my journal, Rumah Kayu

“Menunggumu di sini”

photo captured by Lolotan Dalimunthe
photo captured by Lolotan Dalimunthe

Tepat pukul 07.30, kamu tak kunjung datang. Aku menunggumu di sini, Frans. Lamunan panjangku tentangmu temaniku duduk di sini. Tahukah kamu, bahwa hidup ini terlalu singkat untuk kamu siakan. Aku tidak pernah menyesal mencintaimu. Entahlah, bagaimana denganmu? Apakah kamu merasakan hal yang sama.

Jarum detik terus berdenting hingga menggema ke seluruh ruang di jantungku. Aku semakin resah dan tak yakin kamu akan datang. Kamu bilang kita akan selalu bertemu di sini, setiap pagi pukul 07.00. Mengapa kamu belum muncul juga? Ada apa denganmu?
Jangan biarkan aku bertanya-tanya di kursi taman ini. Aku tak ingin ditemani kebisuan. Angin pagi ini seakan mewakili desiran kesepianku.

Jarum jam tanganku hampir menunjukkan angka 8. Kamu benar-benar tak akan muncul. Baiklah, aku pergi dan tak akan lagi percaya dengan janjimu di setiap pagi. Aku akan benar-benar melupakan momen menunggu di sini. Menunggu itu menyesakkan. Lupakan setiap pagi yang pernah kita miliki. Lupakan senyum pagi yang kuberi untukmu. Lupakan semua cerita cintamu padaku. Semuanya seolah mudah terhapus oleh cahaya matahari yang semakin berang.

Terimakasih pada waktu yang telah membuatku melamunkan dirimu. Sang waktu pula yang akan membuatku lupa padamu, Frans.

*untuk sebuah foto bercerita

my journal, Rumah Kayu

“Dek, maafkan Abang…”

Banda Aceh, "Siluet Panoramic" by Titi Erman
Banda Aceh, “Siluet Panoramic” by Titi Erman

Teuku Utsman harus pergi ke negeri seberang untuk menggapai karir mimpinya. Cut Medina merasakan kekhawatiran yang sangat dalam. Hubungan percintaan yang sekian lama dia jalin dengan Teuku Utsman belum mengarah pada tujuan pernikahan.
Suatu senja, Teuku Utsman merenungi maksud kepergiannya dan wajah kekasihnya terpampang jelas di pemandangan senja pantai Lampuuk.

Dek, maafkan Abang…
Abang tak bisa berjanji padamu kapan akan pulang. Cita-cita dan impian Abang tengah berada di gerbang negeri seberang. Abang harap, Adek baik-baik saja dan tetap mendoakan Abang.
Jangan biarkan kekhawatiran itu menyelimuti hatimu. Lepaskan Abang dengan segala keridaanmu, Dek…
Abang tak memaksamu untuk menunggu, namun Abang tetap ingin kita bertemu lagi nanti.
Maafkan Abang…

Sementara Cut Medina memandangi langit senja yang sama di jendela kamarnya. Dia seolah mendengar jeritan hati sang kekasih melalui sayup-sayup angin senja dari pantai itu.
Bang, aku berusaha melapangkan hati untuk melepas kepergianmu. Namun hati ini rasanya sesak, jika Abang ternyata tak akan pernah kembali.
Aku tidak bisa memaafkan Abang, jika Abang tak memiliki tekad bulat untuk bertemu lagi. Aku akan merindukan senyum, tawa, dan canda Abang.
Biarkan saja aku perlahan mengerti keadaan yang akan aku rasakan. Biarkan cinta menunggu hingga jenuh dan melepuh.
Pergi saja, jika Abang ingin meraih mimpi di sana. Aku akan selalu berdoa untukmu…

Banda Aceh, September 2012, Teuku Utsman dan Cut Medina pernah menganyam cinta di hati mereka. Anyaman itu hanya sewujud langit siluet senja dua warna bagai sisi hati mereka yang selalu menjingga.

*untuk sebuah foto bercerita from Rumah Kayu Fotografi