celebrating poetry

“Cinta Sepatu”

“Sepatunya”
(foto : dokumen pribadi – kamera ponsel Andromax Es 5 MP)

Aku tahu si pemilik sepatu ini

Dia meninggalkan jejak-jejak cinta di hati

Aku malu pada sepatunya

Jarang menyemirnya

Aku tabu meminta cintanya

Dia selalu memberi tanpa tanya

Bukankah cinta itu sepasang?

Seperti langkah kiri dan kanan

Kala hilang sebelah

Dia hanya bicara cinta tanpa jiwa

my journal

“Tiga Pasang Sepatu di Hari Minggu”

“Papa, ayo lari!” teriak gadis kecil berambut sebahu pada suamiku.

“Jangan cepat-cepat! Nanti Papa ketinggalan,” jawab laki-laki bermata coklat itu diiringi tawa kecil.

Aku hanya tersenyum melihat pemandangan itu. Pandangan ku alihkan ke kiri-kanan jalan menuju pegunungan Manglayang. Di sana terbentang kebun singkong, tembakau, dan rerumputan tinggi untuk pakan sapi. Cuaca sangat sejuk walau langit agak mendung. Hari seperti ini selalu kami tunggu.

Berjalan kaki selalu menjadi hal yang istimewa dan menyenangkan bagiku. Selain membakar kalori dan menghirup oksigen sesuka hati, hal lain yang harus aku syukuri adalah interaksi antar anggota keluarga kecilku. Mungkin di hari-hari biasa, aku hanya mengobrol seputar kegiatan sekolah putriku dan bertukar pikiran tentang berita-berita aktual yang sedang hangat di televisi bersama suami. Khusus di hari minggu, aku selalu menjadwalkan untuk berjalan kaki bersama diselingi komentar-komentar lucu dari putriku tentang hal-hal yang ia temukan selama perjalanan. Sama sekali tak ada keluhan rasa capek atau merengek meminta berhenti berjalan darinya.

Kegiatan berjalan kaki membuat kami bertiga semakin dekat dan semakin bersyukur pada Allah bahwa hal yang paling berharga adalah kebersamaan dalam keluarga. Kesehatan juga menjadi hal yang harus kami pelihara. Tanpa tubuh yang sehat, kita tak akan mampu beraktivitas dengan baik. Jika boleh mengingat dulu di awal kehidupan pernikahan, aku dan suami sering berjalan kaki. Waktu itu, selain belum memiliki kendaraan, kami berdua harus berjalan kaki cukup jauh dari rumah kontrakan ke jalan utama. Suami pun harus lebih banyak berjalan kaki untuk kesehatan kaki kanannya yang saat itu tengah terpasang pen karena kecelakaan.

Kini, aku bersyukur keadaan telah membaik. Kami sangat menikmati pemandangan di sekitar hunian baru yang dekat dengan taman dan perkebunan milik pemerintah kota. Tanaman sayuran, buah-buahan, dan daun tembakau berderet cantik di sebelah ruas jalan kompleks perumahan. Selain karena air yang bersih, udara yang sejuk, sanitasi yang baik, dan infrastruktur yang memadai, aku senang bertetangga dengan orang-orang yang beradab. Satu hal lagi yang akan menjadi kebiasaan baruku adalah berkebun, memanfaatkan lahan luas di belakang rumah. Untuk kegiatan yang satu ini aku selalu membahasnya bersama suami karena ia jauh lebih berpengalaman. Maklum, pernah menjadi ‘si Bolang’ di tanah kelahirannya, Palimanan.

Benar apa kata almarhumah Mama, bahwa jika kita menemukan lingkungan dan berinterkasi dengan orang-orang yang setara dengan pola pikir kita maka hidup bertetangga akan nyaman. Sekadar perbandingan, saat tinggal di rumah lama yang mungil dan sederhana yang kami tempati sekarang, akses jalan dan lingkungannya tidak kondusif, tetangga sebelah rumah selalu bersikap seenaknya (menyetel musik dangdut sekeras udelnya), bicaranya kurang beretika, dan lain-lain. Namun semua itu adalah proses karena kita tidak bisa memaksakan ingin hidup ideal seperti apa yang kita inginkan. Jalani saja hingga seiring waktu apa yang kita mau terwujud.

Kembali ke jalan kaki, memakai sepatu itu lebih nyaman karena kaki tak akan terlalu lelah dan setiap jengkal pemandangan indah menjadi hal yang tak ternilai harganya. Begitu juga dengan hidup. Jika kita menemukan alas kaki yang nyaman dan melangkah sesuai dengan kata hati, ditambah dengan tetap bersyukur pada Allah maka perjalanan dalam hidup akan terasa “nikmat”. Rasa suka cita yang hadir layaknya berjalan pagi di hari minggu dengan hati menggebu tanpa gerutu.

Aku ingin tiga pasang sepatu yang menghiasi hari minggu kami tetap menjadi teman dalam perjalanan hidup. Tak boleh ada kata sesal jika pikiran masih berakal. Tak boleh ada kata malas jika hati masih berusaha keras. Tak boleh ada kata lelah jika anugerah masih bersimbah.

“Ma, hari minggu kita jalan-jalan lagi, ya, ke gunung?” ajak gadis kecilku dengan mata berbinar.

“Hayuk!” jawabku dengan senyum bahagia.

 

SEpatu 2

my journal, Rumah Kayu

“Sepasang Sepatu Ungu”

Sepatu Puga
Sepatu Puga

Anak perempuanku ini tiba-tiba jatuh hati pada sepasang sepatu lucu di deretan rak sebuah outlet sepatu. Pada awalnya sih, ia ingin sepatu sandal warna pink, tapi ukuran yang dibutuhkannya tak tersedia. Si ungu ini, sejenak membuatku termangu dan berkata dalam hati, “Mom, I believe you have the same choice with your granddaughter.”
Ya, warna ungu selalu identik dengan Mama. Anakku mulai memilih nuansa ungu, mungkin karena di sepatu itu tetap ada sentuhan pink. Tentang ungu, aku teringat momen di mana aku memilihkan sandal kulit untuk Mama saat aku mempersiapkan pernak-pernik pernikahanku dulu. Sandal kulit ungu berjodoh dengan Mama dan sandal itu menjadi sandal favoritnya. Hal paling membahagiakanku adalah uang dari hasilku bekerja bisa menghadiahkan sandal itu untuk Mama.

Setiap pasang alas kaki memiliki cerita tersendiri di hati, begitu juga dengan sepatu ungu anak perempuanku. Aku membayangkan bagaimana saat ia beranjak remaja nanti, apakah ia masih meminta pendapatku untuk memilih sandal atau sepatunya? Aku dulu selalu sharing sandal dan pernak-pernik anak perempuan bersama Mama. Setiap langkah kaki anakku selalu akan menjadi irama riang di hatinya terlebih jika alas kakinya baru. Akupun akan merasa senang jika barang pilihan hatinya bisa ia pakai sesering ia suka.

Mungkin pada suatu saat nanti, ia akan memilih seseorang untuk berjalan bersamanya menurut kata hatinya, lalu menjalin sebuah hubungan yang indah dan harmonis seperti sepasang sepatu yang manis miliknya kemarin. Mereka akan beriringan melangkah bersama dan memaknai setiap langkah itu dengan kasih sayang dan pengertian tulus seperti Papa dan Mamanya lakukan setiap saat.

Terkadang hal perlu aku mengerti hanya langkah kaki yang selalu ada kanan dan kiri. Keduanya akan selalu bergantian menghiasi perjalanan hingga ke tempat tujuan menuju helaian impian. Aku ingin anak perempuanku perlahan memahami bahwa langkah kakinya masih sangat panjang hingga ia memerlukan beberapa pasang sepatu dan sandal yang mengiringinya. Aku ingin ia tetap percaya pada satu tambatan, Tuhan Yang Maha Kuasa yang akan menunjukkannya pada ketetapan pilihan dalam kehidupan.