sejenis cerita pendek

“This Way to The Wedding (Part 2)”

 a photo from andersongreenevents.blogspot.com
a photo from andersongreenevents.blogspot.com

Ranto sedang memikirkan kalimat apa yang akan dia sampaikan pada Ranti. Sebentar lagi pernikahan akan digelar, namun dia merasa harus menyudahi hubungannya dengan Ranti. Ranto melangkah ke sana ke mari dengan tuxedo hijau toscanya di ruang kamar kosnya. Semua penjuru kamar kosnya yang bernuansa putih abu telah dia telusuri seiring pikirannya membayangkan bagaimana reaksi Ranti nanti. Dia takut menyakiti hati Ranti. Tapi di sisi lain hatinya, dia sangat menyayangi Ranti. Tidak untuk menjadi teman hidup selama-lamanya.
Tut… tuuut… tuuut….
Nada sambung di handphone Ranto membuatnya gundah. Dia menelepon sahabatnya, Yogi. “Halo To, ada apa? Gue masih di jalan nih… macet.” Jawab Yogi setelah menyentuh answer di layar Blackberrynya.
“Ya, nggak apa-apa. Kayaknya gue nggak jadi nikah sama Ranti.”
“Hah?! Gila lo, ya!” Yogi sontak kaget. Selama ini dia melihat Ranto dan Ranti itu seperti pasangan yang tak akan pernah terpisahkan. Rencana pernikahan mereka telah dirancang sejak lama hingga pernikahannya benar-benar bisa diwujudkan di sebuah taman yang mereka berdua idamkan.
“Terus Ranti gimana, To? Dia pasti bakalan sakit hati kalo lo bilang nggak jadi nikah.”
“Gimana lagi, Gi? Gue nggak yakin sama apa yang gue putusin. Gue sayang dia tapi tidak untuk menikah sama dia. Gue …”
“Kenapa sih lo, To? Kurang baik dan cantik apa coba Ranti? Masa elo sia-siakan begitu aja. Terus duit bokap lo udah berapa yang keluar buat pesta pernikahan lo?” Tanda tanya besar hadir di kepala Yogi. Sahabatnya telah menjalin cinta selama lima tahun dengan Ranti. Dia malah akan merusak hari istimewa yang telah dia dan Ranti rencanakan.
“Uang banyak itu bisa gue nanti, gue bisa kerja sambilan.”
“Gi, Ranti itu ternyata saudara kembar gue.”
“Apa?! Kembar? Bukannya elo anak tunggal keluarga Hendrawan? Kok tiba-tiba kembar?” Yogi semakin bingung dibuatnya.
Ranto melepas dasi kupu-kupu biru mudanya, lalu terduduk di kursi kayu di kamar kosnya. “Gue juga baru tahu tadi malam, Gi. Bokap gue cerita semuanya. Gue susah tidur mikirin gimana caranya menyampaikan ini ke Ranti. Apa dia tahu atau nggak, gue bingung banget.”
“Elo di mana sekarang?”
“Masih di kosan.”
“Terus, mau nemuin Ranti kan walau pernikahannya nggak jadi digelar?”
“Iya, Gi. Harus.”
“Ya, udah cepetan. Tunggu gue di depan kosan lo. Sebentar lagi gue nyampe situ, ya?”
“Oke. Thanks ya, Gi.”
No problem.” Setelah menutup koneksi telepon genggam, dia memasukkan Blackberry ke saku jas birunya.
Yogi lega setelah kemacetan dekat pertigaan tadi terurai. Dia menancap gas. Sementara Ranto masih khawatir dengan apa yang akan dilakukannya, sambil memegang cincin pernikahannya di sebuah kotak velvet hitam. Dibukanya kotak itu perlahan. Dia menekuri setiap kilauan cincin berbahan titanium berhiaskan batu emerald hijau yang indah di kedua cincin itu. Yogi akan bertugas membawa kotak cincin itu nanti.
Kilasan-kilasan peristiwa indah bersama Ranti bergantian muncul dalam ingatannya. Pertama kali bertemu di perpustkaan kampus, makan berdua di kantin kampus, jogging bersama setiap minggu pagi, hunting foto bareng sambil bersepeda, mengikuti acara bakti sosial, mendesain kaos sablon couple, dan banyak moment telah menghiasi perjalanan cinta mereka.
Semuanya seakan menjadi scene film yang sambung menyambung, entah happy ending atau tidak di akhir ceritanya. Ranto tak begitu yakin, Ranti mampu menerima keputusannya. Dari lubuk hati Ranto, dia sesuangguhnya merasa berat jika harus mengubah rasa yang cinta yang begitu besar sebagai kekasih menjadi sebentuk kasih sayang sebagai adik. Dia pun sangat menyesal kenapa Papanya sampai harus berpisah dengan Mama Venny. Namun dia tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Dia yakin, Papanya memiliki alasan kuat mengapa perpisahan ini terjadi.
Suara klakson mobil Volkswagen merah milik Yogi membuyarkan pikiran Ranto. Dia segera memasukkan wadah cincin itu dan gelang masa kecilnya ke saku celana tuxedonya, lalu setengah berlari menghampiri Yogi.
“Ayo cepetan,To! Lima menit lagi nih…” Yogi mengingatkan moment penting Ranto akan dimulai. Ranto membuka pintu kiri mobil Yogi dan segera masuk.
“Gimana dengan cincinnya?” Yogi memastikan tugasnya membawa cincin pernikahan Ranto jadi dilakukan atau tidak.
“Cincinnya sudah siap, Gi. Tapi… gue merasa nggak siap untuk mengatakan yang sebenarnya sama Ranti. Cincin ini nggak ada artinya lagi. Mungkin hanya akan menjadi hadiah biasa buat Ranti dan gue.” Ranto merogoh sakunya, kotak cincinnya dia perhatikan baik-baik namun pikiran dan hatinya tak begitu baik. Dia menyesali perasaan yang dia miliki pada Ranti. Perlu usaha keras mengubah rasa cintanya pada Ranti menjadi sebuah rasa sayang pada saudara perempuan saja.
“Bokap lo gimana? Jadi datang?” Yogi memastikan Ayah Ranto hadir.
“Bokap gue entahlah, dia datang atau nggak. Kemarin masih di Jakarta.”
“Terus dia tahu kalo Ranti itu anaknya juga?”
“Bokap tahu setelah gue cerita bahwa Ranti anak seorang desainer. Saat gue menyebut nama Venny Jillian, bokap gue kaget. Dia kenal nama itu.”
“Jadi elo selama ini nggak tahu Nyokap lo itu siapa?”
“Gue hanya tahu fotonya, itupun fotonya saat muda dulu. Bokap gue cerita, pernikahan dia dengan Venny nggak berlangsung lama. Pertengkaran mereka berdua membuat gue dan Ranti juga dipisahkan. Bokap gue membawa gue pergi, dan Ranti dibawa Venny.”
“Kira-kira Ranty sudah tahu atau belum tentang ini?”
“Gue nggak tahu soal itu. Makanya gue harus menjelaskan ini sama Ranti.”
Mobil Yogi melaju perlahan menuju kebun Cengkeh. Mereka melanjutkan perbincangan sambil Yogi menyetir.
“Elo telepon bokap lo deh, To.” Yogi ikut merasa khawatir terhadap kemungkinan yang terjadi.
“Oke, Gi. Gue telepon sekarang.” Ranto mengambil handphonenya dari saku kiri celana tuxedonya. Dia membuka menyentuh nomor 1 di virtual keypad handphonenya sebagai pilihan nama PAPA. Call… “Halo, To.” Terdengar suara berat Papa Ranto di seberang.
“Pa, jadi hadir kan?” Ranto bernada khawatir.
“Iya. Papa masih di jalan. Nanti Papa langsung ke kebun Cengkeh.”
“Oke Pa, hati-hati di jalan.”
“Ya.” Papa Ranto menutup koneksi handphone. Dia kembali fokus pada kemudia namun pikiran dan hatinya mulai sibuk, menyiapkan segala kemungkinan saat bertemu Venny di tempat acara pernikahan Ranto. Pertengkaran itu masih terekam jelas dalam benak Hendrawan. Venny menganggap Hendrawan tak mampu menafkahinya dengan baik. Venny pada akhirnya tak terlalu berharap banyak untuk kelangsungan hidupnya dari seorang seniman seperti Hendrawan. Idealisme Hendrawan menjadi seniman tidak mampu meyakinkan Venny. Sementara Hendrawan merasa Venny dikuasai egonya sendiri dalam mengejar mimpinya menjadi desainer terkenal. Dia mengalah dan memilih bercerai. Pengadilan memutuskan pengasuhan Ranti dan Ranto kepada Venny dan Hendrawan. Mereka memutuskan membawa masing-masing satu orang anak kembarnya.
Toyota Altis hitam melaju menuju jalan Ciumbuleuit. Hendrawan harus siap dengan apapun yang akan dia hadapi di pernikahan anaknya. Dia sampai di gerbang masuk Bumi Sangkuriang lalu memarkirkan mobilnya di sebelah Honda All New Civic Maroon. Dia terdiam sejenak di dalam mobil sambil membenahi dasi abu-abunya. Dia memandang ke luar jendela kaca sebelah kanan. Di luar jendela terlihat mobil Volkswagen merah baru saja masuk. Sosok Ranto keluar dari sana disusul Yogi. Hendrawan segera keluar dari mobil dan memanggil Ranto.
“To!” Dia melambaikan tangan pada Ranto.
“Hei, Pa.” Ranto mendekat dan memeluk Papanya. Yogi menyalami Hendrawan.
“Gimana, Pa? Sudah rapi belum stelanku?” Ranto memamerkan gigi putihnya dan berputar memikat Papanya agar memuji kegantengannya.
“Ganteng banget anak Papa.” Hendrawan menepuk pundak putranya, bangga.
“Tapi Pa, ada yang mau aku bilang sama Ranti.”
“Ya sudah. Kamu bilang baik-baik. Mudah-mudahan dia mengerti.” Papanya sudah mengetahui maksud Ranto.
“Nanti Papa mau bilang apa sama Mama Venny?” Ranto menginginkan Papanya melakukan hal yang sama. Sebuah pengakuan dan permintaan maaf pada wanita yang pernah dipujanya.
“Papa belum tahu harus bilang apa?” Papa memandang ke arah langit biru cerah. Setidaknya cahaya matahari telah menghangatkan hati Hendrawan dan Ranto.
“Om, gimana kalo kita sekarang langsung ke dalam?” Yogi mengajak mereka supaya tidak mengulur waktu lagi.
“Ayo, Pa.” Ranto mengiringi langkah Papanya memasuki halaman tempat pesta pernikahan dimulai. Tema pesta kebun bernuansa hijau, pink, dan putih akan membuat keluarga Hendrawan kembali berwarna seperti warna warni bunga yang menghiasi taman dan gazebo, dan venue Bumi Sangkuriang.
“Pa, masih ingat ini?” Ranto memperlihatkan gelang kulit coklat berbandul perak inisial ‘Ro’.
“Papa sangat ingat ini, To.” Dipegangnya gelang itu dan cerita dari mulut Papanya mulai mengalir diringi langkah kaki mereka menuju lorong dekat venue.
“Waktu itu Mama yang punya ide untuk membuat gelang ini. Dia yang mendesainnya, Papa yang membuatnya. Peraknya dari teman Papa, perajin perhiasan perak di Yogyakarta.” Hendrawan menyungging senyum mengingat kenangan itu.
“Sampai umur berapa aku pakai gelang ini?”
“Kira-kira umur 5 tahun, To. Kamu kan tambah gemuk. Gelang ini nggak cukup lagi di tangan kamu.” Mereka tertawa kecil bersama.
“Sampai sekarang masih gemuk, Om walaupun kos.” Yogi meledek Ranto.
“Tapi tetap ganteng kan gue, Gi? Nggak kayak elo, cungkring gitu.” Ranto membalas.
“Gi, kamu harus berguru sama Ranto, bagaimana cara makan yang oke biar cepat berisi kayak dia.” Hendrawan menggoda Yogi.
“Wah…Om, aku nggak bisa makan sebanyak Ranto.” Mereka bertiga tertawa. Tawa mereka terhenti saat pandangan Hendrawan tertuju ke ujung lorong. Venny dan Ranti tengah berdiri di sana.
“Pa, aku duluan atau Papa yang duluan?”
“Kamu duluan, To.” Hendrawan nampak masih ragu dan pikirannya agak kacau, memikirkan kalimat apa yang akan diucapkannya pada Venny. Ranto melangkah tanpa ragu menghampiri Ranti dan Venny. Hendrawan mengekori Ranto.
“Ran…” Ranti mendekat.
“Ada hal yang mau aku bilang sama kamu.” Ranto menahan napas dan mengatakan apa yang harus dia katakan.
“Sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu sama kamu.” Ranti agak terbata.
Ranti dan Ranto saling memperlihatkan gelang kulit coklat berbandul perak milik mereka.
“To, kamu…” Ranti terbelalak dan air matanya mulai menggenang.
“Ranti, kamu sudah tahu? Kalo kita …” Ranto tak mengira bahwa Ranti sudah mengetahui hal yang sebenarnya tentang mereka berdua.
“Ya, kita saudara kembar. Kita nggak mungkin menikah.” Air mata Ranti semakin deras. Ranto mengusapnya perlahan dengan sapu tangannya.
“Kamu nggak apa-apa?” Ranto sangat tahu bagaimana perasaan Ranti. Diapun merasakan hal yang sama. Bahagia dan hancur bersamaan. Namun dunia belum hancur.
“Papa?” Ranti menoleh pada Hendrawan dan mendekat padanya.
“Ranti, anak Papa.” Hendrawan membuka lengannya lebar-lebar. Ranti memeluknya dan menangis di dada seorang laki-laki yang selama ini dia rindukan.
“Mama Venny?” Ranto tersenyum pada Venny dan segera merangkulnya.
“Ranto… jadi kamu itu benar-benar anak Mama sekarang.” Venny membalas pelukan erat Ranto. Venny tak takut lagi dengan deraian air matanya yang akan mengalahkan keangkuhan maskaranya. Dia bahagia dan hancur bersama dengan keinginannya yang terkabul. Kini, Ranti benar-benar bertemu dengan Papanya.
Ranti melepas pelukan Papanya. Ranto juga demikian. Ranti dan Ranto berpandangan. Mereka berdua bergandengan tangan dan pergi meninggalkan Venny dan Hendrawan menuju gazebo yang indah. Yogi dan Windy yang sedari tadi melihat drama keluarga yang mengharukan, memutuskan pergi dari sana menuju meja tempat minuman jus buah yang telah tersaji. Mereka berdua memilih jus Lychee yang segar untuk melegakan keharuan yang mereka saksikan tadi. Yogi dan Windy saling memperkenalkan diri dan mulai mengenal pribadi masing-masing hingga akhirnya bertukar pin BB.
Hendrawan berdiri mematung sejenak, memandangi Venny yang masih terlihat cantik seperti saat terakhir mereka bertemu di pengadilan. Kini, dia menyadari bahwa dirinya terlalu angkuh untuk mengakui bahwa Venny adalah wanita yang selalu dia puja. Dia masih mencintai Venny seperti dulu. Namun keegoisan Venny membuat cinta Hendrawan mengendur lalu memilih mundur dari hati Venny.
Venny pun terdiam dan memainkan gesper clucth dengan tangan kanannya.
“Ven, aku…” Hendrawan berusaha sekuat tenaganya untuk mengatakan maaf.
“Sudahlah Hen, kamu tidak usah mengatakan apa-apa padaku. Aku seharusnya yang meminta maaf padamu. Maafkan aku ya Hen, aku begitu egois. Tak peduli nasib Ranti dan Ranto. Akhirnya jadi seperti ini. Mereka saling mencintai tapi tidak untuk menikah.”
“Aku senang melihatmu sekarang. Kamu telah mencapai apa yang kamu inginkan. Ambisimu untuk menjadi seorang desainer telah terwujud. Ranti begitu cantik sepertimu dengan gaun itu. Pasti itu hasil rancanganmu kan? Kamu selalu suka dengan hijau tosca dan pink. Dua warna itu sisi lembutmu, Ven.”
“Ya, dia cantik. Ranto juga sangat tampan seperti Papanya. Mau kamu lukis aku dan Ranti nanti?” Venny memberikan senyuman terindah yang pernah Hendrawan lihat.
“Satu kebahagiaan buatku untuk melukis kalian. Datanglah ke galeri ‘Jillian’ milikku di Dago.”
“Jadi galeri itu milikmu?” Mata indah Venny membulat.
“Ya. Aku namai galeri itu dengan namamu. Ranto yang meminta.”
“Oh…Hen, aku…” Setetes air membasahi pipi Venny.
“Jadi apa rencanamu sekarang setelah anak kita tahu bahwa mereka saudara?”
“Aku belum tahu. Aku mungkin kembali ke Jakarta. Ada beberapa urusan pekerjaan di sana, proyek Art Deco.”
“Ranto?” Venny ingin Ranto bersamanya.
“Terserah dia. Mungkin dia tetap kos di sini, melanjutkan kuliah S2 Arsitekturnya.”
“Biar dia tinggal di rumahku saja bersama Ranti.” Venny memohon pada Hendrawan.
“Silahkan saja, jika itu membuatmu senang.”
“Ayo, kita ke gazebo sepertinya kita harus mengumumkan sesuatu pada para undangan.”
“Ayo!” Venny mengerling pada Hendrawan. Lengan kanannya menggamit lengan kiri Hendrawan.
Di gazebo, Ranti dan Ranto terlihat bergandengan tangan dan menunggu Mama dan Papanya menghampiri mereka. Sang MC telah siap mengumumkan sesuatu hal yang penting. Tak hanya para undangan yang harus mengetahui hal ini. Seluruh dunia perlu tahu bahwa Ranti dan Ranto tak jadi menikah. Pesta kebun ini menjadi pesta pertemuan keluarga Hendrawan yang mempersatukan kembali dua hati yang telah lama berpisah.
Ranto menghampiri sang MC, lalu meminjam microfon.
“Selamat pagi semuanya. Terimakasih telah datang di pesta kebun ini. Mama Venny dan Papa Hendra, kami bahagia kalian bisa bertemu kembali. Kami harap kalian bisa bersama lagi seperti dulu. Aku dan Ranti akan terus bersama walau kami bukan lagi sepasang kekasih. Mama, Papa, Ranti, aku sayang kalian.”
Ranti berlari mendekati Mamanya. Hendrawan memeluk Venny dan Ranti. Ranto menyusul mereka bertiga dan menambah hangatnya pelukan mereka. Semua tamu undangan riuh bertepuk tangan dan menikmati hidangan pesta yang tersaji. Musik yang mengalun indah dari band di panggung di taman itu menambah suasana suka cita Ranti dan Ranto.
Windy berteriak, “Ranti! Lemparin bunganya dong! Siapa tahu aku yang berikutnya.”
“Jadi anak kembar maksud kamu? Hahaha…” Ranti menggoda Windy.
“Ya nikahlah, pesta kebun juga.” Windy melirik pada Yogi. Sepertinya dia telah memiliki cinta pada pandangan pertamanya. Pesta kebun sudah ada dalam bayangannya. Mungkin bernuansa merah dan jingga.
Sementara Ranti dan Ranto mulai merancang sebuah rencana supaya Mama dan Papa mereka bisa bertemu lagi dan pergi berdua saja. Mereka meninggalkan Mama dan Papanya berdua. Mereka mendekat ke meja hidangan, sambil mencicipi beberapa makanan lezat di sana, sebuah rencana besar disusun.
“To, gimana kalo kita langsung booking satu kamar untuk Mama sama Papa. Nanti aku kasih tahu Mama kalo kamu mau ketemu di kamar itu. Nah, kamu bilang Papa, kalo aku mau ketemu Papa di kamar yang sama. Gimana?”
“Ide bagus, Ti.” Ranto menjetikkan jarinya.
“Ayo kita ke resepsionis sekarang!” Ranti meraih tangan kanan Ranto dan mengajaknya setengah berlari.
“Bentar dong, ini tanggung belum habis.” Mulut Ranto masih sibuk dengan pie aneka buah.
“Udah nanti diterusin, gampang!” Ranti tak sabar menunggu.
Mereka menuju resepsionis dan meminta kamar deluxe yang tadinya diperuntukkan bagi pengantin, di hotel Concordia sebelah taman dibooking untuk pasangan lain bernama Venny Jillian dan Hendrawan. Negosiasi dengan resepsionis telah berhasil.
“Semoga rencana kita berhasil.” Ranti dan Ranto saling menepukkan telapak tangan mereka.
“Ayo, kita terusin makan pie!” Ranto mengajak Ranti kembali ke meja hidangan.
“Eits! Sebelum itu kasih tahu dulu Papa kamu seperti yang tadi aku bilang. Oke?”
“Oke, honey!”
“Ih… nggak usah bilang gitu ah… geli.”
“Oke, adikku sayang…” Ranto mencolek dagu Ranti.
Ranto menghampiri Papanya.
Ranti memanggil Mamanya. Setelah jarak mereka cukup jauh, mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan.
“Ma, Ranto kayaknya ingin ngobrol berdua sama Mama.”
“Ya udah, suruh sini aja.” Venny tak curiga sedikitpun.
“Nggak di sini Ma. Di sana, di dekat pintu kamar deluxe. Mama tanya aja sama pelayan ya… Aku mau mengambil pie dulu.” Ranti pergi begitu saja. Venny melangkah menuju tempat yang dimaksud.
“Pa, Ranti mau ngobrol sesuatu sama Papa katanya. Di sana, dekat pintu kamar deluxe ya…”
“Kenapa nggak di sini aja?”
“Udah, Papa ke sana aja deh… cepetan!”
“Tapi…” Hendrawan menurut saja dan pergi ke tempat yang dimaksud.
Ranti dan Ranto mengamati dari jauh. Mama dan Papanya bertemu di sana.
“Hei Ven, lihat Ranti nggak? Tadi Ranto bilang, Ranti mau ngobrol sama aku di sini.”
“Aku juga diminta Ranti ke sini. Katanya Ranto mau ngobrol sesuatu sama aku.”
“Eh Ven, ternyata mereka malah asik di sana. Makan.” Hendrawan menunjukkan arah tempat meja hidangan berada.
“Maaf Pak, Bu, silahkan beristirahat di sini.” Seorang pelayan membukakan pintu kamar deluxe dekat tempat berdiri mereka berdua.
Keduanya saling berpandangan. “Maaf Mas, ini kan untuk pengantin.” Venny terheran-heran.
“Ini sudah dibooking untuk Bapak Hendrawan dan Ibu Venny. Betul itu nama Bapak dan Ibu?”
“Ya betul.” Kata mereka berdua bersamaan.
“Silahkan, Selamat istirahat.” Pelayan itu pergi.
“Hen, gimana ini? Kita masuk saja?” Venny tak yakin.
“Ya sudah, kita masuk saja.”
Keduanya melihat ke seluruh ruangan. Betapa istimewanya ruangan ini. Benar-benar cocok untuk pasangan pengantin.
“Ven, bagaimana dengan anak-anak kita?”
“Biarkan mereka yang memutuskan sendiri, mau ikut siapa mereka. Saling berkunjung juga tak ada salahnya.” Venny mendadak bijak.
“Baiklah jika itu membuatmu lega.”
“Ven, maafkan aku. Aku menyiakan kamu. Bagaimana kalau kita…”
“Bersama lagi?” Alis Venny bertaut.
“Ya. Demi kebahagiaan Ranti dan Ranto.”
“Entahlah. Mungkin aku perlu waktu untuk memikirkannya lagi, Hen.”
Hendrawan memegang jemari Venny. Venny memandang jauh ke dalam mata Hedrawan.
“Ven, aku masih mencintai kamu.” Hendrawan mengecup jemari itu dan memandang lama ke arah mata Venny yang indah.

*cerpen latihan untuk sebuah audisi menulis

sejenis cerita pendek

“This Way to The Wedding (part 1)”

this way to the wedding
Sinar matahari pagi begitu cerah menebarkan cahayanya ke seluruh penjuru taman di Bumi Sangkuriang, Ciumbuleuit, Bandung. Taman itu begitu indah penuh dengan hiasan aneka bunga Herbras dan Gladiol, beberapa kursi dan meja hidangan telah siap. Papan putih tergantung di salah satu pohon bertuliskan “This way to the wedding” menjadi sebuah tanda petunjuk bagi para tamu undangan memasuki area tempat pernikahan Ranto dan Ranti,
Ranti, sang pengantin perempuan tengah bersiap di sebuah ruangan khusus dekat taman. Aura kecantikannya sedikit tersamarkan oleh kekalutan perasaannya. Dia ingin mengatakan sesuatu pada Ranto, sebelum semuanya terlambat. Pernikahannya dengan Ranto akan dilangsungkan pada pukul 9.00. Gazebo yang indah berhiasankan untaiuan bunga Gladiol dan karpet merah telah menunggu pasangan penganti mengucap janji setia di sana.
“Win, aku nggak yakin aku akan menikah dengan Ranto.” Pernyataan Ranti mengagetkan Windy, sahabatnya, yang sedari tadi setia menungguinya dirias. Sang perias membubuhkan blush on sebagai finishing touch di kedua pipi Ranti. Dia juga membantu membenahi gaun hijau hasil rancangan Mama Venny, berhiaskan seledang biru tosca di bagian pinggang yang membentuk indah tubuh Ranti. Dia terlihat begitu cantik dengan tatanan rambut simple, tiga tangkai bunga Melati putih tersemat di bagian samping kepalanya.
“Ran, apa aku nggak salah dengar?” Windy memburu mendekati Ranti. Matanya terbelalak, mulutnya melongo.
“Iya, Win. Kayaknya aku … ” Ranti nampak canggung menceritakan alasannya.
“Mbak, bisa tinggalin kami sebentar?” Windy memberi kode pada perias pengantin untuk meninggalkan mereka.
“Baik, Mbak.” Perias itu segera keluar dari ruangan. Setelah perias itu benar-benar pergi, Windy mendesak Ranti untuk menjelaskan lebih lanjut.
“Ran, kamu becanda kan? Sebentar lagi Ranto datang, pernikahan kalian akan dimulai.” Bola mata Windy membulat, tak percaya apa yang ada dalam benak Ranti.
“Nggak Win, aku nggak becanda. Aku nggak bisa menikah dengan Ranto. Dia itu ternyata…” Ranti menghentikan kalimatnya sejenak. Dia menatap Windy penuh kesungguhan tentang sebuah kenyataan yang sahabatnya harus tahu.
“Dia kenapa, Ran? Ada perempuan lain?” Windy tak sabar ingin tahu apa yang terjadi.
“Bukan.” Ranti terdiam sejenak. Windy dibuatnya penasaran.
Ranti akhirnya mantap dengan perkataannya.
“Dia saudara kembarku.”
“Hah?!!” Windy melangkah ke arah jendela, lalu kembali ke hadapan Ranti.
“Ran, kok bisa?! Dari mana kamu tahu tentang itu?” Windy semakin penasaran.
“Aku mengetahuinya dari gelangku ini, dan beberapa foto yang Mama simpan di kamarnya.” Ranti memiliki gelang tali coklat dengan bandul perak berinisial ‘Ri’. Selama ini dia hanya menyimpannya di kotak perhiasan di kamarnya. Hari ini dia bawa serta dan memperlihatkannya pada Windy.
“Apa gelang dan foto itu cukup membuktikan kalo Ranto itu benar-benar saudara kembar lo?”
“Aku sudah meminta penjelasan Mama.”
“Terus?”
“Mama bilang foto-foto itu adalah fotonya saat melahirkan bayi kembarnya. Di foto itu Mama sedang menggendong aku dan Ranto. Ada gelang di tanganku dan Ranto. Aku nggak pernah tahu Papaku, karena aku nggak melihat dia di foto. Mama cuma bilang, Papa pergi ninggalin Mama karena pertengkaran hebat. Mama nggak mau melihatnya lagi. Papa membawa Ranto pergi.”
“Terus sekarang gimana dong? Mama kamu akan bertemu dengan Papa Ranto which is Papamu juga. Apa nggak akan terjadi sesuatu yang…” Kalimat Windy terhenti. Dia khawatir dengan situasi yang dia bayangkan akan terjadi.
“Mama tetap hadir, Win. Kita lihat saja apa yang terjadi. Aku berharap Mama bisa berbaikan dengan Papa. Aku juga menginginkan keluargaku lengkap lagi.”
Ranti terdiam dan dia mulai mengingat masa-masa indah bersama Ranto. Pertama kali bertemu di perpustakaan kampus, menonton film animasi bareng di Blitz Megaflek, makan berdua di kantin kampus, jogging bersama setiap minggu pagi, hunting foto bareng sambil bersepeda, mengikuti acara bakti sosial, mendesain baju kaos sablon couples, dan banyak moment telah menghiasi perjalanan cinta mereka. Hal yang mendalam dan tak terlupakan oleh Ranti adalah saat dia terserang thypus, Ranto setia menungguinya di rumah sakit selama Mamanya tak ada.
Semuanya seakan menjadi scene film yang sambung menyambung, entah happy ending atau tidak di akhir ceritanya. Ranto tak begitu yakin, Ranti mampu menerima keputusannya. Lubuk hati Ranti sesungguhnya merasa berat jika harus mengubah rasa yang cinta yang begitu besar sebagai kekasih menjadi sebentuk kasih sayang sebagai saudara. Dia pun sangat menyesal kenapa Mama Venny sampai harus berpisah dengan Papanya. Namun dia tidak mau menyalahkan siapa-siapa. Dia yakin, Mamanya memiliki alasan kuat mengapa dia memutuskan untuk berpisah dengan Papanya.
Tok.. tok.. tok…
Terdengar suara ketukan pintu. Sang perias muncul dari balik pintu.
“Maaf Mbak Ranti, pesta akan dimulai.”
“Pengantin laki-laki sudah datang?” Windy cemas.
“Belum. Tapi kata Mbak MC harus segera siap. Boleh saya benahi dulu rambutnya, Mbak Ranti?”
“Kayaknya udah oke semua nih…” Ranti merasa tak ada yang kurang lagi dengan penampilannya. Dadanya bergemuruh mengelola rasa yang campur aduk. Dia tak mengerti apakah hari ini adalah hari bahagia atau bukan. Dia tidak bisa menikah dengan Ranto, tapi dia ingin Mamanya bisa bertemu dengan Papa Ranto.
“Sebentar Mbak, ini bunganya.” Sang perias memberikan rangkaian bunga Gladiol pink dan hijau untuk dipegang Ranti saat menuju pelaminan. Pita pink yang menjuntai mempermanis untaian bunga itu.
“Mama mana ya?” Raut wajah Ranti menyiratkan kegelisahan.
“Mungkin sebentar lagi datang, Mbak.” Sang perias menenangkan.
****
Honda All New Civic Maroon melaju di jalan Ciumbuleuit menuju Bumi Sangkuriang. Wanita di balik setir mobil itu mengenakan busana chic nuansa hijau daun lengkap dengan riasan wajah dan perhiasan yang membuatnya terlihat elegan. Dia Venny Jillian, ibu Ranti. Seorang single parents yang ambisius. Dia telah berhasil mendidik dan menyekolahkan Ranti hingga selesai. Perasaannya pagi itu tidak terlalu nyaman. Dia merasa dunia akan menjadi sepi karena Ranti, putri satu-satunya akan mengawali hidup baru. Jika Venny mau, dia bisa saja tetap hidup bersama Ranti dan suaminya. Namun, dia penganut paham kemandirian fanatik dan menangis meraung-raung meminta putrinya untuk tetap bersamanya bukan tipe dirinya.

Kenangan-kenangan saat bersama dengan Ranti menguasai seluruh pikirannya. Terutama saat dia melahirkannya. Dia mengalami masa-masa sulit perekenomian keluarga sejak berkeluarga bersama Hendrawan. Venny menganggap Hendrawan tak mampu menafkahinya dengan baik. Venny pada akhirnya tak terlalu berharap banyak untuk kelangsungan hidupnya dari seorang seniman seperti Hendrawan. Idealisme Hendrawan menjadi seniman tidak mampu meyakinkan Venny. Sementara Hendrawan merasa Venny begitu egois dengan mimpinya menjadi desainer terkenal. Dia mengalah dan memilih bercerai. Pengadilan memutuskan pengasuhan Ranti dan Ranto kepada Venny dan Hendrawan. Mereka memutuskan membawa masing-masing satu orang anak kembarnya.
Ranti, aku harap kamu bisa bertemu dengan Ayahmu…
Ranto, aku ingin bertemu dan memelukmu lagi. Tuhan, kabulkanlah keinginanku…
Kedua mata Venny tiba-tiba berembun. Dia segera mengambil tissue di dashboard mobilnya dan menempelkannya di ujung mata perlahan. Setetes air mata tak mengganggu riasan mata waterproofnya. Venny kembali fokus pada kemudinya. Peristiwa saat dia menyerahkan Ranto pada Hendrawan berkelebat. Walau Venny sepertinya tak mungkin bertemu dengan saudara kembarnya, tapi hatinya selalu bersamanya.
Bumi Sangkuriang telah di depan mata. Venny memasuki halaman parkir yang luas dan memarkirkan mobilnya di dekat gerbang masuk. Sebelum turun dari mobilnya, dia melihat kaca spion depan, lalu memastikan riasannya masih baik. Beberapa semprotan parfum aroma chocolate ditambahkan di kedua sisi lehernya. Venny tipe wanita perfectionis. Dia selalu tampil prima, elegan, dan selalu wangi. Dia menghela napas panjang, lalu keluar dari mobil. Langkahnya sedikit terasa berat menuju venue dekat taman tempat acara akan digelar. Beberapa karyawan hotel terlihat di hotel Concordia yang letaknya berdekatan dengan halaman luas Bumi Sangkuriang, sedang merapikan beberapa meja bertaplak putih dan kursi kayu yang dilapisi kain putih dengan ikatan di sandarannya berbentuk pita. Beberapa tamu undangan telah hadir di sekitar halaman hijau Bumi Sangkuriang yang luas. Langkahnya terhenti ketika dia perhatikan di seberang venue, gazebo yang indah untuk pelaminan Ranti dan Ranto. Dia mengambil handphone putihnya dari clutch pink yang dibawanya. Ranti nama yang dipilihnya. Call…
“Halo Ranti, sayang. Mama sudah sampai. Kamu di mana?”
“Ranti di ruangan dekat gazebo, Ma. Lorong sebelah kanan, masuk aja.”
“Oke. Mama ke sana.”

Ranti dan Windy mendengar langkah seseorang mendekati pintu. Venny hadir.
“Ranti, anak Mama cantik sekali.” Venny benar-benar terpesona dengan penampilan Ranti. Tiga buah bunga Gladiol pink menghiasi kemilau rambut hitamnya. Dia merasa baru kemarin melahirkan dan membawanya jalan-jalan. Kini, anak gadisnya sudah dewasa dan cantik dengan gaun buatannya.
“Gaun buatan Mama yang cantik.” Ranti nampak sangat senang dengan kehadiran Mamanya.
“Nggak, anak Mama memang cantik.” Venny mencium kening Ranti.
“Aku pikir Mama akan telat datang.”
“Tadi meeting dengan beberapa desainer hanya sebentar. Mama langsung ngebut ke sini.” Venny melihat ada yang sedikit aneh di raut muka Ranti.
“Ranti sayang, kamu kenapa? Ini kan hari bahagia kamu. Kok bibirmu sedikit cemberut? Nanti cantiknya hilang dong…” Goda Venny.
“Aku…” Ranti duduk di kursi kayu dekat jendela.
“Kenapa?” Venny mendekat mengikuti Ranti, meyakinkan apakah Ranti baik-baik saja.
“Ma, aku nggak bisa menikah sama Ranto.”
“What? Apa Mama nggak salah dengar?” Venny terbelalak.
“Nggak, Ma. Mama nggak salah dengar.”
“Kenapa? Ranto selingkuh? Atau…”
“Nggak ada yang salah dengan Ranto, Ma.”
“Lalu?” Kening Venny berkerut dan alisnya hampir bertaut.
“Mama yang salah.” Ranti melontarkan kalimat yang seharusnya tak dia ucapkan.
“Mama?” Venny semakin tidak mengerti.
“Kenapa Mama tak pernah mempertemukan aku dengan Papa?” Nada Ranti tiba-tiba seperti menahan amarah.
“Kamu kenapa tiba-tiba mempertanyakan ini? Hari ini seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Mama juga kamu. Mama nggak mau mengingat…” Tenggorokan Venny tercekat. Kelopak matanya mengembun. Dia terduduk.
“Ma, kalo Mama dan Papa bertemu lagi, itu akan membuat Ranti bahagia.”
“Maafkan Mama, Ranti…” Venny tak sanggup lagi membendung air di kelopak matanya.
“Nanti saja Ma, minta maaflah pada Papa dan Ranto.”
“Mereka sebentar lagi akan datang.”
“Sekarang Mama mau kan menemani Ranti ke gazebo?”
“Iya. Mama mau.” Sebuah senyum menandakan sebuah kelegaan hati Venny demi Ranti.
“Win, udah siap kan?” Ranti memastikan sahabatnya juga mengikutinya.
“Siap Ran!” Windy dengan senyum manisnya mengerling pada Ranti.
“Yuk!” Ranti menggamit lengan Mamanya dan berjalan dengan anggun menuju halaman. Langkah mereka bertiga terhenti saat Ranti berkata, “Ma, gelang ini boleh aku pakai?”
Ranti menunjukkan gelang tali kulit berbandul perak yang dipegang Windy. Melihat gelang itu, diri Venny seakan berada di dua puluh tiga tahun lalu hidupnya. Saat di mana dia merancang gelang itu sebagai tanda cinta kasihnya dengan Hendrawan. Saat di mana keegoisannya telah memisahkan Ranti dengan Papanya. Dada Venny sesak penuh sesal.
Dari arah berlawanan nampak sosok tiga orang laki-laki berjalan mendekati mereka. Salah satunya Ranto dengan tuxedo hijau tosca. Venny dan Ranti memandang lekat-lekat mereka berdua. Ranti menarik napas panjang dan menguatkan dirinya untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Ranto. Ternyata Ranto lebih dulu memanggil dan menghampirinya.
“Ran…” Ranti mendekat.
“Ada hal yang mau aku bilang sama kamu.” Ranto menahan napas dan mengatakan apa yang harus dia katakan.
“Sebenarnya aku juga ingin mengatakan sesuatu sama kamu.” Ranti agak terbata.
Ranti dan Ranto saling memperlihatkan gelang kulit coklat berbandul perak milik mereka.
“To, kamu…” Ranti terbelalak dan air matanya mulai menggenang.
“Ranti, kamu sudah tahu? Kalo kita …” Ranto tak mengira bahwa Ranti sudah mengetahui hal yang sebenarnya tentang mereka berdua.
“Ya, kita saudara kembar. Kita nggak mungkin menikah.” Air mata Ranti semakin deras. Ranto mengusapnya perlahan dengan sapu tangannya.
“Kamu nggak apa-apa?” Ranto sangat tahu bagaimana perasaan Ranti. Diapun merasakan hal yang sama. Bahagia dan hancur bersamaan. Namun dunia belum hancur.
“Papa?” Ranti menoleh pada Hendrawan dan mendekat padanya.
“Ranti, anak Papa.” Hendrawan membuka lengannya lebar-lebar. Ranti memeluknya dan menangis di dada seorang laki-laki yang selama ini dia rindukan.
“Mama Venny?” Ranto tersenyum pada Venny dan segera merangkulnya.
“Ranto… jadi kamu itu benar-benar anak Mama sekarang.” Venny membalas pelukan erat Ranto. Venny tak takut lagi dengan deraian air matanya yang akan mengalahkan keangkuhan maskaranya. Dia bahagia dan hancur bersama dengan keinginannya yang terkabul. Kini, Ranti benar-benar bertemu dengan Papanya.
Ranti melepas pelukan Papanya. Ranto juga demikian. Ranti dan Ranto berpandangan. Mereka berdua bergandengan tangan dan pergi meninggalkan Venny dan Hendrawan menuju gazebo yang indah. Yogi dan Windy yang sedari tadi melihat drama keluarga yang mengharukan, memutuskan pergi dari sana menuju meja tempat minuman jus buah yang telah tersaji. Mereka berdua memilih jus Lychee yang segar untuk melegakan keharuan yang mereka saksikan tadi. Yogi dan Windy saling memperkenalkan diri dan mulai mengenal pribadi masing-masing hingga akhirnya bertukar pin BB.
Hendrawan berdiri mematung sejenak, memandangi Venny yang masih terlihat cantik seperti saat terakhir mereka bertemu di pengadilan. Kini, dia menyadari bahwa dirinya terlalu angkuh untuk mengakui bahwa Venny adalah wanita yang selalu dia puja. Dia masih mencintai Venny seperti dulu. Namun keegoisan Venny membuat cinta Hendrawan mengendur lalu memilih mundur dari hati Venny.
Venny pun terdiam dan memainkan gesper clucth dengan tangan kanannya.
“Ven, aku…” Hendrawan berusaha sekuat tenaganya untuk mengatakan maaf.
“Sudahlah Hen, kamu tidak usah mengatakan apa-apa padaku. Aku seharusnya yang meminta maaf padamu. Maafkan aku ya Hen, aku begitu egois. Tak peduli nasib Ranti dan Ranto. Akhirnya jadi seperti ini. Mereka saling mencintai tapi tidak untuk menikah.”
“Aku senang melihatmu sekarang. Kamu telah mencapai apa yang kamu inginkan. Ambisimu untuk menjadi seorang desainer telah terwujud. Ranti begitu cantik sepertimu dengan gaun itu. Pasti itu hasil rancanganmu kan? Kamu selalu suka dengan hijau tosca dan pink. Dua warna itu sisi lembutmu, Ven.”
“Ya, dia cantik. Ranto juga sangat tampan seperti Papanya. Mau kamu lukis aku dan Ranti nanti?” Venny memberikan senyuman terindah yang pernah Hendrawan lihat.
“Satu kebahagiaan buatku untuk melukis kalian. Datanglah ke galeri ‘Jillian’ milikku di Dago.”
“Jadi galeri itu milikmu?” Mata indah Venny membulat.
“Ya. Aku namai galeri itu dengan namamu. Ranto yang meminta.”
“Oh…Hen, aku…” Setetes air membasahi pipi Venny.
“Jadi apa rencanamu sekarang setelah anak kita tahu bahwa mereka saudara?”
“Aku belum tahu. Aku mungkin kembali ke Jakarta. Ada beberapa urusan pekerjaan di sana, proyek Art Deco.”
“Ranto?” Venny ingin Ranto bersamanya.
“Terserah dia. Mungkin dia tetap kos di sini, melanjutkan kuliah S2 Arsitekturnya.”
“Biar dia tinggal di rumahku saja bersama Ranti.” Venny memohon pada Hendrawan.
“Silahkan saja, jika itu membuatmu senang.”
“Ayo, kita ke gazebo sepertinya kita harus mengumumkan sesuatu pada para undangan.”
“Ayo!” Venny mengerling pada Hendrawan. Lengan kanannya menggamit lengan kiri Hendrawan.
Di gazebo, Ranti dan Ranto terlihat bergandengan tangan dan menunggu Mama dan Papanya menghampiri mereka. Sang MC telah siap mengumumkan sesuatu hal yang penting. Tak hanya para undangan yang harus mengetahui hal ini. Seluruh dunia perlu tahu bahwa Ranti dan Ranto tak jadi menikah. Pesta kebun ini menjadi pesta pertemuan keluarga Hendrawan yang mempersatukan kembali dua hati yang telah lama berpisah.
Ranto menghampiri sang MC, lalu meminjam microfon.
“Selamat pagi semuanya. Terimakasih telah datang di pesta kebun ini. Mama Venny dan Papa Hendra, kami bahagia kalian bisa bertemu kembali. Kami harap kalian bisa bersama lagi seperti dulu. Aku dan Ranti akan terus bersama walau kami bukan lagi sepasang kekasih. Mama, Papa, Ranti, aku sayang kalian.”
Ranti berlari mendekati Mamanya. Hendrawan memeluk Venny dan Ranti. Ranto menyusul mereka bertiga dan menambah hangatnya pelukan mereka. Semua tamu undangan riuh bertepuk tangan dan menikmati hidangan pesta yang tersaji. Musik yang mengalun indah dari band di panggung di taman itu menambah suasana suka cita Ranti dan Ranto.
Windy berteriak, “Ranti! Lemparin bunganya dong! Siapa tahu aku yang berikutnya.”
“Jadi anak kembar maksud kamu? Hahaha…” Ranti menggoda Windy.
“Ya nikahlah, pesta kebun juga.” Windy melirik pada Yogi. Sepertinya dia telah memiliki cinta pada pandangan pertamanya. Pesta kebun sudah ada dalam bayangannya. Mungkin bernuansa merah dan jingga.
Sementara Ranti dan Ranto mulai merancang sebuah rencana supaya Mama dan Papa mereka bisa bertemu lagi dan pergi berdua saja. Mereka meninggalkan Mama dan Papanya berdua. Mereka mendekat ke meja hidangan, sambil mencicipi beberapa makanan lezat di sana, sebuah rencana besar direncanakan.
“To, gimana kalo kita langsung booking satu kamar untuk Mama sama Papa. Nanti aku kasih tahu Mama kalo kamu mau ketemu di kamar itu. Nah, kamu bilang Papa, kalo aku mau ketemu Papa di kamar yang sama. Gimana?”
“Ide bagus, Ti.” Ranto menjetikkan jarinya.
“Ayo kita ke resepsionis sekarang!” Ranti meraih tangan kanan Ranto dan mengajaknya setengah berlari.
“Bentar dong, ini tanggung belum habis.” Mulut Ranto masih sibuk dengan pie aneka buah.
“Udah nanti diterusin, gampang!” Ranti tak sabar menunggu.
Mereka menuju resepsionis dan meminta kamar deluxe yang tadinya diperuntukkan bagi pengantin, di hotel Concordia sebelah taman dibooking untuk pasangan lain bernama Venny Jillian dan Hendrawan. Negosiasi dengan resepsionis telah berhasil.
“Semoga rencana kita berhasil.” Ranti dan Ranto saling menepukkan telapak tangan mereka.
“Ayo, kita terusin makan pie!” Ranto mengajak Ranti kembali ke meja hidangan.
“Eits! Sebelum itu kasih tahu dulu Papa kamu seperti yang tadi aku bilang. Oke?”
“Oke, honey!”
“Ih… nggak usah bilang gitu ah… geli.”
“Oke, adikku sayang…” Ranto mencolek dagu Ranti.
Ranto menghampiri Papanya.
Ranti memanggil Mamanya. Setelah jarak mereka cukup jauh, mereka melakukan apa yang harus mereka lakukan.
“Ma, Ranto kayaknya ingin ngobrol berdua sama Mama.”
“Ya udah, suruh sini aja.” Venny tak curiga sedikitpun.
“Nggak di sini Ma. Di sana, di dekat pintu kamar deluxe. Mama tanya aja sama pelayan ya… Aku mau mengambil pie dulu.” Ranti pergi begitu saja. Venny melangkah menuju tempat yang dimaksud.
“Pa, Ranti mau ngobrol sesuatu sama Papa katanya. Di sana, dekat pintu kamar deluxe ya…”
“Kenapa nggak di sini aja?”
“Udah, Papa ke sana aja deh… cepetan!”
“Tapi…” Hendrawan menurut saja dan pergi ke tempat yang dimaksud.
Ranti dan Ranto mengamati dari jauh. Mama dan Papanya bertemu di sana.
“Hei Ven, lihat Ranti nggak? Tadi Ranto bilang, Ranti mau ngobrol sama aku di sini.”
“Aku juga diminta Ranti ke sini. Katanya Ranto mau ngobrol sesuatu sama aku.”
“Eh Ven, ternyata mereka malah asik di sana. Makan.” Hendrawan menunjukkan arah tempat meja hidangan berada.
“Maaf Pak, Bu, silahkan beristirahat di sini.” Seorang pelayan membukakan pintu kamar deluxe dekat tempat berdiri mereka berdua.
Keduanya saling berpandangan. “Maaf Mas, ini kan untuk pengantin.” Venny terheran-heran.
“Ini sudah dibooking untuk Bapak Hendrawan dan Ibu Venny. Betul itu nama Bapak dan Ibu?”
“Ya betul.” Kata mereka berdua bersamaan.
“Silahkan, Selamat istirahat.” Pelayan itu pergi.
“Hen, gimana ini? Kita masuk saja?” Venny tak yakin.
“Ya sudah, kita masuk saja.”
Keduanya melihat ke seluruh ruangan. Betapa istimewanya ruangan ini. Benar-benar cocok untuk pasangan pengantin.
“Ven, bagaimana dengan anak-anak kita?”
“Biarkan mereka yang memutuskan sendiri, mau ikut siapa mereka. Saling berkunjung juga tak ada salahnya.” Venny mendadak bijak.
“Baiklah jika itu membuatmu lega.”
“Ven, maafkan aku. Aku menyiakan kamu. Bagaimana kalau kita…”
“Bersama lagi?” Alis Venny bertaut.
“Ya. Demi kebahagiaan Ranti dan Ranto.”
“Entahlah. Mungkin aku perlu waktu untuk memikirkannya lagi, Hen.”
Hendrawan memegang jemari Venny. Venny memandang jauh ke dalam mata Hedrawan.
“Ven, aku masih mencintai kamu.” Hendrawan mengecup jemari itu dan memandang lama ke arah mata Venny yang indah.

To be continued…
*cerpen latihan di Gradien Writing Audision 2013