365 days' Project, Media Cetak

Cerpen Kedua “Opor Minang Mama” (dimuat di Majalah Femina no.26/XLVI – 25 Juni-1 Juli 2016)

 

Cover Majalah Femina No.26 & ilustrasi Cerpen
Cover Majalah Femina No.26 & ilustrasi Cerpen (dokumen pribadi)

 

Alarm ponsel membangunkanku. Aku meraba-raba ke atas nakas di sisi tempat tidurku. Beberapa kali ku mengerjapkan mata agar jelas melihat layar ponsel. Pukul 04.30. Ikon dismiss kusentuh.

Aku bangkit dan melemaskan otot punggungku. Kepalaku terasa berat. Semalam tidur terlalu larut. Bu Wina, atasanku, memintaku membuat format power point untuk presentasi produk asuransi di sebuah lembaga pendidikan besok. Pengerjaannya membuatku lama berada di depan laptop.

Segera ku menyegarkan diri ke kamar mandi. Aroma dadar telur plus mentega menguar hingga ke kamarku di lantai atas. Mama sangat memanjakanku. Selain menyiapkan sarapan, wanita tangguh itu selalu membekaliku makan siang untuk di kantor. Sampai-sampai teman-teman staf di kantor meledekku karena aku seperti anak TK yang selalu membawa bekal. Namun sesekali aku turut makan siang bersama mereka ke luar kantor.

Kafie, rekan kerja di divisi pemasaran yang sedang dekat denganku, penasaran ingin mencicipi masakan opor ayam bumbu Minang yang kubawa hari ini. Setelah satu suapan besar ke mulutnya, dia tak berkata apapun selain acungan jempol.

Keesokan harinya, Kafie membocorkan pengalamannya pada Bu Wina. Beliau tiba-tiba memesan opor padaku.

“San, Kafie bilang, opor yang kamu bawa enak banget.”

“Biasa saja, Bu.” Aku tersenyum tipis.

“Gimana kalau itu jadi salah satu menu untuk berbuka puasa minggu depan?”

Kantorku biasanya mengadakan buka puasa bersama di minggu pertama bulan Ramadhan. Awalnya aku ragu apakah Mama sanggup memasak sebanyak itu. Ada tigapuluh orang personil di kantorku termasuk para agen marketing. Kalau aku yang memasak, belum tentu seenak buatan Mama.

Mama selalu menerima pesanan masakan apapun dari para tetangga selain berjualan lontong opor Minang di warung setiap hari. Beberapa masakan khas Minang juga tersedia. Sejak memutuskan pensiun dini, Mama menikmati kegiatannya menggeluti bisnis kecil ini. Ruangan bekas garasi mobil, kami sulap menjadi warung makan yang nyaman. Penghasilannya lumayan bisa membantu biaya kuliahku hingga selesai.

***

“Ma, kantorku mau pesan opor ayam untuk buka puasa bersama sabtu nanti.”

“Opor pedas bumbu Minang?” tanya Mama sambil membenahi daster batiknya.

“Iya. Porsinya kira-kira untuk tiga puluh orang.”

“Boleh. Tapi gimana caranya mengantar dua panci besar opor itu nanti ke kantor kamu? Harus diangkut pakai mobil, kan?”

“Mm…minta tolong Bang Azwar aja.” Aku tersenyum mobil van kakakku.

“Ya, mudah-mudahan Abangmu nggak ke mana-mana pas hari ‘H’.”

“Nanti aku telepon Bang Azwar, Ma.”

***

Sebelum beranjak tidur, kuambil ponselku dan langsung menyentuh nama Bang Azwar di phone contact.

“Bang, aku mau minta tolong bawa pesanan opor untuk kantorku, sabtu besok.”

“Abang enggak janji, San. Kadang bos Abang suka mendadak menelepon suruh jemput barang. Nanti Abang kabari lagi.”

Aku menutup koneksi ponsel dan memutar otak. Apa ada alternatif angkutan jika Bang Azwar tak bisa mengantarku. Segala sesuatu harus siap agar di hari ‘H’ tidak kelimpungan.

Aku teringat Kafie. Ah, pasti dia keberatan membawa panci sebesar itu. Kalau kuahnya tumpah, dia bakal bete sama aku. Jazz hitamnya itu sangat terawat. Noda setitik pun jadi masalah.

***

Aura bulan pengampunan telah terasa. Beberapa tetangga kompleks perumahan menggelar meja yang menjual penganan khas Ramadan. Mama pun menambah berbagai macam takjil di warung. Mulai dari puding buah, jelly, dan aneka kolak. Pembeli yang rata-rata remaja biasanya mulai menyemut sambil menanti azan magrib.

Mama lumayan sibuk melayani pembeli di hari pertama puasa. Aku membantunya jika kebetulan pulang cepat dari kantor dan di akhir minggu. Aku mengingatkan Mama bahwa tiga hari lagi opor pesanan kantor harus dibuat. Bu Wina sudah memberikan dananya padaku dua hari lalu.

“Santi, kamu harus bisa memasak. Dulu, Mama diajarkan memasak oleh Nenekmu. Mulai dari membuat kue jajan pasar, sayur bening, sampai masakan bersantan.” Ujar Mama sambil mewadahi kolak candil ke plastik.

“Aku enggak ada waktu, Ma. Pulang kerja udah capek. Hari libur, ya pengin leyeh-leyeh.”

“Kamu itu perempuan. Sesibuk apapun kamu, memasak untuk keluarga itu kewajiban. Suami akan lengket sama kamu kalau kamu pintar masak.”

Kalimat Mama ini menyudutkanku. Aku wanita dua puluh tujuh tahun, belum berkeluarga dan malas memasak. Apa kata dunia jika calon suamiku tahu? Apakah Kafie mau menikahiku kalau ternyata aku nggak bisa memasak? Salah satu kriteria wanita idaman Kafie adalah pintar memasak.

Ingatanku melayang ke beberapa tahun lalu saat Papa masih hidup. Mama selalu menyempatkan memasak masakan lezat untuknya. Sesibuk apapun Mama, selalu wajah ceria yang beliau perlihatkan pada Papa. Apa aku bisa seperti Mama? Ketulusan hati Mama merasuk ke masakannya hingga membuat Papa semakin mencintainya.

***

Mama tiba-tiba mengeluh sesak napas dan pusing sepulang berbelanja dari pasar. Aku membereskan bungkusan yang dibawa Mama. Di dalamnya adalah bahan-bahan untuk membuat opor. Aku menuntun Mama ke kamarnya dan menyuruhnya berbaring.

“Ma, aku nggak jadi pergi kerja. Aku mau temani Mama.” Hatiku mendadak nyeri melihat Mama seperti ini. Aku takut Mama seperti bulan lalu. Tekanan darahnya naik, asmanya kambuh, dan kedua kakinya dingin. Waktu itu, aku mengira Mama akan dipanggil Tuhan.

“Kamu pergi saja, Mama nggak apa-apa. Mungkin terlalu capek, nanti juga baikan. Mama perlu minum obat saja.”

“Aku saja yang masak opor, ya, Ma.” Entah kekuatan apa yang mendorongku untuk melakukannya. Aku bisa saja membatalkan pesanan pada Bu Wina. Tapi aku tidak mau mengecewakan Bu Wina dan Mama.

“Kamu yakin?” kata Mama sambil berusaha mengatasi rasa sakitnya.

Aku mengangguk lalu membenahi bantal Mama. Beliau menunjukkan resep opor bumbu Minang di laci mejanya. Aku membacanya dengan teliti. Praktiknya pernah kulihat setiap hari.

Setelah memberi obat dan memastikan Mama tertidur, aku melangkah ke dapur. Aku menelepon Bu Wina terlebih dulu dan meminta ijin tidak ke kantor karena harus memasak. Aku berjanji padanya sore nanti membawa opor itu segera.

Dapur mungil ini, tempat aku bercerita pada Mama tentang pacar pertamaku, kegelisahanku sebagai wanita dewasa. Juga tentang Kafie yang terlalu perhatian padaku.

Peralatan memasak yang komplit milik Mama seakan menjadi saksi bisu perjuangan Mama untuk anak gadisnya. Aku masih ingat saat SMA, terpaksa memasak sup ayam karena Mama tak sempat lalu pergi ke kantor. Mama telah menyediakan bahan-bahannya di kulkas dan memberiku instruksi langkah-langkah memasak sup sebelum pergi.

Papa memujiku karena memasak sup dengan kuah yang banyak. Papa tidak berkomentar apapun, mungkin takut merusak suasana hatiku. Saat Mama pulang, beliau mencicipi sup itu. “Kurang garam dan gula sedikit. Kuahnya terlalu banyak,” katanya. Mama tetap memujiku sambil membelai rambutku,“Gadis Mama sudah bisa memasak.” Walau supnya kurang enak, aku cukup bangga karena ini hasil masakan perdanaku.

Aku tak mampu membayangkan bagaimana jika Mama yang lebih dulu dipanggil Tuhan. Berat rasanya. Ditinggal Papa pun rasanya perih. Pasti aku akan selalu merindukan setiap olahan masakan dari tangan hangat Mama yang lembut. Kali ini, aku akan mencoba memasak opor ayam bumbu Minang untuk Mama dan orang-orang di kantor.

Ya, memasak memang membutuhkan latihan berulang-ulang dan ketulusan hati. Mama bilang, jika kita sedang tidak mood, masakan yang kita buat tak enak rasanya. Beda tangan akan berbeda rasanya. Jika dulu dalam keadaan terdesak aku bisa, mengapa sekarang tidak.

Aku melirik ke arah bawang putih dan bawang merah lalu mengupasnya beberapa siung sesuai resep. Jintan, ketumbar, jahe, daun salam, serai, dan santan, kukeluarkan dari bungkusan. Ayam kampung yang sudah dipotong-potong, kucuci bersih. Aku mencoba mengingat langkah pertama yang pernah Mama lakukan. Ayamnya harus digoreng sebentar. Jangan terlalu matang. Mama bilang, cara ini agar daging ayam tidak benyek saat direbus dengan santan nanti. Terlebih jika menggunakan ayam negeri.

Minyak goreng kupanaskan di wajan besar secukupnya. Kumasukkan satu persatu potongan ayam tadi. Semua bumbu dasarnya kuulek di atas cobek agar lebih baik hasilnya daripada dihancurkan dengan blender. Itu anjuran Mama. Cita rasa masakan akan berbeda.

Bumbu ini seolah memberiku makna bahwa proses memasak mirip dengan proses jatuh bangunnya Mama membesarkanku dan Bang Azwar saat Papa tiada. Setiap bahan dasar yang kusatukan di cobek harus berbaur dengan baik hingga menjadi bumbu opor yang sempurna. Bahan dasar dari ketulusan Mama menjalani tahap kehidupan adalah kesabaran dan kesungguhan yang menyatu hingga menghasilkan pribadi yang tahan banting.

Aku mengangkat ayam lalu menggoreng beberapa potong lainnya hingga semuanya selesai. Minyak bekas ayam tadi kupindahkan dan kusisakannya sedikit untuk menumis bumbu. Aku melangkah mendekati kulkas dan membuka pintunya. Yes! Daun jeruk. Ini rahasia wanginya opor ayam Minang Mama. Walau daun salam juga berfungsi sebagai pewangi masakan, namun Mama selalu menambahkan daun jeruk di setiap masakan bersantan. Hasilnya aroma daun jeruk menggoda hidung.

Kutumis bumbu halus tadi plus daun jeruk. Mama biasanya menambahkan cabai keriting merah giling. Aku membuka tas plastik dan mencari-cari bungkusan cabai merah giling. Ah, ini dia.

Aroma wangi bumbu mulai memenuhi ruangan dapur. Mama pernah bilang, jika sudah terlihat agak pekat tumisan bumbunya, segera masukkan potongan ayam yang sudah digoreng tadi. Jangan sampai bumbunya gosong. Aduk rata supaya bumbu meresap ke dalam daging ayam.

Kutuangkan santan sambil mengaduknya. Peluhku mulai membayang di pelipis karena uang panas dan rasa gugupku. “Ternyata memasak itu butuh kekuatan fisik,” gumamku. Tak heran jika profesi chef lebih didominasi pria.

Aku melirik jam dinding. Pukul 9.15. Syukurlah masih banyak waktu. Keringat kian membanjir. Kubiarkan kuah santan mendidih. Sesekali aku mengaduknya seperti yang biasa Mama lakukan. Sedetik kemudian, aku ingat kapulaga. Aku mengambilnya di toples dan memasukkannya ke dalam panci setelah kumemarkan. Oporku akan bercitarasa lebih tajam dan memikat penciuman orang-orang hingga berselera mencicipinya.

Aku teringat keadaan Mama. Kutengok celah pintu kamarnya. Mama masih terpejam. Aku kembali ke dapur. Tiba-tiba lagu Maroon 5 “Animal” dari ponselku terdengar. Kuraih ponselku di meja dapur. Di layar tertera nama Kafie.

“Mama enggak enak badan, Fie. Jadi aku yang masak opor untuk pesanan kantor.”

“Serius? Wah, aku nggak sabar pengin segera mencicipi. Mau aku jemput enggak?”

Seperti gadis kecil yang mendapatkan kado kejutan, aku sangat senang dengan tawaran Kafie. Aku memintanya menjemputku pukul tiga.

Aku kembali fokus ke wajan opor dan bertanya-tanya berapa lama merebusnya. Biasanya Mama mencuil daging ayam untuk mengecek keempukannya. Kuaduk lagi pelan kuahnya. Aroma bumbu yang berpadu dengan kapulaga meluruhkan air liurku di dinding mulut.

Resah masih berteman denganku. Setengah jam kemudian, kucuil daging ayam dengan ujung susuk. Belum empuk. Kuputar mp3 player ponsel agar sejenak keresahan sirna. Tepat di saat suara Ellie Goulding menyanyikan lirik ‘How long will I love you… as long as star above you and longer if I may’. Opor ayam sebentar lagi matang sempurna.

Taburan bawang goreng di sentuhan akhir akan membuat opor ini sangat cantik, pikirku. Aku mengambil toples bawang goreng di lemari. Seandainya Papa melihat ini, beliaulah yang pertama mencicipi ini.

Tanpa kusadari, Mama sudah berdiri di mulut pintu dapur.

“Karena Mama hari ini tidak berpuasa, silakan mencicipi,”  ujarku sambil memegang lengannya lalu melangkah ke depan wajan.

Dadaku bergemuruh saat bibir Mama menyentuh ujung sendok. Beliau mengecap rasanya.

“Opor ayam bumbu Minang ala Santi, lamak bana[1].”

Genangan kecil menghangat di kelopak mataku.

*****

[1] Lamak bana (Bahasa Minang) : sangat lezat

 

Cerpen ini terinspirasi dari masakan almarhum mama. Ada beberapa hal yang saya kaji dari filosofi hidup melalui masakan opor khas Minang. Kisah tokoh dalam cerpen ini tidak sepenuhnya pengalaman pribadi namun saya mencoba meraciknya seperti kisah yang mungkin pernah terjadi dalam kehidupan seorang wanita.

Sebetulnya kabar cerpen ini akan dimuat sudah saya terima via emali sejak akhir tahun 2015. Email tersebut mengabarkan bahwa cerpen akan dimuat di antrean majalah edisi bulan Februari – Maret 2016. Namun ternyata jawaban email dari saya terselip dan editor mengabari saya lagi bahwa cerpen ini terbit di akhir bulan Juni 2016. Jadi, total masa tunggunya 1 tahun.

Naskah memang akan menemukan jodohnya sendiri. Tepat aura ramadan sangat pas dengan nuansa cerpennya. Semoga saya bisa mengolah ide lain untuk cerpen berikutnya dan tentu saja berjodoh lagi dengan media cetak yang keren, majalah Femina. Terimakasih sudah membaca cerpen saya. Give me your comment, please. 😉

365 days' Project, Media Cetak

“Nyanyian Hujan” (Cerpen Perdana dimuat di majalah Femina edisi 32/XLII/15-21 Agustus 2015)

Ilustrasi cerpen
Ilustrasi cerpen “Nyanyian Hujan”

Akhir bulan Juli lalu saya mendapatkan dua miscalled di ponsel. Kodenya wilayah Jakarta. Saya cuek saja, nggak menelepon balik. Paling marketing asuransi atau promosi TV berlangganan, pikir saya.

Sejam kemudian, saya membuka email. Ternyata ada surat cinta dari editor di sana. Dua miscalled tadi dari kantor redaksi majalah Femina rupanya. Esoknya, saya menelepon editor Femina dan mengonfirmasi Cerpen saya. Saat itu saya pikir cerpen yang akan dimuat adalah naskah yang saya kirim bulan Maret 2015.

Mbak editor bilang, email tahun 2014. Setelah saya cek di sent email, ternyata naskah di bulan November 2014. Udah agak lupa. Namun lupa berbuah bahagia. Mbak editor juga menyampaikan bahwa editan hanya sedikit. Syukurlah, padahal saya udah lumayan dag-dig-dug, takut banyak kalimat yang salah ketik.

Awalnya naskah cerpen “Nyanyian Hujan” ini pengembangan dari cerpen yang dulu saya tulis tahun 2010 tetapi versi remaja. Cerpen yang sempat dieksekusi oleh penulis dan editor berpengalaman, mbak Triani Retno. Setelah saya baca lagi cerpen itu, ternyata memang buruk sekali tulisan saya.

Saya terus berlatih, entah ini yang ke berapa kali. Semangat menulis naik turun seperti melalui jalur roller coaster. Lalu memberanikan diri mengirimkan ke majalah Femina. Tentu saja saya membaca terlebih dulu persyaratan naskah cerpen majalah tersebut. Sebelum naskah cerpen, saya sempat mengirim naskah untuk rubrik ‘Gado-gado’ Femina bulan Maret lalu. Alhamdulillah, kemarin sore mendapat kabar dari mbak editor Femina lagi. Semoga segera hadir di majalah edisi mendatang. Judulnya masih rahasia.

Ide cerita cerpen “Nyanyian Hujan” ini hanya secuil saya ambil dari pengalaman pribadi. Tebak saja yang mana. Kemudian, saya kembangkan dengan beberapa polesan. Terutama di bagian bahasa daerah Cirebon. Menurut saya, setiap bahasa memiliki ciri khasnya sendiri. Redaksi Femina sepertinya menyukai cerpen yang bermuatan nilai-nilai lokal daerah di Indonesia dan tentu saja masalah-masalah yang sering dihadapi wanita dewasa. Bumbu kisah cinta tetap menjadi pemanis isi cerita.

Saya juga melakukan riset kecil pada beberapa teman di dunia kepenulisan, suami, dan first reader yang sangat membantu saya untuk melakukan perbaikan di naskah. Alhasil, saya belajar lebih mendalam bagaimana sebuah cerpen bisa hidup di benak pembaca. Semoga pembaca mendapatkan pesan yang saya siratkan di sana. Seperti kata Dewi ‘Dee’ Lestari di blog-nya, “Tidak penting apakah pembaca menyukai tulisan saya atau tidak. Yang penting adalah bagaimana pesan saya sebagai penulis sampai di benak pembaca.”

Setelah cerpen ini dimuat, putri saya senang melihat ilustrasinya. Terimakasih untuk mbak illustrator. Gambar seorang perempuan dengan sepatu kanvas merah, itu gue banget! Putri saya memeluk saya sambil tersenyum lebar dan berkata, “Mama, selamat, ya… Mama sudah sukses dua kali. Pertama, buku “Amazing 30“. Yang kedua, cerpen di majalah Femina.”

Ternyata putriku yang kelas 5 SD itu mengerti apa arti kata ‘sukses’. Saya hanya tersenyum geli. Dia juga bertanya terus, “Mama, cerpen anak yang kakak baca waktu itu udah dikirim belum? Cepetan kirim!”

Alhamdulillah, pertanyaan putriku itu menjadi alarm pengingat target saya berikutnya.

Tunggu karya-karya saya berikutnya, ya, temans. Bukan tidak mungkin dari cerpen ini bisa jadi sebuah novel. Entah kapan itu terwujud. Draft ide sedang dalam proses di folder laptop.

Semoga semangat berkreatifitas selalu bersama kita.  😉

Cover Femina edisi 32 : Anindya Kusuma Putri (Putri Indonesia 2015)
Cover Femina edisi 32 : Anindya Kusuma Putri (Putri Indonesia 2015)

Ini dia, cerpen “Nyanyian Hujan” versi asli sebelum diedit oleh editor.

Aku terpana pada sesosok lelaki jangkung bermata teduh, Keansantang. Usianya dua belas tahun lebih tua dariku. Pak Tama, kolega Mama, mengenalkannya padaku. Beliau sepertinya sedang berusaha menjodohkanku. Yang terbersit di hatiku saat berjabat tangan tangan dengan Kean hanyalah, “Sepertinya laki-laki ini orang baik.” Raut Kean seolah memancarkan sesuatu yang aku rindukan.

***

Udara siang yang menyengat di dusun Kreyo, Palimanan, seakan tersamarkan oleh sambutan hangat, mbok Siti, ibunda Kean. Ia terlihat bersahaja dengan balutan kebaya cokelat dan kain batik bermotif bunga. Sebuah aliran air sungai yang jernih terpancar dari matanya seolah berkata, “selamat datang di keluarga kami”. Itu membuat hatiku sejuk. Ditambah lagi deretan pohon mangga cengkir yang lebat, pisang dan kelapa di sekitar halaman membuat suasana asri. Tak seperti suasana rumahku yang selalu panas oleh pertengkaran Mama dan ayah tiriku serta polah adik tiriku, Beni, yang semakin lama semakin menjadi.

Priye mbok?” bisik Kean pada ibunya sambil melirik padaku.

“Ibu setuju saja siapapun wanita pilihanmu, Kean.” Jawab mbok Siti dalam bahasa Cirebon. Tak pernah sekalipun orangtua Kean turut campur dalam kehidupan ketujuh anaknya. Hal itu yang membuat mereka menjadi pribadi yang percaya diri menjalani hidup.

Cara Kean bertutur dan tawanya yang lepas berhasil menyejukkan jiwaku. Aku hampir lupa dengan tawa. Entah kapan terakhir kali tertawa.

“Kamu tahu rumba?” Kean mulai mempromosikan menu spesial di rumahnya.

Rumba?” Keningku berkerut. Bagiku, kata itu terdengar seperti nama alat musik tradisional.

“Masakan mbok yang enak banget.”

“Kok namanya lucu.”

“Kadang masakan mbok tuh, nggak ada namanya tapi rasanya luar biasa. Rumba tuh terbuat dari daun singkong, kangkung, atau pisang klutuk muda. Semuanya pakai kelapa parut. Meski pakai kelapa, kalau mbok yang masak, nggak akan basi.” Jelas Kean.

“Kok bisa?” Aku tersenyum kagum, betapa mbok pintar memasak. Tiba-tiba, nasihat Mama mengiang di telingaku, “anak perempuan tuh, harus bisa memasak. Apalagi gadis Minang, bisa memasak rendang, itu satu prestasi membanggakan.” Mama dibesarkan oleh orangtua yang juga pintar memasak. Rendang buatannya paling empuk sedunia.

Selama ini, aku hanya seorang penikmat masakan Mama. Aku malu pada Mama yang tetap sempat memasak walau aktivitas di kantor eight to five. Saat hari libur tiba, aku lebih memilih bermalas-malasan atau hanya berbenah kamar tidur.

Kean meneguk segelas air di hadapannya hingga tandas lalu ia pergi ke dapur dan bertanya, “Masak rumba ta, mbok?”

 “Iya, nanti bikin. Masak telur pindang dulu,” jawab mbok. Sesekali ia diganggu cucunya, Fajri, meminta ini dan itu.

            Menurutku selalu ada semacam magic spell di setiap masakan seorang ibu. Selain bumbu rahasia, cinta dan ketulusan adalah dua hal utama yang mampu menghipnotis lidah.

            Aroma masakan memenuhi semua sudut rumah dan menggoda hidungku. Terbit keinginan untuk bertanya tentang resep rahasia masakan mbok, namun urung. Aku bukan tipe orang yang mudah mendekati orang baru kecuali pada Kean.

***

Mentari senja beranjak pulang. Aku dan Kean pergi ke tajug selepas azan ashar. Salat berjamaah sudah menjadi kebiasaan keluarga ini dan Kean menjadi imam. Mbok telah lebih dulu berada di sana, Fajri turut bersamanya.

Hatiku menciut dan kaku. Betapa aku merasa iri pada Kean. Mama tak pernah mengajarkanku bagaimana memperoleh ketentraman hati seperti yang Kean dan ibunya lakukan di tajug ini. Yang aku mengerti hanya bagaimana senyum Mama tetap mengembang di balik wajah lelahnya sepulang bekerja. Mungkin setiap ibu di dunia memberikan makna ketenteraman yang berbeda pada anak-anaknya.

Seusai salat, aku meraih tangan kanan mbok dan mengecupnya, setelah Kean melakukannya lebih dulu. Mbok mengangguk diiringi senyuman teduhnya padaku. Seketika itu, aku merasa diriku akan menjadi bagian dari keluarga Kean. Walau aku masih belum yakin apakah aku bisa menempatkan Kean di ruang hatiku setelah Teguh.

Untuk pertama kalinya, aku mencium punggung tangan kanan Kean. Entah untuk apa aku melakukannya. Desiran di dada ini begitu menghebat hingga menggerakkan syaraf tanganku.

“Dita, aku membangun tajug ini bersama bapak saat aku masih kelas satu SMA.” Ujar Kean sembari kedua matanya menerawang jauh ke depan. Seolah sedang mengingat peristiwa yang membuatnya merasa sebagai laki-laki dewasa. Kami duduk bersisian di teras tajug sambil menikmati desiran angin senja yang membuatku semakin betah. Sementara Mbok kembali ke rumah bersama Fajri.

“Oh…” Aku mengangguk. Sesekali semilir angin memainkan helaian rambutku.

“Setelah tajug ini jadi, aku membuat sebuah madrasah supaya anak-anak di sekitar sini kalau mengaji tidak harus pergi jauh ke mesjid desa sebelah.”

Sebongkah rasa kagum hadir lagi di salah satu sudut hatiku. Seusia itu, aku hanya sibuk dengan perasaanku yang tak menentu. Sikap Teguh yang sesekali acuh padaku ditambah dengan perlakuan ayah tiriku pada Mama yang menjelma menjadi mimpi buruk.

Kang Kean berarti mengajar anak-anak mengaji setiap hari?”

“Ya, setelah ashar dan magrib.”

“Murid akang sudah banyak?”

“Awalnya hanya sepuluh orang. Sekarang, sudah puluhan generasi. Aku dibantu beberapa alumni yang sudah mahir membaca Al Quran.”

“Wah, pasti lulusan madrasah di sini sudah jadi perantau seperti kang Kean.”

“Teman-teman pengurus madrasah sudah jadi dosen di perguruan tinggi di Bandung. Alumni juga banyak yang merantau ke Jakarta dan Bandung menjadi pedangang yang sukses.”

Kang Kean tinggal di Bandung sejak kapan?”

“Sejak memutuskan untuk ikut tes masuk perguruan tinggi negeri. Waktu itu, almarhum bapak hanya membekali uang dua ratus ribu untuk pendaftaran. Sisanya, aku cari sendiri dengan bertualang dari satu pesantren ke pesantren lain, berdagang kecil-kecilan, bekerja di pabrik, sampai akhirnya kuliah bisa selesai.”

Alasan untuk mulai jatuh cinta pada Kean semakin jelas di benakku. Ia mirip Teguh yang gigih dengan tujuannya. Namun Kean begitu matang dan relijius. Teguh

memang tak pantas untuk dipertahankan jika dibandingkan dengan Kean. Ia telah dirasuki setan hingga menghamili perempuan yang baru saja dikenalnya.

“Dita, kamu sudah lama bekerja kantoran?”

“Belum lama, baru dua tahun. Awalnya sih, aku cuti kuliah dan ingin bekerja supaya bisa bayar kuliah sendiri. Melamar ke restoran fast food, tapi nggak beruntung. Tiba-tiba datang kesempatan dari sebuah perusahaan tempat pamanku bekerja. Aku coba ikuti ujian masuk dan lulus.” Aku merasa sesuatu akan tumpah dari kelopak mataku. Namun, berhasil kutahan.

“Mama sudah pensiun?”

“Mama memilih pensiun dini. Mama nggak mampu membiayai kuliahku karena uang pensiun Mama habis begitu saja.” Memoriku berputar ke saat ayah tiriku menguras semua pesangon pensiun Mama demi kesenangannya sendiri. Sejak itu, aku benar-benar membencinya. Aku merasa lega setelah Mama bercerai dengannya.

Tanpa sengaja, kami beradu pandangan. Kean menatapku dalam. Beberapa jenak aku kikuk, tak kuasa menerima tatapan itu. Aku membuang pandangan ke halaman rumah dan berusaha keras mengatur debaran hebat di hati.

“Besok pagi, setelah sarapan, kita pulang ke Bandung. Tapi kalau kamu masih betah, lusa saja.” Perkataan Kean menghentikan kegugupanku sejenak.

“Wah, aku bisa kena teguran bos-ku di kantor karena bolos kerja. Karyawan kontrak harus rajin, kang.”

Kean tertawa renyah. “Nggak enak juga ya, kerja kantoran. Nggak bisa seenaknya libur.”

Kang, kapan kita jalan-jalan ke keraton Kasepuhan? Aku pengin tahu mesjid merah.”

“Mungkin nanti. Banyak hal menarik di sana.” Kean menyungging senyum seolah menanam satu harapan untuk pergi bersamaku lagi.

Langit mulai berubah pekat dan rinai hujan mulai membasahi pekarangan dan pohon-pohon. Mbok terlihat menggiring ayam-ayam peliharaannya ke kandang di samping dapur. Aku memutuskan untuk menyegarkan diri sebelum magrib menjemput. Sementara Kean mencandai Fajri sambil menyimak tayangan televisi.

***

Usai makan malam dengan rumba daun singkong dan telur pindang yang lezat, Kean mengajakku berbincang tentang segala hal. Masa kecilnya hingga para pelaku politik yang aku tak terlalu paham dunianya. Kean berhasil membuatku betah berlama-lama menikmati tawa di antara cerita dan kelakar. Jarum jam dinding telah menunjuk ke angka sepuluh. Aku mulai menguap.

“Dita, kamu tidur di kamar mbok di depan. Mbok jarang tidur di situ, lebih sering sama Fajri di depan teve.”

Aku mengiyakan. Sementara Kean memilih tidur di kursi tamu. Ranjang besi yang ada di kamar ini mengingatkanku pada nenek. Namun si kelambu tak lagi terpasang, hanya besi-besi penyangga saja yang terlihat. Pintu kamar yang tak bisa dikunci, kututup rapat. Kasur kapuk berbalut seprai batik yang bersih, bantal kapuk yang empuk, tak kunjung membuatku mengantuk. Pandanganku mengitari bilik langit-langit kamar. Aku nggak percaya, mengapa aku berada di sini? Nyanyian hujan mengalun merdu diringi suara katak blentung yang hanya hadir di musim penghujan. Nyanyian penyejuk jiwa dari Yang Kuasa. Aku berusaha memejamkan kedua mataku, dan hujan semakin deras diiringi petir.

***

Entah pukul berapa aku terlelap. Malam berganti subuh. Suara azan membangunkanku. Segera aku mengambil peralatan mandiku, lalu keluar dari kamar. Kean tengah duduk di ruang depan.

“Mau langsung mandi?” tanyanya sambil merapikan sarung kotak-kotak hijau.

“Iya, Kang. Gerah.”

“Aku salat subuh duluan, ya? Kamu salat di kamar saja nanti.”

Aku mengangguk.

Sesaat setelah Kean pergi ke tajug, seorang wanita paruh baya berbalut daster batik memberiku alat salat sambil tersenyum ramah. Menurut perkiraanku, ia kakak Kean. Entah kapan ia datang. Mungkin tadi malam saat aku terlelap.

***

Sejujurnya aku tak ingin meninggalkan tempat ini. Perasaanku mengatakan, aku akan kembali lagi ke sini. Kean pun sepertinya berat meninggalkan ibunya. Rutinitas kepulangannya hanya satu atau dua bulan sekali.

Nok Dita, ini bawa untuk ibu di rumah, ya?” kata Mbok dalam bahasa Cirebon. Ia membekaliku beberapa bungkus krupuk beraroma bawang, buah mangga cengkir, krupuk melinjo, dan gula batu.

“Terimakasih, bu.” Aku menerimanya dengan senang walaupun sebenarnya khawatir Kean kerepotan. Tas ranselku pun sudah sesak.

Wis mbok, ora cukup tempate ning motore.” Kean terlihat resah.

Lebetaken nang bagasi atau tas, Kean.” Mbok memaksa Kean membawa seluruh bekalku.

Kean mengalah, dan melaksanakan perintah ibunya.

Kami pamit lalu menaiki motor Kean. Sisi kiri jalan pintas perkampungan yang kami lewati menyajikan siluet gunung Ciremai. Begitu jelas terbingkai langit pagi yang berseri-seri. Area persawahan terbentang luas dan padi-padi di sana telah dipanen. Sungguh anugerah pagi yang tak bisa kusangkal.

Kang, bagus ya, pemandangan di sini.”

“Kamu baru lihat, ya, gunung Ciremai?”

“Iya. Cuma pernah dengar dari kakakku.”

“Oooh…” Kean mengangguk dan kembali fokus ke depan. Sesekali ia merespon pertanyaan-pertanyaanku.

Tiba-tiba aku teringat perempuan yang memberiku alat salat, subuh tadi.

Kang, tadi subuh itu siapa? Ada perempuan di rumah, selain mbok.”

“Oh, itu kang Kesturi. Anak pertama mbok.”

“Kok kang Kean manggil ‘kang’ juga sama kakak perempuan?”

“Di sini, sebutan ‘kang’ itu berlaku untuk kakak perempuan juga laki-laki.”

“Oh, gitu.”

Gapura ‘Selamat datang di kabupaten Cirebon’ telah terlewati. Kami singgah di sebuah warung di perbatasan Tomo-Sumedang. Dahaga sirna oleh aliran air kelapa muda. Pemandangan sungai Cimanuk yang bantarannya dihiasi ilalang tak luput dari penglihatan kami.

Kean menyesap air kelapa mudanya perlahan lalu menoleh ke arahku. “Dita, gimana kalau awal bulan depan aku melamar kamu?”

Dadaku terhenyak mendengar itu. Aku mengaduk air kelapa di hadapanku sambil mencari jawabannya.

“Mmm… melamar?” Aku masih ragu, terlebih ketika Kean mengajakku ke kampungnya dan berkata “aku ingin mengenalkanmu pada ibu sebagai calon istri.”

Kean mengangguk dan menatapku cukup lama, menunggu jawaban.

Aku menyesap air kelapa untuk melegakan dadaku lalu berkata, “Terserah kang Kean.” Bayangan Teguh belum benar-benar hilang di ruang hati ini. Sangat sulit menghapus kenangan-kenangan yang telah terukir selama enam tahun. Ya, Tuhan, apakah Kean adalah pengganti Teguh?

***

Setelah otot-otot kaki cukup nyaman, kami melanjutkan perjalanan. Aku melihat-lihat pemandangan di sepanjang jalan sebagai pengusir kantuk.

“Dita, kok, kamu nggak ada suaranya? Ngantuk?” Kean menepuk lututku tanpa menoleh ke belakang.

“Hehe, iya, kang.” Aku merasakan perih di kedua mataku.

Kean tertawa ringan. Hening menguasai kami. Hanya suara deru mesin motor dan kendaraan lalu lalang mendominasi. Sampailah kami di kawasan Nyalindung.

Aku menepuk pundak Kean dan memintanya untuk berhenti di depan kios penjual peuyeum gantung. “Kang, aku mau beli peuyeum buat Mama.”

Kean menepikan sepeda motornya.

Selesai memilih dan membayar, kami melanjutkan perjalanan. “Kang, maaf, ya, jadi menambah beban penumpang motor, nih.”

“Nggak apa-apa. Mumpung kita lewat sini.” Kean menggantungkan keranjang peuyeum di motornya.

Di sisa perjalanan, Kean setia mendengarkan ceritaku tentang Mama, juga tentang Teguh. Entah untuk apa aku jujur soal Teguh. Namun rasa sakit yang masih bercokol di dada perlahan menguap karenanya.

***

“Mamaaa! Aku pulang!” Aku mengecup pipi Mama, kiri dan kanan.

Mama sedang menikmati ubi ungu kukus dan segelas teh pahit di ruang depan. Aku membawa masuk buah tangan dari mbok dan peuyeum tadi. Kean mengekori setelah memarkirkan motor.

Assalammu’alaikum.” Kean meraih tangan kanan Mama dan mengecupnya.

Alhamdulillah, sampai rumah dengan selamat,” ujar Mama sambil mengulas senyum.

“Sebentar ya, kang. Aku ambil minum dulu.”

Kean terlibat obrolan ringan dengan Mama.

“Gimana ibu, sehat?”tanya Mama pada Kean.

“Alhamdulillah, bu. Mbok selalu sehat.”

“Terakhir Mama ke Cirebon waktu Papa Dita masih ada. Ada paman Dita di Majalengka.”

“Oh, Majalengka agak jauh dari Palimanan.”

“Wah, Mama nggak bakal kuat naik motor ke sana.”

“Bisa tiga jam non stop sampai di Palimanan. Kami tadi sempat istirahat di Sumedang. Jadi kurang lebih empat jam.” Jelas Kean. “Bu, nanti kalau saya ajak Dita lagi ke sana, boleh, ya, bu?”

“Kalau Dita mau, ya silakan. Hati-hati di jalan. Perjalanan jauh naik motor itu bahaya.”

Aku menyajikan secangkir kopi di meja untuk Kean lalu pamit sejenak untuk mengganti baju.

***

Sabtu pagi, Mama mengijinkanku pergi bersama Kean ke kawasan wisata gunung Tangkuban Perahu. Aku yang mengajak Kean ke sana. Kupikir kejenuhan pekerjaan sebagai staf administrasi yang monoton selama lima hari di kantor akan sirna.

Laju motor Kean tak terlalu terburu-buru hingga perjalanan sangat kami nikmati. Pintu masuk menuju kawasan gunung Tangkuban Perahu telah di depan mata.

Aku membayar tiket masuk. Kami melewati jalanan yang tertutup kabut. Samar-samar terlihat beberapa pengunjung sedang berjalan kaki, dan lainnya menaiki sepeda motor. Setelah sampai di tempat parkir, kami berjalan ke tepian kawah yang berpagar kayu. Beberapa pengunjung yang mengabadikan momen. Kami memerhatikan kepulan asap kawah Tangkuban Perahu dan terdiam. Hanya aroma bau belerang yang tak mau diam menusuk ke hidung.

Kean membelah kebisuan, “Dita, kira-kira kapan, ya, tanggal yang tepat?”

Kami saling berpandangan lalu aku tertunduk. Tetesan hujan mulai ribut bersama kabut. Beberapa orang terlihat berlari menuju warung tenda penjaja makanan. Aku dan Kean masih berdiri di sana.

“Tanggal sembilan?” tanya Kean lagi dengan senyuman lucu.

Aku menangkap sorot bola matanya yang jujur, lalu berkata, “Terserah kang Kean.”

Tetesan air dari langit semakin merdu seolah membelai luka hatiku. Kean meraih tanganku dan mengajakku ke warung penjual bandrek. Hatiku melagu seiring sesapan minuman hangat itu.

 *****