sejenis cerita pendek

“Kereta Senja”

Railway

Ingin sekali ku berteriak, “Mama, aku akan merindukanmu!” saat kereta ini melaju meninggalkan stasiun Bandung.

Tak ada sejumput pun raut sedih Mama. Seulas senyum darinya membuatku tegar. Seperti jalur rel baja ini yang beribu kali tergesek oleh rodanya.

Buku filsafat yang kubawa menjadi teman dalam perjalanan menuju kota Pahlawan.

“Saya takut kalau baca yang begitu,bikin kening berkerut,” celetuk laki-laki gondrong bertubuh kurus yang tak kusadari telah duduk di sebelahku.

Aku hanya tersenyum.

“Suka ya, baca yang begitu?” tanyanya lagi.

“Nggak juga.”

“Kalau saya lebih suka baca yang ringan tapi meninggalkan kesan.”

“Oh…” Aku mengangguk dan kembali menekuri halaman buku. Namun si gondrong masih ingin mengobrol.

“Turun di mana?”

“Surabaya Gubeng.”

“Oh…”

Hening.

Mataku mulai perih, lalu aku terlelap. Cukup lama. Di stasiun Tugu aku terbangun. Si gondrong sudah lenyap. Aku belum tahu namanya. Tapi aku tak peduli di mana dia turun. Kami berdua hanya orang asing seperti kereta yang berganti disinggahi.

 

 

my journal, Rumah Kayu

“Tentang Perjalanan”

captured by Sony XPERIA Tipo Dual
captured by Sony XPERIA Tipo Dual
Ketika kita menundukkan kepala, memerhatikan langkah kita, jejak kaki di pasir, lalu menendang beberapa kerikil di sana, pikiran kita sibuk memikirkan apa yang akan kita lakukan di perjalanan ini. Terlebih jika perjalanan yang kita lalui sangat membosankan bahkan terasa hampa.

Sesaat mungkin kita akan beristirahat, melepas kepenatan dalam perjalanan. Jalanan yang berkelok dan berliku, serta panas yang mendera, terkadang menjadi hal-hal yang kita anggap kutukan kala itu. Namun saat hati sedang dipenuhi kesadaran, kita akan berbesar hati menemui kerikil-kerikil di sepanjang perjalanan. Apa yang kita hadapi menjadi pelajaran hidup yang tak akan terganti.

Setiap tahap perjalanan menjadikan diri kita satu tahap lebih tinggi jika kita mampu mensyukuri dan menyadari bahwa perjalanan hidup ini penuh misteri. Tak ada yang tahu apakah kita akan bahagia dan sejahtera, atau terus menerus didera perasaan bersalah, serta merutuki diri karena merasa hidup ini terasa sulit dan melelahkan.
Ketika kita memandang langit nan luas dan biru, seharusnya kita menyadari bahwa di atas langit ada ‘sesuatu’ yang mampu membuat jiwa kita semakin kuat jika kita beriman pada-Nya. Introspeksi diri dan pengharapan penuh pada cita-cita dalam perjalanan kita adalah dua hal yang seharusnya kita lakukan. Tanpa itu, kita tak akan memiliki kesungguhan dalam melangkah. Rasakan saja setiap jalan yang kita lalui dan pahami makna di balik setiap peristiwa yang kita alami. Semuanya terjadi bukan tanpa alasan karena manusia hidup senantiasa memiliki jalur perjalanan sendiri-sendiri. Namun jalan mana yang kita pilih, itu adalah urusan hati kecil dan Yang Maha Kuasa. Semakin mantap hati kita melangkah ke arah yang lebih baik, maka Yang Maha Kuasa akan senantiasa menyertai kita.

Peringatan-peringatan dari-Nya pada kita adalah tanda bahaya hingga kita bisa selamat sampai tujuan perjalanan kita. Waktu akan terasa cepat berlalu jika dalam perjalanan hati kita merasa senang dan berusaha menyenangkan diri walau tidak ada hal yang membahagiakan. Kenikmatan hidup adalah kenikmatan beribadah jika kita sadar apa makna hidup kita di dunia. Kesenangan sesaat adalah ujian bagi kita karena perjalanan tak berhenti di dalam kesenangan itu. Keimanan adalah kunci utama sebelum menentukan langkah dalam perjalanan hidup.

Perjalanan kita akan habis dimakan waktu tetapi gerbang akhir yang akan kita temui nanti menjanjikan perjalanan ke tahap yang jauh lebih bermakna keabadian.