my journal

“Tiga Pasang Sepatu di Hari Minggu”

“Papa, ayo lari!” teriak gadis kecil berambut sebahu pada suamiku.

“Jangan cepat-cepat! Nanti Papa ketinggalan,” jawab laki-laki bermata coklat itu diiringi tawa kecil.

Aku hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Pandangan ku alihkan ke kiri-kanan jalan menuju pegunungan Manglayang. Di sana terbentang kebun singkong, tembakau, dan rerumputan tinggi untuk pakan sapi. Cuaca sangat sejuk walau langit agak mendung. Hari seperti ini selalu kami tunggu.

Berjalan kaki selalu menjadi hal yang istimewa dan menyenangkan bagiku. Selain membakar kalori dan menghirup oksigen sesuka hati, hal lain yang harus aku syukuri adalah interaksi antar anggota keluarga kecilku. Mungkin di hari-hari biasa, aku hanya mengobrol seputar kegiatan sekolah putriku dan bertukar pikiran tentang berita-berita aktual yang sedang hangat di televisi bersama suami. Khusus di hari minggu, aku selalu menjadwalkan untuk berjalan kaki bersama diselingi komentar-komentar lucu dari putriku tentang hal-hal yang ia temukan selama perjalanan. Sama sekali tak ada keluhan rasa capek atau merengek meminta berhenti berjalan darinya.

Kegiatan berjalan kaki membuat kami bertiga semakin dekat dan semakin bersyukur pada Allah bahwa hal yang paling berharga adalah kebersamaan dalam keluarga. Kesehatan juga menjadi hal yang harus kami pelihara. Tanpa tubuh yang sehat, kita tak akan mampu beraktivitas dengan baik. Jika boleh mengingat dulu di awal kehidupan pernikahan, aku dan suami sering berjalan kaki. Waktu itu, selain belum memiliki kendaraan, kami berdua harus berjalan kaki cukup jauh dari rumah kontrakan ke jalan utama. Suami pun harus lebih banyak berjalan kaki untuk kesehatan kaki kanannya yang saat itu tengah terpasang pen karena kecelakaan.

Kini, aku bersyukur keadaan telah membaik. Kami sangat menikmati pemandangan di sekitar hunian baru yang dekat dengan taman dan perkebunan milik pemerintah kota. Tanaman sayuran, buah-buahan, dan daun tembakau berderet cantik di sebelah ruas jalan kompleks perumahan. Selain karena air yang bersih, udara yang sejuk, sanitasi yang baik, dan infrastruktur yang memadai, aku senang bertetangga dengan orang-orang yang beradab. Satu hal lagi yang akan menjadi kebiasaan baruku adalah berkebun, memanfaatkan lahan luas di belakang rumah. Untuk kegiatan yang satu ini aku selalu membahasnya bersama suami karena ia jauh lebih berpengalaman. Maklum, pernah menjadi ‘si Bolang’ di tanah kelahirannya, Palimanan.

Benar apa kata almarhumah Mama, bahwa jika kita menemukan lingkungan dan berinterkasi dengan orang-orang yang setara dengan pola pikir kita maka hidup bertetangga akan nyaman. Sekadar perbandingan, saat tinggal di rumah lama yang mungil dan sederhana yang kami tempati sekarang, akses jalan dan lingkungannya tidak kondusif, tetangga sebelah rumah selalu bersikap seenaknya (menyetel musik dangdut sekeras udelnya), bicaranya kurang beretika, dan lain-lain. Namun semua itu adalah proses karena kita tidak bisa memaksakan ingin hidup ideal seperti apa yang kita inginkan. Jalani saja hingga seiring waktu apa yang kita mau terwujud.

Kembali ke jalan kaki, memakai sepatu itu lebih nyaman karena kaki tak akan terlalu lelah dan setiap jengkal pemandangan indah menjadi hal yang tak ternilai harganya. Begitu juga dengan hidup. Jika kita menemukan alas kaki yang nyaman dan melangkah sesuai dengan kata hati, ditambah dengan tetap bersyukur pada Allah maka perjalanan dalam hidup akan terasa “nikmat”. Rasa suka cita yang hadir layaknya berjalan pagi di hari minggu dengan hati menggebu tanpa gerutu.

Aku ingin tiga pasang sepatu yang menghiasi hari minggu kami tetap menjadi teman dalam perjalanan hidup. Tak boleh ada kata sesal jika pikiran masih berakal. Tak boleh ada kata malas jika hati masih berusaha keras. Tak boleh ada kata lelah jika anugerah masih bersimbah.

“Ma, hari minggu kita jalan-jalan lagi, ya, ke gunung?” ajak gadis kecilku dengan mata berbinar.

“Hayuk!” jawabku dengan senyum bahagia.

 

SEpatu 2

my journal, September

“Antar Jemput”

kaka bobo pake sragam

“Jangan pernah mengeluh saat mengantar dan menjemput si buah hati.”
Itu kalimat yang selalu saya teriakan dalam hati. Ada saat di mana saya merasa sensitif ketika kaki ini terasa sakit saat berjalan mengantar anak ke sekolah yang jaraknya hanya 10 menit berjalan kaki. Saya teringat Mama, mungkin rasa sakit beliau lebih dari saya.

Pikiran saya menerawang jauh ke depan, melihat anak perempuan saya dengan seragam putih abu-abu, lalu waktu seakan melesat cepat. Tiba-tiba anak gadis ini sudah memakai baju toga. Mungkin bayangan seperti ada dalam benak setiap orangtua. Membayangkan bagaimana nanti saya masih juga mengantar dan menjemputnya sekolah. Tapi akan ada saat di mana dia akan mampu pergi dan pulang seorang diri, entah kapan.

Saya ingin tetap bisa mengantar dan menjemputnya selama saya mampu karena rasa khawatir selalu datang. Meski dia telah menemukan teman hidup, saya tetap dengan tangan dan hati yang terbuka ingin mengantar dan menjemputnya dalam makna yang lain. Tugas mengantar dan menjemput bukan hanya semasa dia sekolah, tetapi selama kita hidup. Saya harus mampu mengantarkannya ke gerbang masa depan, dan menjemput impiannya yang dia ukir dari sekarang. Semoga, saya mampu…

my journal

“I Miss My Guitar”

a photo by Alivio Imediato
a photo by Alivio Imediato

Suddenly I miss my guitar, I don’t know why?
Mungkin karena teringat sebuah memori masa remaja, memori itu akan kutuangkan ke dalam sebuah karakter calon novel teenlit. Ya, mungkin karena itu.

Terkadang kita selalu terbawa kenangan masa remaja yang begitu manis, dan merasa ingin mengulanginya lagi. Aku ingin bermain gitar lagi, tak peduli apa kata orang di sebelahku. Toh bermain alat musik itu sah-sah saja di segala usia.
Aku akan menambahkan gitar sebagai barang yang akan aku beli di dalam daftar barang impian, setelah aku menuliskan Vespa matic merah. Aku merasa menemukan kembali jiwa bermusik saat bertemu lagi dengan gitar. Walaupun tak semahir Sheryl Crow, minimal untuk menghibur diri sendiri saat ME-TIME.

Aku masih ingat, saat SMP, rajin mencatat teks lagu-lagu berikut grif-nya. Hampir semua lagu aku bisa, thanks to my brother for teaching me how to play guitar. Bermain gitar adalah hal yang lebih indah dari pada diam dan tak berkata-kata. Seandainya sedari dulu aku tekun dan terjun di dunia musik, bisa saja aku menjadi seseorang yang lain. Sekarang, sekadar hobi saja sudah cukup.
Aku akan menularkan ketertarikan bermain gitar pada putriku. Jika pada akhirnya dia tidak suka, setidaknya aku telah mengenalkan bahwa bermain gitar adalah sebuah keahlian yang mampu mengasah rasa, nada, dan melatih otak kanan.

Bagiku gitar adalah teman curahan hati lewat lagu. Suara petikannya seirama dengan suara hati di berbagai suasana. Gitar, bagian dari kehidupan cintaku. Saat aku patah semangat, memainkan nada senarnya akan sedikit menyembuhkan. Saat aku bahagia, memainkannya akan memenuhi warna-warni hatiku.

Suatu hari, aku akan bertemu dengan gitar yang akan jatuh ke pelukanku. Ketika melihatnya di etalase toko, aku akan bilang, “You’re mine!”

my journal

“A Jar of Heart”

Image

Setoples hati? Ya, saya butuh itu. Bahkan lebih dari setoples. Saya jadi berpikir, selain oksigen untuk bernapas, beberapa toples hati juga sangat saya perlukan.
Jika hati yang satu sedang sakit, kesal, atau marah, mungkin hati yang lain bisa menggantikannya dengan rasa tenang sejenak hingga bisa berangsur bahagia.

Tapi hati manusia hanya satu. Di hatinya terdapat banyak ruang untuk merasa. Saya pikir, ruang-ruang itu akan menyempit dan gelap hingga tak ada aura bahagia. Di waktu lain akan menjadi luas dan terang benderang hingga memancarlah senyum cerah dari wajah ini.

Entah sedang merasa seperti apa saya sekarang. Rasanya ruang-ruang hati ini meredup, lalu terang. Meredup lagi perlahan, lalu kembali terang secepat kilat. Tiba-tiba menangis, beberapa menit kemudian tersenyum dan tertawa.

Apakah saya gila? Semoga tidak. Karena saya masih punya kepercayaan pada Yang Kuasa.

Mungkin irama itu adalah gejolak dalam perjalanan hidup. Hidup tak akan seru jika datar saja seperti jalan hot mix. Hidup tak akan berwarna jika hanya berjalan santai saja tanpa terburu waktu. Hidup tak akan nikmat jika tak ada petualangan.

Setoples hati itu akan saya bayangkan saja sebagai sebuah perasaan yang di hari nanti akan saya buka. Entah bagaimana perasaan hati di dalam toples itu. Saya akan berusaha melihatnya setiap hari agar toples itu terhindar dari debu dan goncangan.

Jika toples itu pecah tanpa sengaja, saya adalah seseorang yang sangat ceroboh.

Jika toples terjaga hingga nanti, saya adalah orang yang paling berbahagia di dunia.