my journal

“Kisah Skotel Makaroni Keju”

foto from : kitchendeasobou.blogspot.com
foto from : kitchendeasobou.blogspot.com

 

Aku masih ingat jelas bagaimana almarhum Mama dulu meracik bahan-bahan untuk membuat skotel makaroni keju. Melihat caranya membuat camilan ini sepertinya mudah. Namun, saat aku mencoba mempraktekkan sendiri, dua kali gagal. Aku sempat menyerah dan meminta Mama yang membuatkannya untukku.

Kini, aku membuatnya untuk putriku sebagai camilan berbuka puasa. Ia menikmati skotel itu dengan raut bahagia dan bilang, “Mama, ini enak banget! Nanti bikin lagi ya, Ma?” Seketika aku mengingat wajah Mama dan ingin rasanya aku berteriak, “Ma, aku berhasil membuat skotel makaroni keju!”

Kedua kelopak mataku sempat disinggahi genangan kecil dan aku tersenyum senang karena apa yang pernah Mamaku berikan ternyata bisa dinikmati oleh putriku. Hal-hal lain pun berlaku sama seperti memilih baju, menyukai seni, membuat kerajinan kreatif, mencoba berekperimen dengan hal baru. Semua aku tularkan pada putriku disengaja atau tidak.

Ya, pelajaran yang pernah diberikan Mama senikmat skotel makaroni keju buatannya. Walau beberapa kali mencoba membuatnya dan sempat menyerah, namun hingga waktunya tiba, ia menjelma menjadi sesuatu yang layak disebut enak. Seperti hidup yang aku jalani. Tentu akan berakhir dengan kenikmatan jika setiap tahapannya dengan berani kita lakukan.

Kisah skotel makaroni keju hanya sebentuk kasih sayang yang tak  terlupakan. Ada banyak kisah dari Mama yang tak terkatakan. Mungkin suatu hari akan tertoreh di dalam sebentuk lembaran kenangan-kenangan yang mengesankan dan bukan sekadar pajangan.

my journal

“Roti dan Kenangan Sore”

Hujan masih tertahan di antara gumpalan awan-awan yang sedari tadi nampak murung di langit sore. Sejenak aku menikmati keramaian lalu lintas sore sambil menunggu sang ibu penjual roti membuka beberapa kunci gembok gerobaknya dan mengeluarkan segala peralatannya.

Terasa sekali, tiga puluh menit waktu yang kunikmati dengan pemandangan lalu lintas dan lalu lalang orang-orang yang terburu-buru karena takut hujan akan segera menyerbu mereka. Sang ibu penjual roti masih sibuk dengan kardus besar berisi roti yang akan dibakar dan membereskan beberapa kaleng berisi kacang, coklat, selai, dan mentega. Selama sepuluh menit mungkin pikiran ini melayang ke masa lalu. Masa di mana diwarnai sore yang mirip dengan sore ini, di tempat ini, yang diiringi rintik hujan dengan warna langit yang lebih pekat dari langit sore ini. Kala itu aku dengan teliti memerhatikan kepewaian sang ibu penjual roti bakar, ibu yang berbeda dengan gerobak yang sama, memanggang tangkupan roti yang telah diolesi selai, coklat, dan mentega. Mama yang memesannya sesuai keinginanku. Kami telah menjadi pelanggan ibu itu sejak lama.

Aku masih ingat betapa nikmat setiap gigitan roti bakar itu, dan suasana di rumah begitu hangat karena Mama selalu memberi kehangatannya sepulang bekerja. Kini, sore ini, aku hanya pergi sendiri dan kenangan itu tiba-tiba menggelembung hingga hingga rinai hujan hadir di kedua ujung kelopak mataku seiring rintik hujan yang mulai menghiasi pemandangan sore, dan roti bakar pesananku telah dibungkus rapi.
Kenangan sore itu terulang dengan bayang-bayang Mama yang seolah berada di sana. Tetapi itu dulu… ya, dulu. Sekarang, hanya ada rintik-rintik yang semakin ramai jatuh ke bumi, langit semakin gulita, dan senyum ramah sang ibu penjual roti bakar. Hatiku seketika membiru, sendu. Aku mungkin dilanda rindu yang terkuak oleh aroma roti bakar, hujan, dan sore.

Roti bakar yang nikmat seperti rasa rindu yang pekat.
Kenangan yang mengalun kian sendu dan pilu.
Sore yang tergenang hujan mengusik kehangatan penuh kesan.