celebrating poetry, puisiku

Suatu Pagi di Jendela

image

Pagi ini terasa sunyi
Walau hadir tangis bayi yang baru lahir
Pagi ini ku memanggil Ibu
Walau nalar ini tersadar Ibu tak ada di kamar

Tatapku menerawang bingkai jendela
Setitik air mata mengundang kerinduanku padamu
Apakah kau melihatku di sini, Bu?
Apakah kau tahu aku sedang mengingat hangat jemarimu?
Apakah kau melihat cucu mungilmu di rumahmu?

Mungkin dia mampu melihatmu dalam tangis
Mungkin dia tahu kau sedang tersenyum di tempat ku berdiri

Suatu pagi di jendela kamar ini
Selalu ku mengingatmu, Ibu

(14 April 2016, 09.20 wib)

*untuk alm. Mama Ieke Widhyati Arifien*

catatan ramadan, my journal

“Being Thirty Five”

Screen Capture from Google
Screen Capture from Google

Hari ini saya bahagia mendapatkan beberapa pesan yang berisi ucapan ‘Selamat Ulang Tahun’. Rasanya baru kemarin saya menulis tentang perempuan usia tiga puluhan (Amazing 30-Melewati Usia 30 dengan Senyuman). Ada satu ucapan dari seorang teman yang membuat saya tersadar bahwa usia saya di dunia telah berkurang. Namun secara keseluruhan isi dari ucapan-ucapan itu mendoakan agar kebahagiaan dan keberkahan senantiasa menyertai saya.

Ya, bahagia. Itu saja. Tak perlu perayaan khusus. Bukan hanya bahagia dalam hal materi tetapi bahagia rohani. Kenikmatan dalam melakukan ibadah, itu sebuah kebahagiaan yang tak ternilai. Kenikmatan dalam bertukar pikiran bersama pasangan tentang rancangan langkah-langkah kehidupan, itu pun kebahagiaan. Terlebih saat melihat anak gadis saya tumbuh dan ‘dewasa’ di usianya yang masih dini, itu adalah kebahagiaan yang membuat hidup lebih ceria dan semangat. Persahabatan yang telah terjalin cukup lama, itu pun suatu kebahagiaan.

Namun di setiap rasa bahagia selalu ada ritme lain yang mengganggu, seperti kecewa, sedih, khawatir, dan pikiran negatif lainnya. Terutama saat mendapatkan kabar yang kurang mengenakkan dari salah satu anggota keluarga dan saya tidak mampu berbuat apa-apa selain berdoa. Ya, perjalanan hidup itu memang tak pernah lurus saja dan selalu bertemu dengan jalan berkelok juga terjal. Sampai saya di usia ini, saya merasa lebih menerima keadaan yang Allah berikan walau sebagai manusia tetap selalu dihantui keinginan-keinginan dunia yang berlebihan.

Menerima keadaan dalam hidup bukan berarti saya diam dan hanya menengadahkan tangan pada Sang Khalik, tetapi bagaimana saya memahami kemampuan dan usaha yang bisa saya lakukan menuju sebuah harapan bersama pasangan. Saat hadir keinginan memiliki rumah yang kondisinya lebih baik daripada sebelumnya, Allah menunjukkan jalan itu dengan cara-Nya. Saya dan pasangan sempat tak bisa mengerti dan mengucap syukur atas keajaiban itu. Dari pengalaman ini saja, saya menyadari bahwa keajaiban hadir bukan tanpa ikhtiar. Begitu banyak penggalan keajaiban yang terjadi dalam hidup saya.

Hal-hal menakjubkan pun terjadi saat saya menjadi ibu. Namun di usia ini, saya merasa belum mampu bersikap dewasa. Selalu ada ‘soal-soal kehidupan’ yang harus bisa saya jawab sendiri seiring langkah kaki saya hingga membuat saya belajar memahami diri sendiri, melaksanakan tanggung jawab saya, dan berusaha memprioritaskan kebutuhan sang buah hati di atas segala keinginan pribadi.

Saya sangat beruntung di usia ini, luka-luka yang pernah menyayat jiwa saya perlahan sembuh , dan saya merasa lebih ‘sehat’. Itu terjadi bukan tanpa pertolongan Allah. DIA Maha Penyayang. Pertemanan yang baik, perilaku pasangan yang sangat menghormati saya sebagai wanita, dan doa dari orang-orang yang menyayangi saya.

Selalu terbersit pemikiran, bagaimana jika saya nanti dipanggil Allah? Saya merasa belum banyak bekal. Secepat kilat saya berusaha mensyukuri apa yang telah saya miliki, lalu terbayang sebuah senyum wajah gadis kecil saya yang telah beranjak dewasa dan dari pancarannya itu terlihat kesiapan dirinya untuk  saya tinggalkan.

Saya berpikir ulang lagi dan mencoba mengerti bahwa saya hidup untuk menanamkan harapan pada gadis kecil ini. Amanah Allah yang menjadi tugas besar saya agar mampu mempersiapkan senyumannya. Saya tidak bisa melakukannya sendiri. Pasangan menjadi orang yang mampu menjadi pengingat tugas itu dan Sang Pencipta yang selalu menjadi penuntun saya jika saya tetap bertakwa.

Harapan saya di usia ini hanya ingin mempertahankan keseimbangan hidup agar mampu menjalani hidup ke depan dengan hati tenang dan berpikir ke arah yang lebih baik. Being thirty five is an adventure tobe more mature.

sejenis cerita pendek

“Seulas Senyum Dery”

Pagi itu, aku mendapat firasat buruk tentang adikku, Dery. Aku bergegas menengoknya di rumah Ibu setelah meminta ijin suami. Saat tiba di sana, aku melihat Dery terbaring di kamarnya dengan wajah kuyu dan tubuhnya yang berubah kurus. Ia seperti balon yang tiba-tiba kempes padahal sebelum Ibu meninggal, tubuhnya mirip celengan semar.

Entah kapan terakhir kali aku menegok Derry sepeninggal Ibu. Mungkin dua bulan lalu. “Kamu sakit apa, Ry? Kok badan kamu jadi begini?” tanyaku sambil memegang lengannya yang tadinya berlemak, sekarang lemak itu entah menguap ke mana.

sumber gambar : 'Minions Galau' --www.gambarzoom.blogspot.com
sumber gambar : ‘Minions Galau’ –www.gambarzoom.blogspot.com

“Cuma demam, Kak. Mungkin aku kurang bergerak,” jawabnya dengan suara pelan tanpa ekspresi kesakitan. Lurus saja seolah tak ada yang serius.

“Makanya, kamu jangan makan sembarangan, rajin olahraga, dong. Jangan Cuma makan, tidur melulu.” Aku mulai seperti almarhum Ibu yang cerewet menasihati anaknya.

“Kulit jadi mengelupas begini. Udah mendingan kok sekarang, Kak. Cuma lemas aja,” imbuh Dery.

“Ya udah, nanti aku belikan sebotol madu sama vitamin, ya? Ini aku bawa nasi dan lauk buat kamu. Makan, ya?”

Dery hanya mengangguk, lalu ia menanyakan kakak tertua kami, Ardi. “Kak Ardi, sudah ditelepon belum, Kak? Suruh ke sini.”

“Hhh…Ry, aku udah kirim SMS, menelepon gak dibalas juga. Udah lah, enggak usah terlalu diharapkan datang. Mungkin sibuk terus. Kalau mau, kamu aja yang berkunjung ke sana.”

Dery hanya mematung lalu membuka wadah nasi yang aku sodorkan tadi.

“Ry, maafin aku, enggak bisa sering-sering nengok kamu karena di rumah juga punya kewajiban. Sekali-kali kamu jalan kaki ke rumahku sambil olahraga.”

Dery hanya mengangguk sambil mulutnya sibuk mengunyah. Ia nampak lahap. Aku terdiam dan memerhatikannya, lalu merasa dada ini sesak oleh beban yang sepertinya akan kutanggung seumurhidupku. Apakah aku sanggup menemukan kembali senyum di wajah Dery setelah sekian lama ia sulit berdamai dengan traumanya? Sejak tersandung kasus narkoba saat masih remaja, Dery sangat berubah. Ia tidak seceria dan sejail dulu, cenderung sangat introvert. Aku khawatir melihatnya terlalu sering melamun dan jarang sekali bicara pada dua orang adik tiri kami yang tinggal serumah. Mungkin sebagian fungsi otak Dery sudah rusak oleh barang haram itu. Beruntung ia tidak menggunakannya lagi namun pengaruh bagi tubuhnya masih menjadi pemikiranku.

Dery, suatu hari kamu harus mampu melangkah sendiri untuk kebaikanmu. Tak selamanya aku mampu menanggung hidupmu. Adakalanya aku berharap bisa memperbaiki keadaan di masa kecil kita dulu. Aku tak bisa dan masa lalu hanya bisa dijadikan cermin bagi kita. Aku hanya mampu berdoa untukmu agar keajaiban hadir di kehidupanmu. Aku ingin melihat senyummu yang selama ini hilang. Tersenyumlah untukku, Dery…

 

 

catatan ramadan, my journal

“Teh Upet Khas Ibu Mertua”

Minuman teh hangat adalah alternatif jika saya sedang bosan dengan kopi. Hari ini, saya tiba-tiba membayangkan segelas teh tubruk gula batu khas Cirebon untuk takjil berbuka puasa. Aktivitas hari minggu ini membuat saya tak menginginkan apapun selain teh manis hangat itu karena saya sudah cukup happy dengan pertemuan singkat bersama broadcaster keren yang penulis, juga dua hari kemarin yang rasanya penuh dengan berkah.

Kenikmatan teh tubruk gula batu saat berbuka puasa seolah mewakili perasaan di hati saya hari ini. Si cerewetku juga terlihat anteng walau berlama-lama duduk tadi siang saat menghadiri “Talkshow Menulis bersama Helvy Tiana Rosa.” Dia juga berjodoh sepasang sepatu lucu yang dipilihnya sendiri sepulang dari sana. Itu adalah hal-hal yang membuat dada ini menghangat, betapa ramadan diselimuti kesenangan. Manisnya gula batu kiriman Ibu mertua, membuatku bersyukur bahwa saya masih punya Ibu. Beliau begitu membuat saya seperti ratu setiap kali berkunjung ke rumahnya saat Syawal. Saya merasa malu sendiri.

Saya nggak bisa membayangkan kalau Ibu mertua saya adalah tipe orang yang selalu ikut campur dan cerewet dengan hal-hal yang saya tak bisa lakukan. Nikmat mana yang saya dustakan? Ibu mertua begitu sangat baik memperlakukan saya, walau hanya bisa setahun sekali bertemu. Perlakuan beliau pada saya bahkan lebih dari anaknya sendiri. Bukan hanya karena gula batu yang rutin beliau berikan, tetapi segala keteladanan yang saya perhatikan dan pahami selama berada di lingkungan rumah beliau, itu merupakan sebuah kenikmatan makna hidup.

Saya merasa tradisi minum teh cap ‘Upet’ plus gula batu menjadi sebuah pemahaman bahwa kehadiran wangi teh melati mencerminkan wanginya nama seseorang dalam perilakunya selama hidup. Ibu mertua yang saya bisa katakan berkepribadian mulia, meskipun setiap Ibu di dunia ini sudah pasti memiliki karakter itu, sewangi teh hangat yang saya seduh. Manisnya perilaku dan perbuatan beliau mirip rasa manis dalam gula batu. Dia asli, tanpa bahan pengawet, dan meluruh perlahan ketika tercurah air panas hingga menyatu dengan keadaan sekitarnya.

Terimakasih Mbok atas segala kebaikanmu, semoga Allah senantiasa memuliakanmu.
Terimakasih pada keajaiban Ramadan yang memberi kesan penuh kebahagiaan.
Terimakasih pada Helvy Tiana Rosa, telah memberikan pencerahan dan kesan kearifan.
Terimakasih pada secangkir teh hangat yang membuat saya sebahagia saat bertemu cinta terakhir.
Alhamdulillah…

my journal

“Happy Birthday, Ibu-ibu Doyan Nulis!”

Kumpul IIDN di Indscript Creative
Kumpul IIDN di Indscript Creative
Kumpul anggota IIDN Bandung Timur di KFC Ujungberung
Kumpul anggota IIDN Bandung Timur di KFC Ujungberung
#1 IIDN di indscript
Kumpul dan silaturahmi IIDN di Giggle Box, Bandung
Kumpul dan silaturahmi IIDN di Giggle Box, Bandung
Saya masih ingat saat baru mencoba menggunakan sebuah situs jejaring sosial Facebook, tahun 2010. Saya tiba-tiba mendapatkan pesan di inbox FB, isinya adalah sebuah tawaran bergabung di sebuah pelatihan gratis menulis Indscript Creative. Saya tidak menyiakan kesempatan ini karena saya sedang menyenangi kegiatan menulis saat itu sebagai terapi diri. Saya ingin mengetahui cara dan pengalaman baru di hobi ini.

Tak berapa lama setelah itu, saya mengetahui ada komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) di Facebook. Melihat nama grup ini, rasanya gue banget! Saya seorang ibu dan saya mulai doyan menulis. Ternyata founder grup ini adalah pengirim pesan inbox waktu itu, Indari Mastuti. Saya bergabung di grup IIDN dan mendaftarkan diri menjadi peserta pelatihan gratis Indscript Creative. Persyaratannya waktu itu mudah saja. Saya hanya membuat surat permohonan dan menyertakan rincian konsep buku yang ingin saya buat.

Awalnya saya bingung, bagaimana membuat uraian konsep buku itu? Saya mencoba membuat surat permohonan tersebut dan saya dipanggil untuk wawancara di kantor Indscript Creative. Saat bertemu di hari yang telah dijanjikan ibu Indari Mastuti, saya datang ke kantor di kawasan Jalan Moh. Toha, Bandung. Saya merasa familiar dengan nama depan dan wajahnya ketika bertatap muka langsung. Foto profil FB beliau pun telah saya perhatikan baik-baik. Ya, sepertinya beliau ini teman satu almamater dengan saya saat SMP dulu.

Akhirnya, interview berubah menjadi obrolan nostalgia, walau kami tidak sekelas saat sekolah. Saya diberikan informasi bahwa dari kegiatan menulis buku, saya bisa mendapatkan penghasilan. Saya pikir, menulis hanya kesenangan semata bagi saya, dan tidak mengharapkan lebih dari itu. Tetapi informasi ini membukakan mata dan pikiran saya, bahwa penulis itu dihargai sesuai dengan karya yang telah dia buat.

Semua tulisan yang saya miliki di laptop, tadinya hanya akan disimpan sebagai kenangan saja. Suatu hari akan saya wariskan pada anak perempuan saya, tanpa terpikir untuk mempublikasikannya. Namun setelah bergabung di komunitas Ibu-ibu Doyan Nulis (IIDN) dan Indscript Creative Writing Club, saya semakin merasa menemukan harapan akan kreativitas yang hadir di setiap guratan tulisan-tulisan saya. Ternyata banyak ibu yang memiliki kesenangan yang sama seperti saya. Ternyata menulis bukan hanya milik kalangan anak muda saja. Saya semakin mengetahui bahwa kegiatan menulis bisa dilakukan oleh siapapun. Banyak hal yang akhirnya saya dapat di sana, menyangkut berbagai hal mengenai dunia penerbitan. Pelatihan menulis tersebut dikemas secara on line maupun off line dan memberikan pengetahuan serta pembelajaran dalam kegiatan menulis.

Saya merasakan lebih banyak suka daripada duka, kala bertemu muka dengan 9 orang teman-teman baru di pelatihan menulis yang hampir semuanya ibu-ibu. Bertukar ilmu dan pengalaman, menggali segala ide hingga menjadikannya sebuah buku, semua itu merupakan hal yang sangat menyenangkan dan menggugah pikiran. Silaturahmi dengan teman-teman pelatihan tetap terjalin melalui Facebook dan media on line lain, bahkan terkadang kami menyempatkan bertatap muka. Begitu pula dengan beberapa anggota IIDN, diantaranya sang Marketing Communication (IIDN) dan penulis beberapa buku antologi Lygia Pecanduhujan, penulis buku “La Taias for Akhwat” Honey Miftahuljannah, penulis “Lucky Backpacker” Astri Novia, penulis “For the Love of Mom” dan buku anak Dydie Prameswarie, penulis “Ada Apa dengan Otak Tengah” Nia Haryanto, pemateri kelas Fotografi IIDN (Foto bercerita) Vivera Siregar, penulis puisi Epi Siti Sopiah, blogger dan crafter Ima Rochmawati, dll. Semakin luas pertemanan di dunia kepenulisan, maka akan semakin memperkaya pengalaman. Setiap anggota IIDN dapat saling menularkan semangat untuk banyak belajar dan kreatif dengan tulisannya.

Hal yang paling utama saya rasakan dari kegiatan menulis adalah belajar untuk tidak mudah menyerah dengan ide-ide yang kita tuangkan serta mengasah rasa dan kesabaran. Saya ingin tetap menulis dan menulis demi sebuah pembelajaran hingga menjadikannya sebuah investasi menuju terwujudnya sebuah buku. Bahkan hingga hari tua nanti, menulis akan selalu menjadi hiburan yang menyenangkan.

Selamat Ulang Tahun, Ibu-ibu Doyan Nulis! Terimakasih padamu atas karya pertama saya yang lahir dan berproses panjang bersamaan dengan perjalanan mengenal IIDN. 3 tahun berkarya tak hanya dalam bentuk buku, namun saling menularkan semangat menulis bagi ibu-ibu yang berpikiran maju. 3 tahun saya mengenal IIDN tak hanya dalam bentuk obrolan-obrolan canda, tetapi semangat untuk selalu aktif belajar bersama. Semoga IIDN menjadi komunitas yang solid dan banyak melahirkan karya-karya yang bermanfaat bagi bangsa.