my journal

“Suatu Hari Bersama Paman” (Part 2)

picture taken from : printablecolouringpages.co.uk
picture taken from : printablecolouringpages.co.uk

Aku lupa kapan terakhir mendengar suara Paman di telepon. Ya, cuma Paman yang rajin menanyakan kabarku. Seharusnya aku yang sering menelepon, Paman. Beliau aku panggil Om, adik dari Mamaku.

Ada satu kesempatan yang tak bisa kulupakan. Waktu itu, di meja makan, usai makan malam. Kalimat yang Om katakan sangat menikam hatiku hingga bekas tikaman itu bukan menjadi luka tetapi menjadi sebongkah semangat hidup yang harus aku bakar. Bara itu hingga kini masih menyala dengan bahan bakar doa dan harapan.

Om, mungkin aku tidak mampu membalas segala kebaikan yang Om pernah berikan. Namun sepertinya Allah telah memberikan segala kebaikan hidup padamu. Aku sangat senang ketika mendengar Om dan Tante pergi ke tanah suci. Semoga Allah selalu memberikan karunia-Nya padamu. Beberapa kali aku bermimpi berkunjung ke rumah Om dan rasanya seperti nyata. Mungkin rasa kangen yang terpendam menjelma menjadi mimpi indah. Selain kangen menaiki kereta api, aku juga kangen dengan suasana keluarga yang harmonis dan tentu saja masakan Tante yang enak.

Aku tidak mampu membayangkan bagaimana jika hari itu Om tidak mengajakku tinggal bersama di rumah dan melanjutkan sekolahku. Allah mengulurkan pertolongan padaku melalui tanganmu, Om. Semakin hari, aku semakin mengagumi sosokmu yang penuh canda, cerdas, pekerja keras, dan family man. Beberapa penggalan cerita masa kecilmu pernah kudengar dari almarhumah Mama.

Bagaimanapun dirimu, aku akan tetap menganggapmu sebagai Ayahku. Sebenarnya, aku ingin berlama-lama bertukar cerita denganmu, tapi langkah perjalanan hidupku harus terus berganti agar aku mandiri. Mungkin suatu hari aku akan memerlukan bantuanmu saat aku butuh. Doaku untukmu dan keluarga akan selalu kuucapkan agar kasih sayang selalu bertaut di celah-celah langit yang terkadang kelabu.

*untuk Om Lily Syahrial Arifien dan keluarga.

my journal, sejenis cerita pendek

“Suatu Hari Bersama Paman” (Part 1)

Waktu itu, aku masih usia SD, menikmati sore di belakang kemudi sebuah mobil mungil yang sedang diperbaiki Paman. Paman selalu ku panggil dengan sebutan ‘Bapak’ karena ia memintanya begitu.

“Pak, aku ingin belajar menyetir mobil!” teriakku pada Paman.

“Ya, nanti kalau sudah besar, nanti Neng punya mobil sendiri,” jawab Paman sambil mengepulkan asap rokok kreteknya ke atas kap depan mobil.

Love Uncle
taken from : http://www.cafepress.com

Sejenak ku bayangkan aku benar-benar mengemudikan sebuah mobil sambil menyetel radio. Ah, sepertinya asyik! Teriakku dalam hati. Aku selalu senang melihat Paman bekerja di garasi kecil yang berfungsi sebagai bengkelnya. Aroma oli dan segala peralatan yang ada di sana seperti taman bermain yang menyenangkan bagiku. Saat Paman menyuruhku membeli sebungkus rokok favoritnya, dengan senang hati aku segera beranjak pergi ke warung terdekat. Sekembalinya dari sana, aku selalu diberi uang kembalian untuk ku pakai jajan. Sempat terpikir dalam benakku, enak ya, punya Paman apalagi punya Bapak. Belum ada rasa sedih yang mendera kala itu, aku masih terlalu kecil untuk mengerti mengapa Bapak kandungku pulang begitu cepat ke hadapan-Nya.

Sampai pada masa di mana Paman pun pulang untuk selamanya. Aku sangat sedih hingga tak sanggup menghadiri pemakamannya. Ia sosok yang hangat dan memberiku banyak hal. Kesederhanaan dan kasih sayang seorang Bapak begitu membekas.

Pak, Neng yakin suatu hari nanti, Neng akan memiliki sebuah mobil dan yang orang yang pertama kali Neng ingat adalah Bapak. Senyum dan pelukanmu tak akan terlupakan. :’)

Untuk alm. Bapak Deden Suganda bin Natapradja

sejenis cerita pendek

“Semangkuk Mi untuk Adam”

Adam, laki-laki bermata sayu, berkulit gosong, berkepala plontos itu bergeming sambil menatap layar televisi.

Aku membuatkannya mi rebus plus telur. Lima menit saja mi rebus telah siap. Hanya itu yang bisa kusajikan. Tak ada yang istimewa. “Nih, makan dulu,” ujarku.

Adam tak merespon. Tatapan matanya kosong seolah seolah tak berselera pada semangkuk mi itu. Sejurus kemudian dia berkata, “Nggak ada siapa-siapa di rumah. Semua pergi.”

“Oh…” kataku singkat. Dalam hatiku berkata, Adam, kamu kesepian. Kamu seperti zombie yang melangkah gontai dan tak ada keinginan untuk mengetahui seperti apa dunia ini sebenarnya. Mau sampai kapan kamu begini? Hanya mengandalkan pemberian kakakmu dan hanya tahu kata ‘meminta’ daripada kata ‘berusaha’.

Adam akhirnya menghabiskan mi itu secepat kilat. Mirip ular Phyton yang mencaplok mangsanya seketika. Tak ada seutas kalimat pun selama aku dan Adam duduk bersama di depan TV.  Pikiranku sibuk bertanya, bagaimana nasib adikku ini nanti jika aku tak ada lagi di dunia. Apakah nasibnya berakhir buruk atau akan hadir keajaiban pada dirinya? Aku tak sanggup membayangkan kemungkinan terburuk terjadi padanya. Semoga saja tidak.

“Kak, minta uang untuk rokok,” celetuk Adam diiringi senyum memelas.

“Dam, aku nggak punya uang sepeser pun. Berhentilah merokok! Cuma bakar uang saja! Kalau kamu mau makan, satu atau dua piring di rumahku, ada.” Setelah itu, aku hanya ngedumel dalam hati, Dam, kamu itu mengerti nggak? Jika kamu tak ada kemampuan untuk membeli barang itu, ya berhentilah! Jangan memaksakan diri untuk mengikuti segala keinginan duniawi jika itu diluar kemampuan. Hiduplah apa adanya.

Aku tidak akan memanjakanmu dengan benda-benda yang kamu minta karena uang dan harta benda itu tidak jatuh dari langit. Semua yang kamu mau harus kamu usahakan sendiri. Ah, entahlah kamu masih mengerti apa makna berusaha. Tapi sepertinya angan-angan dan keinginan kamu itu telah sesak memenuhi pikiranmu.

Dam, kamu korban perasaan masa lalu di keluarga kita yang penuh mimpi buruk. Rasanya sulit sekali mengembalikan keceriaanmu seperti saat kecil dulu. Senyum itu sepertinya sudah tenggelam. Senyum yang kulihat saat kita bermain hujan-hujanan dan layang-layang di lapangan. Kedua matamu pun sangat muram sekarang. Apakah kamu menyimpan kesedihan yang begitu dalam hingga tak mampu lagi membersihkannya dari dalam hatimu? Kamu perlu teman dalam perjalanan hidupmu. Aku tak mampu mewujudkan itu.

Anggukanmu itu mungkin tanda kamu mengerti bahwa aku tak mampu memberikan harta sebanyak yang kamu inginkan. Aku bukan sang kaya raya yang bisa dengan mudah mengeluarkan lembaran uang yang kamu minta. Aku pun tidak boleh menyalahkan keadaan karena setiap orang telah digariskan dengan takdirnya. Yang kumengerti sekarang hanya bersabar dan berbuat semampuku.

Adam, apa kamu masih ingat Tuhan? Hanya kepada Dia seharusnya kamu memohon dan berdoa. Seharusnya kamu ingat kalimat-kalimat yang pernah kamu tahu dari guru mengaji dulu. Aku hanya berharap malaikat selalu berbisik padamu agar kamu ingat pada lima waktu yang wajib. Lakukanlah untuk dirimu sendiri lalu Tuhan akan menolongmu dalam keadaan apapun.

Apakah kamu masih ingat cara berdoa? Katakan kalimat doa itu jika kamu ingat. Katakan sesering mungkin agar hatimu tenteram dan bunda pun tersenyum dari sana mendengar doamu.