365 days' Project, Februari

“Musik dan Dita”

—cerita sebelumnya

Teks lagu Michael Learns to Rock "That's Why You Go Away". (foto : dokumen pribadi)
Teks lagu Michael Learns to Rock “That’s Why You Go Away”. (foto : dokumen pribadi)

 

Dita tidak bisa menelepon Dani karena telepon rumahnya dikunci. Dia tak cukup berani untuk mencongkel tombol angkanya seperti yang biasa dilakukan bang Raka. Setiap kali Raka menelepon pacarnya, selalu curi-curi kesempatan. Terkadang Dita tak sengaja mendengar obrolannya dari kamar yang berada dekat dengan meja telepon.

Dita teringat Dani, bagaimana nasibnya setelah hari itu kesiangan masuk sekolah.

“Mudah-mudahan Dani nelpon ke sini,” gumamnya. Lalu DIta beranjak dari kamarnya. DIa melihat abangnya masih saja berbincang mesra. Dita memberi kode untuk segera menutup teleponnya.

“Apaan sih, dek? Ganggu orang pacaran aja.” Ujarnya sambil senyum jahil.

“Tutup dong, teleponnya. Takutnya nanti ada teman nelpon kesini.”

“Teman apa temaaan?” Abangnya mengerling jahil.

“Bang, tutup!” Dita melotot.

“Iya,iya, iyaaa…Ampun deh, miss jutek.” Setelah mengakhiri pembicaraan, Raka segera menutup gagang telepon. Tak lama Raka naik ke kamarnya di lantai atas, telepon berdering.

Dita segera menyambar gagang telepon dan mengucap salam.

“Assalammualaikum.”

“Waalaikumsalam. Dita ya?” suara Dani menghangatkan hati Dita.

“Hei, Dan. Sori gue gak bisa nelpon. Dikunci sama mama teleponnya.”

“Iya, nggak apa-apa. Gimana tadi di sekolah? Dihukum?”

“Biasa lah, gak boleh ikut satu jam pelajaran. Berdiri di lapangan. Elu juga?”

“Lari keliling lapangan lima keliling. Lumayan segar!”

Mereka tergelak bersama.

“Eh, Dit, udah dulu ya. Nggak bisa lama. Nanti diomelin ibu.”

“Oke. See you.”

Bye.

Dita melangkah ke kamarnya setelah menutup telepon. Lalu mengambil gitarnya dan membuka binder berisi catatan lirik lagu favoritnya. Beberapa lagu dia tulis dari acara radio yang khusus mendiktekan lagu-lagu barat beserta grif-nya, ‘Words by Tune’.

 

Baby won’t you tell me why there is sadness in your eyes
I don’t wanna say goodbye to you
Love is one big illusion I should try to forget
But there is something left in my head…

 

——-bersambung

my journal, September

“When a Mom Wants to Meet a Movie Critic” (edited)

This slideshow requires JavaScript.

Ini catatan tentang pertemanan baru lho, bukan aib. Networking itu sangat penting untuk para blogger. Saya belum pede sih, dikatakan sebagai blogger karena masih dalam proses belajar. Salah satunya ini, ngepoin orang.

Dari awal saya melihat mas Raja Lubis ini, saya sudah tertarik. Eits! Jangan protes dulu! Saya bukan tipe emak-emak suka sama brondong kecuali si brondongnya lagu-lagunya keren kayak Ed Sheeran gitu. Ups!

Jadi ketertarikan saya pada mas yang satu ini soal kritikus film dan pencinta musik Indonesia. Nah, pasti film itu nggak bisa lepas dari musik karena setiap film selalu ada movie soundtrack. Saya ingin mengobrol soal ini.

Ternyata mas Raja ini sangat sibuk. Selain sedang menyusun skripsi, dia juga seorang banker (menengok profil akun Twitter), bergelut di dunia informatika, dan pengajar Bahasa Inggris. Aduh, susah banget deh, kayaknya bikin janji untuk bertemu. Padahal katanya, dia lebih suka mengobrol langsung kalau membahas soal film.

Saya harus agak sabar ya, soal kapan bisa ketemu. Setelah saya bertanya ini itu di SMS dan WhatsApp, saya kagum dengan kesibukannya. 12 September 2015 lalu, saat Festival Film Bandung digelar, dia bertugas sebagai panitia. Saya nggak sempat menonton tayangannya di SCTV. Saya akhirnya memilih menunggu postingan liputannya tapi belum muncul di blog mas Raja : http://www.rajablackwhite.wordpress.com  Saat saya tanyakan soal itu, dia bilang belum sempat posting. Tuh kan, beneran sibuk orangnya.

Saya telat berkenalan nih, tapi sudah follow duluan akun twitternya saat acara Fun Blogging 6 (@r4dzML) waktu itu. Saat saya bertanya tentang undangan buat blogger di acara FF Bandung, mas Raja bilang masih ada satu undangan nganggur. Tapi acaranya udah kelewat. Yaaah… Ah, memang benar ya, kalau menjalin networking itu nggak boleh lelet, jadi satu kesempatan hilang, deh. Padahal kalau undangan itu dikasih ke saya, wah… seru banget bisa melihat langsung dan membuat liputan acara FF Bandung. Lalu, berkhayal bertemu Reza Rahardian. *ehem! mendadak keselek*

Saya nggak kehilangan akal. Hari sabtu biasanya saya punya waktu luang setelah siang mengantar anak sekolah. Nah, saya pikir bisa kayaknya janjian sama mas Raja. Ternyata eh, ternyata, dia ada jadwal dari pagi sampai sore mengajar Bahasa Inggris, pemirsa. Wah, langsung saya dapat ide! Bagaimana kalau saya ngobrolnya pake Bahasa Inggris aja nanti kalau jadi ketemu. Kan seru, tuh! Sambil melatih lagi Bahasa Inggris saya yang sudah kaku. Semenjak berhenti mengajar les bahasa Inggris, lidah saya seperti kehilangan rasa British and American. *halah lebay*

Ah, begitu banyak maunya si emak yang satu ini. Ya begitulah, katanya, kalau orang yang bergolongan darah O, saat sedang bersemangat melakukan sesuatu pasti gigih dan fokus pada hal tersebut. Mungkin mas Raja bergolongan darah sama dengan saya. Entahlah, belum sempat nanya. Tapi melihat semangat mudanya, saya kagum. Saya yakin mas Raja nanti akan menjadi pekerja yang tangguh dan bertanggung jawab. Saya pun memberi semangat untuk segera menyelesaikan skripsinya di pesan WA.

To be continued… (masih menunggu waktu luang mas Raja)

Tiba di hari pertemuan dengan mas Raja, saya ngebut (emak biker) dari Bandung Timur menuju kawasan BEC. Setelah menunaikan shalat dzuhur di mushola Gramedia, saya bertemu mas Raja di sebuah restoran fast food. Saya sempat bingung mencari resto itu yang tadinya menghadap ke jalan Merdeka, sekarang pindah ke sebelah bawah gedung BEC. Rupanya itu gedung baru dan ada bioskopnya bernama Cinema Blitz, kalau nggak salah.

Kami memulai obrolan seputar keseharian mas Raja lalu nyambung ke sana kemari. Sampai di perbincangan tentang film. Ada beberapa hal yang saya tanyakan sama mas Raja. Kira-kira cuplikannya begini :

Saya : “Mas Raja gimana ceritanya kemarin bisa jadi panitia FF Bandung? Gabung di komunitas atau gimana?”

Raja : “Awalnya sih, saya kenal seseorang di media social baru.” *mas Raja menyebut nama apa gitu, saya lupa.*

Saya     : “Oh ada lagi med-sos baru?” *kening berkerut* “Saya tahu yang baru cuma ‘tsu’ aja yang buatan Jepang. Nggak keurus, udah bikin akun.”

Raja     : “Dari sana saya diajak rapat persiapan acaranya. Mulai sibuk dari hari Jumat sampai di hari H.“

Saya     : “Panitia bagian apanya di FF Bandung?”

Raja     : “MC off air. Itu membawakan acara sebelum on air di SCTV. Waktu itu, rangkaian acaranya, pembukaan. Ada sambutan dari Wakil Gubernur Jawa Barat, bapak Deddy Mizwar, sambutan ketua umum Forum Film Bandung, Eddy D.Iskandar hingga pembacaan film impor terbaik. Saya panitia backstage yang bertugas  nganter-nganter aktris/ actor peraih piala terpuji dari mobil ke winner area sampai duduk kembali di tribun utama. Teman-teman panitia yang cowok sempat pada iri, tuh. Saya nganter Pevita Pearce, Raline Shah, terus… banyak lah, pokoknya.”

Bintang tamu di acara FF Bandung diantaranya Iwan Fals, Kotak, Doel Sumbang, Zaskia Gotic, dan Lesty D’Academy.

Mas Raja Lubis di Festival Film Bandung 2015
Mas Raja Lubis di Festival Film Bandung 2015 (foto : courtesy of Raja Lubis)

 

Terus mas Raja jadi ngobrolin cewek keturunan Melayu, Tionghoa, Pakistan, model sampo dan kopi ini. “Raline Shah, orangnya ramah lho,” kata Mas Raja. “Selama menunggu giliran Raline tampil ke panggung, dia ngajakin ngobrol dengan penuh senyum dan inner beauty-nya terpancar banget. Cantik abis!”

Saya     : “Wah,  udah cantik, ramah pula.”

Lalu mas Raja membahas akting Raline di film ‘Surga Yang Tak Dirindukan’. “Itu Raline banget deh, sesuai sama karakternya secara personal. Berbeda dengan aktingnya di film ‘5 cm’, itu nggak banget, terlalu dipaksakan.”

Saya juga melihatnya begitu kalau di film ‘5 cm’. Kurang natural gitu.

Saya     : “Dresscode-nya apa para aktris dan actor yang datang?”

Raja     : “Ada yang pake batik kalau aktor, aktrisnya pake gaun gitu lah, yang anggun seksi. Raline itu pake gaun yang terbuka bagian depannya.”

*dalam hati saya, wow!* Tapi memang pastilah, kalau di acara khusus, mereka tampil maksimal, nggak seperti sehari-hari di lokasi syuting.

Tapi sayang mas Raja nggak sempat berfoto bersama Raline. Mungkin saking terpesona dengan keramahan dan kecantikannya kali, ya? Cuma sama Pevita yang diabadikan. Nih…

Mas Raja & Pevita Pearce
Mas Raja & Pevita Pearce (foto : courtesy of Raja Lubis)

Saya     : “Eh, Reza Rahardian, ada?” *tetep pengin tahu sama si ganteng yang satu itu.*

Raja     : “Nggak datang. Vino Bastian datang.”

Saya     : “Sama istrinya?”

Raja     : “Mm…nggak kayaknya, saya nggak lihat Marsha Timothy.”

Kami berdua udah rumpi aja, ngomonging artis. Nggak peduli ada orang lain nguping. Heheh…

Ada beberapa film yang dibahas mas Raja. Saya sampai bingung yang mana yang mau ditulis di sini. Saya mulai kategori film remaja aja, ya, karena itu sempat saya tanyakan. Itung-itung sebagai bahan riset juga, cerita seperti apa yang baik untuk ditonton oleh remaja.

Menurut mas Raja, film remaja yang segi cerita dan aktingnya bagus itu, film “Heart” yang dibintangi oleh Acha Septriasa dan Irwansyah. Saya sempat suka juga sih, sama soundtrack-nya yang easy listening. Dari situ saya tahu bagaimana film remaja yang benar-benar mengisahkan problem remaja. Kualitas film remaja itu sekarang jarang yang bagus dinilai dari isi cerita dan tokoh pemainnya.

Mas Raja sempat ngemsi bareng Acha di museum Sribaduga, Bandung, acara diskusi dan Talkshow Pemutaran Film Omnibus. Waktu itu, yang menjadi narasumber Acha dan Pak Parwez (produser Star Vision).

Ngemsi bersama, Raja Lubis & Acha Septriasa
Ngemsi bersama, Raja Lubis & Acha Septriasa (foto : courtesy of Raja Lubis)

“Kebanyakan tokoh pemain remaja itu aktingnya nggak terlalu bagus. Seringkali hanya bermodal tampang dan jumlah fans yang banyak. Paling setara FTV,” ujar mas Raja.

Ada film yang menurut mas Raja gagal mewakili cerita yang sebenarnya. Film “Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk” itu cerita di filmnya jauh berbeda dengan esensi kisah kenyataannya. Sang sutradara gagal menginterprestasikan esensi apa yang seharusnya ditampilkan dalam film itu. Tapi akting para pemerannya cukup baik.”

Film lainnya, ‘Merry Riana (Mimpi Sejuta Dolar)’, yang tokoh Merry-nya diperankan oleh Chelsea Islan. Menurut mas Raja, peran Chelsea di sana kurang cocok dan ceritanya kurang lengkap. Sampai mas Raja mengkritik, bagian mana yang menceritakan tentang seorang Merry mendapatkan sejuta dolar, di film-nya tidak diceritakan secara jelas. Tapi saya suka bagian adegan yang seorang ibu pemain biola itu dititipi cincin untuk Merry. Cincin itu dari pemuda yang bernama Alfa (Dion Wiyoko). Itu sweet banget!

Setelah ngalor ngidul soal isi cerita film, saya penasaran dengan tiga orang utama dibalik pembuatan sebuah film. Satu pertanyaan saya lontarkan lagi, “Mas Raja, bagaimana sih, seorang penulis skrenario bisa menuliskan rentetan kejadian, dialog, dan segala macamnya di skenario? Hal-hal apa saja yang harus dimiliki untuk itu?”

“Sutradara itu harus memilih penulis skenario yang benar-benar jago dalam merepresentasikan sudut pandang mana yang akan ditampilkan ke dalam sebuah film. Penulis skenario harus mengerti apa yang akan divisualkan oleh sang sutradara dan produser pun harus mengetahui apakah konsep film tersebut bisa disukai oleh masyarakat. Jangan sampai pesan-pesan penting dalam film juga menjadi kabur hanya karena sudut pandang penyajian yang kurang bagus.”

Kira-kira begitu jawaban mas Raja.

Saya manggut-manggut, memasang wajah serius dan menerawang apakah suatu hari nanti saya bisa mengenal seorang penulis skenario andal? Saya tanyakan langsung sama mas Raja perihal itu. “Mas Raja, pernah kenal dengan penulis skenario yang bagus?” *modus*

Lalu, saya berpikir, berarti beban seorang penulis skenario itu berat juga, ya? Hhh…saya menulis draft naskah novel satu aja, latihannya berkali-kali, beratus-ratus lembar, belum tentu ditaksir penerbit. ‘Tidak ada hasil tanpa proses’, itu pepatah yang benar banget!

“Sempat sih, kenal selewat aja. Tapi yang saya nilai bagus itu Titien Wattimena.”

Saya sempatkan membuka Wikipedia, saat menulis ini. Tenyata benar, rentetan prestasi telah dimiliki mbak Titien.* Salah satu prestasinya adalah menjadi nominator penulis skenario terbaik film ‘Mengejar Matahari’ (2004). Beliau juga sempat menjadi asisten sutradara di film ‘Laskar Pelangi’.

Lalu, kami jadi membahas soal hubungan antara siapa di balik sebuah film dan siapa pemeran utama, serta hubungan dekat apa yang mereka jalin. Hubungan dekat yang saya maksud adalah saat istri bermain sebagai pemeran film A, eh ternyata memang si suami yang jadi sutradara, atau si aktris anu kok scene-nya lebih banyak ketimbang si pemeran utamanya. Eh, pantas aja, lha wong sutradaranya kakak dari si aktris itu.

Mas Raja juga berpendapat tentang idealism sebuah karya film. Menurutnya, idealis itu boleh saja tetapi harus melihat dan mengikuti pasar juga. Kalau terlalu idealis, filmnya nggak bakalan laku. Hidup juga harus realistis. Semua mengarah pada materi alias money.

Seperti saat membahas beberapa katagori di FF Bandung, mas Raja menyebutkan ada anugrah untuk film import (Eropa dan Amerika). Saya lupa judulnya apa. Dari Eropa cenderung idealis sementara Amerika itu lebih komersil.

Saya setuju dengan itu walau nggak terlalu mengamati secara detil. Film Amerika banyak yang box office, terutama saya sebagai penyuka film animasi. Film garapan negara uncle Sam ini selalu laris manis. Kalau Eropa saya suka dengan latar dan setting-nya, artistik, dan terkesan berkelas seni banget. Isi ceritanya pun lebih elegan dan kemasannya apik.  Mungkin mas Raja lebih tahu judul-judul film yang saya maksud.

Film Indonesia yang bagus secara isi cerita dan penokohannya sejauh ini adalah ‘Filosofi Kopi’, menurut mas Raja. Penulis cerita aslinya sendiri, Dewi Lestari, tidak benar-benar terlibat di proses pembuatan skenario-nya. Sang sutradara berhasil mengambil angle mana yang bagus untuk diangkat ke dalam layar lebar dan esensinya dapat banget, katanya.

Saya sendiri sudah membaca buku kumcer ‘Filosofi Kopi’. Walau belum menonton filmnya, saat tahu pemerannya Chico Jericho dan Rio Dewanto, itu pilihan keren. Mas Raja pun berpendapat sama, mereka chemistry-nya oke banget padahal mungkin belum terlalu sering bermain bareng di film. Tetapi ada hal yang kurang secara riset tentang kopi dalam film tersebut, menurut mas Raja. Setiap karya film itu memang nggak ada yang sempurna tetapi secara keseluruhan, filmnya bagus.

Mas Raja juga menyebutkan “Ayat-ayat Cinta”. Yang ini, saya udah tahu banget. Memang bagus filmnya, dan pemerannya juga cocok, kata mas Raja. Sudut pandang penyajian cerita filmnya hanya mengambil tentang poligami, sedangkan dari novelnya sebenarnya tentang kasih sayang. Tetapi karena sutradara dan penulis skenario berhasil ‘bekerjasama’, sukseslah film itu di mata masyarakat. Walau dalam setiap karya itu pasti menuai kritik juga.

Tetapi satu hal yang saya kutip dari pernyataan mas Raja tentang itu, “Silakan mengkritik, tetapi Anda harus menonton terlebih dahulu film itu. Jangan asal kritik ini itu, menjelekkan dan sebagainya, tetapi Anda belum pernah menyimaknya.”

Saya berpikir, sama halnya dengan dunia perbukuan. Kalau belum pernah baca bukunya, nggak usah mengkritik ini itu, deh. Kalau udah baca, silakan. Setuju nggak, temans? 🙂

Banyak hal yang saya dapat dari obrolan yang hanya satu jam lebih sedikit. Selain tentang personality aktris dan aktor, kami juga membahas penyanyi cewek dan cowok. Hal off the record yang tidak saya tampilkan di tulisan ini, akan saya saring di dalam kepala saya. Bisa saja nanti menjadi ide cerpen atau konsep cerita novel dewasa yang bertema cosmopolitan. Tuh, kan, dari mengobrol itu bisa dapat banyak ide menulis.

Saya selalu menyukai orang-orang yang penuh semangat, penyuka tantangan, dan berkepribadian dinamis seperti mas Raja. Satu kalimat yang saya pegang erat-erat di benak saya, “Rejeki itu sudah ada yang ngatur. Tugas kita hanya menjalani aja, ke arah mana kita berjalan. Hadapi aja apa yang ada, and enjoy it!”

Mas Raja juga menambahkan, “Buat apa mengeluh setiap saat soal pribadi dan pekerjaan, terutama di media sosial. Apalagi soal pekerjaan yang kita geluti, nggak akan barokah jadinya.”

Setuju banget, mas Raja! Saya menilai mas Raja sebagai generasi muda yang aktif dan out of the box. Keep up your way of thinking cause the money will follow. *mudah-mudahan benar grammar-nya*

Hobi kreatif kami berdua sangat tersalurkan melalui Fun Blogging waktu itu. Mas Raja passion-nya memang di dunia hiburan (musik & film Indonesia), saya senang menulis fiksi dan sedang merintis artikel parenting berbahasa Inggris.

Kami berdua ternyata sama suka ikut kuis radio. Biasanya dapat CD music atau produk. Makan di restoran fast food yang 3 huruf itu juga salah satu benefitnya bias dapat CD music Indonesia, kata mas Raja. Saya pun bercerita salah satu penyanyi favorit yang CD-nya didapat dari situ. Pas ngobrolin Marcell, Andien, Vidi Aldiano, Tulus, Agnes Monica, Afgan, Raisa, Isyana Sarasvati, dan beberapa penyanyi lainnya, seru banget! Udah kayak dua penyiar radio lagi on air aja.

Semoga jalinan pertemanan ini bisa terus berlanjut karena memelihara silaturahmi itu mengundang rejeki. Buktinya saat mas Raja bilang, mau pulang ke Sukabumi, katanya nanti insyaAllah mau bawa pisang Cakra (sejenis piscok). Jajanan khas Sukabumi selain Moci. Asyik! *padahal saya nanya duluan sih, soal oleh-oleh khas Sukabumi. Dasar emak-emak, makanan mulu!*

Sebelum kami berpisah, kami sempat berwelfie dulu. Mas Raja pamit mau menonton Kafe Sore (live performance), sponsornya Global Radio FM, dan dimeriahkan oleh Indah Dewi Pertiwi, Cherrybelle, Restina, dan banyak lagi. Sementara saya langsung ngebut pulang, menjemput putri saya di sekolah.

Demikian cerita “kencan” saya bersama mas Raja Lubis. It’s so fun making new friends!

Welfie bersama sang kritikus film Indonesia
Welfie bersama sang kritikus film Indonesia
beautiful songs, my journal

“Review Album CD Marcell – ‘Jadi Milikku'”

 

Cover Album CD Marcell "Jadi Milikku"
Cover Album CD Marcell “Jadi Milikku”

Untuk ke sekian kalinya, saya mendapatkan hadiah CD music dari sebuah restoran cepat saji. Kali ini saya beruntung mendapatkan album CD Marcell, penyanyi pria favorit saya. Sebelum album ini, saya pernah mendapatkan album Platinum Playlist CD-Marcell Siahaan. Saat pertama melihat covernya, keren! Nuansa oren dengan tulisan warna putih Marcell.

Di dalamnya terdapat catatan lirik lagu-lagu yang jumlahnya ada 10 lagu.

01. NASONANG DO HITA NADUA

02. SELALU DI SINI

03. PELUKLAH DIRIKU

04. SEMPURNALAH CINTA

05. BISA KAU PERCAYA

06. ORDINARY WORLD

07. BELAHAN JIWA

08. CINTA MATI

09. JADI MILIKKU

10. MODERN PLACE TO BE

Yang menarik adalah lagu berdurasi sangat pendek di track 01, judulnya “Nasonang Do Hita Nadua”. Perkiraan saya ini lagu berbahasa Batak. Terjemahan lagunya ada di bawah lirik lagu tersebut. Lagu ini mengisahkan tentang kebersamaan pasangan yang akan diingat selalu hingga masa tua nanti.

Lagu di track 04. “Sempurnalah Cinta”, Marcell berduet bersama Andien Aisyah. Liriknya berbunyi seperti ini :

“Kemarin dan esok nanti, kenangan dan harapan

bercahaya di dalam hati

sejuta mimpi menjadi nyata”

“Denganmu,  kasihku. Untukmu, cintaku.”

“Aku bersamamu slalu di sampingmu. Untuk menjadi teman hidup

dan sempurna cinta kita.”

Kemasan di antara catatan lirik lagu-lagu Marcell cukup eye catchy dengan tampilan beberapa pose foto diri Marcell. Yang paling keren adalah pose Marcell sedang melakukan salah satu gaya olahraga beladiri. Mirip kungfu.

Marcell-2

Pose lainnya juga menarik.

Marcell-3

Marcell-4Marcell-5Marcell-6

Secara keseluruhan lagu-lagu Marcell di album ini easy listening. Dari 10 lagu yang ada, saya paling suka “Bisa Kau Percaya”. Penggalan iriknya lumayan bermakna dalam, salah satu bagiannya ini :

“Cintaku bukan di atas kertas yang ditorehkan oleh tinta emas

Biar mereka yang pandai bicara tapi aku yang bisa kau percaya”

 Satu lagu lagi yang membuat saya terbang ke beberapa tahun lalu, rasanya saat itu saya masih remaja. Lagu dari Duran-duran “Ordinary World” sukses memanjakan telinga saya. Seingat saya, kakak saya seringkali memutar lagu itu dulu. Dua-duanya tetap enak didengar. Coba aja. 😉

Lagu-lagu di album CD Marcell ini juga bisa di-download di I-Tunes dan tersedia Ring Back Tone di provider Telkomsel, XL, dan Indosat.

my journal

“Titisan Musician”

the young mommy
the young mommy
Mom, I think can’t stop remembering you…
This note is about you (again)

Ma, ingat nggak, Shane, salah satu personil boyband WestLife yang Mama suka? Malam ini aku mendengar suaranya di radio, lalu aku ingat Mama.

Tadi pagi, aku bertemu nenek dan ngobrol tentang foto-foto hitam putih Mama waktu muda. Hei, Mom, that’s cool! When you’re wearing that dress, your hand holded the microphone, your feet wore high heels, and you’re singing with the band.

Di ruang siaran radio ABA di Tanjung Enim, bersama piringan hitam Elvis Presley, cuap-cuap di depan mic. Aku selalu ingin sepertimu, berada di ruang siaran radio.

Musik adalah bagian dari cerita hidupmu, Ma. Aku juga. Sepertinya aku nggak bisa hidup tanpa musik, apalagi saat menulis, harus selalu ditemani musik.

Ma, tahukah bahwa musik tercipta agar manusia mengerti keindahan alunan nada hati, dan syair lagu yang dilantunkan akan mengalir ke dalam darah hingga berada di dalam siklus alirannya setiap kali bergema memenuhi ruangan, menguasai jiwa dan raga?

Aku bukan penyanyi band sepertimu dulu, aku bukan penyiar radio yang keren sepertimu, tapi menulis itu titisan darimu. Mama pintar ‘kan membuat puisi?

Aku bangga menjadi darah dagingmu yang berlumuran rasa cinta pada seni. Aku menularkannya pada cucumu, dan dia perlahan menjadi sepertimu. Dia mulai menyukai musik angklung, menari, dan menggambar.

Aku dan cucumu adalah titisan makhluk Tuhan pecinta seni. Aku bersyukur karenanya karena tanpa rasa cinta pada seni, hidup akan kering. Sekering saat iman meluruh dan memudar. Aku tetap memertahankan rasa cinta ini hingga usia senja.

beautiful songs, my journal

Between Singer and Writer (about Music Everywhere “Raisa”, 1st June 2013)

Raisa & book (a photo from www.last.fm)
Raisa & book (a photo from www.last.fm)

Malam minggu tadi, aku belum bisa memejamkan mata. Tiba-tiba teringat ada jadwal tayangan acara musik di NET.TV. Aku menyimak acara musik ini karena penyanyi yang tampil adalah penyanyi pemilik suara empuk, Raisa. Penyanyi muda ini cukup menarik perhatian telingaku akhir-akhir ini. Apapun lagu yang dia nyanyikan, enak banget di telinga. Lagu yang paling menyentuh adalah “Firasat”, penyanyi aslinya Marcell.

Melihat tayangan wawancara diselingi lagu-lagu akustik Raisa, terpikir di benakku, bahwa singer and writer itu agak mirip namun sedikit kontradiktif. Profesi Raisa yang seorang penyanyi berawal dari hobinya. Dia jarang ditemani earphone di hari-harinya, namun di kepalanya selalu ada musik. Kesenangan penulis menuangkan kalimat-kalimatnya dari isi kepalanya juga berawal dari hobi, meskipun banyak juga mereka (penulis) mengawalinya bukan dari hobi tapi hanya sebuah ‘kebutuhan’.

Cara Raisa melantunkan berbagai nada dengan suara sedemikian empuk, berharmoni, mirip dengan kalimat-kalimat yang dituangkan seorang penulis ke halaman kertas di hadapannya. Raisa terlihat sesekali memejamkan mata saat bernyanyi, penulis pun terkadang demikian. Mata yang terpejam seolah membuat soul lebih dalam hingga merasuk ke dalam syair atau kata-kata yang ada.

Raisa merasa puas setelah meng-upload video lagu-lagunya dengan aliran yang sesuai dengan idealismenya ke YouTube. Penulis pun, khususnya blogger, merasa puas setelah memosting tulisannya di blog mereka. Keduanya merupakan bentuk kepuasan atas apresiasi dan aktualisasi diri sesuai dengan passion masing-masing.

Jika Raisa suka membaca banyak buku, penulis juga begitu. Selain sebagai kesenangan, membaca mampu membuat imajinasi yang luar biasa. Seperti kata Raisa, “Membaca itu enak. Nggak seperti nonton film, imajinasi kita dibatasi hanya dengan apa yang kita lihat. Tapi kalo membaca buku, itu lain. Imajinasi kita bisa liar, sebebas apa yang kita rasakan dan bayangkan di setiap kata yang kita baca di buku itu.”

Budaya membaca tanpa disadari ditularkan dari Ayahnya, karena Raisa selalu bertanya tentang kalimat atau kata yang dia tidak mengerti pada Ayahnya. Namun Raisa selalu “dipaksa” untuk mencari kata tersebut di buku-buku yang ditunjukkan Ayahnya. Menurutku, penyanyi yang suka membaca itu ‘sexy’. Bukan sekedar soal penampilan yang feminin, tapi cara berpikir seseorang yang suka membaca itu akan berbeda dengan mereka yang tidak suka membaca.

Bagi penulis pun sama, budaya membaca itu harus “dipaksakan” demi kekayaan ilmu dan bahasa yang akan mereka tuangkan di setiap karyanya. Terkadang, para penulis juga memiliki “perpustakaan berjalan”. Ada banyak hal yang bisa ditemukan di manapun, lalu dipahami sebagai sebentuk kalimat atau bahasa hati, yang kemudian nanti menjadi ide untuk dituangkan ke dalam tulisan.

Soal cinta, Raisa baru merasakan jatuh cinta saat kelas 2 SMP. Hei! Give me five! Me and you are the same about this first love. Raisa bilang, “Sebenarnya cinta itu universal. Kita bisa cinta dengan apa saja. Kucing, benda, atau apapun. Mungkin 10 tahun lagi, Raisa akan bisa menjelaskan apa makna cinta yang sesungguhnya.”

Raisa menyukai Eropean things, karena Eropa itu terkesan suasana kreatif. Me too, I like England. I’m dreaming to go there. Raisa bilang, kalau pribadinya diidentikan dalam satu kata, COLORFULL. Dia bisa lembut, tapi bisa juga tegas. Dia bisa manis, tapi bisa juga galak. Segala hal itu memang harus dinamis menurutku, tak hanya soal kepribadian. Dinamis itu memancing diri kita untuk enerjik.
Singer ; menyampaikan bahasa jiwanya melalui syair-syair lagu, berada di panggung / menjadi pusat perhatian.
Writer ; menyampaikan bahasa jiwanya melalui tulisan kata-kata dalam karya tulisannya, berada di “balik layar”.

Tak ada yang lebih baik dari kedua profesi ini, namun “bahasa jiwa” mereka mampu membawa kebaikan bagi penikmat karya-karyanya. Jika pada akhirnya Raisa memiliki banyak penggemar, itu soal selera masyarakat. Begitu pula dengan sebuah buku/ karya yang dihasilkan seorang penulis. Jika menjadi Best Seller, itu bisa berarti disukai banyak orang, sekedar beruntung karena trend, atau bisa juga karena penulis telah mendapat tempat spesial di hati para pembacanya.

I enjoy writing while listening to your songs, Raisa… 
I think, I’ll get some new ideas from your songs. Thanks to these songs by Raisa
: “Could it be love”, “Firasat”, “Use Somebody”, “Apalah arti menunggu?”, “Inginku”.