my journal

“Tanda Penghargaan”

“Tanda Penghargaan”

I Have Mr.Smile
I Have Mr.Smile

Pernahkah sekali saja dalam seumur hidup kamu mendapatkan penghargaan? Saya pernah, entah berapa kali. Rasanya waktu itu bangga. Tapi kini, saya baru mengerti apa makna dari pemberian penghargaan itu.

Saya mendengar putri saya dengan wajah berbinar berkata, “Mama, kakak dapat penghargaan.” Lalu ia menunjukkan sebuah kertas berwarna bentuknya mirip matahari dengan wajah tersenyum. Hari berikutnya, putri saya mengatakan hal yang sama, namun bentuk tanda penghargaan yang berbeda. Sampai beberapa hari ia mengumpulkan tanda penghargaan itu dan menempelnya di tembok kamar.

Kemudian hadir raut dan nada kecewa dari putri saya saat gurunya tak lagi memberi tanda penghargaan yang lucu-lucu itu. Padahal putri saya cukup sering mampu menjawab banyak pertanyaan dari gurunya.

Sejenak saya memahami, mengapa putri saya ingin mendapatkan penghargaan lagi. Mungkin ia senang menjawab setiap pertanyaan guru saat belajar di kelas, atau karena bentuk tanda penghargaan yang dikemas lucu sehingga ia ingin mengoleksinya.

Semakin hari, penghargaan itu semakin membuat temannya ngiler, timbul perasaan tidak nyaman di hati putri saya. Temannya meminta dengan paksa salah satu tanda penghargaan itu. Putri saya dengan rela memberikannya pada satu waktu. Namun, di waktu yang lain, ia tidak mau memberikannya karena ia pikir tanda penghargaan itu adalah hasil usahanya sendiri. Temannya dengan cara lain tetap ingin memegang satu tanda bintang yang putri saya punya, dan berkata “pinjam ya…bintangnya?” Putri saya mengambil kembali tanda bintang itu dengan cara yang baik, namun temannya tak rela dan bereaksi dengan tangisan kecil.

Saya memberi pengertian pada putri saya bahwa ia tak boleh seperti temannya yang memaksakan kehendak apalagi ditambah menangis lebay. Ia mengerti maksud saya. Saya berharap, penanaman karakter diri bagi putri saya dari peristiwa itu bisa ia pegang hingga ia dewasa nanti.

Hal-hal seperti itu juga sepertinya dialami orang-orang dewasa yang haus akan pujian atau terdorong karena satu tujuan. Ada juga beberapa orang yang memperoleh penghargaan tanpa sengaja, dan malah mengembalikannya pada sang pemberi penghargaan karena dirinya merasa tak layak mendapatkan itu.

Apalah makna sebuah penghargaan jika tidak menjadikan diri kita lebih baik.

my journal, Rumah Kayu

“Warna Warni”

"warna-warni" captured by my Fujifilm FinePix T200
“warna-warni” captured by my Fujifilm FinePix T200
What is your color? Blue for calm, red for passion , yellow for energic, green for peace, white for honesty, black for mysterious.

Ada banyak warna yang hadir dalam hidup kita. Masing-masing memiliki makna tersendiri. Ada banyak pilihan warna untuk kita pilih sebagai karakter hidup. Aku pernah memilih biru, tapi sejalan dengan pencapaian kedewasaan, warna pilihan berubah haluan. Aku pernah menjadi ‘pinky’ dan terlalu sensitif terhadap hal-hal kecil.

Kini, aku memilih merah. Passion dalam hidupku ada di warna ini. Dia adalah gairah. Tak melulu soal cinta pada pasangan, namun apa saja yang aku lakukan. Aku harus selalu ‘merah’ hingga mampu memesona pasangan. Entah dari apa yang aku pikirkan dan pahami, atau perlakuanku padanya, aku harus ‘merah’.

Namun, hidup ini tak hanya merah. Terkadang hatiku pun gundah hingga berteman dengan warna abu-abu kemudian menghitam, dan berusaha untuk kembali meraih si merah. Ini bukan hal yang mudah, karena hidup penuh dengan warna warni. Sampai pada saatnya ku mencoba mengerti warna apa yang aku pilih saat bosan, aku menemukan kuning, biru, hijau, ungu, putih, dan jingga.

Aku pikir bermain dengan warna itu menyenangkan seperti halnya putriku dengan gambar-gambarnya. Aku berpikir, aku harus seperti dirinya. Ceria, mampu mengekspresikan diri dengan berbagai warna hingga membuatku bahagia. Ketika aku tahu bahwa dalam hidup, aku harus dimanis, pada akhirnya aku akan mengerti bahwa ketika aku menggabungkan kesemua warna itu, segalanya akan menjadi putih dan hitam.

Warna apa yang kamu torehkan dalam hidupmu? Itu mungkin karaktermu. 🙂