Februari, my journal

Diary Yoga #3

Semakin hari, tubuh semakin terbiasa dengan ritme yang saya terapkan. Intensitas olahraga tiga atau empat kali seminggu menjadi sebuah kebiasaan. Kedisiplinan tentu beranjak dari masalah yang pernah saya alami. Lalu imbasnya, selalu berusaha menyeimbangkan makanan yang masuk dengan aktivitas yang dilakukan. Pekerjaan rumah tangga memang cukup melelahkan, namun olah tubuh harus juga dilakukan di luar rumah. Selain refreshing, hanya berjalan kaki saja seputar kompleks perumahan atau jalan setapak yang biasa kita lewati, itu sudah membuat badan lebih bugar. Durasi waktu juga harus diperhatikan. Misalnya, hari ini hanya 30 menit saja, dua hari kemudian perlahan ditingkatkan menjadi 45 menit atau 1 jam.

foto : dokumen pribadi
foto : dokumen pribadi

Jika berjalan kaki sudah rutin dilakukan, coba tantang diri sendiri untuk berlatih lebih. Saya secara bertahap sudah melakukannya dengan bantuan aplikasi khusus untuk mencatat dan merekam kemajuan latihan fisik. Aplikasi Endomondo di AppStore bisa menjadi pilihan karena pilhan olahraga apapun bisa digunakan.

Sebelum memulai latihan, sesuaikanlah dengan kondisi tubuh. Jika sedang fit, bisa mencoba berlari. Tak masalah berapa kilometer kita berlari karena yang terpenting adalah durasi latihan. Tetapkan target secara bertahap agar tubuh tidak stress.

Saya pun di awal tantangan hanya mampu 30 menit saja berlari, sisanya hanya berjalan kaki. Awali setiap latihan dengan pemanasan sederhana. Sebaiknya, lakukan latihan di lokasi yang lebih banyak tersedia oksigen agar kesehatan paru-paru semakin baik. Pilih sepatu yang nyaman untuk berjalan kaki dan berlari agar kaki tidak mengalami cedera. Pastikan cuaca di luar rumah baik dan layak untuk melakukan latihan.

Contoh catatan waktu dan jarak tempuh saat berjalan kaki
Contoh catatan waktu dan jarak tempuh saat berjalan kaki

Saya mencoba memvariasikan latihan fisik dengan melakukan Yoga, jalan kaki, dan lari. Ketiga pilihan latihan tadi sangat mendukung ketahanan dan kebugaran tubuh. Pola makan yang sehat jika didukung oleh olahraga rutin maka akan mempengaruhi berat badan. Otomatis berat badan akan turun dengan sendirinya karena lemak-lemak yang tidak perlu akan terbakar dan massa otot naik.

Saya menerapkan hal-hal yang harus saya HINDARI dari menu makanan sehari-hari, selain mengatur asupan karbohidrat, antara lain :

  • Minyak goreng (sebisa mungkin sedikit sekali memakainya, lebih baik jika minyak sawit diganti dengan minyak jagung (canola oil) atau minyak zaitun).
  • Masakan bersantan
  • Makanan atau bumbu yang menggunakan proses fermentasi.
  • Sea food
  • Minuman bersoda, dan minuman instan lainnya kecuali yogurt.
  • Daging (sapi dan ayam) dan produk olahannya.
  • Kacang-kacangan (karena ada riwayat terkena asam urat).
  • Sayuran berdaun hijau pekat (karena ada riwayat terkena asam urat).
  • Camilan yang mengandung garam tinggi dan ber-MSG.

Saya berusaha keras menanamkan mindset “Pilih camilan yang SEHAT. Ambil buah-buahan jika terpikir ingin NGEMIL. Kenyangkan dengan SALAD jika perut masih terasa LAPAR.”

Dengan demikian, kebutuhan serat tubuh bisa terpenuhi dan pencernaan lancar. Sejak menjalani hidup sebagai Vegetarian, kulit wajah menjadi lebih halus dan segar (*komentar suami seperti itu saat melihat perubahan saya) dan cukup menghemat anggaran karena tidak sering jajan di kaki lima atau ke resto siap saji.

Saya sangat berbahagia atas usaha dan kedisplinan saya saat mengetahui lingkar pinggang saya berkurang 5cm (90cm – 85cm) dan berat badan turun lagi (58kg – 55kg). Total hasil diet dan olahraga selama 4 bulan (akhir November 2016 – Februari 2017), berat badan saya susut 12kg. Angka 55kg saya pikir cukup ideal untuk tinggi 163cm. Saya tidak mau terlalu kurus yang terpenting adalah tubuh yang sehat.

Foto : dokumen pribadi
Foto : dokumen pribadi

Selanjutnya adalah bagaimana tetap konsisten menjaga kedisiplinan diri. Salah satunya konsisten melakukan Yoga.

sumber gambar : dari laman Facebook grup LUNA Yoga.
sumber gambar : dari laman Facebook grup LUNA Yoga.

Kata pepatah memang benar, ‘No Pain No Gain’. 

365 days' Project, Februari

“Diary Yoga #2”

Kita telah mengetahui bahwa Yoga adalah sebuah olahraga yang menyelaraskan tubuh dengan jiwa, dan menitikberatkan pada keseimbangan juga rasa syukur pada sang Pencipta. Olahraga yang berasal dari negeri Hindustan ini sudah cukup banyak dilakukan oleh masyarakat pencinta olahraga karena manfaatnya sangat banyak. Beberapa pose keren yang banyak tampil di dunia maya juga cukup membuat saya pribadi tergiur. Saya percaya itu semua bisa dilakukan dengan latihan intensif.

Saya sendiri sejak tahun lalu ingin sekali mencoba olahraga ini. Beberapa informasi tentang Yoga saya cari di internet dan bertanya teman-teman yang pernah melakukannya. Awal tahun 2017, saya serius memulainya. Hal yang paling pertama saya pegang adalah karena ingin lebih sehat dan bugar. Jika pada akhirnya saya menjadi lebih langsing, itu bonus yang menyenangkan. Selain itu, saya juga mempersiapkan beberapa perlengkapan Yoga, tentu saja secara bertahap karena bagi kalangan menengah ke atas, olahraga ini memerlukan biaya ekstra.

Perlengkapan yang dibutuhkan antara lain :

  1. Baju olahraga khusus Yoga (atau baju yang cukup nyaman dan menyerap keringat).
  2. Matras (pilih yang permukaannya kesat, misal : merek KETTLER).
  3. Kaus kaki + Sarung tangan Yoga (tidak harus karena bergantung pada tingkat kelicinan matras saat ber-Yoga).
  4. Handuk kecil tebal.
  5. Botol minum.
  6. Perlengkapan lainnya, seperti : tali, balok, dll (biasanya disediakan di sanggar Yoga).
  7. Biaya bulanan (jika ikut kelas Yoga di sanggar atau kelas private).
Perlengkapan Yoga Lokasi : Sanggar Cantika 'Luna Yoga', Jalan Perluasan Ruko III Arcamanik, Bandung. (foto : dokumen pribadi)
Perlengkapan Yoga
Lokasi : Sanggar Cantika ‘Luna Yoga’, Jalan Perluasan Ruko III Arcamanik, Bandung.
Contact info : Ibu Ida 087825966866  (foto : dokumen pribadi)

 

Olahraga Yoga bagi pemula, harus dalam pengawasan guru Yoga. Hal ini penting untuk memperbaiki posisi tubuh dalam setiap gerakan Yoga dan jika terjadi cedera pada bagian tubuh tertentu, guru Yoga akan membantu mengatasi hal tersebut. Saya pribadi merasakan bagaimana penyesuaian sikap tubuh dari awal latihan hingga latihan berikutnya. Guru Yoga akan menjelaskan apa manfaat dari setiap gerakan yang dilakukan. Tanpa bimbingan seorang guru saya pikir mustahil kita mampu mendapatkan hasil yang maksimal.

Video  tutorial Yoga memang cukup banyak dan mudah kita dapatkan di internet, khususnya di situs YouTube. Tetapi alangkah baiknya jika kita belajar pada gurunya secara langsung. Selain itu, kita juga bisa menambah pertemanan baru di kelas Yoga. Ini sangat efektif untuk mengusir kejenuhan apalagi bagi para ibu rumahtangga. Satu hal lagi yang perlu diingat, kondisi tubuh setiap orang berbeda-beda jadi Yoga memberikan pemahaman bahwa kita harus mengerti apa yang dibutuhkan tubuh kita sendiri. Semakin rutin berlatih Yoga maka kelenturan otot-otot tubuh akan semakin terasah. Saya yakin segala permasalahan persendian dan bagian tubuh lainnya perlahan akan hilang bergantung pada titik tubuh mana yang harus lebih mendapatkan perhatian.

Jangan pernah berpikir ‘saya harus kurus’ tetapi tanamkanlah kalimat ‘saya ingin tetap sehat’.

Tanpa kedisiplinan dan kesadaran diri, maka tubuh akan tetap memberi sinyal-sinyal sebagai alarm bahwa ada masalah dengan kesehatan. Tanpa pola makan yang sehat, mustahil tubuh akan menjadi bugar.

365 days' Project, Februari, my journal

“Diary Yoga #1”

Resolusi utama saya di tahun 2017 ini adalah ingin lebih sehat.

Berawal dari terdeteksinya gejala kolesterol tinggi dan kadar asam urat tinggi di akhir tahun 2016. Dokter menyarankan agar STOP mengonsumsi daging, segala yang digoreng, kacang-kacangan, dan mengurangi makanan yang gurih. Saya hanya boleh memakan ikan (bukan sea food), sayuran, dan buah-buahan disertai dengan olahraga rutin.

Awalnya saya merasa tersiksa karena selama ini sudah terbiasa dengan pola makan ‘terserah apa mau saya’. Mengemil keripik dan teman-temannya juga masih dilakukan apalagi minuman kopi instan dan minuman manis lainnya. Namun saya mencoba ‘berunding’ dengan tubuh saya. Sampai saya pada keputusan ingin menjadi Vegetarian saja agar aman.

Setelah browsing mencari tahu tentang bagaimana menjadi Vegetarian, hati saya bertambah mantap. Selain karena harus memperhatikan pola makan rendah lemak, saya ingin mendisiplinkan diri sendiri untuk mengubah kebiasaan makan yang buruk menjadi pola makan yang lebih sehat. Akhirnya saya membeli buku tentang Vegetarian agar lebih paham tentang kebutuhan tubuh saya. Setelah membaca dengan saksama, saya termasuk tipe Vegetarian Ovo (tidak mengonsumsi daging dan produk olahan hewani termasuk susu, keju, tetapi masih mengonsumsi putih telur sesekali).

Buku "I am A Happy Vegetarian" karya Karina Padmasuri, penerbit Octopus Publishing House.
Buku “I am A Happy Vegetarian” karya Karina Padmasuri, penerbit Octopus Publishing House. (foto : dokumen pribadi)

Dua minggu pertama, saya sangat memperhatikan asupan makanan. Meminimalsir minyak yang terkandung dalam masakan, menghentikan penggunaan bumbu penyedap (MSG), lebih mengontrol keinginan ngemil makanan ringan yang kurang sehat dan memilih lebih banyak menyediakan buah-buahan untuk stok camilan. Sebulan saya konsisten dengan pola makan ala vegetarian tanpa mengonsumsi telur dan susu. Gejala-gejala asam urat seperti kepala pusing, pegal di area tubuh sebelah kiri terutama pundak, pergelangan tangan dan telapak kaki mulai berkurang. Terkadang kambuh jika saya salah makan. Saya juga berusaha mendetoks tubuh dengan berpuasa seminggu dua kali. Praktis setelah dua bulan berdiet, berat badan susut hingga 6 kg (dari 67kg – 61kg).

Tubuh pun mulai terasa ringan, keringat tidak terlalu membanjir kecuali saat berolahraga saja. Pola diet ini saya bantu juga dengan latihan fisik (berjalan kaki, lari, dan Yoga). Jadi dalam seminggu bisa 3 atau 4 kali berolahraga dengan intensitas bervariasi tergantung kesanggupan tubuh. Setelah rutin mengikuti jadwal Yoga seminggu sekali, saya merasa tubuh semakin fit dan otot-otot tubuh lebih fleksibel. Bonusnya kemudian berat badan turun lagi hingga di angka 58kg.

 

Saya juga mulai memvariasikan menu makan sehari-hari. Saat kangen dengan makanan yang digoreng, saya lebih memilih minyak zaitun atau minyak canola untuk menumis atau menggoreng. Tentu harganya lebih mahal dibanding minyak sawit biasa. Tetapi saya tidak mau mengambil risiko penyakit saya kambuh gara-gara urusan minyak. Demi kesehatan saya pilih yang lebih aman.

Perlahan tubuh menyesuaikan dirinya sendiri dengan ritme yang saya lakukan. Saat memakan sesuatu yang mengandung pemanis berlebih, lidah rasanya menjadi kurang ramah, atau saat tidak olahraga rasanya lemas beraktivitas di rumah. Sejak saya mengikuti kelas Yoga, manfaatnya mulai terasa setelah empat kali pertemuan. Setiap orang tentu akan mengalami reaksi yang berbeda setelah ber-Yoga. Konsultasi pada guru Yoga sangat diperlukan sebelum, selama melakukan, dan setelah latihan karena gerakan Yoga pada dasarnya sangat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan seseorang.

Saya berencana tiga bulan pertama ini (Januari-Maret) akan konsisten dengan 4 kali pertemuan per bulan. Mungkin nanti intensitasnya akan ditingkatkan menjadi 6-8 kali pertemuan sebulan. Tujuan awal ber-Yoga hanya untuk menjaga kebugaran tubuh tetapi semakin hari semakin termotivasi untuk jauh lebih baik dari sekadar bugar. Yoga memberi saya ruang untuk lebih sayang pada tubuh, membantu untuk lebih fokus, relaksasi, mengusir kejenuhan dan belajar bersabar juga menyeimbangkan jiwa raga dalam hubungan dengan rasa syukur pada Allah SWT.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai Yoga akan saya bagikan di tulisan selanjutnya, “Diary Yoga #2”.

 

Januari 2016

Saya Tidak Takut ke Dokter Gigi (2)

Proses pembersihan karang gigi biasanya akan memerlukan waktu beberapa kali pertemuan tergantung pada tingkat keparahan karang gigi pasien. Saya sendiri sudah melakukan dua kali pertemuan untuk hal tersebut. Rasa ngilu pasti ada saat proses pembersihan dilakukan. Namun lebih baik merasa sakit sekarang daripada sakit berkepanjangan.

Setelah melihat hasilnya, gigi saya lebih bersih namun gusi yang tadinya tertutup karang gigi akan terlihat kemerahan karena radang. Deretan gigi jadi terlihat lebih renggang karena terdorong oleh karang gigi yang menumpuk sekian lama. Saya sudah menduga hal tersebut. Dokter pun menyarankan pemasangan behel. Memang ini akan memerlukan biaya besar karena sama sekali tidak dijamin oleh BPJS. Pemasangan behel termasuk dalam kategori perawatan kecantikan / estetis harus memakai biaya pribadi. Setelah saya tanyakan biayanya sekitar 4-5 juta rupiah. Menurut informasi seorang teman, biaya sebesar itu terbilang murah dibandingkan jika kita melakukannya di tempat praktek dokter gigi pribadi.

Tentu saja proses pemasangannya tidak secepat yang saya duga. Saya memiliki masalah dengan gusi gigi geraham bawah ketiga dari belakang. Dari hasil rontgen pertama, terlihat jelas bahwa ada gusi gigi geraham saya yang agak turun / rusak lagi-lagi penyebabnya adalah karang gigi dan cara menggosok gigi yang salah.

Berikut ini cara menggosok gigi yang benar :

Petunjuk Cara Menggosok Gigi yang Benar (foto : dokumen pribadi)
             Petunjuk Cara Menggosok Gigi yang Benar (foto : dokumen pribadi)
  1. Sikatlah semua gigi rahang atas dari arah gusi ke gigi dengan gerakan memutar (roll technique).
  2. Untuk gigi bawah sikatlah juga dari gusi ke gigi.
  3. Jangan lupa menyikat permukaan gigi dekat langit-langit dan lidah dengan gerakan dari dalam ke arah luar.
  4. Sikatlah permukaan kunyah gigi ke arah depan dan belakang.
  5. Perhatikan permukaan gigi yang menghadap pipi, sikatlah perlahan dengan gerakan memutar.
  6. Akhiri berkumur dengan segelas air bersih. Jika perlu, pakailah obat kumur.

 

Dokter Sp.Orthodontie memeriksa gigi geraham saya dan menyarankan untuk mempertahankan gigi itu karena giginya masih melekat kuat.  Nanti akan dianalisa kemudian di pertemuan berikutnya, apakah di bagian gusi tersebut masih ada jaringan atau tidak, dan bisa dilakukan pembersihan khusus dengan cara ‘dikorek’. Mendengar kata itu, saya kembali merasa ngilu. Proses pembersihan karang gigi saja sudah membuat gusi saya cenat-cenut, eh.. malah harus ada tahapan ini juga. Namun saya harus sabar mengikuti prosedurnya.

Tiba di minggu berikutnya, dokter mengecek kembali kondisi gigi geraham saya. Dokter tidak berkomentar apapun. Saya me-rewind perkataan dokter, “Dokter, saya mau cetak rahang.”

Perawat menyiapkan keperluan cetakan. Bahan berupa pasta berwarna ungu dengan aroma mint diwadahi ke sebuah cetakan rahang gigi lalu dokter memasukkannya ke dalam mulut saya. Cetakan ditekan ke rahang atas terlebih dulu dan menunggu kira-kira 5 menit hingga adonan pasta ungu itu sedikit mengeras, lalu dokter mengeluarkannya. Dokter melakukan hal yang sama untuk rahang bagian bawah. Cetakan tersebut nanti akan menjadi bahan pembelajaran dokter dalam pemasangan behel.

Dokter kembali mengecek apakah karang gigi saya sudah benar-benar bersih. Pembersihan akan dilakukan lagi sebelum dokter memasang benda mirip karet gelang kecil yang disebut separator. Benda itu diletakkan di sela-sela di graham atas dan bawah. Hal ini dilakukan untuk tempat di mana kawat behel akan dililitkan nanti.

Pemasangan separator (warna biru) di sela-sela gigi geraham (foto : dokumen pribadi)
Pemasangan separator (warna biru) di sela-sela gigi geraham (foto : dokumen pribadi)

 

Dokter mengatakan, “Jika terasa sakit, minum obat Ponstan. Setelah seminggu, ibu ke sini lagi.”

“Dokter, kalau ngunyah makanan gimana? Takut copot.” Gigi gerahama saya mulai terasa kurang nyaman.

“Paksakan saja mengunyah, ya?” ujar dokter.

Benar saja apa yang saya khawatirkan itu terjadi.

 

Bersambung ke bagian 3

Januari 2016

Saya Tidak Takut ke Dokter Gigi (1)

foto : dokumen pribadi
foto : dokumen pribadi

Awalnya, kedatangan saya ke dokter gigi di sebuah rumah sakit umum adalah hanya untuk membersihkan karang gigi yang sudah terlihat parah. Saya sempat mengingat momen kapan terakhir kali ke dokter gigi. Mungkin 2 atau 3 tahun lalu. Itupun hanya karena sakit gigi geraham belakang. Sakitnya hingga menyebabkan sakit kepala sebelah. Begitulah kebanyakan orang pergi ke dokter gigi karena sakit gigi.

Mungkin Anda juga begitu. Setelah rasa nyeri dan sakit kepala itu hilang, lupa deh, untuk kembali ke dokter gigi. Waktu itu dokter menyarankan, “Gigi geraham harus dioperasi, karena tempat tumbuhnya tidak memadai jadi harus dibuang atau nanti akan sakit lagi.”

Membayangkan ruang operasi saja saya sudah ngeri! Saya takut banget kalau harus operasi. Hal ini tidak saya lakukan. Ternyata memang tidak lagi timbul gejala nyeri di gigi geraham itu hingga hari ini. Jadi saya pikir tidak perlu menjalankan operasi.

Beberapa hal yang saya rasakan sebelum karang gigi dibersihkan, antara lain : gusi berdarah setiap kali menggosok gigi, gusi terasa panas, dan terkadang ngilu jika sedang mengunyah makanan.

Beruntung saya memakai BPJS sehingga proses pembersihan karang gigi bisa dijamin. Perlu diingat sebelum dokter menangani hal ini, berkas pasien pengguna BPJS dari bagian pendaftaraan di poli Gigi harus di-acc terlebih dulu di BPJS Center. BPJS hanya memberikan manfaat ini setahun sekali saja. Jika dokter menyarankan untuk pembersihan tahap kedua maka harus menggunakan biaya sendiri sebesar Rp.67,000,00. Jika terdapat masalah gigi dan dokter meminta Anda untuk melakukan rontgen Panoramix. Rontgen jenis ini dijamin oleh BPJS. Hasil rontgen biasanya bisa diambil di hari berikutnya (maksimal pengambilan hanya tiga hari).

Setelah dokter umum membaca hasil rontgen Panoramix, saya disarankan untuk menemui dokter spesialis Orthodontie. Pertemuan dengan dokter spesialis ini tidak dijamin oleh BPJS. Pendaftaran di antrean dokter sp. ortho dikenakan biaya sebesar Rp.20,000,00 (dua puluh ribu rupiah). Dokter spesialis akan meminta Anda untuk melakukan rontgen Cepalometrix sebelum melakukan analisa untuk pemasangan behel pada pasien. Ini di luar jaminan BPJS sehingga dikenakan biaya sebesar Rp.54,000,00 (lima puluh empat ribu rupiah). Hasil rontgen dapat ditunggu.

Alat Rontgen Panoramix & Cepalometrix (foto : dokumen pribadi)
             Alat Rontgen Panoramix & Cepalometrix (foto : dokumen pribadi)

 

Beberapa hal perlu diperhatikan saat pendaftaran di RSUD untuk pengguna BPJS :

  1. Surat rujukan ASLI dari Puskesmas atau Rumah Sakit lain. Perhatikan periode surat rujukannya (biasanya 1 bulan) karena terdapat kemungkinan Anda untuk kembali lagi ke rumah sakit sesuai petunjuk dokter.
  2. KTP (asli) serta fotokopinya (fotokopi KTP 2 lembar akan diminta saat pengambilan hasil rontgen Panoramix / fotokopi Kartu Keluarga (untuk pengguna Jamkesmas).
  3. Kartu BPJS ASLI serta fotokopinya (2 lembar)
  4. Fotokopi surat rujukan (2 lembar)
  5. Kartu pasien rumah sakit. Jika belum memiliki kartu ini, Anda bisa mendaftarkan diri langsung di bagian pendaftaran poli yang Anda tuju. Kartu akan langsung dibuat. Bawa selalu kartu ini setiap Anda hendak berobat ke rumah sakit tersebut.
  6. Jika ada hal yang belum Anda ketahui tentang manfaat apa saja yang bisa dijamin oleh BPJS, Anda bisa langsung ke BPJS Center yang ada di RSUD tersebut.
  7. Perhatikan jam pengambilan nomor antrean.
    Kini sistem nomor antrean telah menggunakan komputer layar sentuh. Jika belum mengetahui prosedur pemakaiannya, Anda bisa menanyakan pada pusat informasi atau Satpam yang sedang bertugas. Rumah sakit tempat saya berobat (RSUD kota Bandung – Ujungberung) telah menyediakan layanan permintaan nomor antrean via SMS. Ada format SMS tertentu yang harus diketik, bergantung pada poli apa yang akan Anda tuju. Anda akan mendapatkan jawaban SMS yang berisi nomor urut antrean serta jam kehadiran. Pengguna layanan SMS ini harus sudah memiliki kartu pasien RS setempat.

 

*Bawalah selalu persyaratan di atas setiap kali Anda berobat ke RSUD. Jika sewaktu-waktu ditanyakan oleh petugas administrasi, berkas Anda telah siap.

 

Bersambung ke bagian 2

my journal, September

Mau Awet Muda? Kurangi Gula Putih

sugar
sumber foto : idealbody4life.com

Seberapa sering Anda memakai gula putih? Anda pasti menambahkan satu atau dua sendok kecil gula ke dalam teh, kopi, jus, atau sejumput saja ke masakan Anda. Belum lagi makanan atau minuman manis lainnya yang tanpa kita sadari mengandung gula.

Saya tersadar dengan teguran pasangan tentang minuman manis. Dia bilang, “Jangan terlalu banyak makan makanan dan minuman manis. Nanti sakit diabetes.”

Ingatan saya langsung melayang pada mendiang Mama. Beliau mengidap diabetes. Dulu, semasa muda, Mama memang hobi jajan makanan yang enak, seperti kue dan roti, cake yang lumayan banyak dihiasi krim dan pemanis. Otomatis budaya mengonsumsi makanan sejenis itu menular pada saya. Kini, saya berusaha menerapkan pola makan sehat dengan mengurangi konsumsi gula putih secara bertahap.

Hampir 4-6 bulan ke belakang saya tak lagi memakai gula putih untuk masakan. Gula merah (gula kawung) menjadi penggantinya. Jika kebetulan sedang ada stok gula batu, kiriman ibu mertua, saya memakainya hanya di waktu tertentu saja dan tidak berlebihan.

Dari pola pemakaian gula merah saja, saya telah mendapatkan manfaatnya. Kulit wajah menjadi lebih cerah, tubuh nggak mudah lemas, dan flek hitam di wajah berkurang. Tentu saja itu semua didukung oleh pemakaian krim untuk kulit, minum air putih, infused water, dan kualitas air mandi yang baik.

Konsumsi sayuran dan buah juga turut membantu kulit kita menjadi lebih sehat. Pikiran dan hati yang happy juga menjadi dua hal yang mampu menjadikan raut wajah berseri-seri, terutama jika rajin berdo’a. Dengan mengurangi konsumsi gula putih saja, saya merasa lebih baik. Walaupun penyakit bisa datang kapan saja. Minimal pencegahan bisa kita lakukan daripada tak peduli sama sekali.

Mengutip dari ahli kesehatan Universitas Harvard, Dr.Fung,”Jika Anda ingin memakan sesuatu yang manis, makanlah buah sebagai makanan penutup. Dengan cara itu, Anda akan memperoleh manfaat yang baik. Tentu saja buah segar tanpa tambahan gula.” Jika Anda sedang mengontrol kebiasaan minum soda, Dr.Fung menyarankan mencampurkan sedikit soda ke dalam jus buah.

Akan lebih bijak jika kita memperlakukan juga diri kita sendiri seperti memperlakukan seseorang yang kita sayangi. Jika tubuh butuh istirahat, segeralah beristirahat, misalnya tidur atau hanya merebahkan diri sambil mendengarkan musik. Me time seperti itu bisa membuat jiwa dan raga segar kembali untuk melanjutkan aktivitas. Kegiatan menelepon sahabat hanya untuk bertukar resep, curhat, atau membahas fashion, juga bisa relaksasi pikiran.

Lakukan pula olahraga ringan seperti berjalan kaki di pagi hari, atau bersepeda. Melihat-lihat pemandangan pagi dengan udara segar adalah hal yang mampu meningkatkan semangat beraktivitas. Satu lagi, perbanyaklah minum air putih dari pada air berwarna.

Semua hal tadi dapat membuat Anda menjadi awet muda jika dilakukan secara rutin. Namun jangan sampai Anda lupa diri saat sedang hang out bersama teman-teman Anda di luar karena produk-produk gula itu akan kembali menjadi godaan terbesar. Jika Anda masih memiliki stok gula putih (pasir), lebih baik gunakan sebagai scrub untuk kulit Anda saat mandi. Anda bisa mencampurkannya dengan madu. Kulit bakal lebih kinclong kan?!

Ketika Anda ingat usia, cobalah untuk mengurangi gula agar Anda awet muda.

365 days' Project, Kompetisi Blog

“Up Green Tea CNI – Teh Hijau Segar dan Menyehatkan”

Up Green Tea CNI (foto : dokumen pribadi)
Up Green Tea CNI
(foto : dokumen pribadi)

CNI telah menjadi brand produk kesehatan sejak lama. Anda pasti sudah mengenalnya bukan? Saya sendiri mengenal produk CNI pertama kali ketika kuliah dulu. Mendiang Mama selalu menyediakan produk vitamin ‘Ester C’ di rumah. Saat saya bekerja di perusahaan asuransi, saya mengenal produk kopi ginseng. Waktu itu, bos saya membagi-bagikan kopi pada seluruh staf.

Salah seorang rekan di bagian pemasaran, ibu Ietje, usianya waktu itu 50 tahunan, juga mengonsumsi suplemen Sun Chlorella. Saat sempat bertanya, “Bu, itu untuk apa?”

“Ini suplemen supaya ibu nggak cepat lelah. Maklum, ibu kan udah berumur segini, masih keliling menyetir mobil sendiri untuk bertemu nasabah.”

Memang benar sih, saya lihat ibu Ietje ini terlihat aktif dan masih gesit dengan urusan pekerjaannya.

Kini, saya mengenal teh berbentuk serbuk dengan kemasan sachet praktis Up Green Tea. Bila dibandingkan dengan teh yang biasa saya konsumsi, rasanya jauh berbeda. Up Green Tea tidak meninggalkan rasa pahit di lidah, aromanya pun natural.

Hari Minggu pagi, saya kedatangan kakak dan istrinya. Karena tidak memiliki persediaan kopi, teh, dan gula pasir. Saya teringat goodie bag yang CNI berikan di acara Fun Blogging 6, tanggal 5 September lalu. Saya menyajikan Ginseng Coffee untuk kakak, dan Up Green Tea untuk istrinya.

Awalnya saya pikir Up Green Tea ini rasanya manis. Kakak ipar saya tidak berkomentar soal itu, dia hanya bilang, Neng, green tea-nya enak. Segar!”

Kami menikmati minuman sehat ini bersama risoles dan martabak mini.

Esok paginya, saya menyeduh secangkir Up Green Tea berteman setangkup roti pandan dengan selai cokelat. Saat itu, saya sedang flu dan batuk. Walau tanpa gula, Up Green Tea terasa nikmat. Green Tea hangat membantu meredakan rasa gatal di tenggorokan saya.

Minuman ini menjadi alternatif pilihan bagi saya karena sedang mengurangi kopi. Saya sempat membaca bahwa manfaat Green Tea salah satunya adalah menangkis radikal bebas penyebab penuaan dini. Ini karena kandungan polifenol (Epigallo-3-catechin gallate). Tak heran jika kulit orang Asia terlihat bersih dan bercahaya. Mereka memiliki kebiasaan minum teh hijau setiap hari. Satu lagi catatan penting bagi saya, meminum teh tanpa gula akan lebih baik khasiatnya bagi tubuh. Terlebih di keluarga saya memiliki riwayat penyakit diabetes.

Saya merasa harus lebih rutin meminum teh. Anggaran bulan depan mungkin akan saya alokasikan untuk membeli Up Green Tea secara online di www.GeraiCNI.com.

Produk ini cocok sebagai teman membaca buku atau pelengkap saat mengobrol bersama pasangan di rumah. Saya mendapatkan energi baru dari Up Green Tea untuk menghadapi deadline menulis.