Resensi

Review Kumcer “As Tears Dry Out”

Kumcer Nuthayla Anwar
Sampul depan buku Kumcer “As Tears Dry Out”

Judul                : As Tears Dry Out

Penulis              : Nuthayla Anwar 

Penerbit           : Fayla Production

Cetakan           : I, Agustus 2009.

Tebal               :  206 Halaman

ISBN                 : 978-602-95537-0-3

Satu lagi buku kumpulan cerpen yang saya baca. Awalnya saya mendapatkan rekomendasi bacaan ini dari seorang teman. Namun ternyata setelah saya mencari di toko buku, buku ini sudah tidak beredar. Akhirnya, saya meminjamnya dari teman yang baik itu.

Tak ada ruginya membaca, meskipun ini terbilang buku lama. Terlebih jika cerpen yang ada di dalam buku ini sangat membuat saya betah untuk terus menyimak halaman demi halaman. Bahasa yang lugas, natural, dan penggambaran suasana si cerita itu sendiri sangat terasa oleh saya. Di setiap cerpennya terdapat elemen menu masakan yang menjadi pelengkap isi cerita. Penulis bahkan menambahkan resep masakan yang terkait dengan setiap cerpennya di halaman terpisah.

Ada dua cerpen yang memiliki sudut pandang unik menurut saya. Cerpen berjudul “Ketika Sepatu Berkisah” memakai sudut pandang sepasang sepatu sebagai penutur cerita. Seolah si sepatu adalah benda hidup yang sangat peduli pada si empunya. Ada nilai-nilai moral yang disajikan di cerpen tersebut. Tentang makna keluarga dan pernikahan juga perjuangan seorang suami memenuhi segala keinginan istri dan anaknya.

Cerpen yang kedua berjudul “69”, memakai sudut pandang seekor anjing. Sang penulis, Nuthayla Anwar yang dikenal juga sebagai penulis novel ‘Alazhi Perawan Xin Jiang’ ini, menggambarkan kasih sayang seorang pemilik anjing  dengan sentuhan narasi seekor anjing. Saya tersadar oleh penuturan narasi yang sangat menyayat hati. Bahwa anjing setia pada Tuan-nya melebihi seorang laki-laki pada sang pacar. Namun cerpen ini menyajikan sisi manusia yang lain. Yang bukan pencinta binatang hingga nasib si Molly, tokoh anjing tersebut, kembali terlantar setelah sang  pemilik meninggal di usia 69 tahun.

Cerpen dengan nuansa kekinian dengan tajuk “Chatting” memberi warna lain. Kesan saya saat membacanya, kisah yang lucu dan mungkin saja dialami oleh pasangan yang telah menikah. Namun jalan ceritanya mudah saya tebak. Ternyata benar bagian akhir ceritanya seperti yang saya duga.

Secara keseluruhan, kumpulan cerpen ini sangat menggugah pembaca karena nilai-nilai yang tersirat darinya. Masalah perempuan, keluarga, pernikahan, sosial, kemanusiaan, bahkan kriminal memberikan wawasan dalam bentuk fiksi. Wawasan dari beberapa realita di dunia nyata mampu juga disajikan dalam bentuk fiksi semenarik cerpen-cerpen yang ada di buku ini.

Berikut ini 12 judul cerpen dan 17 resep masakan yang ada di dalam kumcer ini :

  1. Menjemput Cinta
  • Soto Betawi
  1. Ketika Sepatu Berkisah
  • Lasagna
  1. Reuni
  • Makaroni Panggang dengan Bayam & Wortel
  • Nugget Ayam dengan Brokoli
  1. Pejuang Waktu
  • Ayam Panggang
  • Sop
  • Perkedel Tahu
  1. Chatting
  • Soto Padang
  1. Prahara
  • Nasi Mutabagiah (Nasi Goreng ala Arabia)
  • Gulai Kambing dengan Bamia
  1. Kulepas Aku
  • Puding Roti
  1. Gelap
  • Roti Goreng Keju
  1. Paviliun
  • Sambal Goreng Udang
  1. 69
  • Bolu Kukus
  1. Origami
  • Chocolate Blended
  1. Sketsa Cinta
  • Donut Kentang
  • Bakso

Ada pesan yang dituliskan oleh penulis di balik kulit sampul buku ini untuk si teman pemilik buku ini. ‘Cerita dan Resep Cinta’. Ya, seringkali kita tidak pernah mengerti apa makna di balik setiap masakan yang pernah kita sajikan untuk seseorang. Mungkin semua cerpen dalam buku ini mewakili makna cinta itu sendiri. This is a lovely book, really nice stories. :*

Terimakasih kepada Epiest Gee yang telah meminjamkan buku kumcer ini tanpa tenggat waktu. 🙂

Resensi

Review Novel “Walking After You”

Sampul depan novel
Sampul depan novel “Walking After You” (foto: dokumen pribadi IG: @betakun)

Judul               : Walking After You

Penulis            : Windry Ramadhina

Penerbit           : Gagas Media

Cetakan           : Kedua, 2015.

Tebal               : 320 Halaman

ISBN                 : 979-780-772-X

Genre              : Romance (Young Adult) ; Fiksi Kuliner

Harga              : Rp 50,000

Ini novel kuliner kedua yang saya baca. Sebelumnya saya pernah membaca beberapa cerpen kuliner juga. Saat pertama melihat sampul depannya yang bergambar kue macaron biru, saya pikir ini novel romance biasa. Ternyata macaron ini adalah salah satu pemikat isi cerita dalam novel ini.

Sang penulis menyajikan prolog dengan cantik. Saya sebagai pembaca merasa terhanyut ke dalam adegan-adegan di sana. Penggambaran suasana yang tampak jelas membuat pembaca merasa nyata melihat ke dalam cerita hingga menjadi penasaran dengan bab berikutnya.

Benar saja, bab berikutnya semakin kece. Emosi dari dialog dan deskripsi suasana sangat terasa. Saya mengutip beberapa diksi sebagai bahan referensi dalam menulis penggambaran suasana hingga menimbulkan kesan dramatis. Ini salah satunya di halaman 24 :

“Hujan menutup matahari dengan gumpalan-gumpalan awan kelabu yang bergelayut berat, mengubah langit biru yang ceria menjadi muram. Hujan menyapu titik-titik bintang, juga memberi udara dingin, membasahi tanah hingga becek, dan menyebabkan sepatu mahal berbahan beledu bebercak coklat. Hujan menghentikan berbagai acara menyenangkan di ruang terbuka – festival, piknik, kencan.”

Beberapa item yang memikat di novel ini di antaranya :

  1. Dekorasi kamar Arlet.
  2. Masakan khas Italia (pasta).
  3. Cokelat.
  4. Tiramisu.
  5. Cokelat Truffle.
  6. Macaron.
  7. Bruschetta.
  8. Souffle Cokelat.
  9. Perempuan pengunjung toko kue ‘sang pembawa hujan’ bernama Ayu.
  10. Rum.
  11. Skuter cokelat kopi (Vespa matic)

Banyak adegan yang membuat saya terhanyut, terutama saat Anise dan Julian mengobrol berdua, berdebat, lalu suasana panas berubah menjadi romantis dan indah. Salah satunya di halaman 140-144, saat Anise menelepon Julian dan mengobrol lama hingga Julian tertidur.

| Dan, ya, Julian menghadiahi aku sekotak cokelat. Truffle. Gula-gula cokelat berisi garnache – campuran cokelat – yang mengandung rum. Permukaannya dibaluri kakao pahit sebagai penawar rasa manis. | 

Adegan termanis adalah saat Anise mendapatkan kado dari Julian.

“Hanya punggungnya yang sempat tertangkap oleh mataku – serta aroma apel bercampur sage, dan mint yang samar, tercium di antara Wangi vanili. Aroma yang diam-diam kurindukan.” (halaman 200.)

kutipan kalimat tentang 'Hujan' di dalam cerita novel ini. (foto : dokumen pribadi)
kutipan kalimat tentang ‘Hujan’ di dalam cerita novel ini. (foto : dokumen pribadi)

Secara keseluruhan, cerita dalam novel ini dikemas menarik. Bukan hanya sekadar cerita tentang anak perempuan kembar (Arlet dan Anise) yang manis saat mereka kecil tetapi konflik yang pelik di antara keduanya saat dewasa.

Sampul belakang novel (foto : dokumen pribadi, buku milik Dyah Prameswarie)
Sampul belakang novel (foto : dokumen pribadi, buku milik Dyah Prameswarie)

Penulis berhasil memainkan perasaan pembaca dengan alur maju-mundur hingga betah membacanya sampai akhir bab. Epilog di halaman akhir novel ini tetap membuat saya penasaran dengan kelanjutan hubungan Anise ‘si koki masakan Italia’ dan Julian ‘si koki kue’. This novel is highly recommended! :*