Februari, my journal

Diary Yoga #3

Semakin hari, tubuh semakin terbiasa dengan ritme yang saya terapkan. Intensitas olahraga tiga atau empat kali seminggu menjadi sebuah kebiasaan. Kedisiplinan tentu beranjak dari masalah yang pernah saya alami. Lalu imbasnya, selalu berusaha menyeimbangkan makanan yang masuk dengan aktivitas yang dilakukan. Pekerjaan rumah tangga memang cukup melelahkan, namun olah tubuh harus juga dilakukan di luar rumah. Selain refreshing, hanya berjalan kaki saja seputar kompleks perumahan atau jalan setapak yang biasa kita lewati, itu sudah membuat badan lebih bugar. Durasi waktu juga harus diperhatikan. Misalnya, hari ini hanya 30 menit saja, dua hari kemudian perlahan ditingkatkan menjadi 45 menit atau 1 jam.

foto : dokumen pribadi
foto : dokumen pribadi

Jika berjalan kaki sudah rutin dilakukan, coba tantang diri sendiri untuk berlatih lebih. Saya secara bertahap sudah melakukannya dengan bantuan aplikasi khusus untuk mencatat dan merekam kemajuan latihan fisik. Aplikasi Endomondo di AppStore bisa menjadi pilihan karena pilhan olahraga apapun bisa digunakan.

Sebelum memulai latihan, sesuaikanlah dengan kondisi tubuh. Jika sedang fit, bisa mencoba berlari. Tak masalah berapa kilometer kita berlari karena yang terpenting adalah durasi latihan. Tetapkan target secara bertahap agar tubuh tidak stress.

Saya pun di awal tantangan hanya mampu 30 menit saja berlari, sisanya hanya berjalan kaki. Awali setiap latihan dengan pemanasan sederhana. Sebaiknya, lakukan latihan di lokasi yang lebih banyak tersedia oksigen agar kesehatan paru-paru semakin baik. Pilih sepatu yang nyaman untuk berjalan kaki dan berlari agar kaki tidak mengalami cedera. Pastikan cuaca di luar rumah baik dan layak untuk melakukan latihan.

Contoh catatan waktu dan jarak tempuh saat berjalan kaki
Contoh catatan waktu dan jarak tempuh saat berjalan kaki

Saya mencoba memvariasikan latihan fisik dengan melakukan Yoga, jalan kaki, dan lari. Ketiga pilihan latihan tadi sangat mendukung ketahanan dan kebugaran tubuh. Pola makan yang sehat jika didukung oleh olahraga rutin maka akan mempengaruhi berat badan. Otomatis berat badan akan turun dengan sendirinya karena lemak-lemak yang tidak perlu akan terbakar dan massa otot naik.

Saya menerapkan hal-hal yang harus saya HINDARI dari menu makanan sehari-hari, selain mengatur asupan karbohidrat, antara lain :

  • Minyak goreng (sebisa mungkin sedikit sekali memakainya, lebih baik jika minyak sawit diganti dengan minyak jagung (canola oil) atau minyak zaitun).
  • Masakan bersantan
  • Makanan atau bumbu yang menggunakan proses fermentasi.
  • Sea food
  • Minuman bersoda, dan minuman instan lainnya kecuali yogurt.
  • Daging (sapi dan ayam) dan produk olahannya.
  • Kacang-kacangan (karena ada riwayat terkena asam urat).
  • Sayuran berdaun hijau pekat (karena ada riwayat terkena asam urat).
  • Camilan yang mengandung garam tinggi dan ber-MSG.

Saya berusaha keras menanamkan mindset “Pilih camilan yang SEHAT. Ambil buah-buahan jika terpikir ingin NGEMIL. Kenyangkan dengan SALAD jika perut masih terasa LAPAR.”

Dengan demikian, kebutuhan serat tubuh bisa terpenuhi dan pencernaan lancar. Sejak menjalani hidup sebagai Vegetarian, kulit wajah menjadi lebih halus dan segar (*komentar suami seperti itu saat melihat perubahan saya) dan cukup menghemat anggaran karena tidak sering jajan di kaki lima atau ke resto siap saji.

Saya sangat berbahagia atas usaha dan kedisplinan saya saat mengetahui lingkar pinggang saya berkurang 5cm (90cm – 85cm) dan berat badan turun lagi (58kg – 55kg). Total hasil diet dan olahraga selama 4 bulan (akhir November 2016 – Februari 2017), berat badan saya susut 12kg. Angka 55kg saya pikir cukup ideal untuk tinggi 163cm. Saya tidak mau terlalu kurus yang terpenting adalah tubuh yang sehat.

Foto : dokumen pribadi
Foto : dokumen pribadi

Selanjutnya adalah bagaimana tetap konsisten menjaga kedisiplinan diri. Salah satunya konsisten melakukan Yoga.

sumber gambar : dari laman Facebook grup LUNA Yoga.
sumber gambar : dari laman Facebook grup LUNA Yoga.

Kata pepatah memang benar, ‘No Pain No Gain’. 

365 days' Project, Februari

“Diary Yoga #2”

Kita telah mengetahui bahwa Yoga adalah sebuah olahraga yang menyelaraskan tubuh dengan jiwa, dan menitikberatkan pada keseimbangan juga rasa syukur pada sang Pencipta. Olahraga yang berasal dari negeri Hindustan ini sudah cukup banyak dilakukan oleh masyarakat pencinta olahraga karena manfaatnya sangat banyak. Beberapa pose keren yang banyak tampil di dunia maya juga cukup membuat saya pribadi tergiur. Saya percaya itu semua bisa dilakukan dengan latihan intensif.

Saya sendiri sejak tahun lalu ingin sekali mencoba olahraga ini. Beberapa informasi tentang Yoga saya cari di internet dan bertanya teman-teman yang pernah melakukannya. Awal tahun 2017, saya serius memulainya. Hal yang paling pertama saya pegang adalah karena ingin lebih sehat dan bugar. Jika pada akhirnya saya menjadi lebih langsing, itu bonus yang menyenangkan. Selain itu, saya juga mempersiapkan beberapa perlengkapan Yoga, tentu saja secara bertahap karena bagi kalangan menengah ke atas, olahraga ini memerlukan biaya ekstra.

Perlengkapan yang dibutuhkan antara lain :

  1. Baju olahraga khusus Yoga (atau baju yang cukup nyaman dan menyerap keringat).
  2. Matras (pilih yang permukaannya kesat, misal : merek KETTLER).
  3. Kaus kaki + Sarung tangan Yoga (tidak harus karena bergantung pada tingkat kelicinan matras saat ber-Yoga).
  4. Handuk kecil tebal.
  5. Botol minum.
  6. Perlengkapan lainnya, seperti : tali, balok, dll (biasanya disediakan di sanggar Yoga).
  7. Biaya bulanan (jika ikut kelas Yoga di sanggar atau kelas private).
Perlengkapan Yoga Lokasi : Sanggar Cantika 'Luna Yoga', Jalan Perluasan Ruko III Arcamanik, Bandung. (foto : dokumen pribadi)
Perlengkapan Yoga
Lokasi : Sanggar Cantika ‘Luna Yoga’, Jalan Perluasan Ruko III Arcamanik, Bandung.
Contact info : Ibu Ida 087825966866  (foto : dokumen pribadi)

 

Olahraga Yoga bagi pemula, harus dalam pengawasan guru Yoga. Hal ini penting untuk memperbaiki posisi tubuh dalam setiap gerakan Yoga dan jika terjadi cedera pada bagian tubuh tertentu, guru Yoga akan membantu mengatasi hal tersebut. Saya pribadi merasakan bagaimana penyesuaian sikap tubuh dari awal latihan hingga latihan berikutnya. Guru Yoga akan menjelaskan apa manfaat dari setiap gerakan yang dilakukan. Tanpa bimbingan seorang guru saya pikir mustahil kita mampu mendapatkan hasil yang maksimal.

Video  tutorial Yoga memang cukup banyak dan mudah kita dapatkan di internet, khususnya di situs YouTube. Tetapi alangkah baiknya jika kita belajar pada gurunya secara langsung. Selain itu, kita juga bisa menambah pertemanan baru di kelas Yoga. Ini sangat efektif untuk mengusir kejenuhan apalagi bagi para ibu rumahtangga. Satu hal lagi yang perlu diingat, kondisi tubuh setiap orang berbeda-beda jadi Yoga memberikan pemahaman bahwa kita harus mengerti apa yang dibutuhkan tubuh kita sendiri. Semakin rutin berlatih Yoga maka kelenturan otot-otot tubuh akan semakin terasah. Saya yakin segala permasalahan persendian dan bagian tubuh lainnya perlahan akan hilang bergantung pada titik tubuh mana yang harus lebih mendapatkan perhatian.

Jangan pernah berpikir ‘saya harus kurus’ tetapi tanamkanlah kalimat ‘saya ingin tetap sehat’.

Tanpa kedisiplinan dan kesadaran diri, maka tubuh akan tetap memberi sinyal-sinyal sebagai alarm bahwa ada masalah dengan kesehatan. Tanpa pola makan yang sehat, mustahil tubuh akan menjadi bugar.

365 days' Project, Februari, my journal

“Diary Yoga #1”

Resolusi utama saya di tahun 2017 ini adalah ingin lebih sehat.

Berawal dari terdeteksinya gejala kolesterol tinggi dan kadar asam urat tinggi di akhir tahun 2016. Dokter menyarankan agar STOP mengonsumsi daging, segala yang digoreng, kacang-kacangan, dan mengurangi makanan yang gurih. Saya hanya boleh memakan ikan (bukan sea food), sayuran, dan buah-buahan disertai dengan olahraga rutin.

Awalnya saya merasa tersiksa karena selama ini sudah terbiasa dengan pola makan ‘terserah apa mau saya’. Mengemil keripik dan teman-temannya juga masih dilakukan apalagi minuman kopi instan dan minuman manis lainnya. Namun saya mencoba ‘berunding’ dengan tubuh saya. Sampai saya pada keputusan ingin menjadi Vegetarian saja agar aman.

Setelah browsing mencari tahu tentang bagaimana menjadi Vegetarian, hati saya bertambah mantap. Selain karena harus memperhatikan pola makan rendah lemak, saya ingin mendisiplinkan diri sendiri untuk mengubah kebiasaan makan yang buruk menjadi pola makan yang lebih sehat. Akhirnya saya membeli buku tentang Vegetarian agar lebih paham tentang kebutuhan tubuh saya. Setelah membaca dengan saksama, saya termasuk tipe Vegetarian Ovo (tidak mengonsumsi daging dan produk olahan hewani termasuk susu, keju, tetapi masih mengonsumsi putih telur sesekali).

Buku "I am A Happy Vegetarian" karya Karina Padmasuri, penerbit Octopus Publishing House.
Buku “I am A Happy Vegetarian” karya Karina Padmasuri, penerbit Octopus Publishing House. (foto : dokumen pribadi)

Dua minggu pertama, saya sangat memperhatikan asupan makanan. Meminimalsir minyak yang terkandung dalam masakan, menghentikan penggunaan bumbu penyedap (MSG), lebih mengontrol keinginan ngemil makanan ringan yang kurang sehat dan memilih lebih banyak menyediakan buah-buahan untuk stok camilan. Sebulan saya konsisten dengan pola makan ala vegetarian tanpa mengonsumsi telur dan susu. Gejala-gejala asam urat seperti kepala pusing, pegal di area tubuh sebelah kiri terutama pundak, pergelangan tangan dan telapak kaki mulai berkurang. Terkadang kambuh jika saya salah makan. Saya juga berusaha mendetoks tubuh dengan berpuasa seminggu dua kali. Praktis setelah dua bulan berdiet, berat badan susut hingga 6 kg (dari 67kg – 61kg).

Tubuh pun mulai terasa ringan, keringat tidak terlalu membanjir kecuali saat berolahraga saja. Pola diet ini saya bantu juga dengan latihan fisik (berjalan kaki, lari, dan Yoga). Jadi dalam seminggu bisa 3 atau 4 kali berolahraga dengan intensitas bervariasi tergantung kesanggupan tubuh. Setelah rutin mengikuti jadwal Yoga seminggu sekali, saya merasa tubuh semakin fit dan otot-otot tubuh lebih fleksibel. Bonusnya kemudian berat badan turun lagi hingga di angka 58kg.

 

Saya juga mulai memvariasikan menu makan sehari-hari. Saat kangen dengan makanan yang digoreng, saya lebih memilih minyak zaitun atau minyak canola untuk menumis atau menggoreng. Tentu harganya lebih mahal dibanding minyak sawit biasa. Tetapi saya tidak mau mengambil risiko penyakit saya kambuh gara-gara urusan minyak. Demi kesehatan saya pilih yang lebih aman.

Perlahan tubuh menyesuaikan dirinya sendiri dengan ritme yang saya lakukan. Saat memakan sesuatu yang mengandung pemanis berlebih, lidah rasanya menjadi kurang ramah, atau saat tidak olahraga rasanya lemas beraktivitas di rumah. Sejak saya mengikuti kelas Yoga, manfaatnya mulai terasa setelah empat kali pertemuan. Setiap orang tentu akan mengalami reaksi yang berbeda setelah ber-Yoga. Konsultasi pada guru Yoga sangat diperlukan sebelum, selama melakukan, dan setelah latihan karena gerakan Yoga pada dasarnya sangat disesuaikan dengan kebutuhan dan kemampuan seseorang.

Saya berencana tiga bulan pertama ini (Januari-Maret) akan konsisten dengan 4 kali pertemuan per bulan. Mungkin nanti intensitasnya akan ditingkatkan menjadi 6-8 kali pertemuan sebulan. Tujuan awal ber-Yoga hanya untuk menjaga kebugaran tubuh tetapi semakin hari semakin termotivasi untuk jauh lebih baik dari sekadar bugar. Yoga memberi saya ruang untuk lebih sayang pada tubuh, membantu untuk lebih fokus, relaksasi, mengusir kejenuhan dan belajar bersabar juga menyeimbangkan jiwa raga dalam hubungan dengan rasa syukur pada Allah SWT.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan sebelum memulai Yoga akan saya bagikan di tulisan selanjutnya, “Diary Yoga #2”.