sudah terbukti. Saat memperkenalkannya dengan buku bergambar dulu, gadisku sangat antusias. Bahkan sejak dini, dia telah kukenalkan sebuah buku gambar lalu dia dengan senang membuat bola kusut dan coretan berwarna-warni di sana. Dinding rumah kami pun menjadi sasaran kreativitasnya. Ketika mendengar musik, perilakunya lucu dan ceria, bahkan mampu menyanyikan lagunya berkali-kali.

Saat melihatnya di usia ini, aku semakin menyadari bahwa usia manusia itu begitu singkat. Gadis kecilku menuju dunia remaja sebentar lagi sedangkan aku menuju kematangan jiwa lalu menua. Setiap tahun aku mencoba mengerti apa yang terjadi pada gadisku, apa keinginannya, apa saja yang dia belum mengerti, dan siapa yang dia kagumi. Aku beharap, suatu hari nanti, dia mampu mengerti bahwa seorang gadis harus menjaga kehormatan dirinya untuk kebaikan dirinya dan keluarganya.

Perdebatan kecil di antara kami berdua memang selalu ada. Terkadang menggelikan dan sedikit memancing amarah. Namun aku harus mampu memberikan pengertian padanya tanpa harus mengumbar amarah besar karena dari sana aku belajar menjadi penyabar dan dia belajar menjadi pendengar.

Gadis kecilku, tak cukup hanya 10 tahun untuk mengertimu. Aku memerlukan waktu seumur hidupku untuk belajar darimu pada makna hidupku. Aku dan Papamu selalu mencintaimu sepenuh jiwa raga. Selamat menjadi gadis tanggung. Masih banyak waktu di depanmu untuk mengembangkan dirimu menjadi seseorang yang mampu menghadapi segala tantangan dan mengejar cita-citamu. Semoga impianmu menjadi seorang arsitek dapat terwujud dan membawa kebaikan bagi dirimu dan orang banyak. Semoga Allah selalu menuntunmu ke jalan kebenaran. Peluk cium selalu untukmu, Puga Rarasantang. :*

my journal, Rumah Kayu

“Peniru Ulung”

'Ma, jangan ribut, kaka lagi siaran.'
‘Ma, jangan ribut, kaka lagi siaran.’

Hei, si cerewetku pake headset!
Ini pemandangan lucu menurutku, karena she looks just like me. Ya, anak memang peniru ibunya. Apapun yang ibunya lakukan dan katakan, dia pasti menirunya. Bahkan terkadang menjadi pengkritik paling jujur bagi ibunya. Aku merasa dia adalah cermin untukku. Entahlah, dia becermin padaku atau sebaliknya.

Aku harus berhati-hati dalam berkata karena jika lidah ini terpeleset sedikit saja, lalu ditirunya, itu bahaya! Semoga itu nggak terjadi. Untungnya yang telah terjadi adalah kebiasaan memegang dan membaca buku, dia pun melakukan hal yang sama. Komik pilihannya atau buku dongeng, aku novel. Aku menulis, mengetik di laptop, lalu dia mengambil alat-alat gambarnya. Menggambar komik proyek liburannya, aku menulis naskah novel. It’s fun!

Nggak hanya itu. Aktivitas di dapur, sekarang dia mulai nimbrung. Aku nggak melarangnya karena anak perempuan harus tahu apa yang dilakukan di dapur. Aku mengarahkannya sesuai dengan hal yang dia mampu kerjakan. Lagi-lagi menyenangkan. Tapi giliran dia ngambek dan manyun, hmm… mirip siapa ya? Wah, ini mirip aku. Terkadang ada saat-saat aku diam dan ingin sendiri. Dia melakukannya persis sepertiku. Well, like mother, like daughter. Itu nggak bisa dipungkiri.

Ya, Moms, pintar-pintar kita ya, supaya anak meniru beberapa hal baik dari kita. Walaupun sisi manusia memang tak semua baik, minimal ditiru anak sendiri adalah salah satu hal yang paling berharga semasa hidup.
Aku akan selalu tanamkan kebiasaan baik agar dia meniru. Terutama shalat lima waktu sebagai sebuah keharusan, hingga saat si cerewetku malas, dia akan merasa sedikit malu, lalu meniru apa yang aku lakukan. Ramadan akan menjadi momen yang pas mengajaknya secara halus untuk shalat. Dia rajin mengaji Alquran, aku malu, dan terpacu melakukannya. Dia peniru ulung, aku pemicunya.

For my little angel, Puga, semoga bulan Ramadan mulai rajin lagi ya…shalatnya.