my journal, Rumah Kayu

“Nirmana (Workshop Rumah Kayu Fotografi)”

Ibu Ken sedang menjelaskan materi
Ibu Ken sedang menjelaskan materi

This slideshow requires JavaScript.

Bandung, 20 Juli 2013

Saya berjodoh dengan hari ini. Hari dimana saya dengan leluasa pergi sendiri untuk mengikuti Workshop di sebuah komunitas Rumah Kayu Fotografi. Selain karena dibarengi dengan acara berbuka puasa bersama, tema Workshop yang digelar dengan pembicara dosen Seni Rupa ITB, Ibu S.Ken Atik Djatmiko, membuat saya tertarik. Temanya adalah Seni Rupa dan Desain dalam Fotografi. Entah sejak kapan saya menyukai dunia Seni Rupa. Walau saya tidak kuliah di bidang ini, lebih tepatnya ‘tidak berjodoh’ tetapi saya merasa hati saya diselimuti oleh hal-hal berbau seni.

Fotografi mungkin sebuah hal baru bagi saya, tapi saya sudah menjadi penikmat foto sejak lama. Selama saya memotret, mulai terasa bahwa proses memotret itu mirip dengan proses menulis. Keduanya berhubungan erat dengan kepekaan hati. Setiap hal yang saya lihat, dan dianggap menarik, itu menjadi objek yang pantas untuk diabadikan. Begitu juga dengan ide menulis, saat menangkap sebuah peristiwa terutama hal yang berhubungan dengan perasaan.

Konsep Nirmana adalah konsep seni Rupa yang berhubungan dengan Fotografi. Pengertian Nirmana rupa merupakan pemahaman dasar perancangan di atas bidang datar yang menekankan pada unsur, prinsip, filosofis, serta teknis. Dengan penekanan pada pola kerja yang sinergis/bertautan, berkaitan antara pikiran, hati, dan ketrampilan tangan. Ibu S.Ken Atik Djatmiko mengatakan bahwa tanpa disadari setiap orang telah mengenal Nirmana di dalam aktivitas kehidupannya. Mereka yang menekuni Fotografi pun sebenarnya telah melakukan dan mengenal dasar- dasar rupa Nirmana. Pada benda-benda yang kita lihat, kita akan mengenal dasar-dasar seni rupa seperti garis, titik, bentuk, terkstur. Sedangkan prinsip-prinsip desain meliputi : Pengulangan (Repeat), Gradasi, Irama, Kontras, Keseimbangan (Balance), Keselarasan (Harmony), Kesatuan (Unity).

Ibu Ken memberikan beberapa contoh hasil desain sederhana dalam perwujudan sebuah konsep Nirmana. Beberapa diantaranya membuat kita merasa dan mengintrepretasikan objek tersebut dengan pemahaman masing-masing. Di dalam dunia Fotografi hal ini merupakan perwujudan yang berkaitan. Sebuah karya dalam bingkai foto akan mengalami berbagai intreprestasi dari pengamat foto tersebut hingga tidak akan ada istilah hasil karya itu benar atau salah karena seni ada untuk dinikmati dan dirasakan dengan hati.

Beberapa teman-teman RKF (Rumah Kayu Fotografi) yang hadir diminta untuk membuat garis-garis sederhana agar mereka mengetahui prinsip dasar desain. Setiap orang memiliki kekhasan tersendiri dari hasil karya yang telah dibuat. Percobaan berikutnya adalah dengan teknik mirip kolase. Teman-teman diminta menyusun potongan kertas berwarna sambil mendengarkan musik. Adanya alunan musik ditujukan agar masing-masing orang dapat memetakan apa yang ada dalam bayangan mereka, lalu menerapkannya pada susunan kertas warna tadi.

Setelah melihat hasilnya, Ibu Ken melihat berbagai macam ‘gaya’ kolase yang menimbulkan kesimpulan bahwa setiap orang memiliki imaji sendiri-sendiri dan memiliki kesan unik. Setelah memahami semuanya, saya bersyukur, saya tidak perlu menjalani kuliah beberapa tahun untuk bidang Seni Rupa. Learning by doing akan menjadi sebuah pemahaman yang lebih bermakna di setiap eksperimen konsep Nirmana.

Menurut saya Nirmana ini adalah sebuah keajaiban konsep dasar desain Seni Rupa karena darinya hadir begitu banyak karya yang luar biasa bermakna, termasuk penerapannya dalam dunia Fotografi. Nirmana membuat pelakunya semakin merasa terasah hati dan jiwanya untuk memahami apa yang hadir di dalam visualisasi secara nyata. Semua objek menarik akan menjadi sebuah pembelajaran bahwa banyak hal di dunia tempat kita tinggal begitu patut untuk disyukuri. Nirmana mampu mengantarkan setiap jiwa ke alam ‘lain’ yang membuat diri menjadi pribadi yang berbeda daripada sebelumnya.

Terimakasih atas perkenalan dengan Nirmana dan semua penjelasan Ibu Ken dan Pak Imam tentangnya.
Terimakasih untuk coklat dari teman Singapore yang baik.
Terimakasih untuk suamiku yang mengijinkan (membiarkan ) saya mendapatkan ilmu baru di tempat yang jauh dari rumah, namun berkesan nyaman.
Selamat ber-Nirmana di Kawah Putih, teman-teman RKF.
Happy Ramadan will always be a beautiful tag line for this year. 😉

my journal, Rumah Kayu

“Lucas & Fatima”

Image
a photo captured by Vivera Siregar

Kedua nama ini sangat memberi makna dalam bagi saya. Mungkin bisa diartikan sebagai nama sepasang kekasih. Mereka saling memberi arti dan makna cinta yang abstrak.

Lucas, sebuah nama di mana saya berusaha mengerti makna sebuah pengabdian kepada orang yang ditakdirkan untuk seumur hidup bersama, walau saya baru mengenalnya dalam waktu singkat. Entah dari mana datangnya ketulusan itu, hari itu tak akan pernah saya lupakan.

Hari di mana tatapan matanya menyiratkan sedikit kekhawatiran bahwa saya akan meninggalkannya. Hari di mana ucapannya begitu menyejukkan saya, walau dirinya tengah merasakan sakit yang luar biasa. Hari di mana dia ingin saya menemaninya selama saya mampu.

Ya, Lucas, sebuah ruang tempat saya merenungi arti kesetiaan, kepedihan, dan kebahagiaan dalam satu waktu.

Fatima, nama di mana saya berusaha mengerti penyebab sakit dan igauan seseorang yang menjadi bagian paling penting di awal hidup hingga akhir hidup saya. Entah dari mana hadirnya pengertian itu dan kesedihan yang begitu mendera saya. Mungkin saat saya berada di tempat itu adalah takdir yang tak mampu saya ubah. Saya hanya bisa merasakan bahwa saya “pernah” berada di sana sebelumnya, namun entah kapankah itu. Lalu semuanya terjadi di sana, dan saya menyadari, mungkin ini saat baginya untuk “beristirahat”.

Ya, Fatima, sebuah ruang tempat saya memahami, melihat, mendengar, dan berdoa di sampingnya. Saya tak akan pernah melupakan kalimat-kalimat yang saya dengar, dan tatapan mata kosong itu. Saya hanya mampu mengucap kalimat-Nya agar perih itu perlahan mereda walau ada penggalan jeda, lalu perih itu berulang hingga akhirnya akan hilang.

Lucas dan Fatima memberikan ruang makna hidup dan mati. Keduanya akan ditakdirkan bertemu kembali di alam yang berbeda. Begitu pun dengan hidup dan mati, keduanya telah menjadi pasangan sejati di setiap perjalanan manusia di dunia.

Saya pernah mengenal Lucas dan Fatima, mungkin akan mengenal nama-nama lain yang akan memperkaya jiwa saya selama hidup.