Resensi

Review Novel “Walking After You”

Sampul depan novel
Sampul depan novel “Walking After You” (foto: dokumen pribadi IG: @betakun)

Judul               : Walking After You

Penulis            : Windry Ramadhina

Penerbit           : Gagas Media

Cetakan           : Kedua, 2015.

Tebal               : 320 Halaman

ISBN                 : 979-780-772-X

Genre              : Romance (Young Adult) ; Fiksi Kuliner

Harga              : Rp 50,000

Ini novel kuliner kedua yang saya baca. Sebelumnya saya pernah membaca beberapa cerpen kuliner juga. Saat pertama melihat sampul depannya yang bergambar kue macaron biru, saya pikir ini novel romance biasa. Ternyata macaron ini adalah salah satu pemikat isi cerita dalam novel ini.

Sang penulis menyajikan prolog dengan cantik. Saya sebagai pembaca merasa terhanyut ke dalam adegan-adegan di sana. Penggambaran suasana yang tampak jelas membuat pembaca merasa nyata melihat ke dalam cerita hingga menjadi penasaran dengan bab berikutnya.

Benar saja, bab berikutnya semakin kece. Emosi dari dialog dan deskripsi suasana sangat terasa. Saya mengutip beberapa diksi sebagai bahan referensi dalam menulis penggambaran suasana hingga menimbulkan kesan dramatis. Ini salah satunya di halaman 24 :

“Hujan menutup matahari dengan gumpalan-gumpalan awan kelabu yang bergelayut berat, mengubah langit biru yang ceria menjadi muram. Hujan menyapu titik-titik bintang, juga memberi udara dingin, membasahi tanah hingga becek, dan menyebabkan sepatu mahal berbahan beledu bebercak coklat. Hujan menghentikan berbagai acara menyenangkan di ruang terbuka – festival, piknik, kencan.”

Beberapa item yang memikat di novel ini di antaranya :

  1. Dekorasi kamar Arlet.
  2. Masakan khas Italia (pasta).
  3. Cokelat.
  4. Tiramisu.
  5. Cokelat Truffle.
  6. Macaron.
  7. Bruschetta.
  8. Souffle Cokelat.
  9. Perempuan pengunjung toko kue ‘sang pembawa hujan’ bernama Ayu.
  10. Rum.
  11. Skuter cokelat kopi (Vespa matic)

Banyak adegan yang membuat saya terhanyut, terutama saat Anise dan Julian mengobrol berdua, berdebat, lalu suasana panas berubah menjadi romantis dan indah. Salah satunya di halaman 140-144, saat Anise menelepon Julian dan mengobrol lama hingga Julian tertidur.

| Dan, ya, Julian menghadiahi aku sekotak cokelat. Truffle. Gula-gula cokelat berisi garnache – campuran cokelat – yang mengandung rum. Permukaannya dibaluri kakao pahit sebagai penawar rasa manis. | 

Adegan termanis adalah saat Anise mendapatkan kado dari Julian.

“Hanya punggungnya yang sempat tertangkap oleh mataku – serta aroma apel bercampur sage, dan mint yang samar, tercium di antara Wangi vanili. Aroma yang diam-diam kurindukan.” (halaman 200.)

kutipan kalimat tentang 'Hujan' di dalam cerita novel ini. (foto : dokumen pribadi)
kutipan kalimat tentang ‘Hujan’ di dalam cerita novel ini. (foto : dokumen pribadi)

Secara keseluruhan, cerita dalam novel ini dikemas menarik. Bukan hanya sekadar cerita tentang anak perempuan kembar (Arlet dan Anise) yang manis saat mereka kecil tetapi konflik yang pelik di antara keduanya saat dewasa.

Sampul belakang novel (foto : dokumen pribadi, buku milik Dyah Prameswarie)
Sampul belakang novel (foto : dokumen pribadi, buku milik Dyah Prameswarie)

Penulis berhasil memainkan perasaan pembaca dengan alur maju-mundur hingga betah membacanya sampai akhir bab. Epilog di halaman akhir novel ini tetap membuat saya penasaran dengan kelanjutan hubungan Anise ‘si koki masakan Italia’ dan Julian ‘si koki kue’. This novel is highly recommended! :*

my journal, Resensi

Review Novel “Pre Wedding Rush”

Foto cover taken from goodreads.com
Foto cover taken from goodreads.com
  • Judul            : Pre Wedding Rush
  • Penulis         : Okke ‘Sepatu Merah’
  • Cetakan        : I, Desember 2013
  • Penerbit        : Stiletto Book, Yogyakarta.
  • Tebal            : 204 Halaman
  • Genre           : Romance Dewasa

Kesan pertama yang ada di benak saya saat membaca judul novel ini adalah persiapan pernikahan yang terburu-buru. Sampulnya didominasi warna merah dan merah muda, ilustrasi mirip batik dengan gambar perempuan bergaun pengantin putih diapit oleh dua orang laki-laki. Sebuah quote dari Dave Meurer di halaman pembuka tertera “A great marriage is not when ‘perfect couple’ comes together. It is when an imperfect couple learns to enjoy the differences.”

Bab pertama dibuka dengan suasana di sebuah toko kue kuno “Sumber Hidangan” (Snoephuis) di kawasan jalan Braga, Bandung. Tempat ini memberi kesan manis dan penuh kenangan. Penulis berhasil menyajikannya dengan menarik karena paduan lompatan-lompatan dialog yang dibangun pada tokoh utama, Menina Putri Amanda, dengan Lanang Andreadi Kusumo (mantan pacar Menina). Julukan ‘Femme Metale’ bagi Menina dan ‘Chaos Seeker’ bagi Lanang sangat mewakili karakter mereka.

Konflik di dalam novel ini cukup beragam. Selain dari tokoh utama, Menina dan Dewo (calon suami Menina), hal yang berhasil membuat saya penasaran untuk terus membaca bab berikutnya adalah petualangan Lanang bersama Menina, serta intrik yang terjadi antara Lanang dan Ayako. Shocking chapter juga hadir di salah satu bab berjudul “5.9”. Di bab ini, setiap adegannya lumayan menguras emosi pembaca. Bab lain juga menghadirkan obrolan Menina dan Agnes, sahabatnya, yang menjadi warna tersendiri dalam novel ini.

Saya menemukan tampilan font yang terlihat lebih kecil dibandingkan yang lainnya di halaman 90 dan 114. Namun hal itu tak mengurangi alur cerita. Bahasa yang digunakan ringan dan santai, alur ceritanya cukup nyaman untuk dipahami. Bagian yang paling saya sukai adalah suasana desa tempat Rumah Mitra Muda, semacam sanggar kreatif milik Sigit dan Ayako (teman Lanang), di Yogyakarta.

Sampai di akhir cerita, dugaan saya ternyata salah tentang laki-laki pilihan Menina. Siapakah yang Menina pilih? Lanang atau Dewo? Silakan simak sendiri ceritanya di novel ini.

Saya mengambil satu pemahaman dari cerita dalam novel ini, bahwa siapapun tak bisa lepas dari kenangan cinta masa lalu. Hidup harus berjalan ke depan dan berpikir bahwa kenyataan di depan lebih membutuhkan ketulusan hati yang luas agar bisa menerima dan memahami makna cinta dalam pernikahan.

Novel ini tersedia di toko buku utama di kotamu atau bisa dibeli di sini : http://www.stilettobook.com/index.php?page=buku&id=40
This book is recommended for you, pre wedding galauers! Happy reading! 🙂

Oh iya, kalau boleh saya memilih jenis sepatu untuk para tokoh dalam novel ini, pilihan saya adalah :

–        Menina    : Sneakers

–        Lanang    : Leather Boots

–        Dewo       : Pantofel

–        Agnes      : High heels

–        Sigit         : Kanvas shoes

–        Ayako      : Flat shoes