catatan ramadan, my journal

“Talkshow Menulis (Bagaimana Menjadi Penulis Buku Best Seller) bersama Helvy Tiana Rosa”

helvy3-rehelvy 2-rehelvy 1-re

Bandung, 14 Juli 2013, pukul 13.00-15.00 wib, Metro Indah Mall, Bandung.

Siang yang cukup cerah bagi saya, putri saya, dan seorang teman untuk hadir mengikuti acara Talkshow Menulis dengan narasumber Bunda Helvy Tiana Rosa dengan moderator Mas Ali Muakhir. Saya masih ingat dulu pernah membaca novel Teenlit karya beliau berjudul “Valentine Blues”. Karya selanjutnya saya belum banyak membacanya, tapi terakhir saya tahu ada novelnya berjudul “Ketika Mas Gagah Pergi”. Saya belum membelinya, hanya menyimak timeline Twitter dan beberapa info dari teman tentang karya beliau.

Sampai pada sebuah kesempatan emas menghadiri acara Talkshow ini di Metro Indah Mall Bandung, saya merasa mendapatkan ‘hadiah’ dan ‘hidayah’. Mungkin karena momen Ramadan membuat saya merasa segala hal itu penuh berkah berlimpah. Hadiah apa yang saya dapatkan dari sana? Sharing ilmu dari beliau, segudang pengalaman perjalanan menulis yang beberapa penggalan beliau ungkapkan, seperti menulis puisi, berjualan buku langsung di bus, menjalani bisnis pribadi, dan profesi beliau sebagai dosen.
Ada beberapa hal yang sempat saya catat secara singkat mengenai materi yang disampaikan oleh bunda Helvy.
1. Makna “Best Seller” itu apa?
– Apakah karena isi ceritanya lalu buku tersebut laris?
– Apakah karena sengaja dipajang di rak Best Seller padahal isi bukunya belum tentu menarik?
– Apakah karena buku tersebut banyak dicari orang sehingga tetap dipajang di toko buku dan menjadi Best Seller?
– Apakah karena tren tema isi buku itu sendiri sehingga banyak orang menyukai buku tersebut?

Bunda Helvy memaparkan beberapa literatur yang menjadi awal mengapa buku itu menjadi Best Seller bahkan dicetak hingga kini, dan beberapa kali dibuat film.
Mulai dari sebuah peristiwa sejarah , beberapa issue politik dan perbudakan bisa menjadikan sebuah buku yang dapat mengubah keadaan zaman. Salah satunya adalah buku yang berjudul “Oliver Twist” karya Charles Dickens, dipublikasikan tahun 1839. Buku ini mengisahkan seorang anak yatim piatu bernama Oliver yang tinggal di Inggris tahun 1830an. Isi kisah dalam buku ini mengangkat tema kemiskinan, kekerasan, dan kelas sosial di masa revolusi Inggris.

Buku lain yang disebutkan Bunda Helvy adalah ‘Totto-Chan : Gadis Cilik di Jendela’ karya Tetsuko Kuronayagi diterbitkan tahun 1981 dan menjadi Best Seller di Jepang, ‘The Davinci code’ karya Dan Brown (penulis Amerika) diterbitkan tahun 2003 dan diterjemahkan ke dalam 44 bahasa termasuk bahasa Indonesia , ‘Moby Dick’ karya Herman Melville (penulis asal Amerika Serikat) ,merupakan salah satu novel klasik dunia . Semua buku tersebut mampu menginspirasi pembaca dan mengubah keadaan pada masa itu.

Bahkan buku puisi sekalipun, dapat mengubah keputusan seorang petinggi pemerintahan pada masanya. Seperti yang dikatakan oleh Presiden Kennedy, “Jika politik bengkok, maka puisi akan meluruskannya.”
Tokoh terkenal lain yang menyukai karya sastra adalah Steve Jobs. Ia sangat terinspirasi dengan kalimat Dylan Thomas penulis puisi“Do not go gentle into that goodnight” tahun 1951. Kalimat ini memiliki pemahaman tersendiri bagi Steve Jobs hingga menjadi inspirasi dalam melangkah di perjalanan hidupnya.
Bunda Helvy menyampaikan bahwa tidak semua penulis buku seberuntung Andrea Hirata atau Dewi Lestari.

Lalu bagaimana supaya buku yang kita tulis bisa menjadi Best Seller? Menurut Bunda Helvy, tidak ada rumusan yang pasti tentang itu. Namun ada hal-hal yang bisa kita pelajari selama proses latihan, saat menulis sebuah buku, antara lain :
– Menulis buruk; menulis sesuai dengan kemampuan awal kita sebagai penulis pemula.
– Setelah menulis buruk, kita bisa tahu dimana kesalahan kita dalam menulis, tentu saja setelah meminta pendapat orang lain (pembaca) tentang tulisan kita.
– Saat proses menulis, tempatkan diri kita sebagai penulis dan pembaca naskah kita.
– Banyaklah membaca beberapa buku Best Seller pilihan dan melegenda hingga kita mengetahui apa yang menjadikannya melegenda hingga masa kini.
– Tulislah buku yang ingin sekali kita baca tetapi tidak tersedia di toko buku.
– Buatlah judul yang menarik dan unik yang membuat orang tidak sulit berpikir saat membaca judul buku itu.
– Fokus dan konsisten dengan gaya bahasa serta tentukan genre apa yang mau kita tulis dan usahakan agar tema yang kita angkat dapat menginspirasi pembaca.
– Cari konsep buku seperti apa yang menarik minat pembaca pada saat itu.
– Berjanjilah pada diri sendiri setidaknya menulis satu buah buku sebelum kita meninggal. Bagian ini yang paling membuat saya termotivasi karena bunda Helvy mengajak seluruh peserta Talkshow yang hadir di sana untuk mengangkat tangan dan mengajak berjanji dengan sungguh-sungguh.

2. Hidayah yang saya dapatkan adalah penulis dengan segudang pengalaman seperti Bunda Helvy saja mengalami perjalanan dan perjuangan yang luar biasa sulit, dibandingkan kita sebagai penulis pemula yang kini dimanjakan dengan segala kemudahan koneksi dengan penerbit di jejaring sosial, yang belum seberapa. Bunda Helvy mendorong semangat para pemula seperti saya dan para peserta yang hadir untuk mencoba berani mengirimkan karyanya ke penerbit. Jangan mengaku penulis kalau karya kita hanya kita simpan dalam memori laptop. Publikasikan apa yang kita miliki, tentu saja setelah mengalami proses tahapan pembelajaran yang konsisten dan tidak mudah menyerah.
Beberapa pertanyaan yang diajukan oleh beberapa orang peserta kurang lebih sama dengan apa yang pernah saya tanyakan pada teman-teman penulis yang telah berpengalaman.

Saya menyimpulkan bahwa profesi apapun yang kita jalani, sangat bisa untuk menjadi seorang penulis. Menulis membuat kita tetap terpeliharanya ingatan kita bahkan panjang umur. Walau diri dan jasad kita sudah tiada suatu saat, buku hasil karya kita akan tetap dinikmati oleh anak atau cucu kita di generasi mendatang. Betapa bahagianya jika suatu hari buku kita ada di deretan rak buku perpustakaan walau covernya sudah usang.

Buku yang kita tulisan adalah salah satu bentuk rekaman jejak kita di dunia hingga semasa hidup bisa menjadi ‘alarm’ bagi diri kita sendiri agar mampu menjadi seseorang yang lebih baik lagi hingga bukan tidak mungkin mampu menginspirasi pembaca.

Sesi akhir Talkshow, saya membaca pulang sebuah buku kumpulan puisi yang ditandatangani oleh bunda Helvy Tiana Rosa. Saya memilih buku puisi karena puisi adalah bentuk kalimat jiwa dari sang penulis tentang sebenar-benarnya seorang pribadi Helvy Tiasa Rosa. Mungkin suatu hari bisa benar-benar terwujud kalimat “puisi mampu mengubah dunia.”

catatan ramadan

“Ramadan 33”

a Birthday Gift from My Daughter
a Birthday Gift from My Daughter

Saya mengucap alhamdulillah berkali-kali dalam hati, sejak bangun tadi pagi. Alhamdulillah, masih diberi kesempatan umur panjang. Hari ke sembilan di bulan Juli ini, saya sangat merasa bahagia ketika suami dan putri saya mengucapkan selamat ulang tahun, dan doa dari mereka untuk saya.

Dua hari lalu, saya begitu sensitif saat mendengar dua lagu yang pernah alm. Mama sukai dari radio. Saya merasa suasana ramadan ini sangat berbeda, karena tak ada lagi Mama yang minta dibuatkan kolak, atau minta dibelikan kerudung. Hal yang paling membuat saya sedih adalah lagu yang saya dengar, mengingatkan sebuah momen saat saya memberikan kaset album ‘Forever Young’ untuk Mama dulu. Ya Allah, semoga Engkau mendamaikan beliau di sana. Saya tak sanggup menahan airmata, saat sedang mengetik. Saya rindu padanya, Ya Allah…

Ramadan tanpa Mama rasanya… ah, entahlah rasa apa ini namanya. Saya hanya mampu mengucap doa untuknya dan berjanji besok pagi akan berkunjung ke pusaranya. Mom, you’re the best thing I’ve ever had in my life… I miss your voice…Hal-hal lain yang membuat saya bahagia adalah ucapan selamat yang begitu banyak dari beberapa teman lama, teman facebook, bahkan penyiar favorit ‘the botax’, semuanya mendapat tempat di ruang hati saya. Inikah salah satu kenikmatan hidup? Menyambut ramadan dengan suka cita, dan semuanya serba terlalu bersamaan. Saya tidak membuat cake atau makanan yang spesial, tapi hari ini saya merasakan banyak hal spesial di denyut jantung saya. Semoga ini adalah berkah ramadan, semoga ini doa bagi kebaikan.

Rasanya sudah terlalu banyak bahagia yang saya dapatkan, terutama dari suami saya. Dia begitu mencintai saya, sekalipun saya kadang-kadang masih childish, dan dia tetap menerima saya. Putri saya dengan segala tingkah polah lucunya, mengucapkan selamat ulang tahun masih dengan baju tidurnya, lalu pelukan darinya membuat sekujur tubuh ini menghangat. Saya mendapat kehangatan setiap hari dari mereka berdua.

Awal ramadan ini, saya seolah dihadapkan pada situasi yang serba ‘mengetuk’ jiwa. Usia bertambah satu digit, keharuan bertambah, dan kata suami saya, kecantikannya bertambah. Ehem!Setiap orang memiliki makna ramadan sendiri-sendiri, namun saya hanya mampu memaknainya sebagai awal dari usia rawan. Rawan untuk tergoda menjadi childish, rawan untuk terpancing menjadi pemarah lagi, rawan untuk boros lagi, dan masih banyak kerawanan lainnya. Ramadan akan penuh godaan, tetapi bagaimana saya berusaha untuk melawan godaan dengan keimanan dan keikhlasan akan mendapatkan ‘hadiah’ hingga terbit harapan menjadi ‘jutawan’.

Happy 33, happy for the sensitivity, and enjoying the art of being “beauty”.
Seorang teman bilang, “Ageing does not mean you are getting old but it’s a sign of maturity in mind & more delectable.”
Subhanallah… hatiku membiru.

9 Juli 2013, 21.20 WIB